5 Tahap Menulis ala Naning Pranoto

Apakah Anda ingin jadi penulis? Pengarang sekaligus penulis tenar Naning Pranoto berbagi ilmunya untuk Anda. Ternyata tidak sulit, lho, menjadi penulis. Ini tipsnya!

Menulis sudah jadi keseharian sastrawan Naning Pranoto. Ia sudah mulai menulis sejak SD. Begitu produktifnya, hingga kini ia sudah menghasilkan ratusan cerpen. Selain itu, perempuan kelahiran Yogyakarta ini juga sudah membuat belasan novel. Buku-bukunya termasuk laris di pasaran seperti Mumi Beraroma Minyak Wangi, Miss Liu, Musim Semi Lupa Singgah di Shizi, Belladonna Nova , dan masih banyak lagi.

“Selain menulis buku fiksi, sayajuga menulis buku nonfiksi. Judulnya Creative Writing 72 Jurus Seni Mengarang dan 24 Jam Memahami Creative Writing ,” papar Naning yang mendalami bidang Academic Writing and Creative Writing di University of Western Sydney, Australia. Di Austalia pula ia mempelajari sastra dan politik.

Semasa tinggal di Australia, sebetulnya Naning belum terpikir untuk hidup menjadi penulis. Saat itu, ia bahkan ingin menjadi peneliti dan akademisi. Sampai suatu saat, “Teman saya sastrawan yang juga memiliki usaha penerbitan di Magelang, ingin membukukan cerita bersambung karya saya yang dimuat di media.”

Menurut Naning, kabar ini mengubah haluan hidupnya. Sesaat kemudian, ia memilih pulang ke Indonesia. Ia mengaku luar biasa antusias ketika buku pertama Mumi Beraroma Minyak Wangi benar-benar diterbitkan penerbit Indonesia Tera pada 2001. Dari karya pertama, menyusul novel berikutnya juga terbit. “Saya juga dihubungi penerbit di lingkungan Gramedia untuk membukukan cerpen-cerpen saya,” papar Naning.

Naning mengaku begitu antusias ketika karya pertamanya berhasil terbit. “Bangga luar biasa. Dalam sehari saya ke toko buku Gramedia sampai sepuluh kali. Bagi saya, puncak pekerjaan menulis, ya, ketika karya kita terbit dan dipajang di toko buku,” katanya.

Tak sekadar menulis, Naning juga berbagi ilmu. Berbekal kemampuannya, sudah beberapa tahun belakangan ini Naning mengajar menulis kreatif di berbagai sekolah. Ia juga kerap memberikan workshop penulisan di berbagai acara. “Bukan bermaksud sombong, tapi sudah ribuan sastrawan muda lahir lewat kegiatan creative writing ,” ujar peraih gelar master di bidang Chinese Studies dari Bond University, Australia.

Selain itu, Naning juga mengajar para pedagang pasar di lima kota di Indonesia. “Saya mengajari mereka membuat tulisan untuk majalah dinding. Lengkap dengan rubrik-rubriknya,” papar Naning.

Berbekal pengalamannya yang segudang di bidang penulisan, Naning pun berbagi ilmu tentang bagaimana menjadi sorang penulis. Bagi Naning, menulis merupakan pekerjaan yang penting. Bahkan ia mengatakan, “Tuhan menghendaki orang untuk menulis. Sebuah hadis juga mengatakan orang yang menulis dan menuntut ilmu, saat ke luar rumah akan ditaburi bunga oleh malaikat”.

Menulis juga bisa menjadi upaya untuk membasuh jiwa. ”Saya pernah mewawancarai Dian Syarif, seorang penderita lupus. Ia mengaku, dengan menulis ia bisa melupakan rasa sakit yang menyerangnya. Sungguh luar biasa.”

Dengan menulis pula, lanjut Naning, orang bisa mengungkapkan unek-uneknya. Dengan demikian, “Menulis juga merupakan sebuah terapi jiwa,” kata Naning seraya mengatakan, pahlawan nasional RA Kartini bisa dikenang sampai sekarang, salah satunya lewat surat-suratnya. Tulisannya yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang tenar sampai kini. Bayangkan saja kalau dia enggak menulis,” jelas Naning.

Dengan kemampuannya itulah, Naning membagi jurus-jurus jitu menjadi penulis yang baik. Inilah tahap-tahapnya.

Tahap Pertama: Modal Jadi Penulis

Bagi Naning, menulis bukan persoalan bakat. Lewat pembelajaran yang selama ini ia lakoni, bakat bukan pemegang kunci utama. Inilah modal menjadi penulis seperti yang juga ia tuangkan dalam buku berjudul 24 Jam Creative Writing.

