Diskusi ELEGI PING-PONG

ELEGI PING-PONG

Saya sudah baca cerpen “Elegi untuk Pong” yang ditulis oleh KaZ, pemenang Green Pen Raya Kultura yang disebut-sebut terinspirasi dari novel karya sahabat saya Riawani Elyta dan Shabrina Ws

Ini tautannya: https://www.rayakultura.net/elegi-untuk-pong/

Saya juga sebelum ini sudah membaca “Ping, A Message From Borneo” yang memenangi salah satu sayembara yang diselenggarakan oleh Penerbit Bentang. Bahkan saya termasuk yang menggemari novel tersebut.

https://www.goodreads.com/book/show/13617462-ping-a-message-from-borneo?ac=1

Saya tak berani menyebut KaZ mem-plagiat karya RE dan SWS, meski saya menemukan beberapa kemiripan sbb:

PERTAMA
Kemiripan nama. Di PeMfB, ada tokoh PING–orang utan, KARRO–orang utan dan MOLLY–seorang gadis bandel yang senang bertualang. Di EuP, ada tokoh PONG, seekor bekantan. Juga ada TARO dan MOLLY, teman-teman PONG. Fenomena apa ini? Ketika novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Kang Abik meledak, kita ingat betul bahwa novel-novel sejenis bertumbuhan. Saya tidak akan mengatakan novel “Serupa Ayat-Ayat Cinta” memplagiat novel AAC. Tepatnya mungkin sebagai epigon. Tetapi, dalam dunia karya cipta, epigon tetaplah bukan sebuah langkah yang gagah.

Ini mungkin mirip jika Anda mendirikan sebuah perusahaan pembuat minuman bersoda, lalu Anda memakai nama dagang Koka Kola, atau Sepsi Kola . Dulu, zaman saya kecil, ada merk sepatu EGEL, saya merasa keren memakainya. Baru kemudian saya tahu, merk itu epigon dari EAGLE.

KEDUA
Memang betul, kedua cerita itu tidak mirip 100%. Tetapi, ide utamanya sama. Awal membaca EuP, saya langsung terkesima, karena teringat dengan PaMfB. Saya bisa mengira-ira, bahwa justru ide utama inilah yang membuat juri di Penerbit Bentang memenangkan PaMfB. Jujur, kalau saya menjadi juri, faktor ini yang akan membuat saya memberi nilai lebih.

Coba baca review pendek saya untuk novel PaMfB ini –> https://www.goodreads.com/review/show/549898846?book_show_action=false

Analoginya mirip apa yang menjadi keistimewaan ayam bumbu tepung? Karena dibalut tepung. Bedanya, satu dibalut tepung terigu, satunya dibalut tepung jagung (emang bisa?).

KETIGA
Banyak orang tidak memahami betul pernik-pernik berkarya. Jika saya menulis novel dan itu terinspirasi dari sebuah karya, saya pasti akan mencantumkan di tempat yang mudah dilihat: terinspirasi novel XXX. Jika orang tersebut masih hidup, saya akan meminta izin.

Bahkan kutipan yang saya ambil dari karya orang lain, meski di dalam novel pun, saya akan cantumkan sumbernya. Bahkan sekadar status di FB/Twitter pun, sebisa mungkin saya akan cantumkan hal tersebut. Ingat tidak, kalau saya membuat puisi pendek yang mirip Sapardi Djoko Damono misalnya, saya akan tuliskan dibawah *Ter-Sapardi Djoko Damono* meski yang saya tiru hanya gaya puisinya saja, bukan isi dan diksinya, apalagi pesannya.

Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Andina Dwi Fatma dalam novel “Semusim dan Semusim Lagi” yang secara disiplin mencantumkan keterangan di catatan kaki pada setiap kutipan yang dia ambil.

KEEMPAT
Betul, bahwa tak ada creatio ex nihilo. Penciptaan dari ketiadaan, adalah hak ALLAH semata. Semua manusia menciptakan dari bahan-bahan yang sudah ada. Tetapi, bahan itu harus diracik sedemikian rupa, sehingga menimbulkan rasa baru. Bahan-bahannya pun sebisa mungkin disebutkan. Coba lihat novel Michael Crichton … di belakang novel (sebuah novel, lho!) beliau cantumkan daftar pustaka hingga berlembar-lembar. Saya belum sampai tahap itu, namun insya Allah akan merapikan lagi proses peracikan ide-ide saya meniru Pak MC.

