Cerpen Kita

BELAJAR MENCINTAI BUMI KEPADA NENEK

Cerpen Pemenang II - Lomba Cipta Cerpen Cinta Bumi – ICLaw Green Pen Award 2019

Oleh Abd. Warits

Saat itu umurku masih delapan tahun. Nenek mengajakku pergi ke kebun pada suatu sore yang diparam kabut tipis. Nenek menyunggi palasa1 berisi nasi jagung berlauk potongan leher ayam, aneka jajan kampung dan sebungkus kembang. Kami melewati jalan setapak yang meliuk-liuk dan berkerikil, menanjak dan turun, yang di kanan-kirinya ditumbuhi barisan ilalang dengan kembang putih halus menggesek-gesek betis. Kadang aku memetik kembang itu lalu menggesekkannya ke wajah karena kelembutannya di betis membuatku serasa ketagihan. Beberapa saat kemudian kucampakkan kembang itu. Tangan kananku kembali meraih setangkai yang bersanggul putih lebat. Tapi nenek melarangku memetik kembang itu lagi.

“Cukup dua tangkai saja. Jangan kaupetik lagi ya!. Ilalang itu juga punya rasa yang sama dengan manusia. Jika kembangnya diambil secara berlebihan. Ia akan menangis,” ucap nenek di belakangku, diiringi bunyi sandal jepitnya yang menggasak daun-daun kering. Aku menoleh.
“Memangnya kenapa jika ilalang menangis, Nek?” tanyaku polos. Nenek menghentikan langkah dan merajut senyum lembut di bibirnya.
“Jika ilalang menangis, ia akan mengadu kepada ibunya.”
“Siapa ibunya, Nek?”
“Ibunya adalah bumi ini. Jika bumi ini marah maka ia akan murka. Kita akan diserang banjir, longsor, tsunami dan bencana lain. Apa kamu mau?”
Aku tak menjawab pertanyaan nenek. Membalikkan badan, dan melanjutkan perjalanan. Kugenggam erat dua tangkai kembang ilalang yang ada di tanganku. Aku tak ingin memetik kembang ilalang secara berlebihan, takut ia menangis lalu mengadu kepada ibunya, aku takut jika ibunya, bumi ini murka, aku tak ingin diterjang banjir, longsor atau tsunami seperti orang-orang yang disiarkan di layar televisi.
Kami berjalan menyusur lengang, hanya silir angin mengecup daun, juga gesek sandal pada daun kering, kami larut dalam pikiran masing-masing, hingga tanpa terasa, kebun sudah kami tapaki. Ada tanaman kacang tanah dan di sekelilingnya bediri pohon-pohon besar. Nenek menurunkan palasa dari kepalanya ke datar rumput hijau yang bersih. Kemudian mencabut sebatang dupa yang terselip pada ikat pingganggnya. Disulutlah batang dupa itu dengan bantuan sepasang tangannya yang ditangkupkan agar tak dihalau angin. Lalu asap mengepul, wangi menyelinap ke dalam cuping pembauan, bara merah di ujung batang dupa tampak kian menyala ditiup angin. Nenek memintaku untuk membantunya membawa barang bawaan ke pangkal pohon terbesar yang tumbuh di pojok tenggara.

Nenek menyuruhku bersila sebagaimana yang telah ia lakukan. Aneka jajan dan kembang serta nasi jagung berlauk potongan leher ayam terhidang di depannya, di atas selembar daun pisang yang nenek bawa dari rumah. Ia memejamkan mata, bibirnya bergetar setelah tangannya menyatu di dadanya sambil memegang batang dupa yang berasap. Entah apa yang nenek baca, ia begitu khusyuk, seperti sedang berjumpa dengan seseorang dalam pejamnya itu.

Setelah membuka mata, nenek membagi nasi dan kembang itu menjadi beberapa bagian yang ditakir dengan daun pisang. Lalu takir-takir itu ditaruh di pangkal masing-masing pohon. Aku ikut membantu nenek menaruh takir-takir itu, beranjak dari satu pohon ke pohon lain, melangkahi rintang ujung daun semak yang merimbun agak tinggi.

“Untuk apa nenek menaruh makanan itu di pangkal-pangkal pohon?” tanyaku iseng, bersamaan ketika tangan keriput nenek menaruh takir terakhir di pangkal pohon kesambi.

