Cerita Pendek Berbahasa Liris

Pengantar Diskusi Cerpen MUSIM KESUNYIAN (Pemenang 1 LMCR 2011) karya Ai El Afif

Oleh Naning Pranoto

Kata lain dari Cerita Pendek atau Cerpen Liris adalah, cerpen yang ditulis dengan pilihan diksi puitis. Polanya seperti karya-karya Shakespeare, yang diilhami oleh tulisan Aristoteles dalam karyanya yang berjudul Poetics. Karya ini menjadi acuan para penyair dan drawaman Barat dalam menulis puisi. Kemudian, dikembangkan untuk menulis prosa yang termasuk dalam aliran romantisme.

Ciri-ciri cerpen liris antara lain ditulis dengan diksi pilihan yang puitis, deskripsi retoris (pelukisan yang penuh daya tarik) dan narasi yang tidak bertele-tele. Karena, cerpen liris kalimatnya tidak panjang, sangat tertata. Diksi puitis tidak harus memilih kata-kata yang ‘berbunga-bunga’ dan bombastis. Melainkan, kata-kata yang memiliki kekuatan yang menggugah emosi, tidak mengekspresikan kekejaman (jika tentang kekejaman menggunakan metafora) dan alur cerita mengalir.

William Wordsworth, sastrawan Inggris, merupakan salah seorang dari pelopor aliran sastra romantisme. Antara lain iya mengatakan, “Karya puitis sungguh menyentuh jiwa dan tidak membosankan.” Ia belajar tentang karya sastra liris sejak kanak-kanak, aats tuntunan ayahnya yang mengagumi Sastra Yunani Klasik.

Cerpen liris yang ditulis dengan diksi bombastis dan klise, disebut sebagai kategori ‘sastra ungu’. Untuk menghindarinya, sebelum menulis pahami dulu diksi yang akan digunakan untuk menulis. Kuncinya, cerpen liris lebih menggugah emosi pembaca dibandingkan dengan cerpen yang ditulis dengan bahasa nonliterer. Untuk menggugah emosi pembaca, berdasarkan teori Aristoteles setiap pengarang atau penyair perlu tahu makna retorika, metafora, ironi dan kiasan dalam memilih ‘nafas’ kata. Kemudian, kata dirangkai berlandaskan sintaksis.

Selamat berkarya.

Catatan:

Jika tulisan ini dishare atau dijadikan sumber tulisan harap menyebut sumbernya: Naning Pranoto.

Comments

comments