Saya tidak ingin menyimpulkan apakah EuP itu plagiat atau bukan. Dari ke-4 point itu, mari kita semua merenung, apakah kita sudah benar-benar menghargai hak cipta orang lain selama ini?

SALAM
Afifah Afra.

Perdebatan atas tulisan di atas pada catatan di facebook Afifah Afra:

Rantau Anggun Alhamdulillah, kebenaran dari Allah semata. Terimakasih Subo Afifah Afra Satu. Terimakasih untuk Mbak Neida Camelia yang bersedia jadi lahan juang pena di akun sosmednya. Terimakasih untuk teman2 semua Mbak Nda Syahdu, Mbak Dhani Pratiknyo, dkk dan maafin jika ada kata2 yang kurang berkenan ya. Juga buat Mbak Khoiriyyah Azzahro

Afifah Afra Satu Ini juga baru analisis saya kok Rantau Anggun, belum tentu tepat

Naning Pranoto Salam siang jeng Afifah Dua….kami saat ini sedang menunggu novel Ping yang akan dikirim oleh jeng Ade Anita…..seperti Anda ketahui kami selalu minta surat pernyataan originalitas karya para nominator pemenang lomba. Bahkan kami wawancarai para calon pemenang…..heeee….Anda juga pernah kami wawancara? Secara moral sebagai pengarang hal itu cukup menjamin keaslian karya: kejujuran. Tapi jika nantinya terbukti terjadi plagiat tentu saja kemenangan dibatalkan. Misi kami melahirkan pengarang unggul, bukan plagiator kreatif. Silakan siapa saja boleh berkomentar di kolom ini atau inbox saya. Terima kasih atas perhatian dan kasih Anda pada kami. Salam Sastra Hijau. Cc Ibu Soesi Sastro
Afifah Afra Satu Saya sangat memahami dan mendukung misi Mbak Naning Pranoto … semoga segera ada keputusan sebaik-baiknya. Salam cinta buat Mbak Naning #hug

Naning Pranoto Sekali lagi….kami menunggu novel PING…maaf saya belum pernah baca novel tersebut. Bagaimana Jeng Ade Anita…..? Apa sudah dikirim ke alamat yang saya inbox? Semua silakan ‘minggu tenang’ dulu haaaaaa….saya pribadi selalu mengagungkan KEJUJURAN DALAM SEMUA HAL. APALAGI DALAM BERKARYA. amin…..

Anik Nuraeni Insyaallah novel Ping sedang dlm perjalanan bu. Mbak Shabrina Ws langsung kurim kemarin.

Naning Pranoto Saya undang sdri. Khoiriyyah Azzahro Sulfiza Ariska Mashdar Zainal Fahrul Khakim Ilham Q Moehiddin Muhammad Mubarok Ilenk Rembulan Dwi Klarasari Lidya Renny II Enofita Enji Doni Suseno ….apakah sudah pernah baca novel PING?

Lina W. Sasmita Akun ini udah overload. Barusan Add friend tapi nggak bisa.Alhamdulillah masih bisa follow. Makasih sudah memanggil saya Dik Rantau Anggun. Saya hanya menyimak semua thread. Jujur ada novel Ping di hadapan saya sekarang. Dan membaca cerpen pemenang Sastra Hijau tersebut tetap menggiring saya membuka kembali novel ini sambil bergumam “idenya kok mirip ya”

Fardelyn Hacky ide mirip mungkin biasa mbak Lina W. Sasmita; gak ada ide yang bnar-benar baru di bawah langit. cuma yang bikin beda adalah cara penulis mengeksekusi ide tersebut. Nah, dalam cerpen Khoiriyah, plot cerita dan cara mengeksekusinya sama persis, cuma dia ganti setting aja dan ganti menjadi bekantan, trus ganti kalimat dikit. Ditambah dengan kenyataan, nama tokohpun cma digantu satu huruf. nah lhoo…

