Catatan Juri LMCHL 2014 – Ahmadun Yosi Herfanda

Cerpen-cerpen Hijau yang Menarik dari LMCHL Perhutani Green Awards 2014

Ahmadun Yosi Herfanda } Rayakultura.netSangat menarik membaca cerpen-cerpen peserta LMCHL Perhutani Green Awards 2014, terutama yang masuk nomine 10 besar, baik untuk kategori A (siswa SMP dan SMA) maupun kategori B (mahasiswa dan umum).

Pesan-pesan pelestarian hutan, lingkungan alam, dan penghijauan, dikemas ke dalam kisah-kisah yang unik dengan warna tradisi dan kearifan lokal yang sangat kental. Tiap peserta juga mencoba mempraktekkan prinsip-prinsip creative writing, sehingga tercipta adegan-adegan menarik dengan narasi-narasi yang memikat, dan sering sangat puitis serta imajinatif.

Menulis cerpen dengan “tema pesanan” untuk lomba tentu tidak sekadar bagaimana menyampaikan pesan itu secara jelas kepada pembaca, tapi tentu yang terpenting adalah membungkus pesan itu dalam cerita yang memikat sehingga pembaca tidak merasa digurui. Di sini unsur-unsur cerita, seperti plot, karakterisasi, latar, dan sudut pandang, harus digarap secara apik, sehingga secara seutuhnya cerpen tersebut memiliki kekuatan cerita yang unggul. Sebab, pada kekuatan ceritalah letak keunggulan sebuah cerpen, bukan pada bagaimana kejelasan pesannya. Jika sebuah cerpen terlalu mengutamakan kejelasan pesan, justru akan terkesan cerewet atau nyinyir, sehingga kurang nikmat untuk dibaca. Perlu ada keseimbangan antara kekuatan cerita dan kekuatan pesan, agar sebuah cerpen enak dibaca sekaligus mencerahkan.

Para cerpenis yang masuk nomine, khususnya yang terpilih sebagai pemenang, tampaknya menyadari benar hal itu. Mereka mencoba meciptakan cerita yang unik dan menarik, sekaligus tidak melupakan pesan kepada pembaca tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan kehijauan lingkungan. Di antara mereka bahkan berhasil menyadarkan pembaca, bahwa menjaga kelestarian hutan dan lingkungan yang hijau memang memerlukan komitmen dan pengorbanan. Cerpen “Gemerlap Lubang-lubang Gelap” (pemenang kategori A), misalnya, mengisahkan pengorbanan jiwa seorang anak muda yang berusaha mengembalikan keutuhan lingkungan hutan yang rusak akibat penambangan emas. Kisah mengharukan ini dikemas secara memikat dengan gaya semi surealistik.

Cerpen-cerpen lain yang masuk dalam deretan pememang kategori A rata-rata juga sangat menarik. Cerpen “Reminisensi Debu”, misalnya, mengisahkan debu yang menjadi saksi perubahan alam dan lingkungan oleh ulah manusia. Begitu juga “Serpih Randu” yang secara simbolik mengisahkan cinta seorang anak pada pohon randu yang menjadi lambang kehijauan. Dia harus mengalami romantika hidup yang pahit demi menumbuhkan dan mempertahankan sang pohon randu.

Pada cerpen-cerpen yang masuk nominasi kategori B, kekuatan cerita ditunjukkan oleh cerpen “Nyanyian Meranti Merah” – sebuah cerpen yang mengisahkan penyelamatan lingkungan hutan yang penuh warna budaya dan kearifan lokal dayak. Sedangkan cita rasa yang puitis ditunjukkan oleh cerpen “Sepasang Mata di Balik Kayu” dengan menghadirkan pohon trembesi sebagai saksi perubahan dan ulah anak-anak manusia terhadap lingkungan

 

Comments

comments