Dari Acara Launching buku “Writing for Therapy” di JCC

Writing For Therapy

Jiwa dan perasaan. Tak ada yang bisa menyentuhnya, dan tak pernah ada yang melihatnya. Namun ada, dan amat abstrak.

Pembahasan mengenai jiwa begitu menarik, justru karena kemisteriusannya. Seperti tubuh, jiwa butuh nutrisi yang baik agar tumbuh matang sempurna. Seperti tubuh, jiwa juga perlu latihan2 penggemblengan agar kuat dan tegar.

Gemblengan penderitaan tak selalu melemahkan jiwa. Seringkali penderitaan dibutuhkan agar jiwa menjadi arif. Namun adakalanya bila penderitaan berasal dari hati yang tersakiti, jiwa bisa koyak. Alangkah sedihnya hidup dengan jiwa yang telah sobek. Di luar senyum di dalam menangis. Hasrat untuk melakukan hal-hal produktif dan kreatif pun menjadi mati. Jiwa yang mati mendahului tubuh. Luka jiwa pada setiap orang berasal dari banyak sumber. Luka-luka pada jiwa yang semakin parah, bisa berakibat fatal, munculnya keinginan bunuh diri.

Untuk jiwa yang abstrak itu, Tuhan menciptakan solusi yang tak kalah ajaibnya ketika ia mengalami patah dan luka, yakni dari sesuatu yang juga abstrak. Kata-kata. Berkutat dengan kata dalam proses membuat tulisan, entah artikel, surat, atau puisi, memiliki efek terapeutik yang dahsyat. Ada kedamaian dan kebahagiaan mengalir di sungai-sungai jiwa tatkala kata-kata meluncur membentuk kalimat. Semakin asik, semakin mabuk, semakin positif efeknya pada jiwa dan perasaan. Menurut Dr. Handrawan Nadesul, rasa senang yang muncul itu karena tubuh mengeluarkan hormon endorfin. Hormon yang menggugah perasaan senang dan bahagia. Pasti pernah dengar ya bahwa rasa senang dan bahagia adalah obat. Dan untungnya setiap orang punya pabriknya. Menurut penelitian, orang2 yang rajin menulis buku harian di masa kecil dan remaja, akan berkembang menjadi pribadi yang kecerdasan emosionalnya tinggi, cerdas hati maupun otak. Dan otak yang sehat akan mampu mengontrol fungsi2 tubuh yang lainnya secara optimum. Sementara kecerdasan emosional akan memungkinkan seseorang untuk menterjemahkan cerita likaliku hidup secara lebih positif, dan menanggapi benturan2 secara lebih bijak.

Sayang waktu yang relatif sebentar kemarin, tak memungkinkan mengorek lebih dalam segala ihwal mengenai iwa dan penyembuhannya ini dengan dua pakar, Dr. Hans, yang seorang penulis dan dokter, serta ibu Naning Pranoto, yang merupakan pakar kata2, penulis ratusan buku, dan baru saja meluncurkan buku Writing for Therapy, yang membahas luka jiwa ini.

Your words could be sword.
But words could be honey and bread to feed your wounded heart.
(EB)

Comments

comments