“Setiap pohon ada penjaganya. Jika tidak diantar makanan, apalagi sampai pohonnya ditebang, maka penjaganya akan marah, ia akan mengganggu manusia,” jelas nenek lantang, wajahnya penuh tatap keseriusan. Aku mengangguk walau masih dengan mata tak kedip, sebab ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam kepala.
“Dan pohon ini juga akan mengadu kepada ibunya jika disakiti atau ditebang,” sambung nenek sedikit mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga terendus aroma kapur dan sirih pada sadah yang membekas di bibirnya.

“Siapa ibu pohon ini, Nek?”
“Bumi,” jawab nenek singkat. Aku hanya tercenung, mengedar pandangan pada rerimbun pohon, sambil berkesimpulan bahwa bumi adalah ibu dari segala ibu, tempat semua makhluk menyusu.
*
Sungguh suatu kegemaran yang sangat menyenangkan bagi bocah sepertiku, memanjat pohon-pohon rindang berkuntum buah, yang dahannya datar menghampar, yang daunnya lebat merambat. Satu di antara pohon yang sangat kusukai adalah pohon rambutan yang tumbuh di bagian timur halaman.
Dongkol rasanya bila pagi-pagi sekali, mataku melihat buah rambutan segar berserakan di tanah, beberapa di antaranya kulitnya mengelupas oleh taring kelelawar atau taring tupai atau taring binatang pengerat lain yang suka mencuri buah rambutan itu.

Seusai salat subuh,—terutama pada saat hari libur sekolah—aku akan memanjat pohon itu. Pindah dari satu dahan ke dahan lain, sembari menikmati rambutan yang sudah masak, mendahuli tupai-tupai, kadang kala kubiarkan tubuh terjepit pada dahan bercabang rapat yang sedang diayun-ayun angin. Kubayangkan diri tengah berada di atas perahu, diayun ombak ke pulau jauh.

Setelah buah rambutan tinggal sedikit, aku berambisi untuk memetik semua rambutan itu mulai dari yang hampir matang sampai yang benar-benar matang. Tanganku lihai menggamit ujung ranting yang terhubung ke buah, lalu memetik buah-buah itu hingga ak tersisa. Buah-buah itu kukumpulkan dalam keranjang bambu yang kugantung di sebuah dengkul dahan.

“Bisri!” nenek memanggilku tiba-tiba. Ia berdiri tepat di bawah pohon rambutan yang kupanjat. Menatap ke atas—atau tepatnya menatap kepadaku yang sedang bergelantung di salah satu dahan. Tatap mata nenek sedikit terbuka, menampakkan bola mata yang sedikit kelabu. Ia tak bicara apa-apa lagi, tapi juga tak beranjak dari tempat semula, ekspresinya menyiratkan sebuah ketidaksukaan kepadaku.

Aku turun perlahan melewati takik darurat berupa dengkulan kulit pohon rambutan, tentu dengan perasaan yang sedikit malu karena harus membawa keranjang berisi rambutan. Nenek tak bicara apa-apa, selain hanya melayarkan pandangannya pada setiap gerak tubuhku, mulai dari atas rambutan hingga ke bawah.
“Apa kamu lapar?” tanya nenek datar tapi terasa melesak ke dalam kepalaku.
“Tidak, Nek. Saya kenyang,” jujur kujawab.
“Apak kamu tupai?” pertanyaan nenek membuatku terperanjat, sedikit mendongakkan kepala, melihat ke wajah nenek.
“Bukan, Nek. Saya bukan tupai.”
“Tapi kamu lebih berbahaya dan lebih memalukan daripada tupai.”
Aku semakin terkejut, sekaligus bingung tentang pernyataan nenek.
“Maksud nenek bagaimana?”
“Kalau tupai hanya makan satu buah cukup, sedang kamu tidak,” ungkap nenek tegas. Aku bagai disambar petir dan tak menjawab apa-apa, sebatas menunduk memandang kuku kaki yang agak hitam dan berdaki. Sejenak tak ada cakap di antara kami, derit dahan terdengar bagai jerit rintih seorang pengemis.
“Baiklah, tak apa kau makan semua buah itu. Tapi aku ingin kamu melakukan satu hal,” ucap nenek sambil mengitariku.
“Apa itu, Nek?”
“Kamu harus menanam biji-biji rambutan yang kauhabiskan itu di ladang sebelah rumah.”
Aku mengangguk yakin, mataku masih menyisakan sorot tegang ke wajah nenek. Tapi nenek mulai tersenyum dengan sepasang bibir basah sadah. Giginya yang tinggal satu diliputi warna hitam bagai kayu hangus sehabis dilalap api.

