ANDA SEDANG STRESS? MENULISLAH! – Resensi Buku Writing for Therapy karya Naning Pranoto.

Perensi: Eunike Hanny

Ada bermacam cara untuk melepaskan diri dari tekanan batin dan pikiran, atau bahasa kerennya: stress, depresi. WritingForTherapySebagian orang memilih untuk makan atau ngemil. Yang lain memilih hang-out dengan teman, nonton film, atau pergi ke tempat wisata. Jika Anda pernah menonton acara televisi berjudul Clean House dan Hoarders, Anda akan menyaksikan orang-orang yang kecanduan belanja atau mengumpulkan sesuatu untuk meredakan tekanan jiwa yang sedang mereka hadapi.

Namun, tidak semua cara tersebut efektif untuk membebaskan diri dari stress dan depresi. Beberapa orang mungkin mengalami masalah kesehatan karena terlalu banyak ngemil. Hang-out dengan teman dan berlibur ke suatu tempat membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Dan kecanduan belanja akan membuat rumah bagai kapal pecah, bahkan rusak, seperti yang terlihat dalam Clean House dan Hoarders.
Lalu, jika Anda sedang tidak bahagia, stress atau depresi, cara apa yang bisa Anda lakukan di sembarang waktu, tidak memerlukan biaya, dan sudah terbukti efektif secara ilmiah?

Dalam buku Writing for Therapy, penulis senior Naning Pranoto memaparkan kehebatan kegiatan menulis sebagai salah satu cara untuk menerapi diri sendiri ketika pikiran sedang resah dan hati sedang galau. Metode terapi ini sudah diterapkan oleh seorang psikolog dari University of Texas Austin, James W Pennebaker, sejak tahun 1980-an, dan juga oleh beberapa psikolog dan psikiater terkenal.
Dalam buku ini, Naning Pranoto bukan hanya memaparkan sejarah penggunaan kegiatan menulis sebagai terapi, namun juga penjelasan yang cukup rinci tentang konsep diri, tips untuk bebas dari depresi, contoh keberhasilan beberapa orang yang lepas dari belenggu trauma dengan menulis, dan masih banyak lagi.

Yang lebih menarik, buku Writing for Therapy ini menyisipkan lembar-lembar yang bisa difotokopi yang menuntun pembacanya untuk memulai langkah demi langkah terapi dengan menulis. Misalnya di halaman 7, di bawah judul Praktik Terapi 1, kita diajar untuk mengenal diri sendiri, baik dari sisi positif maupun sisi negatif. Dari daftar yang kita tulis tersebut, kita diajak untuk merenungkan hal-hal negatif apa yang perlu kita ubah untuk menjadi positif. Atau di halaman 35, Praktik Terapi 4, kita harus mengekspresikan emosi kita pada saat yang paling bergejolak dengan kata-kata yang menurut kita paling tepat digunakan. Kita diajak untuk menulis dengan bebas; jika memang harus mengumpat, maka kita tulis kata umpatan tersebut.

Writing for Therapy terasa istimewa karena buku ini ditulis untuk semua orang, untuk segala umur dan dari berbagai latar belakang, dan mengajak pembacanya untuk segera mempraktikkan apa yang sedang dibacanya. Buku ini tidak mengajarkan bagaimana caranya menjadi seorang penulis yang mumpuni, tapi mengajak pembacanya untuk menulis secara pribadi, untuk menghalau keresahan dan kebuntuan pikiran, dan pada akhirnya memiliki jiwa yang sehat. Setiap langkah praktis bisa dilakukan sendiri, tanpa harus mendatangi seorang psikolog.

Buku ini baik bagi mereka yang sedang merasa stress, maupun bagi mereka yang sedang bahagia tetapi ingin tahu bagaimana menulis bisa menjadi sarana yang efektif untuk mencerahkan jiwa.

Comments

comments