BUKAN SEKADAR ‘MENGGERAKKAN’ PENA

De nihilo nihil – dari sesuatu yang kosong tidak akan dapat dihasilkan apa-apa. Ungkapan yang dicetuskan oleh Aulus Persius Flaccus (34 -62M), penyair dan penulis satir dari Roma itu, pas sekali untuk menilai bobot tulisan seseorang. Penjabarannya, orang yang menulis tanpa membaca maka tulisannya akan hampa – tanpa makna. Karyanya hanya merupakan deretan huruf yang disambung-sambung dengan jumble. Maka dari itu gerakan literasi diperlukan untuk ‘melahirkan’ pembaca dan sekaligus penulis handal agar tercipta manuskrip-manuskrip yang bisa dijadikan sigi keindahan dan kecerdasan.

Secara sederhana gerakan literasi dimaknai sebagai suatu ajakan pada siapa pun untuk gemar pembaca dan menulis (ability to read and to write). Atau dengan kata lain, mereka yang ‘tidur’ untuk dibangunkan melek aksara dan kemudian menggerakan pena dalam arti menulis. Tapi bukan sekadar menulis huruf dan deretan angka, melainkan menulis untuk menuangkan buah pikiran dan mengekspresikan perasaan dengan medium bahasa yang tertata sesuai dengan tulisan yang dituangkan di atas kertas: fiksi atau non-fiksi.

Bahasa untuk menulis jenis tulisan fiksi yang bersifat literer selain tertata juga diperlukan sentuhan keindahan bahasa kalbu yang lahir dari getaran rasa (feelings). Tulisan fiksi literer tercipta melalui proses creative thinking (penulisan kreatif). Sementara itu, bahasa untuk menulis jenis tulisan non-fiksi selain tertata juga diperlukan bahasa yang tegas, lugas, akurat yang lahir dari pikiran (thought). Tulisan jenis ini tercipta melalui proses critical thinking (penulisan kritis). Untuk menulis kedua jenis tulisan tersebut harus dilandasi aktivitas literasi yang kuat agar karya tulisnya tidak termasuk kelas de nihilo nihil.

Sejak usai studi creative writing di sebuah universitas di Australia tahun 2000-an awal, saya aktif sebagai tutor dan mentor creative writing untuk anak-anak usia SD hingga kaum muda yang studi di tingkat perguruan tinggi. Bahkan juga untuk kalangan pendidik dan masyarakat umum yang ingin punya kemampuan menulis untuk berprestasi atau sekadar sebagai hiburan dan therapy. Untuk menunjang keberhasilan mereka mewujudkan goal-nya, saya selalu mendorong bahkan ‘menguber-uber’ mereka untuk gemar membaca bacaan yang terkait dengan bidang menulis yang diminatinya. Hasilnya tampak jelas, yang suka membaca karya tulisan lebih berbobot dibandingkan dengan mereka yang tidak suka membaca. Demikian juga yang rajin menulis bahasa lebih mengalir dan jernih (mudah dimengerti) daripada pada yang ogah-ogahan berlatih menulis. Kemampuan menulis merupakan fondasi untuk ‘menggegam’ buana.

Comments

comments