Saat itu juga tak buang waktu. Aku langsung menuju ladang nenek, menanam biji-biji rambutan itu pada bidang tanah kosong yang telah dibajak. Aku meniru kebiasaan nenek, yang senantiasa sigap, menyisakan beberapa buah atau biji dari keseluruhan yang sudah dipetik untuk ditanam jadi bibit baru.

“Dengan membibit semacam itu, berarti kamu telah membuat hati ibu pohonan, yaitu bumi tersenyum kepadamu,” tiba-tiba nenek berdiri di belakangku. Membawa ancak berisi sesajen. Aku membalas senyum nenek seraya membantu menurunkan ancak itu ke alas daun pisang. Seperti biasa ia akan mencabut sebatang dupa dari selip ikat pinggangnya. Lalu membakarnya sambil melafalkan sesuatu. Kemudian nenek memintaku membawa ancak berisi sesajen itu ke pangkal pohon yang tumbuh di pojok tenggara ladang. Di sanalah nenek duduk bersila, matanya terpejam, ia membaca mantra sangat khusyuk sekali, seakan nenek sedang bercakap dengan seseorang dalam kegaiban. Rimbun daun pohon-pohon tiba-tiba bergerak pelan, seperti digesek angin, aku merasakan sesuau yang agak mistis, seolah nenek dan bumi memang sedang berbincang serius.
Setelah matanya terbuka, saat purna gerak bibirnya henti, tentu dengan lafal penutup paling akhir, nenek kemudian menjumput sesajen. Ia menaburkannya pada bagian-bagian ladang.
“Untuk apa itu, Nek?”
“Beginilah cara moyangmu menyatu dengan alam.”

Aku bergeming, menopang dagu dalam ketidakpahaman. Mengamati gerak langkah nenek, tangannya yang lihai menabur sesajen sejumput demi sejumput. Nenek memang tak bisa dipisahkan dengan bumi.

Selain nenek, para tetua desa memang sangat mencintai bumi, ia mengungkapkannya dalam ritual-ritual kuno yang belum kumengerti secara utuh. Nenek memperkenalkanku dengan ritual-ritual itu sejak aku masih kecil. Beberapa ritual yang kuingat antara lain Pojiyan, Rokat Pakarangan dan Nabur Totobuwan, sedang ritual yang dilakukan untuk menyatakan keintiman dengan laut tertuang dalam ritual Petik Laut.

Dulu, ketika kakek masih ada, ia selalu mengulang nasihatnya berkali-kali. Biasanya kakek sampaikan sehabis makan malam, ketika aku, kakek dan nenek tengah menikmati buah hasil panen di meja makan. Kakek selalu memulai nasihatnya dengan cerita-cerita tentang pertanian dan hubungannya dengan pelestarian alam.cerita-cerita kakek bersumber dari kejadian-kejadian nyata di masa lampau yang juga diceritakan oleh tetua. Setiap kali bercerita, wajah kakek kadang meringis dan kadang semringah, sesuai isi cerita yang berlangsung dalam alur. Matanya menatap tajam, seiring bibirnya yang bau klobot begerak-gerak, mengimbangi giginya yang tinggal dua buah. Kakek sangat menghayati cerita-cerita yang disampaikan, itu artinya, jiwa kakek benar-benar sangat dekat dengan apa yang ia ceritakan, yaitu tentang bumi dan pertanian. Di penghujung ceritanya, kakek pasti memberi kami nasihat.

“Manusia dicipta dari tanah. Maka tugas manusia adalah menjaga kelestarian tanah, yaitu menjaga bumi ini. Menjaga bumi berarti menjaga tubuh kita sendiri. Sebaliknya, merusak bumi berarti merusak tubuh kita sendiri. Bumi harus kita ajak berbicara melalui ritual-ritual, seperti Pojiyan, Rokat Pakarangan dan Nabur Totobuwan. Ritual-ritual itu pada hakikatnya adalah bahasa orang kuno untuk mengungkapkan rasa keakrabannya dengan bumi dan alam raya. Aku ingin kalian selalu menjaga bumi,” nasihat kakek itu selalu ia ulang-ulang, bahkan menjelang sekarat, di hari kematiannya, ia sempat membisikkan nasihat itu kepadaku.

