KISAH TENTANG MERAMU KEPERCAYAAN

Oleh Etik Purwani

“Apakah benar usiamu baru delapan belas tahun, Etik? Kamu memalsukan umurmu untuk bisa bekerja di sini? Tolong jujur, karena kami tidak mau mempunyai pembantu di bawah umur!” berkata demikian Nyonya saya sembari berkacak pinggang, matanya melotot seperti mau copot. Ooh, jiwa saya tergoncang – hati saya juga serasa sedang dipanggang. Tentu saja saya kalang-kabut, karena memang benar usia saya di bawah standar legal untuk bekerja di Singapura.

Hukum ketenagakerjaan di Singapura memberlakukan bahwa untuk berkerja di negara ini, terutama untuk pekerjaan pembantu rumah tangga (PRT) dari Indonesia, usia saya seharusnya minimal di atas 21 tahun. Saya baru berusia 18 tahun kala pertama kali menginjakan kaki di Singapura. Itu, sekitar tiga bulan setelah saya menamatkan pendidikan SMA. Pengalaman saya dibentak majikan karena ketahuan memalsukan identitas, terjadi di bulan Oktober 2000. Bukan hanya tanggal lahir, tahun lahir, tempat di mana saya lahir, nama bapak saya, bahkan nama saya pun bukan milik saya yang sebenarnya.

Pemalsuan identitas saya, saya ketahui meskipun tidak sepenuhnya saya inginkan. Saya ingin bekerja di luar negeri karena saya ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dari jerih payah saya sendiri. Saya lahir dari keluarga yang tidak mampu menyekolahkan saya setinggi yang saya mau. Tapi saya memiliki tekad kuat bahwa saya bisa mewujudkan mimpi bersekolah di perguruan tinggi asalkan saya bisa bekerja ke luar negeri. Kenapa ke Singapura? Karena saya ingin lebih bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sembari saya mengumpulkan uang dari hasil saya bekerja. Modal saya hanya tekad.

Ketika kedua orangtua saya juga heran, mengapa saya bisa bekerja di Singapura? Karena saya tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali. Maka saya berbohong. Saya berusaha menyakinkan mereka bahwa bekal sedikit kemampuan berbahasa Inggris yang saya pelajari semasa sekolah merupakan bekal saya bekerja dan menyelamatkan saya di Singapura. Saya berusaha keras meyakinkan kedua orangtua saya bahwa saya adalah anak yang bisa dibanggakan. Sebagai seorang remaja yang lahir di masa ekonomi Indonesia yang serba sulit, sesungguhnya semangat berjuang saya mustinya bisa membuahkan piala – piala dalam mengatasi kemiskinan: mengapa disembunyikan? Itu pemikiran saya, barangkali benar?

Maka selepas senja seorang pria setengah tua datang ke rumah, mengatakan dirinya akan mampu membuat saya bekerja di negara Singapura. “Kalau tekadmu besar, maka tidak akan ada masalah. Umur delapan belas itu sudah cukup, saya pernah memberangkatkan anak ke luar negeri meskipun usianya baru lima belas tahun. Yang terpenting jangan mengaku pada siapa pun kalau usiamu masih kurang. Bapak dan Ibu, panjenengan juga tidak usah khawatir, semua orang bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Lha wong cuman pekerjaan pembantu saja lo; nyuci piring, ngepel, mosok tidak bisa? Asal punya tangan ya bisa itu. Bahasa Inggris yo tidak harus bisa, wong kerja itu yang diperlukan hanya tenaganya. Ndak butuh yang bisa ngoceh, pinter ngomel malah jadi tukang protes nanti. Malah jadi takut majikannya nanti.” Itu sebagian kalimat yang masih saya ingat, selebihnya saya hanya ingat kumis Pak Sponsor yang turun-naik karena saking semangatnya memprospek saya.