– Modal Pertama: Tekad mantap dan mau melakukan praktik menulis secara berkesinambungan.

– Modal Kedua: Banyak membaca berbagai buku bacaan untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan.

– Modal Ketiga: banyak bergaul atau bersosialisasi untuk menyelami kehidupan yang lebih baik.

– Modal Keempat: mempelajari bahasa dengan memahami berbagai kosakata sebagai media menulis.

– Modal Kelima: mempunyai sarana untuk menulis. Misalnya, komputer atau laptop. Jika tidak, “Pakai buku tulis atau kertas belanja pun jadi,” ujar Naning.

– Modal Keenam: bertekad kuat menulis karya bermutu.

”Buku terbit diwarnai launching buku, merupakan puncak dari proses aktivitas seorang penulis,” ujar Naning.

Tahap Kedua: Materi yang Ditulis

Modal sudah ada, lantas materi apa yang ditulis? Bagi Naning, apa pun di sekitar kita dan yang dekat dengan kita bisa menjadi bahan tulisan. Naning terlebih dahulu memberi gambaran, ibarat pohon, ada dua cabang utama penulisan kreatif. Yakni fiksi dan nonfiksi. Fiksi merupakan sebuah karya berbentuk karangan. “Bisa memadukan antara fakta dan imajinasi. Kita bisa lihat karya laris Laskar Pelangi. Karya ini berangkat dari pengalaman sang penulisnya, Andrea Hirata,” papar Naning.

Karya Andrea itu merupakan karya fiksi berbentuk novel. Fiksi lainnya antara lain cerpen, naskah drama, skenario film, lirik lagu, puisi, dan seterusnya.

Cabang kedua nonfiksi, papar Naning, bahan tulisan murni dari data dan fakta yang akurat. Termasuk dalam bagian ini antara lain biografi, esai, memoar, laporan perjalanan, jurnalistik sastrawi. Nah, Anda tinggal memilih pohon apa yang ingin dijadikan materi tulisan.

Lantas dari mana memulai tulisan? Gampang saja. “Dari mana saja. Bahkan, bila Anda ingin memulai dengan mengumpat, menjerit, menangis, atau bersyukur. Letupkan saja kemarahan Anda. Misalnya, dimulai dengan kata “Gilaaa!!” Enggak apa-apa. Tuliskan saja dulu, apa yang menjadi kemarahan Anda. Ini nanti malah bisa menerapi Anda. Anda bisa curhat lewat tulisan. Nah, setelah itu baru Anda perbaiki kata-kata yang sekiranya kasar tadi.”

Bagi seorang karyawan, papar Naning, tiap pekan ia bisa saja menuliskan kepenatannya pada suasana kantor. Antara lain ketidaksukaannya pada pimpinan. “Itu bisa mengurangi 70 persen dari beban mental. Ini, kan, terapi mental,” kata Naning. Jika persoalan kantor ini bisa ditulis dengan baik, tidak mustahil menjadi tulisan yang menarik. Bahkan bisa jadi buku tentang bagaimana mengatasi persoalan di kantor. Tulisan ini pun menjadi tulisan nonfiksi. Bila Anda ingin berimajinasi tentang situasi hati Anda, bisa dikembangkan menjadi fiksi.

Bagi Naning, aktivitas keseharian ibu-ibu juga menarik menjadi bahan tulisan. “Misalnya Anda punya anak yang berhasil jadi sarjana, Anda bisa menuliskan bagaimana cara mendidik anak sampai sukses. Bayangkan, bila ada 10 ibu menulis pengalamannya, pasti bisa jadi buku. Toh, pengalaman masing-masing ibu pasti berbeda satu dengan yang lain.”

Naning juga memberi contoh, betapa aktivitas belanja yang ibu-ibu biasa lakukan juga bisa menjadi materi tulisan yang menarik. “Lihat saja buku Miss Jinjing, Belanja Sampai Mati . Buku itu, kan, berasal dari catatan harian penulisnya tentang pengalamannya berbelanja,” ujar Naning yang sebelumnya kenyang pengalaman menjadi wartawan.

Ternyata, buku yang diangkat dari catatan belanja penulisnya, Amelia Masniari, bisa menjadi buku laris. Padahal, buku itu berawal dari catatan sang penulis yang semula ditulis di blog pribadi.

Kembali Naning memberi ide. “Tak ada salahnya juga ibu-ibu menulis tentang kegiatan arisan. Tentu saja bukan sembarang arisan. Misalnya dalam arisan itu ada kegiatan lain yang bermanfaat. Arisan tak hanya ngerumpi tapi ada kegiatan yang bermakna,” ujar Naning seraya mengatakan, kumpulan resep pun bisa menjadi bahan tulisan. “Banyak, kan, buku resep yang ada di toko buku. Anda bisa menuliskan, misalnya, resep tradisi keluarga.”