Sedangkan nasihat—atau lebih tepatnya wasiat—kakek kepada nenek, ia berharap agar nenek selalu terlibat langsung dalam ritual-ritual itu. Nenek mengangguk, tersenyum dan mengepal telapak tangan kakek sangat erat.
*
Kemarau panjang menjambak desa. Sesekali debu beterbangan membedaki rumah-rumah penduduk. Pohon-pohon banyak yang layu dan sebagian sudah mengering ranggas menyisakan daun kering yang berguguran ke datar tanah. Tanah berambut rumput kering, sebagian dimukim hewan melata yang menjulur lidah kehausan. Hewan-hewan itu menatap burung-burung yang enggan berkicau, selain hanya menyisir lemas bulu-bulunya di ranting kering.

Beberapa hari terakhir, nenek dan para tetua desa bermusyawarah untuk mengadakan ritual pojiyan2 secepatnya. Kabarnya, dalam pekan ini akan segera dilaksanakan di balai desa—setelah beberapa latihan dilakukan. Sejak pohon-pohon banyak yang kering dan mati, nenek sering duduk di dekat jendela, wajahnya tampak murung, matanya yang sudah sedikit rabun, sering terlihat beku dan redup, selalu tertuju ke luar, pada barisan pohon-pohon layu yang dijarum sinar matahari. Tak jarang, setiap kali daun-daun kering berjatuhan dari ranting yang ranggas, butir-butir air mata juga bergulir dari sudut mata nenek. Nenek menangis, seperti merasakan derita pohon-pohon yang ada di luar.

setelah tiba pelaksanaan ritual pojiyan, nenek datang pagi-pagi sekali, membawa sirih, gambir dan pinang dalam kotak tembaga yang biasa ia pakai saat ada hajatan. Semua pakaiannya hitam, bahkan hingga selendang yang ia pakai juga hitam. Kata nenek, itu pertanda warna duka karena hujan tak kunjung turun. Di acara ritual itu, nenek ditunjuk sebagai salah satu penari dengan pagu suara anak ayam. Sejak musyawarah itu digelar, nenek latihan suara dengan berbunyi anak ayam yang mengeciap-ciap, selalu setiap hari hingga kemarin.

Semua penari sudah siap mebentuk lingkaran. Di tengah-tengah, bersusun sesajen dalam ancak raksasa yang terbuat dari pelepah daun pisang, beralas daun dan berpucuk kepala kambing. Dikelilingi aneka jajan dan untaian ragam kembang. Angin pedusunan mendesir lirih, mengantar wangi lahang berseruak dari arah kebun siwalan. Warga berdatangan satu per satu, membawa makanan dari hasil tani sendiri. Kepala desa dan beberapa aparat sudah duduk di sebuah kursi yang berderet panjang. Empat buah soundsystem menembangkan musik saronen dari empat penjuru pojok balai.

Nenek bersedah, sebelum mengulum kembali selembar sirih, gambir dan pinang. Beberapa kali berdiri dan memandang langit seperti tengah bercakap rahasia dengan alam. Beberapa saat setelah itu, pimpinan ritual pojiyan memberi aba-aba agar seluruh peserta bersiap dengan duduk khusyuk sambil memejam mata.

Pimpinan yang duduk menghadap kiblat di tengah-tengah lingkaran mulai membaca mantra, beberapa di antaranya berbahasa Madura. Sedangkan para peserta yang melingkar masing-masing menyuarakan satu jenis bunyi. Ada yang meniru bunyi binatang, seperti anak ayam yang sedang mengeciap, lenguh sapi, kambing dan suara lainnya. Ada yang meniru bunyi desir angin, daun jatuh, kecius daun tersisir angin dan ranting patah. Ada yang meniru bunyi gamelan, seruling dan alat lainnya. Ketika didengar dan dihayati dengan seksama, tampaklah suara-suara itu seperti suara aktivitas alam, mulai dari binatang, tumbuhan dan manusia.