Khoiriyyah Azzahro Saya hadir bunda Naning Pranoto.. saya memang sudah membaca novel Ping. Jujur… ide cerpen sya sebenarnya sudah Άϑä jauh sebelum Άϑä novel ini. Tapi saya baru mengeditnya setelah setahun kemudian dan kebetulan novel ini sudah terbit. Nama Pong tidak terinspirasi nama Ping. Nama itu saya temukan dari ucapan keponakan kecil saya yang tinggal di kotabaru. Abahnya seorang supir eskavator di perusahaan batubara di sana. Masalah nama yang lainnya semua hadir begitu saja di fikiran saya tanpa bermksud menyamai tokoh mana pun. Masalah kejelasan terinspirasi saya memang lupa mencantumkan. Seperti cerpen saya yang pernah saya kirimkan UNTUK LMCR tahun kemarin, Rintihan sang Galuh, di sana saya beri keterangan inspirasi saya. Tapi kali ini saya akui saya lupa mencantumkan. Ide utama saya memang ‘sama’ (seperti jawaban saya pada saat wawancara) yaitu agar pembaca di luar kalimantan mengetahui tentang terancamnya habitat bekantan di pulau sebuku. Karena setau saya, orang-orang hanya kenal orangutan tapi tak banyak yang kenal dengan bekantan.

Naning Pranoto Semua yang hadir dan akan hadir di sini….sdri. Khoiriyyah Azzahro…..menjawab. silakan direspon. Bahkan silakan oleh pengarang novel Ping….tentu saja penjurian kembali akan dilakukan. Salam hormat…..

Afifah Afra Satu Khoiriyyah Azzahro: krn itu, saya tidak berani menyebut Anda plagiat jangan putus asa, jadikan ini sebagai momen perbaikan, karena Anda memiliki bakat yang besar. Gali ide sebaik-baiknya, agar menjadi khas Anda.

Khoiriyyah Azzahro Masalah ide kisah (seperti yang saya jawab pada saat wawsncara) itu diawali ketika membaca semacam surat atau unek-unek pembaca di Harian Banjarmasin Post bernama pak Jamal yang melihat bekabtan berkeliaran hingga ke kabupaten batulicin yangberbatasan dengan selat sebuku. Lalu saya mengontak beliau dan pak Arief, kepala BKSDA setempat, untuk mengonfirmasi berita tersebut. Dari sanalah saya tahu bahwa bekantan di sana sedang terancam hqbitatnya karena tambang batubara. Soal ini silakan crosschek dengan BKSDA setempat.

Khoiriyyah Azzahro Terimakasih Mba Afifah Afra Satu.. saya hanya terkejut. Karena tiba-tiba saya disebut sebagai plagiat dan tak diberi kesempatan untuk menjelaskan l

Untuk bunda Naning Pranoto… saya menerima saja keputusan juri dan panitia. Mau dibatalkan pun saya tak mengapa. Karena bukan kemenangan yang saya cari ketika mengikuti semua lomba rayakultura. Pabila seluruh hadiah yang telah saya terima akan diminta kembali pun saya akan kembalikan plus penggantian uangtransport dan hotel. Saya lebih memilih harga diri saya daripada dituduh plagiat.

Naning Pranoto Khoiriyyah Azzahro…..silakan tulis surat ke Panitia LMCHL PERHUTANI GREEN PEN AWARD secara formsl bukan di jejaring sosial. Anda telah menulis pernyataan yang sama berkali2 beri kesan defensif. Coba profesional emsil ke rayakultura@gmail.com. hindari kata2 menantang dewan juri. Kalem saja kalau benar. Salam Putih, Salam Jujur….tenang….
Dhani Pratiknyo Saya juga menunggu apa pun keputusan dari mbak Naning,..kejelasan ini dimaksudkan,agar semua pihak,mengedepankan kejujuran dalam berkarya…salam hormat.
Shabrina Ws Ibu Naning Pranoto, novel sudah meluncur. Terima kasih.

Neida Camelia Salam kenal Bu Naning.

Menurut saya, lebih baik berikan waktu untuk dewan juri Bu Naning Pranoto dan yg lain membaca novelnya dulu.

Pembelaan penulis Pong dan argumen pembaca dan penulis Ping akan terasa samar kalau bu Nuning cuma (baru) bisa meraba-raba.