Maka ketika SMA saya belum pula mengeluarkan ijazah, Pak Sponsor sudah siap dengan nama palsu, alamat palsu, nama orangtua palsu dan semua dokumen palsu yang saya perlukan. Saya tidak berkesempatan untuk mempelajari identitas saya yang baru alias yang dipalsukan. Pak Sponsor hanya menyuruh saya berkemas dengan membawa beberapa potong baju saja. Ibu dan Bapak melepas kepergian saya dengan tangis yang berderai-derai. Saya berusaha tidak memikirkan apa pun, agar tidak merasa takut. Tekad saya sudah bulat bekerja di Singapura.

Pak Sponsor membawa saya ke Jakarta, menyerahkan dokumen dan diri saya pada seorang perempuan bernama Ratna dan saya memanggilnya Ibu Ratna. Ia yang kemudian memberikan informasi pada saya tentang nama lengkap, alamat baru, nama orangtua dan tanggal lahir saya yang palsu. Di dokumen palsu itu juga disebutkan bahwa saya tamat SMP. Saya juga diberitahu Ibu Ratna bahwa saya mempunyai pengalaman kerja sebagai PRT dan merawat anak kecil selama tiga tahun di Jakarta. Ibu Ratna bilang saya harus memahami informasi-informasi dan mengingatnya di luar kepala agar bisa bekerja ke luar negeri. Saya menurut saja, karena saya tidak ingin dikembalikan ke desa dan dianggap tidak bisa apa-apa bahkan untuk mengerjakan pekerjaan semudah jadi pembantu.

Ibu Ratna membawa saya ke PJTKI. Mereka langsung menolak saya ketika melihat KTP palsu dan mencocokkan dengan wajah saya. “Ini tidak bisa, Bu. Perusahaan saya bisa kena skors nanti. Wajahnya itu masih kanak-kanak.” demikian kata petugasnya. Saya melihat PJTKI yang kami datangi ini lumayan bagus dengan fasilitas yang lumayan komplit. “Yang emak-emak saja Bu, ya? Usia kita bisa atur, tapi wajahnya yang masih bisa mendukung gitu loh” tambahnya, ketika saya dan Ibu Ratna meninggalkan bangunan bercat hijau itu. PJTKI kedua juga menolak saya dengan alasan yang sama. Saya hampir patah hati.

“Jangan galau, nanti kita akan cari lagi PT yang bisa terima kamu. Masih bisa kok, asal kamu manut saya saja.” Kata Ibu Ratna. Saya hanya bisa mengangguk, bayangan takut dipulangkan dengan tangan hampa membuat saya harus menuruti kata-katanya.
“Begini, saya susah-susah begini nyariin anak biar bisa masuk PT, paling-paling kalau sudah sukses di luar, dia lupa sama saya.” Tiba-tiba Ibu Ratna ngomel.
Saya hanya membatin omongan orang yang pernah saya dengar, bahwa menjadi sponsor TKI pasti dapat uang imbalan dari PJTKI. Maka saya mulai mengandaikan berapa banyak kira-kira yang diterima Ibu Ratna jika ia berhasil memasukkan saya ke PJTKI?
“O, ya, nanti kalau masuk kantor PT lagi, jangan senyum-senyum jegigis ya, biar kelihatan agak tua.” Ibu Ratna menasihatiku. Dalam hati saya tertawa, lelucon yang lumayan menempel di memori otak lugu saya.

Saya kemudian berhasil masuk di sebuah PJTKI yang khusus memberangkatkan TKI ke Singapura. Saya bisa masuk dengan catatan mungkin akan butuh waktu lama untuk mendapatkan majikan karena wajah saya yang masih kanak-kanak. Kata staf PJTKI, saya akan ‘dituakan’ di PT. Ibu Ratna yang spontan tertawa ngakak, malah membuat saya melongo. Bagaimana kira-kira mengatur wajah delapan belas tahun menjadi terlihat seperti dua puluh satu tahun? Otak saya buntu memikirkan hal itu.

