CREATIVE WRITING: SENI MENULIS CERITA PENDEK DAN PUISI

Segera Terbit:

Bagian Isi dari Buku CREATIVE WRITING: SENI MENULIS CERITA PENDEK DAN PUISI
Karya Naning Pranoto dan Sides Sudyarto DS

KREATIVITAS MENYAJIKAN KONFLIK untuk CERITA PENDEK/NOVEL
(Harap menyebutkan sumber bagi yang mengutip tulisan ini)

profil-NPDalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI, 200), secara harafiah kata konflik diartikan: (1) percekcokan; (2) perselisihan. Sedangkan konflik dalam pengertian sastra (fiksi) berarti ketegangan atau pertentangan antara dua kekuatan. Kekuatan di sini bisa bersifat internal maupun eksternal. Konflik yang bersifat internal adalah timbul dari diri sendiri. Biasanya konflik ini akan mengubah perilaku seseorang. Misalnya, orang yang biasanya ceria dan lincah, tiba-tiba jadi pemurung. Atau sebaliknya, orang yang biasanya pendiam tahu-tahu menjadi brutal.

Sedangkan konflik yang bersifat external timbul karena adanya atau terjadi benturan dengan pihak-pihak di luar diri sendiri. Penyebabnya antara lain, tidak cocok dengan lingkungannya, berhadapan dengan kebudayaan asing atau unsur-unsur alam. Yang jelas, dengan adanya konflik, sebuah cerita akan menjadi menarik. Sebab, pembacanya ingin tahu, bagaimana cara menyelesaikan konflik yang ada. Sehingga pembaca akan tahu persis nasib dari pelaku utamanya.

Konflik adalah bumbu cerita. Ada pula yang mengibaratkan konflik itu semacam sambal yang mampu membangkitkan selera orang untuk makan (baca: selera membaca!) Konflik tersebut akan terasa bak sambal yang ‘nendang’ karena pedas dan sedap, bila disampaikan oleh para tokohnya melalui dialog dan narasi yang melukiskan suatu action. Sehingga akan menimbulkan suspense (ketegangan). Contoh, cupliklan cerpen “Malaikat Kecil” karya Indra Tranggono. Dalam cuplikan itu tidak hanya melukiskan tokoh-tokoh ceritanya tetapi juga menyajikan awal sebuah konflik.

Mereka-reka Konflik

Konflik ada dalam cerita karena diciptakan oleh pengarangnya melalui rekaan yang disebut proses kreatif. Untuk bisa menciptakan konflik harus ada pemicunya, yaitu penyebab konflik itu sendiri yang bersumber dari ide yang telah diolah. Jadi, konflik telah disajikan sejak awal cerita digulirkan. Sehingga membuat pembacanya penasaran dan ingin membaca ceritanya hingga selesai tuntas.
Berikut ini contoh dialog dua anak yang sedang bermain-main, yang dialognya langsung menyajikan bola salju konflik:

“Yuk, kita main perang-perangan,” ajak seorang anak, bernama Bimo, pada temannya.
“O, bagus sekali. Aku mau.!” sahut teman Bimo dengan penuh antusias, “Kau yang jadi Belanda-nya ya? Nanti kau kutembak! Biar kau mampus, nggak bisa jajah lagi Indonesia.”
“Kau saja yang jadi Belanda-nya. Soalnya aku juga pengin nembak Belanda.”
“Ah, kamu tidak pantas jadi tentara. Badanmu ceking dan pendek. Apa kamu mau jadi tentara cebol?”
“Apa kamu bilang? Ayo..bilang sekali lag? Tak pukul kowe” Bimo naik pitam
…dst

Kedua anak yang terlibat dialog tersebut itu masuk dalam lingkaran konflik, sangat mungkin lalu bertengkar dan adu jotos yang menimbulkan ketegangan. Adegan konflik yang dialami kedua anak itu dapat disimpulkan dengan sketsa sebagai berikut:

—————– ———————— ———————————
Timbul konflik bertengkar-adu jotos menimbulkan ketegangan
(timbul faktor eksternal) (dialog dan beraksi)
——————— —————————— —————————————-

Untuk melancarkan rekacipta konflik, diperlukan keahlian meracik hal-hal yang dapat memicu konflik dipadu dengan imajinasi. Di sinilah perekaan bermain sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya. Dalam berimajinasi tidak usah ragu dan malu-malu ketika mengekspresikan apa yang terlintas dalam benak. Tapi ingat, logika harus tetap jalan, agar apa yang diekspresikan itu masuk akal.
Untuk itu perlu memahami lebih dahulu, hal-hal mana saja yang termasuk konflik internal dan mana pula yang termasuk konflik eksternal. Agar benar-benar paham, perlu latihan, antara lain mengisi lembar berikut.