Nunu El-fasa Ditulis sebelum novel ping terbit ya mbak Khoiriyyah Azzahro? Bisa kebetulan mirip banget ya. Termasuk alurnya menurutku mirip. Bisa kebetulan. Mungkin faktor keberuntungan mbak Shabrina Ws menerbitkan lebih dulu. Wallahualam juga

Fahrul Khakim: Ketika tahu judul juara 2 lomba cerpen perhutani, saya juga langsung ingat sama novel ini. Cuma saya berpikir positif aja, mungkin ada yg beda. Coba saya baca cerpennya dulu, soalnya belum baca. Novel & cerpen ini sama-sama menang lomba ya?

Naning Pranoto: Iya…saya sudah mengatakan tadi, minta waktu untuk baca novel Ping katena belum pernah baca. Terima kasih jeng Neida Camelia….jeng Dhani Pratiknyo…kemenangan Pong bukan keputusan saya pribadi. Bahkan kala pengarang Pong Khoiriyyah Azzahro diundang Perhutani ke Jakarta ambil hadiah….saya tak tahu yang mana orangnya…karena dia tidak menyapa saya haaaaa…selama ini saya seting buat lomba tapi saya tak pernah berharap apa2 dari para pemenang termasuk disalami tak saya harap. Ada lagi pemenang yang pernsh BULLY saya tapi saya tak peduli. Karena yang saya lihat karyanya. Jadi jika karya itu tidak asli tentu tidak layak jadi pemenang dan saya ajukan pada dewan juri. Salam buat jeng Shabrina Ws….jeng Ilenk Rembulan jeng Afifah Dua Afifah Afra Satu….juga semua yang hadir di disini….

Rantau Anggun Salut Bu Naning

Ini yang dinanti-nanti para penggiat sastra muda. Orisinalitas karya dan penilaian independen

Naning Pranoto Tolong jangan ada yang hapus diskusi ini. Jeng Afifah Afra Satu Afifah Dua….adakah yang mau transkripkan disukusi ini dan inboxkan pada saya? Karena saya sefang di perjalsnan…tak bawa laptop. Saya nantikan amalnya…cc Shabrina Ws Ade Anita Yeni Mulati Ahmad….nuwun….

Octaviani Nur Hasanah Benar, Mbak Rantau Anggun. Saya setuju sama dikau. Ada satu hal lagi sepertinya yang harus diapresiasi dari karya: originalitas ide dan etika dalam berkarya.

Afifah Afra Satu Naning Pranoto: saya copaskan, insya Allah Mbak…

Rantau Anggun iya mbak, etika berkarya.

Naning Pranoto Octaviani Nur Hasanah…..ysng dimaksud kata originalitas adalah kesatusn dari tiga yang Anda msksud. Nuwun

Khoiriyyah Azzahro Oke bunda Naning Pranoto.. akan segera saya kirim. Saya sebenarnya tak bermaksud defensif. Ini karena mereka ( forum obrolan bentang) tak hentinya bertanya dan (maaf) kalimat mereka selalu menyudutkan saya. Terimakasih bunda. Maaf sebesarnya atas ketidaknyamanan ini.

Nda Syahdu Sip orisinalitas. Sy khawatir jika ini dibiarkan akan banyak lagi karya yg diplagiasi. Plagiasi, terinspirasi terlalu dalam.

Afifah Afra Satu Octaviani Nur Hasanah: nah, itu dia… klo originalitas ide mungkin agak sulit ya…, tapi minimal etika dalam berkarya. Kecuali kalau sama sekali belum pernah membaca karyanya, dan ternyata bisa melahirkan karya yang mirip, itu lain persoalan.

Khoiriyyah Azzahro Iya. Maaf waktu di jakarta ingin sekali menyapa bujda Naning Pranoto….tapi bunda terlihat sibuk ngobrol dengan yanh lain. Saya minder. Seusai acara saya di’paksa’ panitia untuk segera dapat tiket pulang sebelum pukul 12.00 jadilah saya kelabakan sendiri. Kebetulan saya ke jakarta sendiri gak ada yang jemput antar.

Adya Tuti Pramudita ada yang nyolek akuh? dan diskusi sudah kian mengular. masih tentang ping dan pong, ya. semoga semua berakhir baik dan ada keputusan terbaik bagi siapapun yang benar-benar berhak atas karyanya. jujur, saya suka ngeri kalau membicarakan ttg plagiat karna saya pribadi takut banget kena hal yang sama tanpa berniat sedikitpun. tapi tentu, kejujuran harus di atas segalanya. saya ikut nunggu keputusan bu naning dan dewan juri.