PT yang saya tempati ternyata hanya menampung saya belajar bahasa, makan, mandi dan tidur beralas tikar saja. Semua proses untuk memenuhi syarat bekerja ke luar negeri harus kami lakukan di luar PT yang kami tempati. Kami akan mendompleng PT lain yang lebih besar untuk keperluan ujian, pelatihan kerja, dan keperluan lainnya. PT yang saya tempati hanyalah ruko bertingkat tiga. Di lantai satu digunakan untuk dapur dan ruang makan, lantai dua digunakan sebagai kamar staf dan dua ruang kelas mini dan lantai tiga sebagai gelaran untuk tidur. Saya tidak tahu lokasi persis di mana ruko itu berada, yang saya tahu halaman belakang ruko ini dikelilingi pagar kawat berduri. Halaman depan yang tertutup jendela tinggi yang tidak bisa dibuka selalu terlihat sepi, hanya ada satu dua mobil milik bos PT yang terparkir. Dihuni oleh sekitar 30 calon TKI, PT ini adalah PT yang senyap.

Kegiatan di PT ini tidaklah banyak. Kami hanya belajar bahasa saja. Staf pengajarnya galak. Untuk makan, kami dilatih untuk makan sedikit, minum tidak manis dan sayur yang kurang garam. Kata staf PT itu semua pembatasan dimaksudkan untuk latihan kami, karena kata mereka majikan di Singapura tidak suka makanan yang bumbunya berasa. Kami harus membiasakan diri untuk mengikuti pola hidup, pola kerja, dan pola makan orang Singapura. Kami tidak pernah diizinkan sekalipun ke luar PT. Tidak ada acara sehari pun kunjungan keluarga untuk kami. Bila ada anggota keluarga yang memaksa untuk bertemu, kami hanya boleh dihubungi melalui pesan di secarik kertas di mana kertas itu harus dibaca oleh staf PT terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan keluarga atau ke tangan calon TKI.

“Semua aturan ini untuk kebaikan kalian. Kalau melawan nanti kalian tidak sukses. Siapa yang rugi? Kalian ‘kan? Kalian ini semua orang miskin, kalau kita-kita kaya. Jika kalian tak berhasil di Singapura pun kita tidak rugi. Tahu? Tahu, ya?” kata pemilik PT ini suatu ketika. Saya membatin betapa menjadi orang miskin sangat tidak enak.

Untungnya, meskipun saya lahir di keluarga yang miskin dan harus melewati perjuangan yang bisa mematahkan semangat hidup, nasib saya masih diikuti oleh kemujuran. Selang dua bulan saya tinggal di PT semua proses keberangkatan saya sudah selesai. Saya juga terhitung sebagai calon TKI yang mampu berbahasa Inggris lebih baik dibandingkan dengan teman-teman sepenampungan saya. Saya bersyukur karena pernah menempuh pendidikan SMA di jurusan bahasa.

Memasuki bulan ketiga meninggalkan kaki dari desa saya, saya sudah menjejakan kaki di Singapura. Saya bekerja sebagai PRT sepasang suami-istri jompo yang lumayan sabar dan pengertian, setidaknya itu yang saya pikirkan sebelum anak perempuan dari kakek nenek yang saya rawat kemudian melemparkan pertanyaan tentang keaslian data saya. Saya merasa seperti terperangkap dalam dosa yang tidak saya lakukan tapi saya ketahui.

Lalu kini, kepalsuan identitas saya dipermasalahkan. Saya tidak ingin berbohong untuk kedua kali. Saya ceritakan semuanya kepada majikan saya, kenapa saya menggunakan identitas palsu dan bagaimana saya mendapatkannya. Majikan saya kebingungan. Dia yang mengerti hukum, tidak ingin terlilit kasus hukum karena kesalahan saya. Menanyakan kepalsuan dokumen saya itu ke pada agency yang menyalurkan saya bekerja di Singapura. Mereka bilang tidak terlibat dengan pemalsuan tersebut. Mereka bilang hanya memproses dokumen saya berdasarkan data yang saya sodorkan kepada mereka.

