FIKSI DALAM TEORI

33-KISS

Lovely Notes bersama Naning Pranoto:
(Sebutkan sumbernya jika Anda mengutip tulisan ini. Karya dilindungi Undang Undang Hakcipta)

FIKSI DALAM TEORI

Kata fiksi berasal dari bahasa Inggris kuno: ficcioun. Kemudian berubah menjadi fiction, serapan dari bahasa Prancis kuno yang diambil dari bahasa Latin: fictus. Artinya, karya rekaan berdasarkan imajinasi murni atau berdasarkan imajinasi dipadu dengan fakta, demikian papaparan yang ada di American Heritage Dictionary of the English Language, Edisi Ke-4 , tahun 2000. Kamus ini diterbitkan oleh Houghton Miffin Company. Penjelasan serupa, dapat dibaca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Ke-3 tahun 2002, terbitan Pusat Bahasa Depdiknas RI bekerjasama dengan Balai Pustaka.

Fiksi diciptakan oleh pengarang, cabang utama dari karya sastra antara lain berupa cerita mini atau flash (cerita mini/cermin), cerita pendek (cerpen), cerita pendek panjang (cerpan), novel pendek (novelet), novel, novel panjang (epos), cerita bergambar (cergam), komik dan dongeng. Fiksi juga membuahkan karya antara lain naskah drama, naskah sandiwara radio, skenario film, lirik lagu dan iklan.

Jenis fiksi terdiri dari fiksi-realistis, fiksi nonrealistis dan semi-fiksi. Jenis yang pertama, penulisan fiksi berdasarkan fakta atau kisah nyata dibumbui imajinasi. Contoh, membuahkan novel sejarah seperti karya novel-novel Pramoedya Ananta Toer – Sastrawan Indonesia, antara lain Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sedangkan novel serial Harry Potter, karya JK Rowling merupakan contoh fiksi nonrealitis. Semi fiksi biasamya digunakan untuk menulis biografi yang menjadi suatu cerita. Antara lain biografi Evita Peron (Evita Peron) – Mantan Ibu Negara Argentina, Inggit Ganarsih (Kuantar Ke Gerbang) – istri pertama Bung Karto dan Mahatma Gandhi (Gandhi) – Bapak Semua Bangsa.

Novel dan cerita pndek adalah jenis penulisan fiksi yang paling banyak diminati untuk ditulis oleh pengarang maupun calon pengarang. Fiksi yang bersifat ringan dalam arti pop, banyak digemari pembaca dengan alasan enak dibaca dan ceritanya menarik – mudah dicernak. Fiksi serupa itu disebut oleh Paulo Coelho ditulis oleh pengarang yang mengajak pembacanya ‘bermimpi’. Sedangkan fiksi yang berat, kategori sastra, ditulis oleh pengarang yang mengajak pembacanya berpikir.

Ada enam elemen dalam fiksi cerpen dan novel: (1) Plot; (2) Sudut pandang; (3) Tokoh/Pelaku; (4) Konflik; (5) Setting dan (6)

Emosi/mood. Secara teori creative writing, keenam elemen tersebut merupakan ‘rambu-rambu’ berkarya, memasuki proses kreatif untuk membuahkan cerpen atau novel. Proses kreatif melalui empat langkah: (1) Babak awal: Menentukan tema disertai ide cerita; (2) Plotting/perenungan dan pengendapan; (3) Proses penulisan dan (4) Babak akhir: Editing/Penyuntingan.

Untuk menyesuaikan dengan kerja penerbit serta tuntutan pasar, panjang tulisan cerpen maupun novel dibatasi dengan berhitungan sebagai berikut:
• Flash/Cerita Mini: 100 – 200 kata
• Cerita Pendek Ideal: 1.000 – 5.000 kata
• Cerita Pendek Panjang: 5.000 – 10.000 kata
• Novelet: 7.500 – 15.000 kata
• Novel: 17.500 – 75.000 kata
• Novel Panjang (Epos): 200.000 kata lebih

Fiksi seperti apa yang tidak disukai pembaca?
• Cerita bertele-tele dan ruwet (jumble)
• Plot acak-acakan
• Plagiat
• Isinya :menggurui
• Miskin kosa kata (banyak pengulangan kata)
• Banyak menggunakan jargon atau bahasa yang sulit dipahami
• Narasi terdiri dari kalimat yang panjang (kalimat ideal 8 – 14 kata)
• Penerapan tanda-baca kurang tepat

Oleh Naning Pranoto

Comments

comments

Tags: