Di Bawah Pohon Nangka Mereka Berjanji Sehidup Semati

MenikahDenganPohon1
“Berjanjilah kau akan sehidup-semati bersama pohon. Karena pohon adalah nyawa bagi bumi. Dan bumi adalah rumah umat manusia satu-satunya.”

Begitulah saripati nasihat Tuan Kadi, alias Penghulu dalam Monolog Puisi Kisah “Pernikahan Pohon”. Lakon yang naskahnya ditulis oleh chairman Gubug Hijau Rayakultura Naning Pranoto, ini diadaptasi dari puisi karya Edy Nawang “Pohon Mantra”, “Pohon Hayat” (Naning Pranoto), “Pinangan Sebiji Trembesi” (Giyato). Naskah ini diantarkan oleh pelaku Herman Syahara sebagai Penghulu, Susana Eureka (Ni Mahoni), dan Nyi Pohon (Naning Pranoto merangkap sutradara).

MenikahDenganPohon3

Pesan dari art performance sekitar seperempat jam ini adalah ajakan agar manusia merawat dan mencintai pohon. Pertunjukan Pernikahan Pohon adalah bagian dari sejumlah acara dalam rangka memperingati Hari Pohon yang jatuh pada Sabtu, 21 Nopember 2015 kemarin, di Amphiteater Sekolah Alam Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.Ikut meramaikan acara ini pembacaan dan musikalisasi puisi.

DibawahPohonNangka

Acara yang berlangsung di bawah keteduhan aneka jenis pohon itu, termasuk sebuah pohon nangka yang sedang berbuah ranum, dihadiri Ketua Yayasan Bhakti Suratto, Drs. H. Suratto Siswodihardjo, pengurus dan guru sekolah Alam Cikeas, dan para orang tua siswa, dan sejumlah penyair.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Bhakti Suratto,Drs. H. Suratto Siswodihardjo, menyatakan acara akan ditindaklanjuti dengan acara rutin yang disebut Green Literary Writer yang pesertanya diundang dari berbagai negara.

Hari itu juga diumumkan pemenang Pemenang Lomba Cipta Puisi Gerakan Sastra Hijau (LCPGSH) 2015 Suratto Green Literary Award. Dari sekitar 1300-an naskah yang masuk dari seluruh Indonesia, Dewan Juri yang terdiri dari Maman S. Mahayana (Ketua), Adri Darmadji Woko, Kurniawan Junaedhi, Ewith Bahar, Shinta Miranda, dan Naning Pranoto, berhasil menelurkan masing-masing tiga pemenang untuk empat katagori (SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa/Umum). Mereka berhak atas piala, piagam, dan sejumah uang.

Acara ditutup dengan pembagian bibit pohon. Seraya memegang pohon itu mereka berikrar akan mencintai dan sehidup semati bersama pohon. (HS)

Comments

comments