Mulanya, suara-suara itu dimainkan dalam ritme yang lirih. Kemudian agak cepat ketika para peserta mulai berdiri dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannnya untuk menari. Semakin lama, semakin cepat dan para peserta semakin khusyuk dalam tariannya masing-masing, seraya terus berjalan pelan mengelilingi pimpinan yang duduk bersila membaca mantra di tengah-tengah lingkaran para peserta itu.
Kata nenek, pojiayan itu lambang keseimbangan hubungan antara alam dan manusia dalam bergerak memuji Sang Pencipta. Pimpinan pojiyan yang duduk bersila di tengah-tengah adalah simbol Sang Pencipta, sedang para peserta yang menari-nari rapi sambil menyuarakan ragam suara alam itu adalah simbol alam yang berotasi secara rapi.

“Tak jhammong gurjem! Tak jhammong gurjem! Tak jhammong gurjem! He’ pehe’..he’pehe’….he’ pehe’…peyek…..peyek…peyek….Nanno rinnang….Nanno rinnang..!!”
Suara itu melantun lembut dari mulut para penari. Sedangkan pimpinan tetap khusyuk duduk bersila sambil terus membaca mantra, seakan membaca surat-surat cinta kepada Tuhan agar segera diturunkan hujan.

Aku melihat nenek menari-nari total dan penuh penghayatan. Matanya pejam bagai bulan terperam di antara keriput kulit yang diarsir garis-garis usia. Ia tak peduli tubuhnya yang renta, liuk tari yang dimainkan tetap menunjukkan jiwa yang semangat. Gerakan kaki yang beberapa kali dihentakkan ke tanah tampak sangat perkasa. Aku melihat nenek semangat mendalami ritual itu, seolah menyatukan jiwanya dengan alam. Semua penari dalam pejamnya, seperti sedang merangkul alam untuk berdoa dengan khusyuk agar hujan segera turun.
Setelah ritual pojiyan itu selesai, warga makan sesajen bersama-sama, tentu setelah para tetua menyisihkannya beberapa bungkus, untuk ditabur di tempat-tempat keramat. Tak terkecuali nenek, sebungkus sesajen yang lengkap dengan taburan kembang ia selipkan pada ikat pinggang kain yang ia kenakan. Wajah nenek lebih cerah dari sebelumnya. Aku menduga, ada banyak harapan dan kepuasan yang tumbuh pada diri nenek, sehingga wajahnya tampak berseri-seri.

“Bisri! Nanti sore kamu ikut aku ke ladang. Ada sesajen yang harus kita tabur ke pangkal pohon-pohon, agar kebagian berkah dari ritual ini,” ucap nenek sambil menepuk bahuku. Aku tersenyum seraya mengangguk. Angin bertiup lebih dingin, serupa jarum-jarum menempel ke datar kulit. Di langit, segumpal mendung berarak, mirip batu-batu raksasa mengelinding ke ufuk timur. Nenek dan beberapa tetua tersenyum puas.
Sore hari—sebagaimana rencana nenek saat di balai—kami pun pergi ke ladang. Nenek membawa sebungkus makanan bertabur kembang yang ia peroleh dari sebagian sesajen saat ritual pojiyan, masih bertakir daun pisang dengan kuar harum yang lumayan menyengat hidung.

Cahaya matahari sore membias kekuningan di datar daun dan rumputan. Hati-hati sekali nenek menapak ladang dengan kaki telanjangnya yang terlihat agak putih dan keriput. Mulutnya tak usai menggetarkan mantra atau mungkin ayat suci, lalu jumputan-jumputan kecil jemarinya menabur sesajen dan kembang itu ke pangkal pohon-pohon. Wajahnya terlihat serius, menampakkan bola mata yang tulus memandang pohon-pohon dengan tatap yang seolah mengalirkan sebuah kekuatan. Dari pohon yang satu ke pohon yang lain, mata nenek terlihat demikian lembut memandang pohon-pohon, bagai seorang ibu tengah memandangi wajah anaknya.

