Wawancara

Dr. G.A. Kusmiati, MARS, FISQua

BELAJAR KOKOH-TEGAR PADA ‘KERINGAT’ AYAH

Animo forti nihil forte

Bagi hati yang kokoh tidak ada hal yang terlalu berat

(Verg, Penyair Romawi, 70 SM – 19 SM)

Dr. G.A. KusmiatiHati yang kokoh itu bak fondasi rumah yang mampu menyangga struktur bangunan berikut pilar-pilarnya, isi serta penghuninya. Setiap makluk hidup membutuhkan ‘rumah’ untuk mempertahankan kelangsungan hidup dalam berbagai cuaca, situasi dan kondisi serta berjuang tiada henti. Tanpa kekokohan, kehidupan akan ambyar bahkan ambruk menjadi puing-puing berserakan nirguna. Siapa yang mau hidup sia-sia alias konyol? Maka tak heranlah, secara naluri kawanan semut pun akan menggigit jika hidupnya terancam. Apalagi manusia yang punya akal dan daya pikir, walau masing-masing manusia tidak sama tingkat akal dan daya pikirnya. Hal itu tergambar begitu bening ketika Penulis berbincang-bincang dengan dr. G.A. Kusmiati, MARS, FISQua – Direktur Rumah Sakit (RS) EMC Sentul City Bogor, Jawa Barat. Tidak sedikit pelajaran hidup yang banyak Penulis petik dari perempuan kelahiran Sukabumi Jawa Barat, tahun 1963. Berikut ini paparanya, sangat mungkin bisa dijadikan acuan bagi para perempuan yang ingin kokoh dan tegar untuk survive dan mempunyai dignity tinggi sebagai perempuan agar bisa melaksanakan peran hidupnya sebagai apa pun.

Situasi yang Menumbuhkan Empati

Humble! Itulah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Kusmiati yang hampir dua windu lamanya mengelola manajemen rumah sakit. Awal karirnya sebagai dokter muda lulusan Universitas Kristen Jakarta tahun 1989 mengemban tugas di ICU (Intensive Care Unit) di sebuah rumah sakit di wilayah Tebet Jakarta.

“Dokter Sibuea yang membimbing saya.” Tutur Kusmiati dengan semangat. Yang ia maksud adalah almarhum Prof. dr. W.H. Sibuea, Sp.PD, FINASIM yang dikenal selain sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang sangat mumpuni juga sebagai guru besar role-model para mahasiswanya.

“Saya sungguh beruntung dibimbing beliau! Saya jadi paham dalam menangani pasien-pasien di ICU itu harus gerak cepat dan telaten untuk proses penyembuhan pasien tersebut. Misalnya, pasien yang terserang stroke. Dokter Sibuea mentargetkan saya harus bisa menangani pasien tersebut sebaik-baiknya, waktu pulang harus sudah bisa jalan walau masih menggunakan tongkat. Maka waktu saya merawat pasien itu harus benar-benar telaten. Ya, nyuapi makan, memotivasi agar pasien itu tidak putus asa, melatihnya jalan dan yang paling penting merawat pasien dengan tulus!” Kusmiati menceritakan awal tugasnya sebagai dokter yang dididik punya rasa empati tinggi terhadap pasien yang dirawatnya.

Ya, empati dokter! Itu yang sangat diperlukan bagi seorang pasien untuk proses penyembuhannya. Hal itu telah terbukti bagi Penulis yang pernah menjadi pasien kritis akibat menderita kanker kandung kemih dan bisa disembuhkan di RS EMC Sentul City Bogor, berkat ditangani oleh para dokter yang memiliki empati tinggi. Mengapa bisa demikian? Karena rumah sakit itu dipimpin oleh Kusmiati, dokter yang dalam melayani pasien tidak hanya mengandalkan keprofesionalisnya belaka, tapi plus empati.

BACA :   JURUS MENOLAK PIKUN DAN FUNGSI MEMBACA DAN MENULIS PUISI AGAR OTAK AWET MUDA

Berbincang soal seputar empati dengan Kusmiati, Penulis jadi semakin paham bahwa rasa itu tidak bisa menumbuh secara instant. Ternyata Kusmiati telah mengasahnya sejak usia dini di lingkungan keluarganya yang jadi tempat ia menimpa diri dalam menghadapi hidup yang penuh perjuangan agar bisa survive and growing up.

