DZIKIR JANTUNG FATIMAH: KETIKA ANAK LEBIH DEWASA DARI ORANG TUA

Oleh Eunike Hanny

Sejatinya, orang tua adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya. Ketika dunia luar belum mampu dipahami oleh anak, maka menjadi tugas orang tua untuk memberi pemahaman dan perlindungan yang diperlukan sang anak. Namun, dalam beberapa kasus, terkadang kedewasaan tidak berhubungan dengan umur dan pengalaman, seperti yang terjadi pada Ayu dan ibunya, tokoh utama dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto.

Ayu adalah remaja lima belas tahun yang cerdas dan percaya diri. Meskipun kakinya cacat karena serangan polio ketika balita, namun dia sangat mandiri dan bahkan menoreh prestasi sebagai atlet pelajar. Semua itu tak lepas dari didikan ibunya, Lidya, yang terus menerus memberi semangat pada Ayu agar putrinya itu kelak memperoleh keberhasilan dalam hidupnya, mengikuti jejaknya.

Lidya sendiri cukup sukses dalam karirnya meskipun dia bukan lulusan universitas. Namun, keberhasilan itu membuatnya menjadi wanita dominan dan materialistis, dan memilih bercerai dari ayah Ayu yang hanya seorang seniman dengan penghasilan tak menentu. Dia pun menuntut hak asuh atas kedua anak mereka, Ayu dan abangnya.

Ketika krisis moneter melanda antara tahun 1998-1999, perusahaan tempat Lidya bekerja bangkrut. Beruntung Lidya masih mendapat pesangon yang cukup besar. Namun, ketika keinginan untuk hidup mewah tampaknya terkabul, rasionalitas tak lagi berjalan. Alih-alih menabung atau memulai usaha dengan uang pesangon tersebut, Lidya justru menggunakannya untuk membeli mobil mewah dan berfoya-foya. Peringatan Ayu dan abangnya untuk mencari pekerjaan baru diabaikan Lidya dengan alasan jabatan dan gaji tidak sesuai dengan pekerjaannya terdahulu.

Pengeluaran uang yang terus menerus tanpa dibarengi oleh pemasukan membuat Lidya bangkrut. Tanpa sepengetahuan Ayu dan abangnya, Lidya memanfaatkan internet bukan untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan mencari cara agar mereka bisa tinggal di luar negeri. Dan, bagi Lidya, cara yang paling mudah adalah dengan menikahi pria dari negara asing.

Berbeda dari kebanyakan remaja belasan tahun yang senang berkelompok menghabiskan waktu bersama dan mencoba hal-hal baru, tidak demikian halnya dengan sosok Ayu dan abangnya dalam novel ini. Pemikiran mereka terlihat lebih dewasa bila dibandingkan dengan ketidakmampuan Lidya untuk mengambil berbagai keputusan yang menyangkut hidupnya dan keluarganya, dan puncaknya adalah keputusannya untuk menikahi Ernest Bronkost dan pindah ke Australia, tak peduli bahwa sesungguhnya sosok pria tersebut benar-benar tidak dikenalnya.

Ketakutan Ayu akan sosok suami baru ibunya terbukti ketika suatu hari Lidya pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Melalui ayah Chia, teman barunya di Dandenong, Australia, Ayu tahu bahwa Bronkost adalah seorang pria yang suka menyakiti pasangannya.

Dalam novel ini, menarik untuk mencermati bagaimana hubungan antara seorang ibu yang dominan dan materialistis dengan anak-anaknya, terutama dengan anak perempuannya, yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdoa dan menulis. Belasan puisi yang mengawali setiap bab menggambarkan bagaimana transformasi perasaan Ayu terhadap ibunya, dari rasa kecewa, marah, benci, kesepian, hingga jatuh kasihan dan akhirnya harapan akan kehidupan mereka di tanah yang baru. Puisi-puisi tersebut menjadi cara Ayu untuk mengadu kepada Tuhan.

Dan Tuhan pun menjawab dengan cara yang indah melalui persahabatan baru yang terjalin di antara Ayu dan Marco, seorang mantan narapidana, yang menemukan Tuhan di dalam penjara. (EH)

Comments

comments