Khoiriyyah Azzahro Nunu El-fasa ya ide dan semua nama Pong-Taro dll itu sudah Άϑä tahun 2011. Tapi saya kehilangan mood karena sulitnya mewawancarai Pak Arief di BKSDA untuk mendapatkan info dan data riset. Ternyata Novel Ping terbit tahun 2012 (sebenarnya saya juga ikut sayembara novel bentang. Tapi tak menang). Lalu tahun 2013 saya membaca unek-unek di koran (seperti penjelasan sqya di atqs) dan saya menemukan cara mudah bicarq dengqn pak arif. Lalu jadilah cerpen pong. Maaf sebelumjya…

Riawani Elyta Terima kasih mbak Naning Pranoto sudah memanggil kemari, perkenalkan, saya Riawani elyta, salah satu penulis novel ping bersama Shabrina Ws, selama perkembangan kasus ini saya dan shabrina memang sepakat untuk keep silence dan menyerahkan semua kebijakan pada pihak yang berkompeten, meski demikian, kami juga sudah menyimpan catatan beberapa bagian diksi dan penulisan antara novel dan cerpen tsb yang mirip. Dari pihak Bentang Pustaka selaku penerbit novel ping saat ini juga sedang mempelajari kasus ini. Sekali lagi saya dan shabrina menyerahkan semua kebijakan pada pihak yang berkompeten dan terima kasih atas perhatian banyak pihak atas masalah ini:-)

Adya Tuti Pramudita smoga berakhir baik dan seadil-adilnnya ya ka Riawani Elyta … hal ini jadi pelajaran luar biasa untuk saya pribadi

Nunu El-fasa Oh begitu ya mbak… Bukan maksud menyudutkan mbak Khoiriyyah Azzahro.. Saya hanya menggaris bawahi beberapa komentar “terinspirasi” dan “ditulis sebelum ping” bagaimana bisa terinspirasi ditulis sebelum ping lahir. Logikanya jadi terbalik mbak

Adya Tuti Pramudita novel ping itu memang sangat bagus dari ide cerita dan diksi, gak banyak yang menggarap ide seperti itu. bisa dibaca semua usia. saya bisa bikin belasan cerita pengantar tidur dari novel ping itu buat anak saya, memang cocok utk jadi inspirasi. tapi tentu kalau utk dibuat karya tertulis semisal jadi cerpen dan ada 4 faktor yang mba afra tadi sebut, memang membuat pembaca novel ping jadi terkejut-kejut.

Mell Shaliha Maaf nimbrung. Jadi cm mau panggil mb Shabrina Ws utk mengirimkn ping brsama betang ya..psnan kmrn. Dan akn sy krm yg kmrn jg. Ngomong soal ide g orisinil emg sy ngalami byk…krn sy bljr nulis jg byk ngembangin ide senior dr bku yg sy bc. Tapi bkn brarti sma…misal..wktu lht iklan FTB mb Fauziah Fachra eh mb Riawani Elyta bulan April thn lalu sy lgsg pny ide utk mnulis novel sy dgn setting negara serumpun china…bulan juni masuk meja redaksi lomba nvl islami di pnrbt ‘b’ lalu setelah sy krim sy dpt kiriman hdiah nvl FTB dr mb lyta. Setelah sy bc sy mnjerit trnyata sy suka dgn crtanya..dan menginspirasi sy bnyk hal. Kmudian setlah akhr sept lomba sy gagal…nvl sy tarik tanp revisi. Tdl jg sy bca ulang krn sy takut akan brubh pikiran. Besar impian sy agr bku sy shbt bku mb lyta. Meski cm mimpi,tp sy pasrah pd jodoh sy. Dan trnyata sy brjdoh dgn pnrbit keren ‘i’. Yang lebih seru lagi…ketika bln feb lalu nvl sy trbit…sy buka utk pertma kalinya dan…. pikiran sy lgsg trtuju pd Ftb. Dari cover dlm trdpt lampion seperti dejavu saja… dan alhamdulillah sy berhasil mengembangkn ide dr cover FTB. Mungkin bgtulah bljr…tidak instant dan bisa dari apa saja. Meski hny sebuah design. Mksh mb Afifah Afra Satu kjadian ini akan membuat kt smua hati2.