Daftar Jenis Konflik
Konflik Internal Konflik Eksternal

1. ______________________________ 1. _________________________________
2. ______________________________ 2. _________________________________
3. ______________________________ 3. __________________________________
4. ______________________________ 4. _________________________________
5. ______________________________ 5. _________________________________
6. ______________________________ 6. _________________________________
Dst…..

Langkah selanjutnya, latihan memilih jenis konflik berdasarkan table berikut.
Isi jawabannya pada kolom samping dengan KI (Konflik Internal) atau KE (Konflik Eksternal)

Lembar Latihan Membedakan Jenis Konflik
Kasus Jawaban
1. Farida tidak mau dibebani keponakannya maka ia ingin menitipkan anak itu _________
Ke panti asuhan
2. Sulastri jatuh sakit karena tunangannya selingkuh _________
3. Anita mengundurkan diri sebagai Ketua BEM karena kekasihnya tidak suka
ia aktif di organisasi kemahasiswaan itu __________
4. Aditya tidak kerasan sekolah di luar negeri karena mengalami kesulitan dalam ko-
munikasi maupun dalam hal makan, tetapi ibunya memaksa ia tetap bertahan __________
5. Sepasang kekasih bertengkar karena punya selera makan yang berbeda __________
6. Anak-anak Aceh trauma akan tsunami __________
7. Salah paham antara dua sahabat __________
8. Nadia mencuri berlian ibunya untuk membeli narkoba tetapi dalam hatinya ___________
ia berjanji pada suatu saat bisa memberi hadiah pada ibunya berlian serupa
9. Akibat gempa bumi, Rahayu kehilangan rumah dan suami, setahun kemudian ___________
ia memutuskan menikah lagi dengan lelaki yang dianggap mampu melindung-
inya. Tapi, ia tetap mencintai suaminya yang menjadi korban gempa bumi.
10. Lucia memutuskan menikah dengan seorang pria anak koruptor walau diten- ___________
tang ibunya dan dikecam teman-temannya.

Latihan berikutnya mengidentifikasi konflik internal dan konfilk eksternal pada cerpen karya penulis yang pernah dipublikasi di Surabaya Post pada bulan November 2002. Cerpen ini bertutur tentang keputusan seorang pria muda, terpelajar, pelukis terkenal, dari keluarga terhormat, menikahi seorang WTS yang beroperasi di Gang Dolly – Surabaya dan mengidap HIV. Cerita lengkapnya, silakan membaca teks berikut ini:

JARI-JARI ARIMBI
Naning Pranoto

Akhirnya kuputuskan: akan kunikahi Arimbi! Orang pertama yang kuberitahu keputusanku adalah Bonar, teman dekatku, berdarah Batak. Ini kulakukan karena aku ingin tahu reaksinya yang spontan, jujur, seperti umumnya orang Batak. Bonar adalah bekas temanku kuliah di ITS-Institut Teknik Surabaya.

“Bah! Kau benar-benar pria yang berhati emas, mau menikahi seorang WTS!” Bonar menepuk-nepuk bahuku, begitu mendengar keputusanku, “Tapi, apa kau tahan dicaci-maki dan dihujat keluarga dan lingkungan kau?” sambungnya kemudian.
Aku menggeleng, lalu mengangkat kedua bahuku, sebagai isyarat menyerah pada situasi.
“Mengapa kau mengambil keputusan gila?” desak Bonar kemudian, matanya yang sehitam akik berkilat-kilat.
“Karena Arimbi hamil. Tempo hari ia bilang padaku, ia sudah jenuh menelan pil antihamil maka dia hamil.” Sahutku, menceritakan apa adanya.

