Anda Bertanya, Naning Pranoto Menjawab

Rubrik ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bertanya atau berkonsultasi seputar Creative Writing. Syaratnya, daftarkan diri Anda sebagai Member Rayakulturamania (MR)

PROSES KREATIF UNTUK MENDAPATKAN IDE CERITA

(Bagian I – Menjawab Pertanyaan Para Pembaca/Pengguna Buku Creative Writing)

Selamat jumpa di www.rayakultura.net!

Saya senang sekali, dapat menjumpai Anda semua, khususnya para pembaca dan pengguna buku karya saya “Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang” yang terbit pada bulan Februari 2004. Sampai dengan bulan Desember 2004, saya menerima e-mail sekitar 1100 dari pembaca dan pengguna buku karya saya tersebut. Isi e-mail, pada umumnya selain ingin berkenalan dengan saya, juga bertanya seputar proses menulis fiksi (cerpen dan novel) dan berbagai permasalahannya. Pertanyaan mereka ini jumlahnya ratusan dan pada kesempatan ini akan saya jawab 2 (dua) pertanyaan yaitu:

1.Proses kreatif (mendapat ide cerita)
2.Cara-cara merangkai ide cerita untuk dijadikan sebuah karya (cerpen atau novel)

Pengirim pertanyaan ini antara lain dari Ferry (Surabaya), Kusnanto (Surabaya), Ikhwan, Irene, Tony W, Andreas, Meni (Jakarta), Rully, Aisyah, Wong Lie (Malang), Grace dan Kristina (Yogyakarta), Lara, Betty, Sekar Ayu (Bandung), Endang (Bekasi), Lugina (Bogor), Joice Hakim (Magelang), Endang SS (Banten), Weningsih, Lidya (Malang), Tutik K (Bali), Wiwin (Melbourne-Australia), Paiman, Radikun (Tegal)

Proses Kreatif untuk Mendapatkan Ide Cerita
Proses kreatif untuk mendapat ide suatu cerita atau inti dari suatu cerita masing-masing pengaranhg tidak sama. Mereka punya proses kreatif yang berbeda. Sebagai contoh, Anda bisa membaca Proses Kreatif Para Penulis Kelas Dunia di “Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang” – halaman 139, Cetakan I (karya saya).

Bagi saya pribadi, proses kreatif itu berjalan alami, dalam arti saya tidak terlalu mencari-cari atau mengada. Saya cukup melihat, mengamati dan kemudian menyerap berbagai peristiwa atau hal-hal yang terjadi di sekitar saya. Karena, dalam proses menulis saya tidak mengandalkan fantasi semata-mata melainkan bertolak dari kisah-kisah nyata (true stories). Dengankata lain, saya bisa menulis fiksi bila terpicu oleh apa yang saya sebut sebagai true stories. Kemudian, apa yang saya peroleh itu ditambah dengan fantasi, imajinasi dan data (studi pustaka, survei, observasi – – bila diperlukan) untuk membangun alur cerita yang akan saya tulis. Hasilnya? Anda dapat membaca karya saya (antara lain) Mumi Beraroma Minyak Wangi, Miss Lu dan Wajah Sebuah Vagina serta beberapa cerita-pendek yang terhimpun dalam Sebilah Pisau dari Tokyo.

Terus terang, bagi saya menulis (fiksi) bukan hal yang mudah. Karena selain harus tekun, disiplin, banyak membaca, juga perlu studi multikultural lokal (dalam negeri) maupun mancanegara. Apalagi jika saya telah memutuskan menulis yang berkarakter maupun setting non-lokal. Ini dapat Anda baca dalam karya saya (antara lain) Bella Donna Nova, Azalea Jingga dan Wajah Sebuah Vagina.

Ya, pekerjaan menulis bagi saya juga bukan asal saja, melainkan harus konsentrasi. Karena saya senang menulis, membuat hal-hal yang sulit menjadi mudah, hal-hal yang serius menjadi hal yang justru sebagai kesibukan yang sangat menghibur. Maka saya percaya, bila Anda ingin jadi penulis, tanamkan dulu rasa cinta kepada kegiatan menulis dan kemudian mau berkonsentrasi, displin dalam menulis.

Sampai jumpa di topik lainnya

Comments

comments