EVA ANDRIANI: MENJADIKAN ‘MEDSOS’ GERBANG MASA DEPAN

Bicara soal Media Sosial (Medsos) identik dengan kaum muda masa kini yang lazim disebut kaum milenial. Betapa tidak? Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia sebanyak 143,26 juta dari total populasi 262 juta orang. Pengguna terbanyak adalah kaum milenial, yaitu 49,52 persen dari 143,26 juta tersebut. Wilayah survey meliputi enam wilayah besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Maluku dan Papua. Diprediksi, tahun 2018 ini akan meningkat menjadi 65 persen.

Siapakah kaum milenial itu? Istilah kaum milenial dicetuskan oleh dua sejarawan Amerika Serikat, William Strauss dan Neil Howe yang menulis buku tentang siklus generasi dalam buku mreka yang berjudul Generation, diterbtkan tahun 1991. Mereka garis bawahi bahwa kaum milenial lahir antara tahun 1980 – 1990 atau awal tahun 2000. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dirilis pertengahan Februari 2018, jumlah kaum milenial di Indonesia sebanyak 90 juta, berusia berkisar 20 – 34 tahun. Jumlah tersebut merupakan ‘penduduk usia produktif’ yang jumlahnya tertinggi dibandingkan di empat negara di Asia: Cina, Jepang, India dan Korea.

Eva AndrianiSalah seorang milenial Indonesia yang jumlahnya 90 juta tersebut adalah Eva Andriani, kelahiran Yogyakarta 23 tahun yang lalu. Gadis yang kini mengelola bisnis clothing berlabel The Kebaya ini, mengaku menjadikan medsos sebagai gerbang masa depan. Ia memanfaatkan medsos tidak sekadar untuk berha-ha-hi-hi dan bernarsis-ria, tapi benar-benar dimanfaatkan untuk link produktif. “Sejak SMA saya menggunakan facebook untuk cari link studi ke luar negeri.” Tutur Eva, ketika dijumpai penulis di butiknya yang berada di Yap Square Yogyakarta.

Lebih lanjut ia paparkan, sasaran studi tidak ke Barat, melainkan ke Timur yaitu Cina. Alasanya, untuk memperdalam Bahasa Mandarin karena Bahasa Inggris telah ia kuasai sejak di bangku SMP. “Saya berpikir, dengan menguasai Bahasa Mandarin saya akan punya link lebih luas.” Eva bertutur dengan semangat. Maka ia pun berusaha keras setelah lulus dari SMA Stella Duce 1 Yogyakarta berharap bisa studi di suatu universitas terbaik di Beijing. Tapi bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya. Selain ia konsultasi dengan biro jasa studi di Cina, ia juga menghubungi para milenial yang sedang studi di Cina.

“Saya berkenalan via facebook dengan mereka yang studi di Cina atau mereka yang tahu banyak tentang seluk-beluk studi di Cina. Ternyata hasilnya memuaskan sekali. Saya mendapat universitas yang bagus.” Tegas Eva yang ambil studi di fak ekonomi dan bisnis internasional. Dari teman-teman baru yang dikenalnya di facebook Eva juga menimba banyak pengalaman hidup di Beijing, kota pilihannya. Sehingga ia tidak mengalami ‘gegar budaya’ saat menapakkan kaki untuk menetap studi di Ibukota Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Puji Tuhan. Segalanya jadi berjalan lancar. Karena banyak milenial Indonesia yang studi di Beijing. Ya, yang paling banyak memang student dari Jakarta, urutan kedua dari Surabaya dan ya…dari Yogya lumayanlah.” Eva gembira.

Selama studi ia juga menggunakan medsos, khusus Instragam (IG) yang ia jadikan aplikasi praktik kerja atau magang (internship program) di bidang pemasaran. Waktu itu ia ditugaskan mencari mitra di Indonesia yang bisa memasarkan alat komunikasi dan masker penangkal polusi. Keaktivannya menggunakan IG, Eva berhasil mendapat nilai cemerlang. Kemudian, keberhasilannya menggunakan medsos untuk membuka gerbang masa depannya ia lanjutkan ketika telah lulus studi dari Beijing dan kembali ke Yogyakarta.

Eva merintis usaha di bidang clothing dengan meminjam modal dari ibunya, Christina HS yang menerjuni profesi di bidang pendidikan. “Mama saya mendidik saya untuk mandiri. Tapi, memang itu yang saya mau, walau saya anak tunggal. Papa saya tidak setegas mama saya. Jadi imbanglah.” Eva tertawa-tawa.

Usaha clothing yang dirintisnya mula-mula penyewaaan kain-kebaya untuk para mahasiswi yang mau wisuda agar tidak usah repot bikin baju. Maka, usahanya diberi nama The Kebaya. “Ide usaha saya muncul ketika saya mengalami kesulitan nyewa kain kebaya. Kemudian waktu itu saya survey dan hasilnya penyewaan kain-kebaya di Yogya belum banyak. Kain-kebaya yang disewakan pun kurang variatif baik model maupun bahannya. Lalu saya ambil market yang belum digarap. Hasilnya cukup memuaskan.” Papar Eva, yang mempromosikan usahanya melalui IG.

Waktu baru buka usahanya, Eva menggunakan ruang di bagian dari rumah orangtuanya. Setelah berkembang ia menyewa ruko dua lantai di Yap Square untuk jangka tiga tahun. Pengembangan tidak hanya di bidang penyewaaan, tapi memproduksi. Ia mempekerjakan beberapa penjahit untuk melayani pengunjung butiknya yang belanja batik atau bahan lainnya dan djahitkan ssekalian. Batik yang ia jual termasuk eksklusif, modelnya sesuai dengan permintaan pembeli dengan tarip relatif murah.

Comments

comments