“Bah! Dia bunting?” Bonar membelalak, “…dank kau yang …?” dia memandangiku lekat-lekat, sambil menggantung kalimatnya.
“Bukan aku yang menghamili Arimbi!” tegasku jujur, sebelum pertanyaan Bonar terlontar tuntas.
“Bah! Lalu, siapa yang membuntingi dia?” Bonar menyelidik.
“Arimbi tidak mau bilang siapa ayah si bayi yang dikandungnya. Ia cuma bilang, dalam tiga bulan terakhir ini ia melayani tamu lima belas laki-laki dan semuanya tidak mau memakai kondom! Jadi Arimbi hamil!”
“Bah! Bah! Edan! Edan! Dalam tiga bulan Arimbi tidur dengan laki-laki yang jumlahnya lebih dari selusin? Liz Taylor kalah.” Komentar Bonar menyebut aktris Hollywood yang berhobi kawin cerai itu, lalu terbahak-bahak.
“Ah, kamu gila, Bonar!” aku gemas dan Bonar yang terbahak-bahak itu kupukul dengan tinjuku, “Jangan bandingkan Arimbi dengan Liz Taylor. Arimbi ya Arimbi.” Tegasku pura-pura marah.
“Oke, oke, Arimbi ya Arimbi. Lalu?” Tanya Bonar kemudian, memandangiku sambil senyum kuda.
“Ya, lalu aku lalu mau menikahinya, minggu depan. Salah satu saksinya kamu. Mau kan, Boss?”
Bonar lalu mengangguk. Kemudian bibirnya yang tebal membuka, melontarkan pertanyaan, “Apakah ayah kau setuju, kau mengawini Arimbi?” tanyanya mendesak.
Aku menggeleng.
“Maksud kau?” Bonar memegangi pundakku.
“Aku belum memberitahu mereka, khususnya ibuku. Dan, kupastikan, ibuku tidak akan setuju. Aku sadar, ibu mana yang rela anak lelakinya menikahi seorang pelacur?”
“Apalagi Arimbi hamil, bukan dengan kau…,” sela Bonar.
Aku diam. Bonar angkat bicara lagi, “Oya, usia Arimbi juga jauh di atasmu. Arimbi terlalu tua untuk kau..,”
“Ah, kalau soal usia itu hanya bilangan..,” tukasku.
“Oke, katamu soal perbedaan usia yang terpaut jauh bukan masalah. Tapi, status Arimbi – WTS!” Bonar menegas-negaskan lagi, “Mengapa sih kau membuat masalah? Ingat, kau pelukis terkenal. Lagi pula banyak perempuan cantik dan kaya gandrung pada kau. Bahkan Utari setia pada kau. Utari dari keluarga ningrat, ayu, sarjana, religius, kariernya bagus, pinter masak. Kurang apa lagi? Hampir sepuluh tahun lamanya Utari mencintaimu, mengejarmu, memujamu, kurang apa?” Bonar memandangiku tajam.
“Kurang ajar!” sahutku cepat, “Maksudku, kamu pasti akan mengatakan bahwa aku kurang ajar dan tidak tahu diri dalam menghadapi sikap Utari..!”
“Yang berpendapat demikian pasti bukan hanya aku. Banyak orang , teman-teman kita, ibumu, keluargamu!”
Bonar langsung bereaksi keras, “Tapi, bagaimana pun kau sudah memutuskan. Kau sudah bilang Arimbi bukan?”
Aku mengangguk.
“Dan, dia pasti senang mendengar akan kau nikahi?” Bonar bersemangat.
Aku menggeleng, “Dia tidak mau kunikahi!” seruku.
“Oyaaa?” Bonar melongo, “Kenapa?”
“Dia tidak mau punya suami. Dia Cuma mau punya anak dan punya sahabat laki-laki. Dia mau berhenti jadi WTS, lalu hidup di desa, bertani. Tabungannya cukup untuk membeli beberapa hektar sawah,” sahutku, sesuai dengan pernyataan Arimbi yang ditegaskannya berkali-kali padaku.

“Kalau begitu, mengapa kau mau mengawininya? Bodoh sekali kau!” Bonar menyudutkanku.
“Karena aku ingin punya istri dan anak, hidup di desa, bertani,” sahutku, sesuai dengan keinginanku.
“Kupikir, kalau itu yang kau inginkan, Utari pasti bisa melakukannya lebih baik. Karena dia insinyur pertanian dan suka berwirausaha serta menaruh perhatian pada wong cilik. Masak sih kau tidak tahu itu?”
Aku tersenyum hambar, karena aku tahu persis siapa dan apa maunya Utari. Tetapi itu tidak perlu kukatakan pada Bonar. Biarlah, cukup aku saja yang tahu.

