Catatan dari GSBO Writing Camp 2013 –Laporan Naning Pranoto

MENULIS NOVEL DIAWALI DENGAN PERENUNGAN
Menimba Ilmu Menulis dari DR. Free Hearty (Bundo Free) dan Nenden Lilis Aisyah

Dari pengamatan saya sebagai tutor creative writing, animo anak muda yang berkeinginan menulis novel realtif banyak. Hal ini terlihat dari status jejaringan sosial (Facebook) yang saya ikuti. Cetusan keinginan menulis novel juga saya dengar ketika saya memberikan pelatihan menulis fiksi. Bahkan, mereka yang semula mengatakan ingin, terbukti berhasil menerbitkan novel (cerita panjang). Sayang sekali, novel-novel yang mereka tulis pada umumnya bersifat hiburan (kategori teenlit dan chiclit) yang isinya amat dangkal, tak ada nilai-nilai yang bisa dipetik sebagai filosofi kehidupan.  Apakah salah? Tentu saja tidak. Selain memang ada pembaca yang menginginkan bacaan macam tersebut, pengarangnya tentu telah menjatuhkan pilihannya sebagai pencerita pop. Dari segi marketing, justru novel seperti ini yang dicari pembaca yang mengaku mencari hiburan sebagai pelipur lara –menghadapi kesulitan hidup yang pahit. Tentu sah-sah saja. Karena, pembaca juga mempunyai hak pilihan.

Tapi, apakah hidup ini hanya perlu diisi dengan hiburan saja? “Untuk mewujudkan kualitas hidup, tidak hanya raga yang memerlukan makanan, tapi juga jiwa dan pikiran,”demikian antara lain pendapat filsuf Indonesia, Romo Prof. DR. N . Drijarkara, SJ. Pendapat tersebut saya kutip dari salah satu karyanya yang berjudul Filsafat Manusia (Penerbit Jajasan Kanisius: 1969) .  Lebih lanjut, Romo Drijarkara menuliskan, sa,ah satu makanan untuk jiwa dan pikiran adalah bacaan (buku-buku bermutu) sebagai sumber ilmu dan menyerap kehidupan (pengalaman hidup). Maka, dapat disimpulkan jika masyarakat kita hanya membaca buku-buku yang isinya dangkal, tentu jiwa dan pikirannya akan kekurangan gizi. Masing-masing orang tentu punya pendapat sendiri, apa dampak dari kekurangan gizi tersebut bagi kemajuan dan perkembangan suatu masyarakat.

GSBO Writing Camp  2013

GSBO Writing Camp 2013

Terpicu oleh kondisi tersebut, maka Rayakultura menyelenggarakan writing camp (kemah untuk berkegiatan menulis) ebrsama Griya Sastra dan Budaya Obor (GSBO) menyelenggarakan GSBO Writing Camp. Mata acara kemah sastra ini, antara lain membedah novel Cinta di Lorong Waktu (CDLW) karya DR. Free Hearty (Bundo Free).  Nenden Lilis Aisyah, MPd –yang juga dikenal sebagai penyair, tampil sebagai pembedahnya. Novel yang ditulis dengan bahasa terjaga, isinya bernas mengurai cinta dari segi psikologi, sosialogi dan batin (kematangan suara jiwa), dibedah secara proses kreatif, dihadiri oleh 76 penulis muda  dari berbagai kota Jawa-Bali. Pembedahan dengan sistem talkshow, untuk menggali proses kreatif pengarangnya, juga pembedahnya dalam menyikapi menulis novel.

Bedah-Novel-Lorong-Bundo-FrBundo Free dengan tegas mengatakan, “Menulis novel memerlukan perenungan yang panjang, untuk pengendapan isi dan menata diksi,”demikian doktor ahli sastra Timur Tengah menceritakan proses kreatifnya dalam menulis novel.

Untuk memberi bobot isi, materi yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, pengalaman hidup orang lain (melakukan wawancara), memperkarya isi dengan berbagai filosofi dan nilai-nilai hidup. Nenden Lilis mempertegas, untuk menulis novel harus berstruktur dengan baik, sesuai dengan elemen-elemen novel. Tapi, dsalam novel CDLW, alur yang disajikan berbeda dengan nove-novel yang menampilkan kisah seru di mana konflik-konflik bertautan tajam menuju titik klimaks lalu melandai. CDLW mengalir seperti air, bukan seperti pendakian gunung. Layaklah bila CDLW disebut sebagai novel batin yang bersifat kontemplatif.
“Saya tidak bisa menulis cepat, misalnya selesai satu bulan. Saya menulis novel memerlukan rentang waktu panjang, bertahun-tahun.”Bundo Free menggarisbawahi, agar novelnya matang dalam kebernasan.
Bedah Novel Lorong Peserta “Novel CDLW mengandung nilai-nilai pendidikan tentang bagaimana seseorang dalam menjalin cinta. Juga, bagaimana seseorang menulis novel dengan bahasa yang apik, kalimatnya terkontrol, isinya mengalir walau bersifat kilas balik. Ini karena adanya perenungan, persiapan menulis!”kata Nenden.

“Bagi saya menulis bukan untuk uang semata dan mengejar popularitas. Saya menulis  sesuai dengan kata hati dan harus matang. Materi yang saya tulis benar-benar saya pahami dalam jiwa dan pikiran. Kala menulis kepala dan jiwa tidak kosong.”Demikian prinsip Bundo Free dalam berkarya.
Nenden Lilis mendukung pendapat Bundo Free dan mengajak penulis muda melakukannya dengan bertahap. Saya, sebagai moderator dan tutur creative writing, juga sependapat dengan Bundo Free. Memang demikian antara lain caranya, jika mau berkarya novel berbobot. Tentu, cara ini tidak sepaham dengan para pengarang yang menulis untuk memenuhi pesanan pasar (bahkan mengkhalalkan meniru buku-buku yang dianggap laris, mengabaikan etika) dan mengejar kepopuleran semata.

Salam Putih. Selamat berkarya sesuai dengan kata hati.

Comments

comments