“Ayah saya seorang sopir oplet. Ibu saya bikin kue-kue untuk dijual. Mereka kerja keras untuk menghidupi sebelas anaknya. Saya anak nomor empat dari sebelas bersaudara.” Tanpa ragu, Kusmiati menceritakan masa kecilnya. Karena melihat ayah-ibunya yang pontang-panting kerja keras boleh dikatakan siang-malam, membuat empati atau tenggang rasa menumbuh perlahan lalu mengkokoh di sanubarinya. “Saya, bisa merasakan bagaimana beratnya perjuangan orangtua saya. Hal yang sama, juga dirasakan oleh kakak dan adik-adik saya. Makanya kami selalu kompak, dalam membantu ibu kami dalam jualan kue yang disetorkan di pasar. Kami pulang sekolah mampir ke pasar, mengambil uang dan sisa kue yang tidak laku. Kami sekolah juga harus lancar, karena biaya sekolah kami didapat orangtua dengan susah-payah. Dari ayah, saya belajar kerja keras, arti sebuah kejujuran dan berjuangan untuk meraih kehidupan yg lebih baik. Dari ibu, saya belajar sabar, rendah hati dan mengasihi dengan tulus dan dari kakak dan adik, saya belajar berbagi dan saling menghargai” Tegas Kusmiati dengan suara tegar.

Dari apa yang dialaminya itu, membuatnya tumbuh menjadi sosok yang penuh tepo-sliro dan menghargai pada setiap perjuangan dan eksistensi orang-orang di luar dirinya. Ibaratnya ia sejak kecil telah belajar hidup kokoh dan tegar dari tetesan keringat ayahnya. Sehingga ia mampu berjuang dan menghargai perjuangan orang lain. Maka ia merasa beruntung dalam perjalanan hidupnya dipertemukan dengan dr. Sibuea. Untuk ke depannya, ia jadi bisa menemukan jalan ke mana karirnya mengarah.

‘Menggantikan’ Kakaknya dan Momento Sebuah Tas

Kusmiati menceritakan kabar gembira, “Berkat kerja keras dan ketekunan ayah saya, kemudian ayah saya bisa membeli oplet bahkan memiliki beberapa oplet.” Matanya berbinar. Peningkatan ekonomi keluarga itu membuat kakaknya ingin kuliah di Fakultas Kedokteran. Tapi, keinginan itu urung karena ia sakit tidak dapat terwujud oleb karena beberapa sebab. Beberapa tahun kemudian posisinya digantikan cita-cita tersebut dilanjutkan oleh Kusmiati, tapi dengan perhitungan yang cukup jlimet. Ini bisa dipahami karena kuliah di Fakultas Kedokteran perlu biaya mahal, apalagi Kusmiati yang tinggal di Sukabumi untuk kuliah di Jakarta harus indekost. Untunglah, perhitungan yang jlimet itu menemukan titik terang. Pada tahun 1983 – 1989 Kusmiati kuliah di Universitas Kristen Jakarta dan terwujud lulus dokter. Kemudian ia mendapat kesempatan bekerja di rumah sakit yang dikelola Prof. dr. W. H. Sibuea, SpPD, KEMD.

BACA :   Ratih Kumala : Profesi Penulis Mampu Menghidupi.

Untuk bisa lulus menjadi dokter selain tekun belajar dan bergaya hidup hemat, setiap liburan kuliah Kusmiati pulang ke Sukabumi untuk membantu ibunya. Ia mengisi masa mudanya dengan penuh kesadaran tidak berhura-hura padahal kesempatan hidup di Jakarta – Kota Metropolitan merupakan ‘surganya’ orang berpesta-pora. Tapi tidak bagi Kusmiati. Sukabumi selalu memanggilnya pulang dan ia pun semakin matang dalam menyelami kehidupan yang sesungguhnya.

Ketika ia sudah mendapat penghasilan, membantu kelancaran biaya studi adik-adiknya. Di samping itu ia juga memberi perhatian penuh kasih sayang kepada kakaknya yang urung kuliah di Fakultas Kedokteran. “Kami saling mendukung, sampai sekarang. Bahkan kalau teringat kisah meninggalnya ibu saya, saya suka sedih. Saya menyesal!” tiba-tiba Kusmiati tampak sentimental ketika menceritakan babak ini.

Secara singkat Kusmiati bercerita, beberapa hari sebelum ibunya meninggal. Waktu itu menjelang pernikahan adiknya saudaranya menikah. Ibunya sudah mempersiapkan busana yang layak berikut tasnya. Tapi sebelum hari ‘H’ pernikahan itu ia ibunya pulang ke Sukabumi. Waktu mau pulang ke Sukabumi ibunya ingin membawa serta tasnya, tapi oleh Kusmiati dilarang dengan alasan, khawatir tas tersebut akan lupa – ya ketinggalan. Sempat terjadi perdebatan. “Akhirnya ibu saya pulang tanpa membawa tas tersebut. Tahu-tahu satu hari menjelang pernikahan adik saya pagi harinya di Sukabumi beliau meninggal. Duh, kalau saja tas itu dibawanya tentu ibu saya lebih bahagia.” Pungkasnya, dengan mata berlinang. Baginya, tas tersebut menjadi semacam momento dicti baginya.