Kemudian Bonar berbisik, “Kalau saja Utari kau anggap minus, cari perempuan lain untuk kau peristri…,” sarannya.
“Ya, perempuan lain selain Utari ya Arimbi!” tegasku, “Aku merasa Arimbi yang paling tepat. Karena Arimbi bisa kuajak bicara dan memahami warna jiwaku, kata hatiku …”

“Ah, kau jadi sentimental begitu, seperti seorang penyair. Ingat, menikahi Arimbi bukan menulis puisi atau menulis novel yang dilandasi imajinasi. Menikahi Arimbi adalah kenyataan dan akan menjadi bagian dari hidupmu selanjutnya…”
“Ya, ya, aku tahu itu. Kalau aku menikahi Arimbi, aku akan tinggal serumah dengannya, aku akan tidur bersamanya …,”
“Tidur bersama seorang perempuan yang telah ditiduri oleh puluhan, bahkan ratusan lelaki. Nah, apakah kau bisa menerima kenyataan itu?” tukas Bonar, tegang, matanya melotot ke arahku.
“Menurutmu bagaimana?” aku justru ganti bertanya, untuk menurunkan ketegangan Bonar.
“Bah! Kau edan. Gila! Mengapa malah bertanya padaku?” Bonar berteriak, wajahnya memerah, tetapi ketegangannya menurun.
“Bonar, aku ingin mendengar pendapatmu. Aku serius.” Kupegangi pundak Bonar yang kekar-keras itu.
Kening Bonar berkerut, lalu ia berkomentar, “Aku bukan kau. Kau kalau punya kemauan tidak bisa direm oleh siapa pun dan biasanya kau berani menanggung risikonya.”

“Jadi, dengan kata lain, kamu mengatakan bahwa aku bisa menerima kenyataan masa lalu Arimbi, begitu?”
“Mungkin! Mungkin! Kalau kau memang serius memperistri Arimbi. Cuma kalau aku tidak bisa. Terus terang, selain aku cemburu, jijik, juga takut ketularan penyakit kotor,” Bonar berbicara dengan penuh perasaan.
Lalu tiba-tiba ia menepuk bahuku, “Oya, apakah Arimbi sehat? Maksudku, tidak tekena HIV atau bahkan sudah tertular AIDS, mengingat dia menjadi WTS telah hampir dua puluh tahun – seperti apa yang pernah kau ceitakan?”
“Bonar, Arimbi pernah bilang padaku bahwa ia sudah positif terkena HIV,” aku berterus terang.
“Bah! Edan!” seru Bonar. Ia sangat terkejut. Ia melotot ke arahku, “Lalu, apa maksudmu mengawininya? Mengawini perempuan yang positif HIV. Sungguh, aku tidak mengerti,” Bonar menggeleng-geleng.
“Bonar, tidak semua masalah itu harus kamu mengerti. Kalau kamu mengerti semua, bisa pusing dan kepalamu pecah!” seruku.
“Bah, kau bikin pusing aku. Nah, katakanlah terus terang, mengapa kau mengawini WTS yang sedang bunting dan terkena HIV?” Bonar mendesakku dengan gemas dan kesal.

