Jumpa Para Perempuan Baja di Hutan Beton

Catatan Perjalanan dari Hong Kong Naning Pranoto

Telah berkali-kali saya berkunjung ke Hong Kong. Tapi, perjalanan saya ke Hong Kong pada bulan Maret lalu punya tujuan khusus. Saya menjumpai adik-adik Buruh Migran Indonesia (BMI) Perempuan, khususnya para pendiri KoTeMa – Komunitas Teater Matahari. Dari KoTeMa saya tidak hanya melihat kegiatan para perempuan bermain teater, menulis astra, membaca puisi, melainkan lebih luas dari itu. Saya belihat puluhan ribu Perempuan Baja yang berjuang dengan berbagai ‘jurus silat’ untuk meningkatkan kualitas hidup secara rohani maupun ragawi. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari lika-liku perjuangan mereka. Bahkan, juga mengharukan.

Bukan Sembarang PRT

Sampai dengan bulan Maret 2015, jumlah BMI di Hong Kong sekitar 150.000 – demikian penjelasan Chalief Akbar, Konsul Jenderal RI untuk Hongkong SAR dan Macao SAR. Sebagian besar perempuan. Yang menggembirakan adalah, para BMI perempuan yang di Hong Kong pada umumnya punya semangat belajar yang tinggi. Baik, belajar secara formal maupun nonformal. Mereka yang belajar secara formal menempuh pendidikan Kejar Paket A dan B, ada pula yang kuliah di Universitas Terbuka – difasilitasi oleh Konsulat Jenderal RI di Hong Kong SAR. “Ada beberapa dari mereka yang IP-nya di atas tiga.” Tegas Chalief Akbar. Untuk menunjang pendidikan mereka, Konjen Hong Kong SAR pun mendirikan perpustakaan yang dibuka sebagai sumber belajar. Pada umumnya, BMI perempuan di Hong Kong memang punya hobi membaca, selain menulis, bersastra dan berteater. Bahkan di antara mereka ini telah berhasil menerbitkan buku dan pentas teater.

Penyerahan Buku Seni Menulis Cerpen pada Chalief Akbar – Konsul Jendral RI di Hong Kong

Penyerahan Buku Seni Menulis Cerpen pada Chalief Akbar – Konsul Jendral RI di Hong Kong

Pertemuan saya dengan Chalief Akbar bersama Stafnya dalam acara Lesehan Sastra dan Budaya yang diselenggarakan oleh KoTeMa di Ramayana Ballroom di Lantai 2 Gedung Konjen RI (KJRI) di Causeway Bay Hong Kong. Dalam acara yang dihadiri ratusan BMI ini, Chalief Akbar tampak akrab, memberi sambutan dengan duduk lesehan dan melayani foto bersama dengan BMI yang menginginkannya. Ia terlihat sangat ngemong. Sikapnya ini membuat para BMI yang di Hong Kong merasa ‘punya’ bapak yang mengayomi. Walau tak bisa dipungkiri, ada pula yang mendemonya. “Saya berusaha sebisa mungkin mendukung kegiatan mereka yang memang positif.” Mata Chalief berbinar. Hal serupa juga disampaikan oleh Yolvis Sahardi, yang bertugas di Konjen RI Hong Kong hampir 20 tahun. Lelaki berperawakan tegap ini bersikap penuh kekeluargaan dengan para BMI dan membuatnya jadi seperti ‘bapak angkat’.

‘Bersekolah’ di Hamparan Taman

Saya berkunjung ke Hong Kong sebagai tamu KoTeMa untuk menyelenggarakan creative writing workshop menulis cerpen dan monolog. Pihak Konjen RI di Hong Kong memberikan fasilitas akomodasi dan tempat untuk pelatihan. Pesertanya hampir 100 orang dan dihadiri para seniman dan sastrawan Hong Kong yang tertarik pada Sastra dan Budaya Indonesia. Acara workshop merupakan bagian dari acara inti Lesehan Sastra dan Budaya, dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan tarian daerah dan fashion-show berbahan dasar batik. Acara ini sungguh memukau, karena beberapa BMI menampilkan karya-karyanya yang spektakuler – tak kalah dengan karya desainer profesional. Karya-karya mereka biaya dari sebagian besar dari gajinya. Jika kembali ke Indonesia mereka ingin membuka butik atau membuka usaha jahitan kelas atas.