Setelah sesajen dalam bungkusan yang tergenggam di tangan kanannya tersisa sekitar tiga jumput, ia memanggilku untuk segerak mendekat kepadanya yang sedang berdiri di bawah pohon lengkeng yang rindang, sebagian sanggul bunga-bunga halus pohon itu menyentuh rambut nenek. Aku pun mendekat. Udara sore semakin dingin, dan kesunyian tampak dilukiskan bunyi kersik daun-daun kering yang berjatuhan.

“Silakan ambil sisa sesajen ini,” tangan nenek mengulurkannya tepat di depan dadaku. Dengan tangan kanan yang agak gemetar, aku pun menjumputnya perlahan. Jantungku bagai diguncanng-guncang gempa.
“bacalah basmalah!. Lalu bacalah mantra ini, ngetket ongket sadaja panyaket, lobar gubar daddiya dadar3, ulang hingga tiga kali,” kata nenek sembari mengulang sendiri mantra itu sebanyak tiga kali. Aku pun mengikutinya, belajar mengeja kalimat mantra itu dengan bibir yang gemetar.

“Taburlah pada daun-daun pohon lengkeng ini!” perintah nenek sambil menunjuk daun-daun lengkeng yang bolong-bolong, dimukim puluhan ulat berwarna kuning dan hitam bergaris panjang dari kepala hingga ekor, meliuk-liuk memakan daun.

Segera kubaca mantra itu, sesajen dalam jumputan kutabur pada ulat-ulat itu. Aku terkejut saat melihat ulat-ulat itu seketika berjatuhan ke tanah, bagai seorang pasukan perang yang rubuh terkena peluru. Di tanah yang berambut rumput halus itu, ulat-ulat itu meliuk bagai kepanasan, sebelum akhirnya tak bergerak dalam keadaan tubuh yang gosong. Aku semakin terkejut saat mendongak ke arah daun-daun sisa makanan ulat-ulat itu, tiba-tiba saja terlihat segar dan hijau, bolong sisa kunyahan mulut ulat terlihat agak mengecil dari sebelumnya.
Aku menoleh kepada nenek. Ia tersenyum, menampakkan gigi depannya yang tinggal satu, hitam berlumur sadah. Aku pun tersenyum, sambil mengacungkan jempol kepada nenek.
“Penyakit tanaman harus kita basmi, agar tanaman tumbuh segar, dan bumi kita kian hijau, jika bumi hijau, ia akan melimpahkan keberkahan bagi kita,” suara nenek baur dengan linting suara angin. Aku mengangguk paham.

Hari sudah senja, daunan bagai ditumpahi cahaya kuning keemasan. Silir angin yang pelan, membumbui riak kesunyian, tiba-tiba saja sebuah motor berhenti di jalan yang membentang di tepi ladang kami. Dua orang lelaki turun mendekati kami. Satu dari dua lelaki itu sudah kukenal, dialah paman Sato, makelar tanah di desa kami yang terbiasa menjadi perantara orang luar desa untuk membeli tanah warga. Sedang seorang lelaki yang ada di samping paman Sato masih belum kukenal. Ia berkulit bersih. Rambut tersisir rapi, mengkilap dan menguar wangi. Ia memanggul tas. Dua lelaki itu tersenyum kepada kami.

Setelah menyalami kami dan membuka percakapan dengan obrolan enteng seputar ladang dengan selingan tawa-tawa kecil, akhirnya tibalah pada inti percakapan, perihal maksud kedatangan dua lelaki itu ke ladang kami, masih tetap seperti yang paman Sato ceritakan pada hari-hari sebelumnya, yaitu tentang keinginan orang asing untuk membeli tanah kami.

Beberapa hari sebelum hari itu, paman Sato sudah beberapa kali mendatangi nenek, ia pun berkali-kali memaksa nenek agar berkenan menjual sebagian tanahnya kepada juragan paman Sato. Harga yang akan diberikan tiga kali lipat dari harga normal. Paman Sato terus membujuk nenek agar mau melepas tanahnya kepada juragan tanah yang selama ini menjadikan paman Sato sebagai makelar. Tapi nenek masih tetap pada pendiriannya, ia tak mau menjual tanahnya sedikit pun meski ditawar dengan harga lima kali lipatnya. Mulanya aku sangat menyayangkan nenek karena tidak mau menjual tanahnya dengan harga yang mahal itu, kala itu aku diam-diam juga membujuk nenek agar mau menjual tanahnya karena harganya sangat tinggi. Nenek hanya diam sambil memalingkan wajahnya, hingga suatu malam nenek bercerita panjang lebar perihal alasan kenapa nenek tak mau menjual tanahnya. Intinya, nenek tak ingin kedaulatannya terjajah. Tanah adalah simbol kedaulatan, jika tanah lepas ke tangan orang asing, maka bisa dipastikan kelak anak-cucunya tak akan punya tempat untuk hidup, begitu kata nenek.

