Dari Realita Elegi Menuju Religi

Oleh Thomas Rasul Mujiayana

“REALIGI” – demikian tajuk satu acara di salah satu stasiun TV swasta. Menarik memang acara yang diangkat serta disuguhkan kepada para pemirsa. Meski kadang terasa ‘lebay’ dan memunculkan seribu keraguan di benak para penikmat. Lepas dari segala kelemahan yang ada dalam acara ini, bagi saya pribadi ada nilai – tentu saja amat personal dan mungkin berlebihan – yang boleh saya temukan dan olah. Nilai-nilai yang saya maksud adalah: Pertama, bahwa hidup ini tidak pernah lepas dari realitas eligi dalam segala aspek dan bentuknya. Namun demikian, bukan berarti seluruh hidup kita berisi fakta kepedihan, kegelisahan, penderitaan, dan ketidaknyamanan. Ternyata di balik semua realitas yang kurang bahkan tidak menyenangkan itu, tersembunyi pula satu nilai yang meneguhkan serta menguatkan langkah kita. Inilah nilai kedua yang ditawarkan dalam acara reality show bertajuk REALIGI.

Dalam kaca mata ini saya membaca kisah indah yang dituturkan mbak Naning Pranoto. Kisah indah itu beliau rangkai menjadi sebuah buku berjudul HER Story – Sejarah Perjalanan Payudara. Tentu judul ini sontak menggelitik pembaca – mengapa payudara? Ternyata payudara menjadi salah satu ikon – bahkan boleh disebut ikon utama kaum hawa. Maka tidak mengherankan apabila dalam bisnis hiburan, payudara dianggap ikon seksual yang punya daya jual tinggi (lih. hal. 16, par. 2) Dan ternyata payudara menempati urutan pertama sebagai aspek penilai perempuan mengalahkan vagina dan bokong. Bahkan beberapa tokoh terkenal dunia pun tak menampik pandangan ini. Sebut saja di antara Sigmund Freud yang mengatakan bahwa ‘payudara itu tak ubahnya penis pada lelaki. Keduanya – payudara dan penis – bersifat libidis, yaitu membangkitkan nafsu birahi secara instingtif. Keduanya adalah sumber kenikmatan seksual yang bisa dinikmati secara oral (hal. 15). Hal senada diamini pula oleh Pablo Picasso – sang pesohor dunia lukis. Ketika kepadanya ditanyakan tentang apa yang amat diinginkan kaum lelaki; jawabnya adalah payudara montok.

Ikon payudara inilah yang memberi inspirasi mbak Naning untuk mengeksplorasi REALIGI kaum perempuan. Di dalam bukunya ia memaparkan betapa kaum perempuan – dalam sepanjang sejarah keberadaannya – senantiasa tidak lepas dari fakta eligi. Hidupnya selalu digambarkan berada di bawah bayang-bayang kaum lelaki bahkan ada dalam penindasan olehnya. Kondisi ini terjadi karena paham minir terhadap kaum perempuan. Oleh karena pandangan ini maka mereka menerima perlakuan tidak adil, ditindas, mengalami peminggiran – baik secara fisik maupun psikis. Berbagai data penunjang tindak kekerasan disodorkan oleh mbak Naning untuk menegaskan betapa kaum perempuan senantiasa berada dan dekat dengan realitas elegi dalam sepnajang sejarah keberadaannya. Bahkan secara tegas mbak Naning menyodorkan fakta – dengan memberikan contoh tradisi masyarakat tertentu – bahwa sejak awal keberadaannya di dunia (sejak kelahiran) tidak jarang kaum perempuan sudah menerima perlakuan tidak adil: dipinggirkan, dicibir, tidak diakui, ditolak, bahkan dibuang. Tidak demikian sebaliknya dengan kaum lainnya, yakni yang disebut sebagai laki-laki. Mereka lebih diuntungkan oleh budaya masyarakat. Di dalam masyarakat Jawa, terdapat anekdot (berupa akronim) kata “lanang” yang berarti “ala-ala tetep menang” (meskipun jelek dan tidak baik namun tetap ‘dimenangkan’ – tentu oleh budaya).

Kondisi kontradiktif ini mengantar saya pada poin permenungan kedua yang menegaskan bahwa di balik serangkaian realita elegi yang menimpa kaum perempuan ternyata menyimpan sebuah berkah. Berkah inilah yang saya sebut sebagai “penyadaran anthropologis”. Penyadaran ini mengajak saya untuk kembali melongok, mencermati, dan akhirnya menegaskan JATIDIRI. Proses ini memunculkan satu kesadaran indah bahwa ‘aku’ – laki-laki – secara eksistensial semartabat dengan perempuan. Bahkan dalam terminologi agama Kristen laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Sang Khalik; dan keduanya baik adanya. Perempuan dicipta dari tulang rusuk laki-laki, dan dijadikan-Nya teman/ penolong yang sepadan (Kej. 2:18). Oleh karenanya secara anthropologis-teologis laki-laki dan perempuan setara, bahkan keduanya dikehendaki untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Inilah yang saya maksudkan sebagai realitas religi.

Penulis buku HER Story – Sejarah Perjalanan Payudara; mengajak serta membawa saya pada kesadaran yang semakin menegas bahwa kami – laki-laki dan perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sederajat dan semartabat. Maka tidak ada alasan mendasar bagi saya untuk meminggirkan penolongku yang sepadan. Mbak Naning – melalui bukunya – juga mengajak setiap laki-laki untuk sampai pada kesadaran ini. Namun demikian bukan hanya kepada kaum lelaki buku ini ditujukan; kaum perempuan pun diharapkan membaca serta memahami isi buku ini. Mengapa? Alasannya tegas, yakni agar kaum perempuan semakin menyadari JATIDIRI yang mereka miliki sebagai anugerah Allah. Dengan penegasan jatidiri ini diharapkan kaum perempuan semakin mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang ada padanya serta semakin mampu memberi sumbangan kepada masyarakat. Betap[a indahnya bila kesadaran anthropologis-teologis ini menjadi milik yang terinternalisasi dalam diri setiap insan. Semoga nukilan kecil ini mampu memberi setitik letupan yang menggerakkan kita bersama untuk semakin mampu saling menghargai, melengkapi, dan menyempurnakan sebagai makhluk ciptaan Allah. Selamat membaca dan merenungkan!!!

Sumber:http://en.netlog.com/thomasrasul/blog

Comments

comments