KELEMAHAN KARYA-KARYA MASA KINI

Oleh Sides Sudyarto DS

Dengan terbukanya kebebasan mencipta, kita menyaksikan membanjirnya tulisan-tulisan dalam berbagai media massa, juga yang terbit dalam bentuk buku. Lembaga penerbitan buku juga tumbuh menjamur di mana-mana. Gejala seperti itu mungkin membesarkan hati kita. Tetapi apakah dengan demikian kesusasteraan kita mengalami kemanjuan atau perkembangan yang berarti?

Ternyata tidak demikian. Kebebasan memang penting, bahkan cenderung menentukan.Tetapi ternyata kebebasan mencipta saja tidak cukup. Untuk menciptakan karya yang bernilai juga memerlukan kedalaman dan keluasan wawasan, selain daya kreativitas yang tinggi.

Hingga kini karya sastra kita masih terpuruk. Di gelanggang internasional, sastra kita belum bisa bicara apa-apa. Beberapa kali terbit antologi sastra dunia, karya penulis kita tidak ada yang ikut termuat di dalamnya. Dalam hal ini kita kalah oleh penulis dari Palestina dan Papua Nugini. Selain perlu disayangkan tentu perlu juga kenyataan seperti itu jadi renungan bersama.

Kita tidak bisa bicara hanya soal kuantitas. Masalah kualitas karya selamanya merupakan hal yang terpenting sepanjang kita bicara seni sastra. Pada mulanya, kata sastra memang berarti tulisan atau karya tertulis. Namun tidak setiap karya tertulis adalah karya sastra. Samalah halnya, tidak setiap novel adalah karya sastra. Sekarang ini kebanyakan yang terbit adalah karya tulis, tetapi tidak banyak yang berkualifikasi karya sastra.

Sastra, atau tepatnya susastra, memerlukan kekayaan kandungan nilai-nilai. Pada umumnya nilai-nilai filsafat dan agama merupakan ramuan yang sangat penting untuk setiap karya sastra. Tanpa kandungan nilai-nilai filosofis dan religius, sastra bukanlah sastra, tidak lebih dari seonggok teks yang gagu dan hampa. Aneh rasanya, jika masih banyak penulis bersmangat, tetapi menjauhi nilai-nilai reliji dan filosofi.

Meskipun demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa tiap karya yang syarat nilai-nilai agama atau filsafat pastilah sebuah karya sastra yang berhasil. Dengan kata lain, tidak dengan sendirinya seorang ahli agama atau ahli filsafat adalah sastrawan.

Mungkin sudah kodrat sastra, harus mengacu kepada filsafat. Jika tidak yang terjadi hanyalah teks yang tergolong karya pop saja. Sayangnya terlalu banhyak penulis kita yang tidak atau belum tertarik kepada filsafat. Maka janganlah heran jika yang kini membanjir adalah karya-karya pop.

Kejadian seperti itu tampaknya akan berjalan terus, dalam kurun waktu yang akan cukup panjang. Itu dimungkinkan, karena tidak adanya seleksi terhadap karya-karya yang akan diterbitkan. Pertama, karena setiap penulis bisa saja menerbitkan karyanya sendiri, tanpa lewat saringan tertentu. Kedua, kita memang sedang tidak punya kritikus sastra yang berwibawa dan professional. Krisis kritikus sastra? Katakanlah demikian.

Tentu sangat menyedihkan (juga memalukan), sikap penulis tertentu yang sangat naïf terhadap kritik. Ada penulis yang memandang peran kritikus sama dengan benalu. Katanya, jika tidak ada karya, maka tidak ada kritik. Maka kritikus pun akan kenhilangan pekerjaan, jika tidak ada karya yang bisa dikritik. Bahkan ada sastrawan ternama, ketika karyanya dikritik, naik pitam. Dari mulutnya yang sering bernada tasawuf, berhamburan makian bagaikan orang sedang mabuk alcohol.

Bagaimana dengan sastra koran dan sastra majalah? Pemuatan di media tentu melalui tangan-tangan redaktur. Tetapi tidak banyak redaktur yang memiliki kapasitas dan cita rasa sastra yang unggul, setidaknya memadai. Dengan demikian banyaknya karya-karya yang beredar lewat media massa tidak pernah mampu mendongkrak kualitas sastra kita selama ini. Jangan pula lupa, bahwa koran atau majalah adalah komoditi yang tidak lepas dari spirit industri.

Tetapi bagaimanapun kualitas karya sastra ditentukan terutama oleh mutu sastrawannya itu sendiri. Sayangnya, terlalu banyak penulis kita, yang terlalu minim pengetahuannya tentang sastra itu sendiri. Masih banyak penulis yang idak paham,misalnya,apa beda cerita dengan plot. Cerita, sebenarnya hanya merupakan bahan mentah (raw material) dari sebuah karya. Apabila cerita itu telah diolah melalui reka cipta, barulah ia menjadi plot karya yang bersangkutan.

Kelemahan lain, kebanyakan penulis kita adalah dalam penggunaan bahasa. Mereka berniat menulis karya sastra, tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa harian, bahasa biasa, bukan bahasa literer. Kebanyakan karya-karya mereka juga hanya menyuguhkan cerita seadanya (bahan mentah), belum diolah menjadi plot.

Kita memang perlu bicara seni, termasuk seni fiksi. Sayang tidak sedikit orang yang menyuguhkan fiksi, tetapi bukan seni fiksi. Tidak sedikit, penulis, yang untuk menutupi kelemahan (karyanya) lalu melakukan berbagai upaya yang tidak relevan.Misalnya dengan menyuguhkan hal-hal yang berbau pornografis. Ada juga yang menjadikan bumbu politik, atau peristiwa politik, sebagai warna tulisannya.

Tentu saja sastra politik juga sah-sah saja. Masalahnya, yang terjadi di sini, politik tampil sebagai polusi. Berbeda dengan dalam umumnya sastra Amerika Latin, di mana politik hadir sebagai tulang punggung estetika.

Salah paham masyarakat tampaknya tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Misalnya adanya mitos sastra exil atau sastra kiri. Sebenarnya apa yang selama ini disebut sebagai sastra kiri, kebanyakan sama sekali bukan karya sastra. Jika disimak dan diuji, ternyata tidak lebih dari teks-teks yang sangat sloganistis. Dan sastra tentu berbeda dengan slogan.

Apa yang ditulis Widji Tukul, misalnya, bukanlah karya sastra, melainkan slogan untuk menyemangati ‘perjuangan’ golongan tertentu. Apa yang ditulis WS Rendra (almarhum) di bawah judul Potret Pembangunan, tentu saja juga bukan karya sastra, melainkan pamplet politik belaka.

Ada baiknya jika kita menyimak pendapat Guillermo Cabrera Infante, sastrawan dan sineas kelahiran Cuba. Infante menilai, penulis mashur seperti George Orwell, Alexander Solzhenytsin, Albert Camus, adalah orang-orang yang gagal untuk jadi seniman atau sastrawan. Tetapi mereka adalah pahlawan, karena “melawan pedang dengan kata-kata”. Demikian pun, itu tidak menjadikan mereka sastrawan. ***

Comments

comments