Buta Kritik

Oleh Sides Sudyarto DS

“Sastra tidak memerlukan kritik,” ujar seorang cerpenis dalam satu diskusi Jumatan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin di Jl. Cukini Raya 73, Jakarta. Ironis, sebab H.B. Jassin itu sendiri adalah seorang kritikus sastra terkemuka dalan kancah sastra Indonesia. Kita maklum sebab di dunia ini memang ada orang yang buta kritik dan ada pula orang yang membutakan diri, pura-pura tidak tahu fungsi kritik.

Dunia ini sudah lama mengenal kehadiran kritik, juga kritik sastra. Seperti kebudayaan yang banyak definisinya, banyak juga definisi untuk kritik sebagai bagian integral kebudayaan. Seseorang yang membaca sebuah novel, pada dasarnya ia pun sudah sekaligus melakukan kritik. Apakah krtitiknya itu ditulis atau tidak, itu masalah lain.

Bahkan sewaktu di toko buku, orang melihat sekilas isi buku, kemudian menentukan buku itu akan dibeli atau tidak, diperlukan atau tidak itu sudah melakukan kritik. Tentu hasilnya sangat berbeda, dengan kritik yang dilakukan secara sengaja, serius  uatama. dan sistematik, dengan mengunakan metodologi kritik tertentu.

Sikap anti kritik dan buta kritik tidak hanya menjangkiti dunia sastra. Beberapa  dasawarsa yang lalu, orang-orang antikritik dalam seni lukis, dengan pongah mengatakan, bahwa tanpa kritik, seni lukis jalan terus. Seorang pemerhati seni lukis yang prokritik berkomentar: memang seni lukis berjalan terus tetapi seperti anak kecil yang cacingan. Ternyata, seni lukis, juga seni sastra, masih tetap cacingan.

Ada orang mengatakan, bahwa posisi kritik ada di bawah kreativitas. Ada benarnya. Tetapi masalahnhya kreativitas tanpa kritik cenderung anarkis. Ia berjalan sebisanya, semaunya dan tidak peduli menabrak norma-norma estetika. Posisi stagnan sastra kita, antara lain disebabkan oleh penyakit buta kritik atau sikap anti kritik itu.

Peradaban dunia mengenal kritik sudah sejak zaman klasik, hingga dunia modern dan kemudian postmodern. Kita juga mengenal banyak sekali kritikus yang mashur, seperti Ezea Pound, T.S. Eliot, I.A. Richards, Northrop Frye, untuk menyebut empat kritikus besar. Kritikus Posmodernisme, misalnya: Edward Said, Michel Foucault, Jacques Derrida, dan sebagainya.

Untuk sedikit mengapresiasi fungsi kritik, misalnya kita bisa memungut kata-kata T.S Eliot. Eliot engatakan, kritik itu sebagai “the elucidation of art and the correction of taste.” Memang kritik bisa digunakan untuk menjelaskan, atau menimbang, mungkin juga untuk menjembatani creator dengan penikmatnya. Setiap seniman mencipta,  sekaligus ia ingin memenuhi hasratnya untuk berekspresi dan berkomunikasi dengan lian (orang lain) yang merupakan penikmat, pengamat, mungkin juga pembelinya.

Ada ungkapan yang mengatakan, bahwa pembeli karya seni adalah kritikus paling utama. Ada benarnya, jika ukuran karya seni adalah laku atau tidak, dibeli orang atau tidak. Tetapi bisa saja seorang kolektor mampu membeli lukisan dan patung dalam jumlah banyak sekali, tanpa harus memahami mutu artistik karya-karya yang jadi koleksinya. Kolektor seperti itu merupakan pasar yang baik dan pasar yang baik sungguh menunjang kehidupan seni kita.

Dihujat dan dicari

Kebudayaan kita sedang paceklik kritik. Miskin kritik itu melanda hamper semua cabang kesenian: sastra, musik, tari, tetater, juga seni rupa. Memang sesekali muncul tulisan kritik dalam surat kabar atau majalah. Tetapi umumnya hanya merupakan laporan kegiatan kesenian. Kita memang sedang hampa kritikus profesional. Ini aneh, sebab jika kita harus jujur, banyak sekali di negeri ini orang-orang yang berpotensi besar untuk menjadi kritikus profesional, kalai saja mereka mau. Saya pernah memancing komentar seorang cerpenis produktif yang berdomisili di Yogyakarta.

Beliau mengatakan, langkanya kritik mungkin karena “kritik tidak menghasilkan uang.” Selain itu, tambahnya, “menjadi kritikus memang tidak mudah. Untuk itu orang perlu serius dan mau bekerja keras”. Ternyata ia kemudian balik menuntut saya untuk berkomentar juga.

“Jabatan kritikus sebaiknya dilakukan oleh orang yan berada. Membeli buku untjuk dikritik perlu uang. Apalagi sekarang terbitan karya sastra banyak sekali. Hampir setiap hari ada buku terbit. Buku tentang kritik sastra (selalu impor) juga mahal harganya.” Nara sumber itu kemdian memancing garang: “Apa tidak ada alasan lain? Alasan yang lebih serius?”

Saya tetap men jawab seadanya. Saya katakana bahwa kritikus itu dicari, sekaligus dimaki. Banyak sastrawan kreatif mengeluh tidak adanya kritik. Tetapi banyak juga orang yang memaki orang yang menulis kritik. Saya pernah nyaris diludahi seorang perempuan cantik yang giat menulis sastra. Padahal semula ia mesra bergaul dengan saya. Seorang seniman tenar mendiamkan saya selama bertahun-tahun. Bahkan ia pernah mengucapkan nama-nama binatang, untuk menggantikan nama saya.

Namun itu semua tidak mengubah kecintaan saya terhadap kritik. Kritik mirip dengan oposisi dalam pemerintahan suatu negara. Tanpa oposisi tidak ada demokrasi. Dan tanpa demokrasi rakyat akan jadi korban dari dosa-dosa politik. Demikian pun saya tetap berpendirian bahwa sastra adalah sastra dan politik adalah politik. Saya sering tertawa perih, setiap menyaksikan diskusi sastra yang berubah menjadi diskusi politik sepenuhnya.  Tanpa kritik dan kritikus, orang sulit membedakan fiksi politik atau politik fiksi. Anehnya, banyak yang bangga dengan ketidaktahuannya itu. ***

Comments

comments