Fardelyn Hacky betul kayak kata mba nunu. Tadinya dibilang terinspirasi Pong dari Ping tapi kemudian dibilang Pong ditulis sebelum Ping lahir. Kayaknya jeng Khoiriyah sedangg didera kebingungan mengemukakan Alasan

Rantau Anggun Oh iya Mbak Khoiriyyah, jujur saja, perbincangan ini melampaui kebiasaan saya. Namun demi orisinalitas ide, etika berkarya dan persahabatan dengan Mbak Riawani Elyta serta Mbak Shabrina Ws—saya melampaui kebiasaan yang enggan bersahut komen. Saya terima ketika Mbak menggunakan komentar balasan yang agak sensitif. Meski saya sebisa mungkin menggunakan kalimat yang tidak defensif ataupun destruktif.

Akan tetapi, saya hanya mengingatkan. Jangan hanya prestise ide yang tak mau dikatakan sama, padahal itu terinspirasi apalah namanya. Anda jadi melanggar kepatutan bersosmed di tanah air. Apalagi sesama penulis, kita difasilitasi kemampuan merangkai kata. Apakah rangkaianmu bunga melati ataukah rotan berduri.

Saran saya? Selain meminta maaf terbuka pada Shabrina WS, Riawani Elyta, Bentang Pustaka, Bu Naning selaku dewan juri dkk karena Anda ‘lupa’ mengikutsertakan link penerbit dan novel Ping. Saran saya lainnya adalah Anda meminta maaf karena tidak meminta izin untuk share status Neida Camelia. Dan share itu hanya untuk mencari pembenaran, perang opini dan saya mengendus pencemaran nama baik. Mbak Neida masih berbesar hati walaupun itu sangat sulit. Wong Mbak Khoiriyyah saja yang sudah ditengarai mirip karyanya bisa marah2 tak terkendali, apakah Mbak Neida gak boleh berekspresi ketika statusnya dieksploitasi?

Sesungguhnya banyak sekali yang Anda pertaruhkan mbak. Padahal itu cukup simpel solusinya. Maaf ya, just my humble opinion.

Mell Shaliha Meski hny menyimak sj tp sepakat dgn mb Rantau Anggun

Nunu El-fasa Sebenar apapun membela diri jangan sampai mencermarkan nama baik. Jika memang benar buktikan dimananya. Seperti orang2 membuktikan kesamaan EuP dan Ping mbak Khoiriyyah Azzahro

Naning Pranoto Heeee.,..saya agak bingung, novel Ping ditulis oleh berapa orang? Maaf kalau salah. Penafsiran saya dari komen2 ….novel tsb ditulis oleh lebih dari satu orang begitu.

Nunu El-fasa Hehehe maaf mbak Afifah Afra Satu. Aku melu2 mbak Rantau Anggun. Tanggung jawaaaab mbak

Nunu El-fasa Bu Naning Pranoto dua orang. Mbak Riawani Elyta dan Shabrina Ws

Afifah Afra Satu Naning Pranoto: ditulis 2 orang mbak: Riawani Elyta dan Shabrina Ws … ini yang ikut diskusi kebanyakan dari teman-teman dari komunitas BAW, komunitas kepenulisan yang diikuti mbak RE dan SWS. Mungkin bagian dari proses advokasi komunitas BAW.

Binta Almamba Yup mari mengambil hikmah dr kasus ini.. bagaimana menghargai karya cipta.. dan jg meramu ide yg inspirasinya bisa dari mana saja.. makasih atas colekannya.. yuk menulis kembali.. sembari terus belajar dr pengalaman

Nunu El-fasa Oke mbak Afifah Afra Satu back to topic

Kalau menurutku emang alurnya mirip banget mbak. Meskipun dari mbak KaZ berargumen beda ending. Toh memang novel dan cerpen beda panjangnya. Enggak mungkin menyamai plek ketiplek. Kalau dalam Novel ada pengembangan. Tapi di cerpen seperti lebih difokuskan. Tetap tidak meninggalkan kesan sama.

