Catatan Kritik Maman S Mahayana: Memaknai Bahasa Puitik

Maman S Mahayana | RayakulturaSaya membaca sejumlah besar cerpen yang masuk dalam nominasi LMCR-2013 Rohto Mentholatum Golden Award,  begitu kuat kecenderungannya membangun bahasa puitik.. Saya tidak antibahasa puitik, bahkan menurut hemat saya, penting untuk menyihir pembaca. Tetapi, jangan lupa, cerpen tidak sekadar bermain dengan bahasa seperti itu. Ada unsur lain yang juga perlu mendapat perhatian. Jadi, ketika seorang pengarang punya semangat membangun bahasa puitik, hendaknya ia tidak melupakan juga unsur lain.

Saya pikir, ada kesalahpahaman dalam memaknai bahasa puitik itu. Seperti pelukis abstrak, ia mengawalinya dengan lukisan realis, dan tidak ujug-ujug abstrak. Jadi, mereka yang coba bermain dengan bahasa puitik, dia harus membenahi dan menguasi kalimat-kalimat sebagai fondasi cerita. Kalimatnya berantakan, maka peristiwa yang dibangunnya juga bisa berantakan. Pembaca serius tentu saja perlu cermat memperhatikan itu. (Silakan simak Kata Penutup saya dalam antologi cerpen pilihan Kompas, Laki-laki Pemanggul Goni). Saya tidak tahu, siapa saja para peserta lomba Rochto ini. Tetapi melihat bahasa yang digunakan, tema yang diangkat, dan kesan romantik yang hendak dihadirkannya, sangat mungkin mereka ini masih dalam kategori cerpenis muda dalam pengertian muda dalam segala hal.

Secara keseluruhan,  saya melihat, lomba ini berhasil. Setidak-tidaknya, dalam menyiapkan’ cerpenis-cerpenis baru.

Salam hangat musim gugur

Maman S Mahayana

Kritik   Maman S Mahayana atas Tiga Cerpen

 Pemenang 1, 2 dan 3 Kategori C

 Pertarungan

Cerpen yang menarik dengan tema yang terlalu jarang disentuh cerpenis kita. Dengan cara berkisah yang lancar dan dengan beberapa analogi yang segar, menjadikan bangunan cerpen ini cukup kokoh. Dalam hal ini, pengarang belum banyak mengungkapkan karakteristik laut, dibandingkan usahanya memperkenalkan  beberapa istilah khas dunia nelayan, dan itu cukup menolong memperkuat latar cerita. Meski begitu, pesannya jelas hendak menyampaikan harapan dan ketangguhan tokoh Nungku. Saya kira cerpenis ini masih muda, sehingga belum punya keberanian membunuh tokoh idealnya itu. Cerpen ini mengingatkan saya pada novel Hemingway, Lelaki Tua dan Laut.

Kabut Masa Silam

Cerpen ini sesungguhnya menyajikan kisah besar sebuah keluarga yang akrab didera penderitaan. Dengan menggunakan penceritaan model monolog-dialog: aku—engkau  (Wis), cerita mengalir dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Lantaran banyaknya peristiwa yang coba diangkat dalam cerpen itu, maka kesan yang muncul adalah kisah-kisah selewatan. Di bagian awal sesungguhnya suasana murung berhasil ditampilkan lewat penggambaran hujan, dingin, sedih, dan seterusnya. Tetapi kemudian pengarang kembali tergoda pada peristiwa-peristiwa duka yang bertumpuk-tumpuk. Akibatnya, karakterisasi tokoh terabaikan, fisiologi tokoh—terutama tokoh Ibu dan Buk Rinah—tak dapat membantu suasana duka yang disajikan dalam cerpen itu. Begitu juga tokoh ayah yang pergi entah sebab apa, Rin, sang kakak yang mati dibunuh, ayah tiri yang tiba-tiba meninggal, lalu datang pula tokoh Bu Des. Semua tokoh itu, termasuk Pak Samsul, muncul selewatan, penghadiran latar yang menggambarkan suasana murung, terdesak oleh keinginan untuk mengangkat peristiwa-peristiwa duka itu (kematian kakak dan ayah tiri, dan seterusnya).

Sebagai cerpen, ia gagal memusatkan perhatiannya pada satu titik tertentu. Meski begitu, cerpen ini potensial menjadi sebuah kisah besar jika semua unsur intrinsiknya dieksploitasi secara maksimal.

 

Orang Gila dan Saja-sajaknya

Cerpen ini coba mengembangkan peristiwa lewat monolog—dialog aku—engkau. Pengarang coba bermain dengan metafora saja yang –saya kira—hanya pengarangnya sendiri yang tahu ke arah mana metafora  itu hendak ditujukan. Kisahan dalam cerpen itu seolah-olah menawarkan sebuah inovasi dengan sajak diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup. Tetapi, kesan asyik sendiri dengan monolog segala unsur lain jadi seperti bayangan-bayangan yang serba tidak jelas. Kembali, kita (saya) menemukan usaha pengarang yang narsis dengan kalimat-kalimat sendiri. Latar entah di mana, sebab peristiwa itu terjadi dalam pikiran si tokoh (bahkan juga dalam pikiran pengarangnya), tokoh pun serba tak jelas sebab pengarang sama sekali tidak menyentuh karakterisasi dan gambaran fisik. Bagi saya, cerpen ini tidak memberikan apa-apa, kecuali gambaran keasyikan pengarang pada kalimat-kalimat yang dibuatnya sendiri. *

Comments

comments

Tags: