Memperkenalkan Petani Pelestari Bumi: Menulis, Menanam dan Mengkonsumsi Makanan Natural

Makalah Seminar Internasional Sastra Untuk Bumi yang diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta
Memperkenalkan Petani Pelestari Bumi:
Menulis, Menanam dan Mengkonsumsi Makanan Natural
Dra. Naning Pranoto, MA
Rayakultura State of Education and Culture – Bogor Jawa Barat
E-mail: naming.pranoto@gmail.com
*
Natura non vincitur nisi parendo
Alam tidak akan dapat dikalahkan kecuali kalau kita dapat menyesuaikan diri dengannya.
Francis Bacon (1561–1626) Filsuf, Negarawan dan Penulis Inggris
*

Seminar

Abstrak

Makalah pendek ini menyajikan tentang berbagai kegiatan literasi genre Sastra Hijau yang dilakukan oleh gerakan pena hijau – masyarakat yang peduli lingkungan dan beberapa sekolah di wilayah Jabodetabek. Mereka tidak hanya menggerakkan pena untuk menulis tentang lingkungan tapi juga menanam tanaman dan pohon. Walau gerakan mereka baru dalam skala kecil, tapi kami optimistis kelak akan memviral bila banyak pihak yang menyadari betapa pentingnya merawat lingkungan.
Makalah ini juga diperkaya dengan referensi kiprah inspiratif dari dua perempuan pejuang pelestari lingkungan dari Benua Afrika dan Amerika Latin. Sebagian kecil dari kiprah mereka telah kami adopsi. Hasilnya antara lain menyelenggarakan lomba cipta puisi, menerbitkan antologi puisi, antologi mini-fiksi, pentas mini opera dan puisi, membentuk wadah penulis pena hijau, memproduksi film pendek dan menanam tanaman serta pohon.

Pendahuluan

Kualitas hidup kita tergantung dari kualitas lingkungan kita. Hanya dalam lingkungan hidup yang baik, manusia dapat berkembang secara maksimal. Hanya dengan manusia yang baik lingkungan hidup dapat berkembang ke arah yang optimal. Kalimat ini Penulis kutip dari pendapat Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto (1926-2008), Pakar Ekologi dan Penulis meyakini kebenarannya. Buktinya, dengan adanya manusia yang bersikap tidak baik (baca: jahat) terhadap lingkungan, mengakibatkan rusaknya lingkungan. Dari hal yang tampaknya sepele, masyarakat yang membuang sampah rumah-tangga di sungai, menyebabkan banjir bandang. Ini terjadi di Jakarta dan Bandung, contohnya. Begitu kejahatan manusia meningkat, maka tak heranlah apabila kerusakan lingkungan pun merajalela. Apakah itu pembalakan hutan, pembakaran hutan, penggalian tambang yang membabi buta dan membangun perumahan dengan konsep semau-gue. Kita semua tahu, betapa mengerikan dampaknya.

Selain kejahatan manusia, kerusakan lingkungan juga bisa disebabkan oleh cuaca. Tapi, faktor kejahatan manusia sangat dominan sebagai penghancur lingkungan, demikian pernyataan yang disiarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhir Juni lalu. Akibatnya, kondisi lingkungan pun rentan bencana. BNPB mempublikasi data bencana: kuartal pertama 2016 dengan hadirnya La Nina yang menebarkan suhu dingin di Samudera Pasifik, membawa hujan tiada henti di wilayah area Khatulistiwa mengakibatkan banjir dan laut berombak tinggi. Sehingga dari Januari hingga Juni 2016 tercatat terjadi bencana 258 tanah longsor dan banjir di Tanah Air. Jawa Tengah menjadi daerah paling sering dilanda tanah longsor sebanyak 108 bencana, di Jawa Barat 71 dan di Jawa Timur tercatat 33 peristiwa. Puncaknya pada bulan Desember, tapi masih akan berlanjut hingga Januari dan Maret 2017.

Dengan adanya pernyataan BNPB tersebut tentunya sangat membantu masyarakat untuk bisa bersiaga untuk menyelamatkan diri. Tapi kenyataannya tidak demikian. Kejahatan manusia terhadap lingkungan masih terus berlanjut. Pembalakan dan pembkaran hutan tidak hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatera tapi juga di Pulau Jawa yang hutannya telah gundul. Selain itu, masih saja ada masyarakat yang terus membuang sampah di sungai, padahal mereka tahu apa akibatnya. Ironisnya mereka malah menyalahkan pemerintah.

Mengutip pendapat pakar ekologi, Otto Soemarwoto, bahwa baik dan buruknya kualitas lingkungan hidup suatu masyakat (bahkan juga masing-masing individu) tergantung pada karakter, gaya dan pandangan hidup serta pilihan pola hidup individu yang bersangkutan. Bukan tergantung pada aturan pemerintah maupun menjadi tanggung-jawab penuh pemerintah. Maka perlu ditanamkan pada masyarakat, khususnya kepada anak-anak di usia sedini mungkin, mengenai pentingnya pemahaman akan ekosistem yang ada di ruang/lingkungan di mana kita tinggal dan berinteraksi. Pemahaman ini melalui keteladan penerapan hidup ‘bergaya hijau’: ibadah, pola pikir , perilaku, gaya hidup, pola makan dan literasi berwawasan hijau di samping pengetahuan lainnya tak kalah penting.
Prinsip-prinsip tersebut di atas yang mendorong beberapa kepala sekolah di wilayah Jabodetabek mengarahkan para siswa-siswinya untuk menulis Sastra Hijau dan sekaligus menjadikam mereka ‘petani pelestari bumi’, bermisikan merawat dan mencintai Bumi, rumah kita satu-satunya. Penulis juga bekerjasama dengan pihak-pihak masyarakat yang tergugah membentuk klub penulis pena hijau untuk merawat lingkungan.

Petani Pelestari Bumi

Petani Pelestari Bumi (PPB) bukanlah petani yang menggarap sawah atau ladang. Istilah tersebut Penulis ciptakan untuk menamai kelompok penulis pena hijau plus. Yaitu kelompok penulis yang menulis tentang isu-isu kerusakan dan penyembuhan lingkungan disertai kegiatan menanam dan mengkonsumsi makanan natural (Gerakan 3 M: Menulis, Menanam dan Mengkonsumsi Makanan Natural).

Bukan sawah atau ladang yang luas yang menjadi modal PPB, melainkan: (a) Harus rajin memperkarya diksi (pilihan kata) dan rajin berlatih menulis terus menerus; (b) Mengasah kepekaan terhadap lingkungan; (c) Banyak membaca, diskusi dan mengamati serta memahami isu-isu ekologi untuk menyuarakan visi dan misi pena hijau yang mereka gerakan. Dengan demikian PPB mampu menjadi pribadi ‘hijau’ yang selalu aktual, mengakar kekar sulit ditumbangkan karena punya keberanian untuk kebenaran.

Menjadi PPB bukanlah hal yang mudah, demikian berdasarkan pengamatan Penulis. Karena bermodalkan kemampuan menulis saja tidak cukup. Harus disertai komitmen yang dilandasi integritas yang tinggi terhadap misi yang disuarakannya melalui pena hijau. Sehingga PPB akan konsisten menulis tanpa memikirkan untung rugi materi dan sematan lencana tanda jasa. Bahkan juga tidak takut jika mendapat ancaman dari pihak-pihak yang merasa terancam oleh tajamnya pena hijau. Maka tiak berlebihan bila PPB layak disebut sebagai pandu garda depan untuk melestarikan eksistensi bumi.

Yayasan Bhakti Suratto yang dipimpin oleh seorang penulis, Dodi Mawardi, berkedudukan di Cikeas Bogor, selain mendirikan Sekolah Alam Cikeas, bulan November tahun 2015 ‘melahirkan’ komunitas penulis PPB yang diberi nama Laskar Pena Hijau (LPH) beranggota sebanyak 35 orang. Mereka ini berasal dari wilayah Jabodetabek. Sebelum dilantik mereka dilatih menulis genre Sastra Hijau. Dari 35 orang ini yang aktif menulis di media hanya 30%-nya. Satu di antaranya, Susana Srini, yang dalam seminar ini menjadi salah seorang pemakalah. Meskipun anggota LPH tidak semua aktif menulis, tapi Dodi Mawardi tidak patah semangat. Bersama Yayasan Bhakti Suratto ia terus aktif melakukan ‘gerakan hijau’ antara lain menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi Genre dan Lomba Stand Up Comedy.