Binta Almamba Hehehe… sy ga mengikuti perkembangan kasus smpai sejauh ini.. cuma mendoakan diam2 saat sy sibuk didapur. Untuk mbk eni mbk ria dan smua teman2… dan jg mbk khoiriya smoga diberikan keikhlasan utk mengambil hikmah kebaikan dr semua ini.. amiiin

Ade Anita Full: aku sudah mengirim point2 yang diduga memiliki kemiripan. Selanjutnya aku menunggu kebijakan dari panitia saja. Jujur aku masih awam untuk mengkritisi dan mengatakan apakah ini sebuah karya yang plagiat atau tidak.

Pada kasus2 sebelumnya, kasus plagiat biasanya terjadi pada sesama cerpen, atau sesama puisi. Tapi ini yang dipertanyakan adalah sebuah novel (yang terdiri dari halaman yang berkali lipat banyaknya dari cerpen) dan sebuah cerpen (yang dibatasi jumlah halamannya). Aku tidak tahu apakah telisik sastra bisa diterapkan pada kasus ini mengingat bentuk tulisannya memang berbeda.

memang ada dugaan, cerpen itu memplagiat gagasan yang ada di dalam novel tersebut, yang dimulai dengan bagian pembukaannya dan beberapa bagian percakapan atau deskripsi tulisan di dalamnya. Jadi seakan memepatkan cerita dari novel menjadi sebuah cerita pendek dengan mengganti tokoh, jenis binatang, lokasi dan fokus konflik. Tapi sekali lagi, apakah ini sudah cukup menjadi deret fakta untuk bisa dikatakan sebuah plagiat? Aku masih belum mencapai maqomnya untuk mengatakan hal itu. Itu sebabnya aku melayangkan surat resmi pada mbak Naning Pranoto untuk menindak lanjutinya ke panitia. Insya Allah ada orang-orang yang lebih berkompeten untuk menguji hal tersebut di Raya KUltura.

Besar harapan, apapun keputusannya kelak bisa ada kejelasan untuk ke depannya apakah hal tersebut (jika memang bukan plagiat) diperbolehkan oleh para penullis kreatif dalam menghasilkan karya. Tapi jika tidak boleh (karena terbukti plagiat) maka kami yang awam ini bisa tahu rambu2 apa saja yang ada untuk membedakan antara “terinspirasi dan plagiasi”.

Afifah Afra Satu Diskusi ini menjadi semakin menarik… mari kita panggil para kritikus dan sastrawan untuk berdiskusi soal batasan terinspirasi vs plagiasi: Mas Joni Ariadinata, mbak Helvy Tiana Rosa, mbak Rahmadiyanti Rusdi, Teh Maimon Herawati, Denny Prabowo, Topik Mulyana, M Irfan Hidayatullah, Benny Arnas, Koko Nata, Hendra Veejay, Rianna Wati, dll.

Khoiriyyah Azzahro Mba Nunu El-fasa sentimen benar ya sama saya…. silakan kalau mau terus-terusan menghujat saya…. monggo…

Nunu El-fasa Mbak Khoiriyyah Azzahro di mana letak bagian saya menghujat? Adakah yang kasar? Tolong saya diberi tahu.

Berarti orang ini gak bisa secara halus dan kekeluargaan untuk disarankan meminta maaf. Harus melalui advokasi ini mbak Shabrina Ws

Khoiriyyah Azzahro Bacalah komen anda sendiri di atas mba Nunu El-fasa… maaf saya masih manusia yang punya perasaan mba… maaf…

Nunu El-fasa Hei mbak lupa ya. Ini diskusi umum.

Denny Prabowo bukan mba Afifah Afra Satu, saya lupa perkataan siapa. tapi saya baca kutipannya dari eka kurniawan. logikanya sederhana, pencuri akan berusaha membuat hasil curiannya tidak dikenali orang. teks itu ga ada yg bener2 original kok. makanya Julia Kristeva bikin teori intertekstual. tapi ya itu, penulis pemula ga akan mampu mencuri. mereka cuma bisa meminjam aja

Jurnal Sastratuhan Hudan mungkin ini yang benar : “Ingat tidak, kalau saya membuat puisi pendek yang mirip Sapardi Djoko Damono misalnya, saya akan tuliskan dibawah *Ter-Sapardi Djoko Damono* meski yang saya tiru hanya gaya puisinya saja, bukan isi dan diksinya, apalagi pesannya.” sisanya gak apa apa: kuat kuatan mana indah dan penuh maknanya. chairil mencuri dan ia kita hormati, oleh konteks dan oleh kuatan karya chairil dari yang ia curi. pak budi darma membuat referensi untuk novelnya olenka. asyik ayik aja kok.