Agency itu tidak mempertahankan saya untuk tetap bekerja pada majikan saya. Mereka malah bersedia memberikan pengganti saya jika majikan saya menilai tidak layak saya bekerja untuk mereka. Agency menyalahkan saya dan memarahi saya kerena menurut mereka saya telah membuat kesalahan dengan memalsukan dokumen. Sungguh saya ingin menjerit menerima kenyataan buruk ini.

Majikan saya tidak serta merta memulangkan saya. Mereka juga tidak memaki memarahi saya setelah semua yang saya ceritakan. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan dengan penipuan yang telah mereka alami. Berjalan ke kamar, saya sungguh berharap bisa langsung menghambur ke pelukan ibu saya. Tapi, dia jauh, jauh sekali dari saya yang sedang dilanda duka.
Keesokan harinya saya sungguh gelisah. Saya ingin terus bisa bekerja dan tidak ingin dipulangkan. Batin saya terluka. Saya merenung. Saya ingat bagaimana bisa majikan yang pernah berpesan untuk tidak mempercayai siapa pun kemudian bisa mengetahui identitas saya yang sebenarnya.

Sehari sebelum kepulangan Marline Peralta— pembantu majikan saya yang lama — ke Tanah Air-nya di Filipina, ia pernah berkata pada saya untuk menceritakan apa pun padanya. Ia yang saya kira teman sepenanggunan telah pula saya ceritai mengenai kehidupan saya, tentang kerinduan saya pada ayah ibu saya, apa yang membuat saya bekerja ke luar negeri dan kebenaran bahwa saya sebenarnya masih belum bisa bekerja ke luar negeri. Kepercayaan saya ternyata tidak berguna dan salah tempat. Ia mengkhianati kepercayaan yang saya berikan padanya?

Saya ceroboh tentu saja. Saya menyesal telah gegabah menceritakan semua hal kepada orang yang saya tidak kenal sepenuhnya. Karena kecerobohan saya itu, saya harus menanggung susah dan gelisah, ketakutan akan dipulangkan paksa. Ketakutan akan dianggap sebagai orang yang bekerja sebagai PRT saja tidak mampu dan berindentitas palsu.

“Etik, kami memutuskan kau bisa tetap bekerja pada kami. Tapi kami tidak ingin terlibat pada apa pun yang menimpa dirimu berhubung dengan pemalsuan datamu. Kami menghargai kejujuranmu. Kami juga mengerti alasan di balik pemalsuan datamu. Ini semata karena kami ingin meringankan bebanmu. Bila kamu kami pulangkan, kami akan dimintai alasan pemulanganmu. Ini berarti kamu akan tidak pernah lagi bekerja ke sini. Jika kamu setuju, kami minta kamu untuk menandatangani surat perjanjian ini. Kkami memintamu untuk tidak melibatkan kami bila nanti di kemudian hari kamu sampai bermasalah karena masalah dokumenmu.” Kata majikanku.

Aku sangat lega. Aku gembira karena memiliki kesempatan ke dua. Tanpa kubaca, aku segera menandatangani saja dokumen itu. Aku berterima kasih berulang-ulang kepada majikanku yang baik hati.

Itulah kali pertama pelajaran berharga yang aku terima dari bekerja di luar negeri di usia yang salah. Bahwa aku tidak boleh begitu saja mempercayai orang lain. Bahwa teman seprofesi bisa saja tidak menginginkan kebaikan dan kepercayaan kita.
*
Etik Purwani yang kelahiran Blitar pernah bekerja di Singapura dan Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Ia aktif menulis di media cetak yang terbit di Hong Kong dan di Indonesia, menggunakan nama pena Etik Juwita. Beberapa cerita pendek karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan sebagai kumpulan cerpen bersama penulis Indonesia yang lainnya.

Comments

comments