Review

Mei Merah 1998 : Makna Toleransi, Keberanian Dan Cinta Yang Sebernarnya

Oleh Woro Januarti Sastroredjo

Pertama melihat sampulnya, wow bernyawa sekali, background merah dan ada tokoh sentral perempuan, sendirian di sana, di dalam kubangan. Novel yang kuat dengan fakta sejarah dan mencoba mengangkat kembali kisah tragedi Mei 1998, hadir begitu “galak dan penuh cinta” di tangan ibu Naning Pranoto.

Sampul buku yang berarti merah bisa berarti ceceran darah dan tragedi kasus 1998, keberanian (merah) bagi para perempuan dan korban tragedi 1998 yang masih hidup dalam sunyi sampai hari ini. Juga makna merah yang berarti keberuntungan bagi para perempuan yang masih dikelilingi dengan cinta. Cinta yang datang dari agama yang berbeda, suku yang berbeda, derajat yang berbeda.

Novel yang lahir tepat 20 tahun reformasi juga sedang bertanya kembali tentang makna toleransi di Indonesia, benarkah itu masih ada?.

Bagi saya, Naning Pranoto sedang berbicara tentang perempuan agar berani, tentang cinta yang sebenarnya terus ada, serta kematian yang sebenarnya babak baru dalam kehidupan manusia. Bagi saya, tragedi 1998 adalah ketakutan di rumah kami. Karena keluarga kami pun berlatar keluarga Tionghoa dan Jawa, apalagi penampakan saya yang “mirip China”, membuat dagdigdug alm. Papah, sampai saya hampir dibuat botak. Toko-toko di daerah Gajah Mada habis, bersyukur dalam kobaran kebencian itu, alm. papah selamat karena ada yang berteriak “Jangan bakar toko Pak W****g, dia Cina dermawan”.

Membaca ini, seperti mengajak saya kembali ke masa suram keluarga kami. Yang setiap saat telepon masuk untuk siap-siap kabur ke luar negeri bagaimana caranya. Ngeri sekali, ketika rahim harus diadili oleh hitam putihnya kulit, besar sipitnya mata. Toleransi itu sendiri sampai hari ini, saya lihat masih tipis, seperti kabut yang hadir di atas pegunungan. Gaungan Cina-Cina, atau pembodohan terhadap daerah-daerah tertinggal di Indonesia tetap hadir di laman sosial media saya. Memang benar seperti yang ibu #naningpranoto bilang, toleransi memang patut dipertanyakan lagi.

BACA :   HUMAIRA DALAM KOBARAN API JEJAK AMUK MEI 1998

Comments

comments

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Check Also

Close
Back to top button
Close