“Dulu, sebelum meninggal, kakekmu berpesan, pesan itu diulang berkali-kali. Ia melarangku menjual tanah sembarangan. Bahkan ia menyarankanku agar mempertahankan tanah untuk tak terjual, sebab jika tanah terjual, bapakmu, kamu dan anak-cucumu tak akan punya tempat untuk hidup, otomatis kamu akan terusir,” jelas nenek bersuara berat, sambil menahan napas yang dalam. Wajahnya layu seperti kering nyaris gugur dari ranting. Aku mengangguk paham.

“Jadi, bagaimana pun alasannya, kita harus mempertahankan tanah kita, agar kita punya tempat hidup masa depan, agar tanah kita tidak dikeruk begitu saja, yang hanya menyebabkan kerusakan lingkunngan,” tangan nenek menepuk bahuku.

“Betul, Nek!. Kita harus menjaga tanah kita dari segala ancaman,” tegas kujawab. Tangan kukepal di depan nenek. Nenek tersenyum.
“Kau tahu? Para investor yang hanya mengeruk tanah kita itu juga termasuk hama yang harus kita basmi,” bisik nenek ke telingaku.
“Siap!”
“Mati dalam upaya mempertahankan tanah demi kelestarian alam adalah mati yang bermartabat,” imbuh nenek seraya tersenyum.

Paman Sato dan orang asing itu tidak hanya menemui nenek di ladang, mereka juga datang ke rumah, masih tetap membujuk nenek agar mau menjual ladangnya. Tapi nenek tetap bertahan, ia tidak mau menjual ladangnya meski sesendok pun, bahkan meski harganya sepuluh kali lipat dari harga normal sekalipun.
Paman Sato dan orang asing itu terlihat kecewa, wajahnya memerah, dan tak menampakkan senyum sedikit pun. Obrolan kami terlihat tegang dan tak tuntas sampai larut malam, hingga paman Sato dan temannya itu pamit, seraya mengancam akan membunuh nenek jika tetap tidak mau menjual tanahnya.
Nenek tak kalah garang, ia malah menantang dua lelaki itu sambil membelalakkan mata. Nenek bilang, dia memang bercita-cita untuk mati di tanahnya sendiri.
*
Warga berkerumun memenuhi ladang nenek siang itu. Suara tangis pecah meneluh udara. Matahari mematung di atas kepala. Aku yang dibonceng Sukab—tetangga sebelah—turun dari motor dengan tubuh gemetar dan jantung berdetak kencang. Kaki yang tak sempat memakai sandal, menapaki rumput seperti tanpa energi. Aku sangat terkejut ketika mendengar kematian nenek beberapa saat yang lalu saat Sukab menjemputku di rumah.
Sukab mengapit tubuhku melintasi kerumunan warga. Air mataku tumpah, dadaku terasa diiris berbilah-bilah pisau saat melihat nenek terbujur tak bernyawa di tengah-tengah kerumunan itu. Ada banyak luka dan memar di bagian tubuhnya seperti bekas dianiaya. Tapi wajah nenek tampak cerah dan bibirnya menampakkan senyum yang indah. Nenek seperti sangat bahagia dalam matinya.

Aku mendekap tubuh nenek untuk yang terakhir kalinya. Saat telingaku menempel di bagian perutnya, dari dalam perut itu, aku mendengar ada suara daun-daun didesau angin, diiringi kalimat-kalimat zikir.

Rumah IbelFilza, 04.03.19
Wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Ritual memohon datangnya hujan, dengan cara menari-nari. Seorang pembaca mantra berada di tengah-tengah penari yang membentuk lingkaran, sedang para penari meniru suara binatang dan suara alam lainnya.
Sebuah mantra berbahasa Madura, artinya “sirna punahlah segala penyakit, lenyap pulanglah jadi daun kering”.

Comments

comments

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Check Also

Close
Back to top button
Close