“Bonar, aku tadi kan sudah bilang, apa alasannya aku mau menikahi Arimbi. Karena, Arimbi bisa kuajak bicara dan mau mengerti warna jiwaku, memahami kata hatiku. Sebagai imbalannya, aku mau menikahinya, untuk membahagiakannya.”
“Bah! Itu alasan yang absurd, tidak bisa dipahami secara logika. Apalagi untuk orang awam,” Bonar mencibir, “Utari dan ibu kau akan menangis sepanjang masa, menangisi keputusanmu yang absurd itu…”
“Keputusanku, kata perasaanku. Perasaan tidak bisa diukur dengan logika, karena bersumber pada kata hati, bukan buah pikiran. Nah, jadi sulit bagiku untuk menjawabnya, mengapa aku mau menikahi Arimbi!” bibirku kering.
“Tapi aku yakin, kau tidak jatuh cinta pada Arimbi kan?” Bonar menelisih, lalu ia menyambung kalimatnya sebelum aku menanggapinya, “Sejak aku mengenal kau, kau memang lelaki berkepribadian unik. Kau punya dunia tersendiri. Barangkali karena sejak kecil kau selalu senang menyendiri seperti apa yang pernah Utari ceritakan padaku. Orangtua kau terlalu keras memacu kau untuk mandiri dengan cara mengirimmu sekolah di luar kota, tinggal di asrama yang penuh aturan para romo. Jadi kau kesepian, jiwamu haus kasih saying. Maka kau tenggelam dalam ilusi-ilusi. Kau jadi pelukis yang sukses karena ilusi.”
“Ah, ilusi? Apa itu? Tidak benar yang dikatakan Utari. Orangtuaku tidak sekeras yang kamu bayangkan dan seperti apa yang diceritakan Utari padamu. Sejak kecil aku memang ingin mandiri, tidak tinggal bersama orangtuaku, karena aku ingin mencari ilmu dan pengalaman hidup sebaik mungkin. Dulu, ayahku juga begitu. Jadi, apa salahnya aku mengikuti jejaknya?” sanggahku agar kalimat Bonar tidak berkepanjangan. Karena, sejujurnya, apa yang dikatakan Bonar memedihkan perasaanku. Ia benar. Tetapi bagiku tidak mudah untuk membenarkannya.
“Hep! Hep! Nanti dulu. Kalimatku belum selesai,” Bonar seperti akan membungkam mulutku dan aku mengelak. Bonar lalu tersenyum kecut sambil berkata,”Kau selalu memungkiri kenyataan. Kata hatimu berlawanan dengan tindakanmu. Jiwamu rapuh, tetapi selalu bersikap angkuh. Utari itu tahu.”
“Maaf, tidak usah bawa-bawa Utari,” kurangkul Bonar, “Sekarang tolong antarkan aku ke tempat Arimbi,” pintaku kemudian.
“Untuk apa?” kening Bonar berkerut.
“Untuk menemaniku melamar Arimbi. Lihat, ini aku sudah membawa cincin!” kutunjukkan sepasang cincin yang baru kuambil dari sebuah toko emas.
“Bah, edan, edan! Kapan kau pesan cincin kawin ini?” Bonar mengamati sepasang cincin yang kupesan dengan kagum.
Cincin yang kupesan untuk perkawinanku dengan Arimbi memang sangat indah, karena kurancang secara khusus dengan diberi aksen permata berlian asli.
Bonar berdecak meluhat cincin-cincin yang bermata kemilau itu. Kemudian ia bertanya, “Oya, apakah Arimbi dank au mengukur lingkar jari ketika memesan cincin ini?”
“Hanya aku yang mengukur lingkar jari. Cincin untuk Arimbi kukira-kira saja lingkarnya. Aku tahu..waktu melukis dia sempat kupegang-pegang jarinya jadi aku masih ingat berapa kira-kira lingkar jarinya.” Jawabku, apa adanya.
“Bah, edan! Kau benar-benar edan plus sinting, unik maneh…!” Bonar menggeleng-geleng, “Bagaimana kalau ternyata cincin itu kebesaran atau tidak cukup untuk jari Arimbi?” tanyanya kemudian.
“Ya, nanti kita lihat saja. Makanya, ayo…sekarang kita ke tempat Aribi,” ajakku kemudian, sambil mengajaknya berangkat segera.
Aku ke rumah Arimbi bersama Bonar. Arimbi tinggal di Putat Jaya, tak jauh dari Gang Dolly, sebuah kawasan lokalisasi praktik WTS di Surabaya – Jawa Timur. Sayangnya, lamaranku terlambat, karena Arimbi telah menggantung diri di kamar mandi, 30 menit sebelum aku dan Bonar datang.
Tetapi bagaimana pun cincin kawin yang kubawa masih sempat kukenakan di jari manis tangan kirinya yang masih hangat. Jari manis itu merupakan bagian dari jari-jari lentik Arimbi yang pernah membelai jiwaku: hangat dan menggetarkan. Kata Bonar, jiwaku adalah jiwa yang rapuh. Ahhh! Apa benar begitu? Yang jelas, Arimbi tidak pernah mengatakan itu…

Sailfish Cove, awal November 2002
(Surabaya Post, 19 November 2002)

Setelah Anda membaca cerpen “Jari-jari Arimbi” , isilah lembar berikut ini sebagai latihan untuk memahami konflik dan penokohan. Cara yang terbaik adalah pahami dulu cerpen tersebut sesuai dengan sudut pandang Anda, kemudian baru membedah konflik dan penokohannya.

Lembar Bedah Konflik dan Penokohan pada cerpen Jari-Jari Arimbi

Tokoh Utama ____________________________________________________________
Tokoh kedua ____________________________________________________________
Tokoh pendamping/pelengkap ______________________________________________

Konflik:
Konflik internal:
(paparkan sesuai pendapat Anda)
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________

Konflik eksternal
(paparkan sesuai pendapat Anda)
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________

Langkah selanjutnya, Anda membedah sendiri konflik yang Anda ciptakan dengan pola lembar yang sama dengan contoh ini. Hasilnya sebagai ‘bumbu’ bahan menulis cerpen yang siap Anda tulis.

Lembar Bedah Konfilk dan Penokohan pada cerpen berjudul : (bila Anda belum menemukan judul yang tepat, Anda buat dulu judul sementara) _____________________________________________________________________
Tokoh Utama _________________________________________________________
Tokoh Kedua _________________________________________________________
Tokoh pelengkap ______________________________________________________

Konflik Internal:
_____________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
_____________________________________________________________________

Konflik Eksternal:
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________

Comments

comments