Afifah Afra Satu Denny Prabowo: steve jobs juga pernah mengatakan hal seperti itu. “Good artist copy. Great artist steal” Tetapi “steal” pakai tanda petik. Maka, Austin Kleon menulis “Steal Like an Artist”. Bagaimana kita ‘mencuri’ tanpa terlihat mencuri. Karena sesuatu yang original benar-benar tak ada di bumi. Mirip teori Julia Kristeva itu. Kalau dalam teks yang lebih ‘santun’, meracik tulisan dari banyak bahan… begitu kurang lebihnya. Mbak Rahmadiyanti Rusdi pernah nge-share hal itu kayaknya. Eh, bukunya udah terbit atau belum yak?

Naning Pranoto Jeng Nunu El-fasa….saya nantikan di email: rayakultura@gmail.com….sangat berguna bahan diskusi dewan juri. Sukron.

Nunu El-fasa Oke via email bu pelan2 ngirimnya jadi puluhan gambar.. Kalau gambar gak bisa bohong isinya

Afifah Afra Satu Jurnal Sastratuhan Hudan: Kalau ‘mencuri’ dan tak terlihat ‘mencuri’ berarti ada unsur ‘creatio’ di sana… nggak bisa disebut plagiat. Klo saya kok rada keberatan sebuah proses creatio disebut ‘steal like an artist’, apa nggak lebih baik ‘meracik karya seperti seorang chef andal’, yang mengumpulkan berbagai bahan untuk membuat resep-resep baru? *dasar emak-emak*

Naning Pranoto Jeng Afifah Afra Satu Afifah Dua….jika bicara tentang Julia kristeva mungkin kasus Pong karya Khoiriyyah Azzahro….akan tepat dihubungkan dengan teori INTERTEXT….tapi terlalu banysk. SOAL INSPIRASI cenderung pada PERISTIWA bukan TEXT….

Afifah Afra Satu Naning Pranoto: betul sekali, teori Kristeva tidak tepat menjadi legitimasi plagiasi, karena intertekstual sebenarnya merupakan peracikan bahan-bahan, begitu kan, Mbak?

Naning Pranoto Jeng Afifa Afifah Afra Dua…tapi intertext juga ada batasannya. Ini berkaitan erat dengan teori narasi. Kapan-kapan jika Forum Lingkar Pena membahas masalah INTERTEXT dan INSIRASI saya mau hadir ikut bicara. Ini perlu kita telaah benar-benar, agar siapa pun yang serius menulis tidak melakukan ‘copy-paste’. Saya juga prihatin banyak teman-teman yang menulis buku acuan menulis tanpa menyebutkan narasumber. Menulis akademis maupun nonakademis jika memang menggunakan sumber harus disebutkan. Ngaten ruimiyin diajeng…

Afifah Afra Satu Buat teman2: Prinsip Teori Intertekstual dari Julia Kristeva: (1) interteks melihat hakikat sebuah teks yang didalamnya terdapat berbagai teks; (2) interteks menganalisis sebuah karya itu berdasarkan aspek yang membina karya tersebut, yaitu unsur-unsur struktur sepertitema, plot, watak, dan bahasa, serta unsur-unsur di luar struktur seperti unsur sejarah, budaya, agama yang menjadi bagian dari komposisi teks; (3) interteks mengkaji keseimbangan antara aspek dalaman dan aspek luaran dengan melihat fungsi dan tujuan kehadiran teks-teks tersebut; (4) teori interteks juga menyebut bahwa sebuah teks itu tercipta berdasarkan karya-karya yang lain. Kajian tidak hanya tertumpu pada teks yangdibaca, tetapi meneliti teks-teks lainnya untuk melihat aspek-aspek yang meresap kedalam teks yang ditulis atau dibaca atau dikaji; (5) yang dipentingkan dalam interteksadalah menghargai pengambilan, kehadiran, dan masuknya unsur-unsur lain ke dalam sebuah karya

Afifah Afra Satu Naning Pranoto: siap! Nanti kami bahas untuk segera mengagendakan hal tersebut… colek Sudi Yanto, Zaki Fathurohman

Comments

comments