LAPAR – Puisi Karya Sides Sudyarto DS

puisi lapar karya Sides
(Telah diterjemahkan ke 5 bahasa)

Mulai dengan Lapar

Mulai dengan lapar kita berjalan.
Mulai dengan lapar kita mengemis.
Mulai dengan lapar kita meminta-minta.
Mulai dengan lapar kita meminjam.
Mulai dengan lapar kita berhutang.
Mulai dengan lapar kita membohong.
Mulai dengan lapar kita menipu.
Mulai dengan lapar kita bercerai.
Mulai dengan lapar kita berpisah.
Mulai dengan lapar kita menghardik.
Mulai dengan lapar kita memaki.
Mulai dengan lapar kita memfitnah.
Mulai dengan lapar kita mencuri.
Mulai dengan lapar kita menodong.
Mulai dengan lapar kita menggarong.
Mulai dengan lapar kita terinjak.
Mulai dengan lapar kita memberontak.
Mulai dengan lapar kita ditembak.
Mulai dengan lapar kita dibunuh.
Mulai dengan lapar kita digantung.

Mulai dengan lapar kita murung.
Mulai dengan lapar kita sedih.
Mulai dengan lapar kita dikecam.
Mulai dengan lapar kita ditekan.
Mulai dengan lapar kita ditahan.
Mulai dengan lapar kita berpikir.
Mulai dengan lapar kita takut.
Mulai dengan lapar kita gemetar.
Mulai dengan lapar kita ngeri.
Mulai dengan lapar kita lumpuh.
Mulai dengan lapar kita berpeluh.
Mulai dengan lapar kita mengaduh.
Mulai dengan lapar kita mulai sadar.
Mulai dengan lapar kita berpikir.
Mulai dengan lapar kita berotak.
Mulai dengan lapar kita membentuk.
Mulai dengan lapar kita berbisik.

Mulai dengan lapar kita berkumpul.
Mulai dengan lapar kita berdialog.
Mulai dengan lapar kita bertemu.
Mulai dengan lapar kita solider.
Mulai dengan lapar kita sepakat.
Mulai dengan lapar kita bersatu.
Mulai dengan lapar kita berbuat.

Mulai dengan lapar kita kuat.
Mulai dengan lapar kita menang.
Mulai dengan lapar kita niat belajar.
Mulai dengan lapar hiduplah hidup.
Mulai dengan lapar memahami dunia.
Mulai dengan lapar merobah dunia.

Mulai dengan lapar melanjutkan evolusi.
Mulai dengan lapar menanjakkan revolusi.
Mulai dengan lapar membenahi diri.
Mulai dengan lapar melembaga.
Mulai dengan lapar melawan dahaga.

Mulai dengan lapar kita kita takut langgar.
Mulai dengan lapar kita takut mesjid.
Mulai dengan lapar kita takut gereja.
Mulai dengan lapar kita takut kelenteng.
Mulai dengan lapar kita takut kuil,
Mulai dengan lapar kita takut pagoda.
Mulai dengan lapar kita takut candi.
Mulai dengan lapar kita takut rumah.

Mulai dengan lapar kita takut desa!
Mulai dengan lapar kita takut masyarakat.
Mulai dengan lapar kita takut manusia.
Mulai dengan lapar kita takut diri sendiri.

Mulai dengan lapar kita ber sabar.
Mulai dengan lapar kita tawakal.
Mulai dengan lapar kita sebut diri.
Mulai dengan lapar kita sebut nama ibu.
Mulai dengan lapar kita sebut nama bapak.
Mulai dengan lapar kita sebut nama Allah.
Mulai dengan lapar kita cium kaki ibu.
Mulai dengan lapar kita cium bapak.
Mulai dengan lapar kita cium kaki Tuhan.

Mulai dengan lapar kita cium tanah air.
Mulai dengan lapar kita cium kaki masyarakat.
Mulai dengan lapar kita cium kaki masyarakat.!
Mulai dengan lapar kita cium kaki bangsa.
Mulai dengan lapar kita cium kaki manusia.
Mulai dengan lapar kita cium kemerdekaan.
Mulai dengan lapar kita cium kebebasan.
Mulai dengan la-par kita cium kehidupan.

Mulai dengan lapar kita sa-dari eksistensi.
Mulai dengan lapar kita mulai diri.
Mulai dengan lapar kita menemukan diri.

O, lapar bathin.
O, lapar lahir.
O, lapar, bawalah kami ke jalan di mana tidak ada lagi kelaparan.

Lapar rohku!
Lapar Tuhankul
Lapar tubuhku!
Lapar desaku!
Lapar bangsaku!
Lapar duniaku.’
Laparnya laparku!
Lapar yang segalanya lapar segala lapar, laparku lapar segala,
Lapar tiada tara, lapar tiada batas, lapar tiada henti. Lapar
yang abadi! Lapar di bumi, lapar pula aku di akhirati Lapar!

Sumber1: Sides Sudyarto DS, Kebatinan, Jakarta, 1974.
Sumber2: Horison Sastra Indonesia 1, editor Taufiq Ismail dkk, Horison The Ford Foundation, Jakarta, 2002

Comments

comments