Wawancara

AFIYON KRISTIYAN: PUSTAKAWAN KREATIF

Afiyon Kristiyan nama lengkapnya. Iyan atau Pak Iyan panggilan akrabnya. Secara formal sekarang ini sebagai Kepala Perpustakaan Sekolah Pahoa,jawabannya. Di APISI sebagai Sekretaris Jendral selain narasumber untuk berbagai kegiatan APISI. Iyan bergabung dengan APISI sejak tahun 2011. Latar belakang pendidikan formalnya di bidang teknik. Kemudian pria kelahiran Karanganyar Surakarta tahun 1983 ini, mendalami dunia perpustakaan dan ilmu perpustakaan secara learning by doing ditambah mengikuti melalui Kelas Pendek yang diselenggarakan oleh APISI serta menimba ilmu dari para pustakawan senior.

“Mengikuti Kelas Pendek yang diselenggarakan oleh APISI sangat bermanfaat. Secara pribadi saya dapat menimba ilmu bagaimana mengelola perpustakaan sebagai sumber belajar dan sumber informasi sekolah berdasarkan standar internasional. Juga kami diberi motivasi bagaimana mestinya pustakawan bekerja secara profesional. Ada juga bimbingan teknis yang bisa membuka wawasan mengenai kiprah pustakawan dan dinamikanya.” Iyan menjelaskan mengenai manfaat berbagai bimbingan dari APISI. Dengan demikian, para pengelola perpustakaan sekolah yang tidak punya pendidikan Ilmu Perpustakaan jadi bisa kerja memadai.” Jelas Iyan.

Afiyon Kristiyan
Iyan bersama penulis dan guru Sekolah Pahoa, Jenny Gichara yang juga penulis

Memang kelasnya berjenjang, setiap kelas berbeda topik. Dengan mengikuti berbagai kelas akhirnya bisa terkuasa ilmu perpustakaan yang ada. Iyan merasakan manfaatnya.
*

Siapakah Iyan? Demikian deskripsinya. Tenang pembawaannya. Sangat santun sikapnya. Bicaranya runtut disuarakan dengan gaung tak terlalu keras tapi penuh semangat. Apalagi jika yang dibicarakan seputar kegiatan perpustakaan dan donasi buku, maka gaungnya menggebu-gebu. Pustakawan Sekolah Pahoa Summarecon Serpong Tangerang Selatan ini, saya mengenalnya lebih dari 10 tahun. Kami bekerjasama mengaktifkan Gerakan Literasi Sekolah jauh-jauh waktu sebelum Pemerintah Republik Indonenesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Gerakan Literasi Sekolahpada tahun 2015. Maka tak heranlah, apabila Sekolah Pahoa telah melahirkan puluhan penulis dan pengarang remaja yang mampu menerbitkan buku melalui penerbit berkat karya tulis mereka yang bermutu. Sedangkan Sekolah Pahoa juga aktif menerbitkan karya tulis anak didik yang aktif mengikuti Program Creative Writing yang dipilari oleh
Iyan.

BACA :   Renny Yaniar : Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak
Iyan kala buka kedai kopi dan perpustakaannya di Area Free Car Day di Jalan Thamrin Jakarta
Iyan kala buka kedai kopi dan perpustakaannya di Area Free Car Day di Jalan Thamrin Jakarta

Maka layaklah apabila ia disebut sebagai Pustakawan Kreatif. Karena ia sebagai pustakawan ‘otodidak’ menjalankan tugasnya secara standar pustakawan ditambah dengan kreativitasnya menggerakan literasi untuk anak didik. Bahkan ia juga memotivasi dan mendampingi anak didik mengikuti berbagai lomba yang ada kaitannya dengan gerakan literasi yang tidak hanya membaca dan menulis, tapi juga berbagai kegiatan lomba yang bersifat membentuk karakter (percaya diri,cerdas, perintisan profesi dan ketrampilan hidup): lomba membaca puisi, lomba musikalisasi puisi, lomba mendongeng, lomba menulis cerpen hingga pelatihan literasi digital. Semua kegiatan tersebut melibatkan anak didik dari jenjang SD hinggaSMA yang dihimpun oleh Iyan dan staf perpustakaan. Untuk menambah wawasan Iyan juga mengundang penulis dan sastrawan kenamaan untuk bertatap mukadan berbagi pengalaman dengan anak didik di Sekolah Pahoa.

Lebih dari itu, kecintaannya pada dunia perpustakaan membangkitkan jiwa sosialnya untuk berdonasi buku. Maka di luar jam kerjanya ia aktif membuka perpustakaan keliling sambil berjualan kopi dengan label Litt-Coffee. Ia berjualan kopi di area public dengan mobil yang ia beli dan bangun jadi kedai dari gajinya. Hasil penjualan kopi ia gunakan untuk membeli buku yang didonasikan. Di samping itu ia membuka kesempatan bagi pembeli kopi membayar dengan buku. Ada juga pelanggan kopinya memberi buku sebagai donasi. Maka Iyan bisa menghimpun ratusan, bahkan ribuan buku untuk didonasikan kepada yang membutuhkannya. Akhir tahun 2019, ia mengadakan Safari Donasi Buku Litt. Coffee bersama Yayasan Rayakulturake kota-kotadi Pulau Jawa dan Bali. Dalam kegiatan ini selain mendonasikan buku juga menggelar dongeng untuk anak-anak. Miss Hanna hadir, sebagai pendongengnya.

BACA :   Wasiat Ratu Ageng Tegalrejo, Memperbenderang Sosok Samar-Samar Melalui Literasi Digital

Tahun 2020 ini Iyan bersama saya, merintis pendirian Bank Buku MataJiwa. Misi dan Visinya memajukan dan mengembangkan cinta membaca dengan motto: Reading for Leading untuk semua kalangan. Apakah Anda mau mendukung? Silakan donasikan buku Anda dan dikirim ke:

Bank Buku Mata Jiwa
Jalan Gunung Pancar No. 25 Bukit Golf Hijau Sentul City
Bogor 16810 Jawa Barat
Email: rayakultura@gmail.com

Comments

comments

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close