Tahap Ketiga: Menulis yang Baik

Naning menyebutkan ada beberapa bentuk tulisan. Yaitu asal menulis saja, lebih teratur sedikit yang disebut fun writing, tulisan yang agak unik, dan melangkah berikut ke tingkat sastra.

Dikatakan Naning, belakangan ini dengan semakin populernya jejaring sosial, “Ini merangsang orang untuk menulis. Enggak apa-apa menulis seperti ini. Namun untuk proses berikutnya, alangkah baiknya bila bisa menulis dengan baik. Misalnya bikin kalimat dengan bahasa yang enak. Yang dikemukakan sederhana tapi bisa menyentuh.”

Tak kalah penting pemilihan penggunaan kata, kalimat, dan tanda baca yang baik. Juga cara membuat judul yang baik. Di titik ketika Anda mulai serius, Anda bisa belajar menulis di lembaga penulisan yang belakangan ini banyak ditawarkan. “Saya menyarankan, hati-hati memilih lembaga menulis yang baik. Lihat dulu kredibilitas orang yang membuat lembaga itu.”

Naning mengatakan, belajar tidak hanya lewat kursus. “Bisa juga menimba pengalaman kreatif dari para pengarang dan penulis yang telah berkarya. Atau juga bisa belajarsendiri melalui buku-buku teori creative writing.” Semakin rajin meluangkan waktu menulis, Anda pun akan bisa menulis dengan baik.

Tahap Keempat: Menyosialiasikan Karya

Setelah tulisan yang baik sudah selesai, lantas bagaimana? Anda perlu menyosialisasikannya. Rasanya pasti senang bila tulisan Anda bisa dibaca orang lain. “Cara paling gampang, ya, bikin blog. Itu cara murah dan meriah. Banyak contoh, tulisan-tulisan yang menarik di blog bisa diterbitkan menjadi buku.”

Bagi Naning, salah satu puncak dari proses menulis adalah ketika karya kita terbit dalam wujud buku dan dipajang di toko-toko buku. “Itu luar biasa. Bohong jika ada penulis yang mengatakan biasa-biasa saja ketika karyanya terbit,” ujar Naning.

Saat ini, menurut Naning, merupakan era emas dan kesempatan besar untuk menjadi penulis. “Sekian tahun lalu, biasanya penerbit hanya mau menerbitkan karya penulis yang sudah punya nama. Sekarang ini siapa pun bisa, asalkan materinya menarik.”

Selain itu, sekarang juga banyak penerbit yang membutuhkan materi tulisan. “Saya sendiri punya setidaknya relasi 90 penerbit. Dengan makin banyaknya penerbit, tentu peluang bagus bagi seorang penulis.”

Bahkan, Anda tak perlu menggantungkan diri pada penerbit. “Zaman sekarang tidak ada yang sulit. Menerbitkan buku sendiri juga gampang. Banyak, kok, percetakan yang bisa diajak kerja sama. Mau cetak dalam jumlah belasan eksemplar juga bisa,” kata Naning.

Tahap Kelima: Mempromosikan Buku

Bagi Naning, sekarang ini bukan hal tabu bagi penulis untuk mempromosikan karyanya. Bahkan, menjadi sebuah keharusan. Dengan minimnya biaya promosi dari penerbit, penulis mesti ikut berjuang mengenalkan karyanya kepada khalayak. Jangan biarkan buku Anda bertarung sendirian di toko buku. “Caranya lewat jejaring sosial. Bisa lewat Facebook, Twitter, dan cara efektif lewat SMS. Makanya kita mesti rajin menjalin relasi. Tak perlu ragu mengirim SMS kepada relasi untuk menawarkan karya kita.”

Henry Ismono, Nova

Lima tahap ini bisa menjadi bekal bagi Anda untuk menjadi penulis. Namun, Naning mengingatkan, ada beberapa hal juga yang membuat Anda gagal jadi penulis. “Ragu-ragu, malu-malu bila menulis ketahuan suami atau pasangan, tidak serius menulis, dan tidak punya ambisi punya karya.”

Naning juga mengingatkan, jangan buru-buru berpikir soal honor dari hasil tulisan. “Nama tenar dan materi hanya imbas dari profesi sebagai penulis. Yang penting cobalah berkarya dulu.” Nah, tahap demi tahap sudah dipaparkan Naning Pranoto. Anda pun bisa segera jadi penulis!

Oleh Henry Ismono, Nova

Sumber:http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Peristiwa/5-Tahap-Menulis-ala-Naning-Pranoto

Comments

comments