Article

MENGASAH PENA DI SMPN 115 JAKARTA

Catatan Literasi Naning Pranoto

Mengasap Pena di SMPN

“Ikatlah ilmu dengan menulis,”
Ali Bin Abi Thalib (599-661 M) – Khalifah Ke Empat
“Menulis itu untuk kemajuan, kebebasan berpikir dan berimajinasi”
Jean Paul Sartre (1905-1980) – Filsuf Perancis

Kamis, 2 Maret 2023 yang selama 10 hari saya tunggu, akhirnya tiba. Pada saat itu memang ada mendung tipis melapis wajah langit di mana saya tinggal, di wilayah Bukit Sentul Bogor Jawa Barat, tapi kehangatan pancaran sinar matahari tak terhalangi. Bias-biasnya mempilar semangat keberangkat saya ke SMPN 115 Jakarta, bersama sahabat saya – Shinta Miranda. Selama Masa Pandemi Covid-19 mulai awal Maret 2020 dan Pasca Pandemi Covid-19 hingga Februari 2023 saya absen berkegiatan literasi (Creative Writing Workshop/CWW) secara tatap muka di sekolah maupun di universitas. Nah, barulah saya melakukannya di SMPN 115 Jakarta pada Kamis tersebut. Itu merupakan hari istimewa. Perasaan saya pun melonjak-lonjak, karena bisa kembali mengajak para pelajar ’mengasah pena’ untuk mengikat ilmu dan kemajuan berpikir, seperti yang diamanahkan Ali Bin Abi Thalib dan Jean Paul Sartre.

Dasar-Dasar Kreatif Menulis

Dasar-dasar Kreatif Menulis

Dasar-Dasar Kreatif Menulis – itulah topik yang kami sajikan pada program CWW di SMPN 115 Jakarta. Walau jumlah seluruh siswa-siswinya 1.044 tetapi yang mengikuti program ini hanya 50 orang.

“Pesertanya yang benar-benar serius, agar efektif!” pemjelasan Ibu Sri Masrifah Chambari, S.Pd, M.Pd, selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan sekaligus Ketua Pengembang Literasi Sekolah. Selain itu ia juga merupakan Ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia DKI Jakarta. Maka tak heranlah apabila perempuan kelahiran Kebumen ini sangat antusias dan energik dalam mendampingi peserta didik di berbagai kegiatan berliterasi. Kiprahnya tersebut selain didukung sepenuhnya oleh Kepala Sekolah, Ibu Sindung Ernawati, S.Pd, M.Si., juga adanya kerjasama dengan guru-guru lainnya di bidang mata pelajaran lainnya, khususnya Bahasa Inggris dan Kesenian. Sehingga kegitan literasi di SMPN 115 begitu solid dan ’melahirkan’ siswa-siswi yang ’literer’. Hal itu tampak ketika CWW berlangsung. Tak satu pun ada peserta yang meleng, becanda atau bosan. Tidak ada!.Dalam kurun waktu sekitar 150 menit, semua siaga: aktif berinteraksi dan berkarya. Bahkan Ketika acara berakhir mash ada beberapa peserta yang menghampiri kami untuk memantapkan penguasaan materi.

BACA :   Catatan Naning Pranoto dari Singapore Writers Festival 2013: Pemenang LMC Obor Award 2013 Bersantap Kata ’ Mati’ bersama Pater James

Secara sekilas, materi CWW yang dibahas mengenai: (1) Pengertian Menulis; (2) Jenis Tulisan (Fiksi dan Nonfiksi); (3) Pengertian Sederhana: Kreativitas dalam Menulis; (4) Modal Utama Menulis; (5) Pemahaman Diksi dan Reading Picture/Membaca Gambar; (6) Menulis dengan Metode KISS – Keep It Short and Simple, William Strunk Jr; (7) Ragam Tanda Baca dan Fungsinya dan (8) Pemahaman Proses Menulis secara benar. Seluruh materi yang disajikan diserap sangat baik oleh seluruh peserta. Buktinya? Mereka begitu reaktif ketika dibuka sessi praktik menulis, khususnya dalam point Reading Picture di mana peserta diminta mencipta diksi berdasarkan pemahaman gambar yang disajikan. Mereka berebutan untuk unjuk diksi yang diciptakannya. Dalam sessi ini tampak sekali bahwa peserta khususnya dan peserta didik SMPN 115 pada umumnya, benar-benar dididik dalam berliterasi.

