KEKASIH DARI OKINAWA

Oleh Naning Pranoto

Sulit melukiskan kecantikannya, tapi bisa kusederhanakan demikian: kulitnya hitam manis seperti umumnya gadis Jawa. Lalu? Oh, iya, rambutnya hitam kemilau, panjangnya hingga ke pinggangnya yang ramping. Matanya? Hitam, jernih, seperti mata Widyawati,  artis film dan sinetron yang awet muda itu. Tapi tubuhnya tak semungil Widyawati. Ia tinggi semampai, tidak jauh berbeda dengan tubuh artis film kondang, Christine Hakim. Dan hidungnya cukup artistik seperti hidung Niniek L. Karim yang psikolog dan juga aktris film itu. Maka jangan heran bila aku pernah menduganya ia gadis Jawa. Waktu itu aku menjumpainya di suatu sore, di atas kereta api jurusan Sydney – Richmond, negara bagian New South Wales, Ausralia. Aku di Richmont studi pertanian, mengenai pendayagunaan lahan kering secara optimal.
Ia duduk di sampingku dengan membawa tas besar. Pikirku, tentu ia student. Karena memang banyak student yang studi di Sydney, tapi tinggal di Richmond dan sekitarnya. Pertimbangannya, biaya hidup, khususnya untuk sewa flat atau kamar, lebih murah dibandingkan dengan di Sydney. Kalau aku ke Sydney, biasanya untuk meminjam buku di perpustakaan nasional.
“Maaf, apakah Anda dari Indonesia?” tanyaku waktu itu penuh semangat, terdorong oleh keinginanku punya teman student dari Indonesia. Di Richmond, aku tidak punya teman dari Indonesia. Mahasiswanya mayoritas bule Australia totok, ditambah student dari India atau Afrika, negara-negara bekas jajahan Inggris.
“No, me? Saya bukan dari Indonesia. Saya dari Okinawa. Anda dari…?” ia ganti bertanya sambil mengembangkan senyum, setelah menjawab pertanyaanku. Bahasa Inggrisnya beraksen Amerika.
“Saya dari Yogyakarta, ee… maksud saya dari Indonesia,” sahutku agak gugup, karena dugaanku meleset.
Ternyata ia bukan gadis Jawa. Ia gadis Jepang, dari Okinawa. Tapi mengapa matanya tidak sipit? Bukankah seharusnya ia bermata sipit, berkulit kuning seperti umumnya orang Jepang?
“Ahaaa…, memang banyak yang mengira saya ini gadis Indonesia atau Philipina. Orang Indonesia memang mirip orang Philipina, Malaysia, Brunei,” ia menyambung kalimatnya seperti tahu apa yang sedang kupikirkan. “Tapi orang Okinawa memang berbeda dengan orang Jepang pada umumnya. Anda tahu kenapa?” ia memandangiku, lalu tersenyum lagi.
Aku menggeleng karena memang tidak tahu.
“Baiklah, Anda saya kasih tahu,” ia tersenyum lagi. Yang kali ini senyumnya amat manis, mengingatkanku pada seseorang: ibuku. Mengapa bisa begitu?
“Orang Okinawa berkulit lebih gelap dibandingkan orang Jepang pada umumnya. Karena Okinawa hawanya panas, seperti Hawai… Bali, Batam, begitu…,” matanya yang indah mengerling, “Matahari bersinar sepanjang tahun.”
“Jadi, hangat sepanjang tahun?” tanggapku sekenanya karena sebetulnya aku lebih memperhatikan senyumannya yang seperti senyuman ibuku, daripada kalimat-kalimatnya.
“Exactly! Okinawa hangat sepanjang tahun. Banyak turis berdatangan tidak hanya dari Jepang atas, maksud kami Jepang yang beriklim empat musim, tapi juga turis dari Korea Selatan…”
“Dari Amerika?” selaku.
“Banyak. Lagi pula boleh dikatakan Okinawa itu pulaunya orang Amerika. Anda tidak tahu bahwa Okinawa menjadi salah satu base camp militer USA?” tanyanya.
Aku menggeleng dan agak malu, sekaligus menyesali diri tidak banyak membaca mengenai negara-negara asing. Konsentrasiku hanya masalah pertanian. Jadi, betapa sempitnya pengetahuan umumku mengenai negara-negara asing.
“Oke, dengarlah,” ia serius, “Okinawa itu pangkalan militer USA. Secara politis, itu memproteksi Jepang. Tapi buat warga Okinawa  sendiri sebetulnya banyak ruginya, kecuali bagi mereka yang memang berminat bisnis di bidang hiburan… eeeh…” kalimatnya terhenti.
Dengan banyaknya turis, berarti pemasukan devisa tinggi. Seperti Hawai, Bali, dan Batam. Bagus, kan? Mengapa? Anda sepertinya kurang suka…” aku penasaran.
“Ya, karena,” tiba-tiba matanya meredup. “Banyak makan korban  gadis-gadis muda. Sebagian laki-laki, tentu Anda tahu apa yang saya maksudkan,” ia berbisik.
Tentu saja aku paham, apa yang ia maksud. Kemudian dengan hati-hati aku bertanya, “Jadi bisnis pelacuran di Okinawa marak? Seperti di Batam, misalnya?”
“Well, tidak hanya itu,” ia menjawab dengan mata menerawang, “banyak gadis muda punya anak, tapi anaknya terlantar karena ayahnya kembali ke Amerika. Bapak-bapaknya, ya, para militer USA yang ditugaskan di Okinawa, kemudian kembali ke USA setelah selesai tugasnya. Mereka meninggalkan anak-anaknya begitu saja.”