Linangan airmata itu menunjukkan bahwa hati Kusmiati begitu berhati lembut. Sungguh paradox dengan pembawaannya yang kokoh, tegas dan lugas dalam wicara sebagai seorang profesional di bidangnya yang memerlukan gerak cepat dan tepat karena berurusan dengan kesehatan, kesembuhan dan eksistensi nyawa.

Tiada Beban Berat Jika Diangkat dengan Suka-Cita

Pengalamannya melaksanakan tugas di ICU sebagai dokter muda, membentuk pembawaannya cekatan dan berani mengambil keputusan dalam menangani pasien. Ternyata pengalaman tersebut juga membentuk dirinya berjiwa sebagai ‘pengelola dan pemimpin’ sebagai bekalnya mampu memangku jabatan sebagai direktur rumah sakit sejak tahun 2008. Pada mulanya menjadi Direktur Medis Corporate EKA Hospital ( April 2008 – Februari 2011 ) kemudian menjadi Direktur RS OMNI Pulomas Jakarta (Maret 2011 – Juli 2012), Direktur RS Ciputra Citra Raya Tangerang (Agustus 2021 – Februari 2015), Direktur RS Ciputra Citra Garden City Cengkareng Jakarta Barat (Februari 2015 – Agustus 2019) kemudian menjadi Direktur RS EMC Sentul City sejak September 2019 sampai sekarang.

BACA :   LIO BIJUMES FRAND PENA CAHAYA BINTANG UNTUK KAUM MUDA

Untuk mencapai jabatannya sebagai orang di garda terdepan sebuah rumah sakit, Kusmianti merintisnya dari jenjang sebagai Manager Pelayanan Medis di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara pada bulan Desember 2002 hingga April 2008. Ia mengaku, pada mulanya terasa berat, “Kan semula ibaratnya orang lapangan, lalu diterjunkan ke tugas yang sifatnya administratif, di dalam kantor. Ya agak berat. Belum lagi lingkungannya…tahu sendirilah, orahg baru ya kayak semacam diponco gitu. Tapi semuanya saya hadapi dengan berbesar hati. Jadi ya bisa…hingga sekarang.” Suara Kusmiati riang.

Baginya, kesertaan berkah Tuhan dalam berbagai hal yang ia lakukan merupakan anugerah hiup yang tertinggi dari segalanya. Itulah yang membuatnya makin kokoh dan tegar dalam menjalankan tugasnya dengan suka-cita. Ia yakin, itu menjadi kekuatannya. Maka setiap menerima tugas baru, ia yakini akan bisa dan mendapat dukungan dari lingkungannya. Tapi ia tidak memungkiri, pada mulanya ada keraguan. “Untunglah, saya bertemu dengan orang hebat yang memotivasi saya untuk bisa mengelola rumah sakit.” Papar Kusmiati, menyebut nama Khouw Lip Swan – salah satu pendiri Grup RS Mitra Keluarga. “Saya banyak belajar dari beliau dan itu sangat membantu karir saya.” Tegasnya.

Dalam hal mengelola rumah sakit, selain belajar dari lingkungannya, Kusmiati juga menempuh pendidikan secara formal. Ia ambil jenjang S-2, Master Degree in Hospital Management (MARS) di Universitas Indonesia tahun 2007 – 2009. Ibu dari tiga putra-putri ini juga aktif di berbagai organisasi yang ada kaitannya dengan profesi dan jabatannya, sehingga membuat dirinya selalu bisa update perkembangan semestinya.

“Saya juga selalu membuka komunikasi dengan para dokter dan tim management rumah sakit yang saya kelola. Mereka ini saya anggap sebagai keluarga, agar kekompakan kinerja dan hubungan secara sosial tetap terjalin dengan baik. Demikian juga saya selalu mendengarkan apa keluhan pasien agar kami bisa terus memperbaiki pelayanan. Bahkan yang perlu pertolongan kalau bisa ya kami tolong untuk meringankan beban pasien agar sembuh secara optimal. Itulah, morning meeting selalu kami laksanakan sebagai evaluasi.” Pungkas Kusmiati, yang selalu berusaha tiada henti untuk memberikan pelayanan yang terbaik tanpa pandang bulu.

(Naning Pranoto)

 

Comments

comments

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close