Demikian pula menjadikan seseorang (yang belum bisa menulis) menjadi PPB itu lebih lagi. Pada umumnya mereka ini bermodalkan ‘tertarik menulis’ atau ‘ingin bisa menulis’. Tentu kedua modal itu tidak memadai jika tanpa disertai action berlatih menulis secara terus menerus dan memahami makna Ilmu Ekologi (Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makluk hidup dengan lingkungannya) dan sistem ekologi yang disebut ekosistem. Beberapa sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA di Jabodetabek, bekerjasama dengan Penulis membentuk ekstrakurikuler (ekskur) literasi genre Sastra Hijau. Dari 20 sekolah, hanya 8 (delapan) sekolah yang siswa-siswinya serius mengikuti ekskur literasi Sastra Hijau yaitu: 1 (satu) sekolah SMA, 4 (empat) SMP dan 3 (tiga) SD. Bukti keseriusan mereka adalah lahirnya karya tulis berupa prosa dan puisi, pentas opera dan dramatisasi puisi, penerbitan buku, menanam tanaman dan pohon serta memproduksi film pendek.

Kendala atau kurang berhasilnya ekskur dalam melahirkan PPB penyebab antara lain: (a) Keengganan atau ‘kemalasan’ para siswa-siswi berlatih menulis dan membaca; (b) Kurang berminat bercocok dan (c) Stigma berpikir bahwa kegiatan menulis, membaca dan bercocok-tanam dianggap pekerjaan melelahkan dan kontra-produktif (misalnya tidak membuatnya masuk ranking di kelasnya). Maka tak heran jika menemukan fakta kala kelas ekskur PPB dibuka – pertemuan pertama berjumlah 50 siswa, pada pertemuan ketiga tinggal 15 siswa.

Peserta ekskur berguguran karena mereka enggan mengerjakan tugas menulis dan membaca dengan mengeluh ‘menulis itu sulit’ dan enggan bercocok tanam. Inilah penyebabnya mengapa angka kelahiran PPB begitu rendah. Untungnya, angka yang rendah ini hasilnya bernas: siswa-siswi yang sungguh-sungguh belajar menulis dan mau bercocok tanam, hasilnya bisa menjadi PPB sejati. Ini yang membuat Penulis terus bersemangat bergerak untuk mensosialisasikan pena hijau plus ke berbagai lembaga pendidikan, masyarakat luas dan mendirikan Gubug Sastra Hijau Rayakultura di Sentul City Bogor maupun di Yogyakarta.
(Catatan: karya-karya PPB ditayangkan dalam slide presentasi makalah ini)

‘PPB’ Masuk Kurikulum

Indonesia termasuk negara yang paling rawan bencana, baik itu yang disebabkan oleh kondisi alam (natural hazards) maupun karena ulah manusia (man-made hazards) demikian pernyataan United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) yang dikutip oleh BNPB dan dipublikasi di protalnya.
Bicara mengenai bencana yang disebabkan oleh ulah manusia, urutan yang teratas adalah akibat deforesasi. Menurut World Wildlife Fund for Nature (WWF), kerusakan hutan yang termasuk parah dalam peringkat lima besar adalah hutan di Brazil (Amazon), hutan di Amerika (Amerika Selatan dan Amerika Tengah), hutan di Indonesia (Kalimantan, Sumatera dan Papua), hutan di Afrika (Congo Basin dan Pesisir Tanzania) dan hutan di Australia. Berdasarkan kunjungan dan pengamatan Penulis, negara-negara yang hutannya menjadi korban deforesasi mendorong bangkitnya ‘gerakan pena hijau’ yang membuahkan karya tulis ecocriticism atau Sastra Hijau untuk melestarikan lingkungan (baca: Bumi).

Bahkan di Brazil gerakan pena hijau yang dipelopori antara lain oleh Dr. Susan Andrews – disertai gerakan menanam yang kemudian diadopsi oleh Penulis dengan sebutan PPB. Gerakan ini masuk sekolah, dijadikan bagian dari kurikulum wajib di tingkat pendidikan setaraf PAUD hingga SMA/SLTA yang dinafasi pelajaran ekologi. Mata pelajaran tersebut dikemas sangat menarik, 75% mengambil lokasi outdoor. Selain menulis Sastra Hijau dan bercocok tanam, para siswa juga diajak bermain drama, mini-opera, pentas music dan puisi, monolog dan menari. Semua aktivitas menyuarakan dan action untuk penyembuhan bumi yang sakit dan dan melestarikan eksistensi dan fungsi bumi secara optimal.

Bagaimana jika Indonesia juga memasukan gerakan PPB masuk kurikulum sepertihalnya di Brazil? Tujuannya untuk mengajar dan mendidik siswa agar memahami hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya secara seimbang. Sehingga manusia tidak hanya mengeksploitasi lingkungannya, tapi juga harus merawat dan melestarikannya dengan penuh kesadaran tanpa paksaan.