Busana yang diperagakan karya seorang BMI dari Kediri

Busana yang diperagakan karya seorang BMI dari Kediri

Mereka berkarya atas inisiatif sendiri – belaar secara otodidak. Demikian pula yang menjadi juru rias. Mereka umumnya belajar di taman, tapi bukan sembarang taman yaitu di Victoria Park – sebuah taman luas di jantung kota Hong Kong. Setiap Minggu, taman ini dibanjiri puluhan ribu BMI yang memanfaatkan hari libur kerjanya untuk berbagai kegiatan sambil rekreasi. Pemerintah Hong Kong memberi izin khusus untuk BMI.

Penulis di antara puluhan ribu BMI di Victoria Park

Penulis di antara puluhan ribu BMI di Victoria Park

Para BMI yang di Victoria Park berkelompok sesuai dengan kegiatan masing-masing. Ada yang berlatih main biola, belajar menjahit, belajar meraut, praktik merias wajah/make-up, baca puisi, pengajian, main rebana, diskusi dan ada pula yang menggelar perpustakaan lesehan. Siapa saja boleh membaca atau meminam buku dan bayarannya suka-rela. “Uang yang kami dapat untuk membeli buku agar koleksinya terus bertambah,” kata Wati, seorang pengurus perpustakaan lesehan. Koleksi buku mereka disimpan di kamar yang mereka sewa dengan relatif mahal dan ditanggung secara patungan dan kompak. Tujuannya, untuk mencerdaskan sesama BMI.

Tidak Punya Kamar, Menulis Dalam Gelap

Saya mengenal para BMI Hong Kong yang suka menulis, dari lomba menulis cerita pendek yang kami selenggarakan. Di antara yang suka menulis tersebut memenangi lomba yang kami selenggarakan. Selanjutnya, terjalin komunikasi melalui jejaring sosial. Sejujurnya, saya ‘jatuh cinta’ pada mereka dan jaringan penulis BMI yang saya kenal makin meluas. Waktu kami kopdar (kopi dasar) di Gedung KJRI Causeway Bay Hong Kong langsung akrab. Di antara mereka langsung pada bercerita tentang proses kreatifnya menulis. “Saya tidak punya kamar, karena apartemen majikan saya sempit sekali. Saya tidur di sofa. Saat keluarga majikan sudah tidur, saya mulai menulis. Kadang menulis dengan tanpa lampu. Kemudian tulisan saya, saya sempurnakan di Perpustakaan Hong Kong,” papar Hanna Yohana yang dikenal sebagai penyair dan juga wartawati sebuah media Indonesia di Hong Kong. Lain lagi dengan Laras Wati, Koordinator KoTeMa, “Saya menulis setahu majikan saya. Karena waktu tanda tangan kontrak kerja, saya bilang – saya ini penulis. Jadi, harus diberi izin menulis dan membaca. Untung, majikan mau mengerti,” mata Laras berbinar. Tapi, saat ini ia hanya punya menulis sedikit karena harus mengasuh anak balita dan bayi. Meskipun demikian bukan berarti kegiatan menulis mandeg. Tiap Minggu, hari libur ia gunakan untuk menulis selain bermain teater. Jika kembali ke Tanah Air, Laras Wati berkeinginan terus bersastra sambil ingin mengajar membaca dan menulis anak-anak jalanan.

Ayda Idaa – gadis asal Kediri ini juga punya magma yang kuat untuk menulis, tapi menulis naskah drama. Ia bekerja sebagai pengasuh anak autis dan melanjutkan kuliah. Maka ia menggunakan waktunya dengan efektif dan KoTeMa menjadi oase hidupnya. Ia mengaku belum mau kembali ke Tanah Air, sebelum meraih S2. Cita-citanya ingin mendirikan ‘sekolah bahagia’ bagi anak-anak – di mana pendidikan yang ingin ia tetapkan bersifat tidak mengekang, kreatif dan bebas terpimpin. “Jika mungkin, saya ingin mengajar di Papua,” demikian keinginannya.

