Duo DoA Pentas di Tembi Rumah Budaya

Duo DoA

Group musik ‘Duo DoA’ terdiri dari dua orang Donny E.Saputra dan Aldy Erlangga. Keduanya tinggal di Jakarta, hadir di Tembi Rumah Budaya saat acara Sastra Bulan Purnama edisi ke-43 me-launching antologi puisi ‘Mozaik’ karya Lies Wijayanti, Jumat 3 April 2015. Keduanya mengolah puisi karya Lies menjadi lagu.

Donny memetik gitar dan Aldy bertindak sebagai vokal. Dua puisi, berjudul ‘Kangen’ dan ‘Desember Tujuh Sembilan’ mereka gubah menjadi lagu. Suara Aldy enak didengar, dipadukan petikan gitar Donny, dan musik yang sudah dikomputerisasi menjadikan pertunjukan ‘Dua DoA’ asyik untuk dinikmati.

Duo DoA memamg khusus menggarap puisi Lies Wijayanti menjadi lagu. Bahkan karya itu sudah direkam dalam bentuk CD. Dua judul puisi ‘Kangen’ dan Deesember Tujuh Sembilan’ sudah bisa didengarkan melalui CD. Mungkin, sekaligus untuk mengenalkan, dua lagu puisi tersebut ditampilkan dalam acara Sastra bulan Purnama.

Sesungguhnya, tak ada yang membedakan dengan musikalisasi lainnya. Duo DoA, tampil dua orang, dan yang satu memetik gitar,. Satu lainnya mengalunkan lagu. Pola seperti ini hal biasa dalam pertunjukan lagu puisi, bahkan biasanya seseorang memetik gitar sembari mengalunkan lagu puisi.

Mungkin yang membedakan, suara Aldy Erlangga enak didengar. Dipadukan dengan petikan gitar Donny Saputra yang lembut, keduanya seperti serasi. Keduanya saling mengisi dan lagu ‘Kangen’ dari puisi Lies Wijayanti seperti terasa religius. Bahwa rasa kangen bukan dengan relasi lawan jenis, tetapi pada dimensi lain.

Berikut ini puisi ‘Kangen’ yang sangat pendek, yang ketika dilagukan terasa tidak pendek. Karena ada bagian yang diulang-ulang.

Kangen

Sepi melanda
melanda segala ada
sekeping kangen

Sunyi menghuni
menyibak dini hari
semakin menjadi

parah rasa,
Tuhan tolong hamba
sua, suakan dia!

Bogor, Juli 1978

Duo DoA, memang tidak hadir secara pop. Mereka tampil dalam bentuk lain, laiknya lagu puisi, yang bukan pop, tetapi memiliki nuansa tersendiri, yang sulit dicarikan kategorinya, seperti umumnya lagu puisi yang selama ini dikenali. Makanya, lebih tepat disebut sebegai lagu puisi, yaitu puisi yang dilagukan. Karena kalau musikalisasi puisi, bentuknya bisa bermacam-macam, bisa berupa membaca puisi diiringi musik dan seterusnya.

Ons Untoro
Foto: Budi Adi

Sumber : Tembi.net

Comments

comments