Dalam materi pembelajarannya perlu ditekankan bahwa terjadinya kerusakan lingkungan karena tidak sesuainya hubungan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Antara lain karena manusia cenderung mempolakan hidupnya bergaya hedonis (pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup). Maka mereka hidup bergaya mewah dan konsumsitif, tanpa memikirkan dampaknya. Berikut ini contohnya gaya hidup hedonis mengeksploitasi alam:

1. Rumah atau apartemen mewah -> memerlukan lahan luas, penyedotan sumber air tanah, bahan bangunan kayu dan mebel kayu, energy untuk penerangan, penyejukan dan penghangatan, biaya perawatan yang mahal (perlu pemasukan uang besar untuk petan yang diperoleh dari eksploitasi alam)

2. Kendaraan mewah -> perlu jalan/infrastruktur, pencemaran udara/polusi, bisnis menguntungkan bersumber dari eksploitasi alam

3. Konsumtif -> perlu bangunan mal dengan lahan luas, penyedotan air tanah yang berlebihan, mengkonsumsi makanan dan minuman olahan yang diproduksi oleh pabrik-pabrik yang dibangun di atas lahan luas, pemasukan uang besar yang diperoleh dari eksploitasi alam

4. Liburan yang serba mewah -> perlu hotel mewah atau tempat wisata dengan segala fasilitasnya yang pada umumnya merusak alam dan kesehatan

5. Menyampah -> banyak menggunakan kemasan yang sulit didaur ulang

Pola hidup sederhana yang disosialisasikan misi PPB:

1. Tidak membangun rumah mewah -> konsep alami/menyatu dengan alam, hemat energy, membangun rumah dengan bamboo -> membangun tanpa merusak alam

2. Berkendaraan anti polusi -> tidak harus memiliki mobil, menggunakan transportasi public/kendaraan umum

3. Mengkonsumsi makanan natural atau alami -> membuat dapur mandiri, menanam sayur dan tanaman obat/rempah -> yang dipraktikkan oleh para PPB antara diimplementasikan di SMP Don Bosco 2 Jakarta

4. Rekreasi bernuansa alam dengan tanpa merusak alam

5. Membangun lembaga pendidikan berkonsep bersahabat dengan alam (Sekolah Alam)

6. Menerapkan hidup ramah lingkungan: 4 (Empat) R: Reduce, Reuse, Recycle dan Repair/Replace

Belajar dari Gerakan Sabuk Hijau

Naning Pranoto | Rayakultura.netGerakan Sabuk Hijau (Green Belt Movement) berkedudukan di Kenya, didirikan tahun 1977. Pendirinya, Prof. Wangari Maathai, pejuang lingkungan yang terpilih sebagai Pemenang Nobel Perdamaian Tahun 2004. Puluhan tahun ia berjuang dengan ‘berdarah-darah’ dan mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk menyelamatkan lingkungan dan hutan tropis di tanah kelahirannya, Kenya. Ia menjadi ancaman bagi para ‘tokoh-tokoh’ negeri dan para petinggi yang merasa dirugikan oleh gerakan Maathai yang memang ‘hijau-heroik’. Karena ia mampu menggalang kekuatan dari berbagai kalangan masyarakat termasuk para ibu rumah-tangga untuk menyelamatkan lingkungan dan hutan Kenya.

Berkat keberanian dan kegigihannya yang luar biasa, perjuangannya membuahkan hasil yang gemilang. Karena perjuangan Maathai memberikan energy, harapan dan rasa syukur bagi rakyat Kenya, khususnya kaum perempuannya. Diawali dengan memperjuangkan kelestarian lingkungan dan hutan tropis Kenya, ternyata dampaknya sangat besar mendorong pemerintahnya lebih menghormati hak-hak azasi manusia dan perdamaian serta menghargai eksistensi perempuan. Sejak Maathai berjuang untuk kiprah Sabuk Hijau dan tampil di forum-forum internasional ia meneguhkan bahwa ‘suara perempuan’ layak didengar dan diperhitungkan. Maka perempuan punya hak di panggung pengambilan keputusan. Maka, ketika ia dipilih sebagai Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Alam pada tahun 2003, ia melakukan penghijauan hutan dan lingkungan dengan melibatkan (memobilisasi) kaum perempuan.