“Oh, kasihan,” aku ikut prihatin
“Yang terlantar tidak hanya anak-anak, tapi juga ibunya. Kalau sudah begitu, mereka lalu menjadi eee… Anda tentu tahu apa yang saya maksudkan…”
Aku mengangguk.
“Akibatnya di antara mereka positif HIV, ya, terkena AIDS. Telah berpuluh-puluh yang meninggal, tapi tidak pernah diekspos,” bibirnya mengatup kering.
“Di mana-mana pelacuran membuahkan penyakit itu. Di Bali dan Batam juga demikian. Jumlah penderita HIV dan AIDS seperti fenomena gunung es. Yang tampak cuma ujungnya. Yang tidak tampak lebih banyak,” aku bicara agak panjang.
“Exacly,” ia mengangguk-angguk.
Kemudian ia memberitahu akan turun di stasiun Blacktown, yaitu beberapa stasiun sebelum Richmond.
“Senang sekali berbincang-bincang dengan Anda. Semoga suatu hari kita bisa bertemu,” ujarnya sebelum berpisah.
“Harus,” kataku mendesak. “Boleh saya tahu di mana Anda tinggal? Agar saya bisa menghubungi Anda.”
“Sebaiknya Anda saja yang memberi alamat, nanti saya call Anda,” ia justru meminta alamatku. “Nama saya Mamiko. Panggil saja Iko!” tegasnya setelah menerima  alamatku.
Benar, ia turun di Blacktown. Kuperhatikan ketika ia turun dari kereta, kemudian menaiki anak-anak tangga penyeberangan jalan. Setelah itu tubuhnya yang ramping menghilang, karena keretaku berlari cepat meninggalkan Blacktown menuju Richmond.
Malam harinya aku sulit tidur karena dibayang-bayangi senyuman Iko. Sebuah senyuman yang menyejukkan hati, seperti senyuman ibuku yang senantiasa menentramkanku sejak kecil hingga aku tumbuh sebagai pemuda. Karena di balik senyum itu menyimpan kesabaran, ketabahan, ketawakalan yang mengobarkan daya juang hidup yang luar biasa. Sebagai janda – cerai dari suaminya karena si suami tergila-gila pada seorang wanita sinden, ia mampu membesarkan dan mengantar kelima anaknya jadi orang.
Kelima anaknya termasuk aku semua jadi sarjana dan mendapat pekerjaan yang layak. Ibu membiayai kami dengan bekerja sebagai buruh tanam, buruh nutu, dan derep (buruh menanam padi, menumbuk padi, dan menuai padi) dan juga nyambi jadi tukang pijat bayi. Ia memang hebat. Sayang, Ibu tidak bisa menikmati jerih payahnya secara tuntas karena Tuhan memanggilnya. Ia meninggal dalam usia 53 tahun karena kanker rahim. Menurut dr. Hilman yang mengobati Ibu, kanker itu tampak dari kawin usia muda dan hamil pada usia muda. Maka aku pun berjanji dalam hati hanya mau menikahi perempuan yang telah berusia layak untuk hamil yaitu minimal 21 tahun.
Bagaimana dengan Iko? Tentu usianya telah mencapai 21 tahun. Setelah aku berjumpa dengan Iko yang memiliki senyuman seperti ibuku, aku jadi memikirkan untuk menikah. Kupastikan ia seperti ibuku, bukan wanita biasa. Lalu aku mau menikahi Iko? Memang keterlaluan bila kujawab, ya, karena kami baru berkenalan dan sekali bertemu. Maka aku berniat bertemu lagi dengannya untuk menjalin hubungan lebih akrab agar kami saling mengenal. Oh, kekasihku! Kekasih dari Okinawa, aku berfantasi.
Tapi bagaimana caranya menjumpai Iko? Dia berjanji akan menghubungi dan aku telah menunggunya hampir sebulan, tapi ia belum juga meneleponku. Aku pun lalu mencarinya di kereta api yang pernah mempertemukan kami. Puluhan kali aku naik kereta api itu, tapi hasilnya nol. Aku sampai lelah dan frustasi karena tak menemukan Iko.
Kriiing…! Pada suatu tengah malam, telepon di kamarku berdering. Tapi aku enggan mengangkatnya karena kupastikan hanya akan mengecewakanku: yang menelepon bukan Iko. Aku hanya ingin menerima telepon dari Iko. Aku telah menantikannya sembilan bulan.
Kriing, kriiing…! Teleponku terus berdering dan akhirnya kuangkat.
“Halo, ini Permadi – student dari Indonesia?” tanya si penelpon yang seorang perempuan beraksen Australia kental.
“Ya, saya Permadi. Anda siapa?” tanyaku penasaran.
“Saya Maggie Wilson, ibu angkat Iko, Mamiko. Anda mengenalnya bukan?” tanyanya tiba-tiba dengan suara serak daa seperti menahan tangis.
“Ya, saya mengenalnya. Saya sudah berbulan-bulan menunggu teleponnya, tapi…”
“Tapi dia tidak menelepon Anda karena dia dalam perawatan dan tadi sore dia meninggal. AIDS telah merenggut nyawanya. Institusi kami gagal menyelamatkannya. Padahal kami membawanya jauh-jauh dari Okinawa. Iko, salah satu korban bisnis seks di Okinawa. O, kasihan Iko…!”
Teleponnya terputus. Maka aku pun tidak bisa merawat Iko, kekasihku dari Okinawa.

Goldcoast, awal Juni 2000

Comments

comments