KoTeMa mementaskan Ande-Ande Lumut

KoTeMa mementaskan Ande-Ande Lumut

Kuliner dan Lagu Peredam Rindu

Para BMI di Hong Kong, penampilannya keren-keren dan banyak yang trendy. Pada umumnya mereka menguasai tiga bahasa: Kanton, Indonesia dan Inggris. Tak tampak bahwa mereka itu PRT. Yang saya kenal, tujuan rekreasi mereka sifatnya mencerdaskan. Selain ke perpustakaan, mereka suka ke toko buku dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Saya senang ketika mereka mendampingi saya ke sebuah toko besar dan mereka tampak familier dengan toko buku yang umumnya dikunjungi para intelektual. Saya bangga dan terharu. Beda sekali dengan BMI yang bekerja di Malaysia. Kenapa bisa demikian? Ternyata pada umumnya, para majikan di Hong Kong memahami bahwa BMI punya hak mempertinggi kualitas hidup. Walau tak bisa dipungkuri, ada pula yang konyol jadi korban kekerasan. “Itu tergantung orangnya. Kalau kita berani bicara tegas, para majikan itu takut,” pengakuan seorang gadis asal Malang – cantik, jadi BMI di Hong Kong pernah mau ‘dijahili’ anak majikannya. Berkat kegigihannya melawan, ia selamat.

“Kontrak kerja harus jelas dan kita harus berani tegas,” kata BMI asal Karang Anyar yang pernah bekerja di Taiwan, kemudian pindah ke Hong Kong karena ingin punya kesempatan kuliah. Gadis berkacamata ini kini aktif sebagai mahasiswa UT di sebuah universitas di Hong Kong. Tak lama lagi ia akan lulus S1. Ia mengaku,k kala bekerja di Taiwan mendapat majikan yang sangat baik, karena sejak awal ia bersikap tegas dan profesional.

Seringnya berkumpul dan berdiskusi tentang berbagai topik di antara mereka, membuat para BMI perempuan yang muda-muda menjadi cerdas. Mereka berkumpul di hari Minggu, biasanya makan bersama – menikmati kuliner Indonesia sebagai peredam rindu pada Tanah Air. Habis makan bersama, mereka menyanyi atau bermain teater. Saat-saat tertentu mereka mencari bacaan bermutu atau menulis di Perpustakaan Pusat Hong Kong. Sehingga waktu mereka terisi dengan penuh manfaat.

Gaji mereka jika dirupiahkan berkisar pada angka Rp 4.500.000,- – Rp 7.000.000,- per bulan nett. Tapi, hidup di Hong Kong lebih mahal dibandingkan dengan Singapore apalagi di Malaysia. Sekali makan, masakan Indonesia – menunya nasi putih dan tempe penyet Rp 95.000,-. Mie goreng lebih mahal lagi. Buah-buahan juga demikian, dijual sistem per biji (bukan kiloan) – sebutir apel sedang Rp 15.000,-. Buah yang dikupas dalam kemasan plastik yang di supermaket di Jakarta (yang termahal) hanya Rp 45.000,- di Hong Kong dua kali lipat. Transportasi trem relatif murah. Tapi MRT relatif mahal. Jadi bisa dibayangkan, pendapatan mereka besar tapi pengeluaran juga besar. Bagaimana pun sulitnya mengatur keuangan, prioritas mereka adalah mengirim uang ke Tanah Air. Pada umumnya, untuk membiayai adik-adiknya sekolah. Ada juga yang kirim uang kepada suaminya, tapi bukannya untuk membiayai anak-anaknya, malah untuk menikah lagi. Maka tak heranlah, banyak BMI yang memutuskan bercerai dengan suaminya. Mereka pun menjadi Perempuan Baja.*)

Comments

comments