Para kaum perempuan yang aktif dalam kiprah Gerakan Sabuk Hijau tidak hanya menanam ratusan ribu bahkan jutaan pohon untuk reboisasi hutan dan lingkungan, tapi juga menanam aneka tanaman untuk dikonsumsi (sayuran, buah-buahan, biji-bijian, tanaman obat/jamu dan rempah). Pelajar dan mahasiswa juga dilibatkan. Sehingga hasil tanaman mereka surplus untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menciptakan lapangan kerja. Di balik keberhasilan tersebut, ada hal yang lebih berharga bagi Maathai, yaitu menyadarkan masyarakat akan pentingnya melakukan penghijauan, melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan dan tanaman pangan. Yang mana hal tersebut telah terlupakan oleh masyarakat karena tindasan colonial dan pemerintah yang represif. Dengan adanya Gerakan Sabuk Hijau masyarakat kembali menghidupkan aneka tanaman dan pohon lokal yang hampir punah.

Untuk meyakinkan masyarakat yang lama hidup terjajah dalam ketakutan dan penderitaan, tidak mudah. Tapi Maathai yang pernah studi di Amerika Serikat tidak pernah putus asa. Dengan penuh kesabaran, keuletan dan pertolongan tangan-tangan lembaga yang peduli pada kelestarian lingkungan dan bimbingan Tuhan ia berhasil mewujudkan cita-cita dan harapannya: Menghijaukan Kenya. Di balik semburat hijaunya Kenya, Maathai juga menghidupkan seni, budaya dan sastra yang berakar pada lingkungan dan kearifan lokal. Di antara para perempuan aktivis Gerakan Sabuk Hijau bernama Litha Sovell menulis puisi sebagai berikut:

Kini Kita Hijau, Hijau Sentuhan Kita

Datang dari Timur, merahlah kita
Datang dari Barat, putihlah kita
Datang dari Selatan, hitamlah kita
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Kini kita tahu, hijau itu sesuatu
Kini kita tahu, bibit itu berharga
Kini kita tahu, bibit itu pohon
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Tanah itu kehidupan, itu kita tahu
Tanah itu harta, kita punya banyak
Tanah itu emas, kita jaga selamanya
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Kini kita tahu, merampas lahan itu kejam
Kini kita tahu, tanah itu untuk semua
Kini kita tahu, tanah itu martabat
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita
Kini kita tahu, semua adalah kakak
Kini kita tahu, semua adalah adik
Kini kita tahu, dunia kita bagi
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Terima kasih,
Terima kasih untuk bibit, yang tidak dipatenkan
Kini kami bisa menanamnya di mana-mana
Kita ini penanam, kabarkan pada semua orang
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Mari kita bersatu, satu suara
Mari kita bersatu, katakana kita ada
Mari kita bersatu, nikmati kekayaan kita
Kini kita hijau, hijau sentuhan kita

Gerakan Sabuk Hijau kini telah mendunia. Walau pendirinya, Prof. Wangari Maathi telah meninggalkan kita pada 25 September 2011, tapi semangat juang diwariskan untuk melestarikan bumi, tak pernah padam:

“… jika kita tidak membayangkan rasa takut, kita akan dapat terus maju terlepas dari segala rintangan yang ada dan selangkah demi selangkah kita akan mencapai tujuan kita.” Demikian spirit juangnya.

Sungguh menginspirasi jejak juangnya, Penulis ingin mewujudkan dalam Gerakan Pena Hijau Petani Pelestari Bumi.*

Daftar Pustaka
Buku
1. Dasmann, Raymond F, John P. Milton dan Peter H. Freeman, 1977. Prinsip Ekologi untuk Pembangunan Ekonomi (Ecological Principal for Economic Develpoment). Penterjemah Idjah Soemarwoto, MA. Jakarta: Gramedia.
2. Maathai, Wangari, 2012. Gerakan Sabuk Hijau (Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience – diterjemahkan oleh Ilsa Meidina). Jakarta: Margin Kiri
3. Pranoto, Naning, 2013. Seni Menulis Sastra Hijau. Jakarta: Perum Perhutani
Website
www.antaranews.com/…/luas-hutan-di-pulau-jawa
www.bnpb.id/penyebab-bencana/potensi-ancam-bencana
www.republika.oc.id/…/mwtrb2-penyebab-banjir-salah-satunya-adalah-sampah
www.tempo.co/read/fokus/2016/06/21/3326/bencana-mengintai-jawa
www.tempo.co/topic/masalah/756/pembalakan-liar
www.worldwildlife.org

Comments

comments