Thinking Out of The Box dan Poliglot

Asyik! Membanggakan! Dua diksi tersebut yang paling tepat saya gunakan untuk menggambarkan perasaan saya selama ber-CWW di SMPN 155. Kami saling mengasah kreativitas pena dengan pemberdayaan aksara, rasa dan logika. Sehingga CWW berlangsung begitu hidup dan sangat dinamis, Tak satu pun peserta ada yang mengantuk atau cuek-bebek. Saya bersama Shinta benar-benar berada dalam kancah berliterasi urub, setelah hampir tiga tahun dipadamkan oleh merajalelanya bara Pandemi Covid-19.

Dalam sessi praktik menulis, para peserta sangat baik dalam menyelesaikan karyanya dengan begitu kreatif. Di antara mereka ini, ada yang bisa dikategorikan melakukan thinking out of the box (nyleneh dalam arti positif), yaitu Nathanael Dean Janvierino mampu mencipta puisi tentang ’makna waktu’ begitu cepat dan filosofis yang ia gambarkan bagai jam pasir. Muhammad Fikri juga dalam sekejap mampu mencipta quote dengan memaknakan gambar hamparan padang pasir yang dilintasi kalifah. Kurang lebih quote-nya demikian, ”Tidak ada perjuangan yang mudah! – ucap Fifri dengan suara bijak ala ABG. Matanya yang tajam memancar bening, merefleksi otaknya yang cemerlang.

Fikri, Nathanael dan Salman (arah jarum jam)
Fikri, Nathanael dan Salman (arah jarum jam)

Dalam ruang CWW ini ada juga pesertanya yang poliglot (sebutan bagi orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa) yaitu Andi Salman Najafi. Kalau tak salah, ia bisa berbahasa Inggris, Jepang dan Arab, selain berbahasa Indonesia tentunya. Siswa yang pernah jadi Ketua OSIS ini juga aktif mengikuti Pramuka dengan meraih berbagai prestasi dalam kepramukaan, demikian informasi dari Ibu Sri Masrifah Chambari. Saya yakin, dengan berbagai multi-talenta yang mereka miliki atas anugerah-Nya, jika terus diasah akan menjadi orang yang berprestasi dan berguna bagi Nusa dan Bangsa, dimulai membenih di SMPN 115 Jakarta.

BACA :   TIPS MERESENSI BUKU

Pojok Baca dan Nuansa Wangi

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMPN 115 Jakarta sangat terasa detak dan dimikanya dilihat secara kasat mata, tindakan nyata maupun getaran rasa. Maka selayaknya, jika sekolah ini mendapat predikat Sekolah Berliterasi Terbaik di DKI Jakarta dan siswa-siswinya meraih kejuaraan dalam lomba menulis.

Shinta Miranda, saya dan Ibu Kepala Sekolah di depan Pojok Baca
Shinta Miranda, saya dan Ibu Kepala Sekolah di depan Pojok Baca

elain perpustakaannya hidup, Ibu Sindung sebagai kepala sekolah benar-benar berperan mega-penggerak literasi secara profesional yang dilandasi kasih pada anak didik. Hal itu tampak dengan kreasi-kreasi yang ia persembahkan, antara lain berupa ruang membaca di luar ruang perpustakaan yang dinamakan Pojok Baca.

”Pojok Baca itu dulunya gudang lho. Lalu kami benahi!” Ibu Sindung bercerita asal mula Pojok Baca yang jumlahnya puluhan berlokasi di samping dan nyaris di bawah anak-anak tangga antar jajaran ruang kelas.

Meskipun dalam ruangan nyempil, Pojok Baca dibangun sedemikian nyaman. Selain ruangannya wangi, buku-bukunya ditata rapi pada rak-rak buku. Buku-buku tersebut terdiri dari fiksi dan nonfiksi, yang disajikan dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Ada yang edisi biasa, ada pula yang edisi lux-full color dan hardcover. Keren sekali! Seperti sekolah-sekolah di luar negeri yang pernah saya kunjungi.

”Ibu Kepala Sekolah memang mengangkat Gerakan Literasi Sekolah sebagai sumber ilmu untuk membekali anak-anak mewujudkan cita-citanya sejak dini. Anak-anak dipacu gemar membaca dan menulis!” para guru penjelaskan pada kami. Kemudian saya menyimpulkan, tak heran jika peserta CWW begitu kritis dan langsung tune in dalam menyikapi materi yang kami sajikan. Saya seperti berhadapan dengan mahasiswa layaknya. Pengalaman ini merupakan catatan indah dalam Gerakan saya sebagai perrintis creative writing di Negeri Tercinta ini.

BACA :   MEMAHAMI DUNIA PENGARANG

Dua Motto Kencana, Pilar Melangkah Kokoh Raih Cita-Cita

Selain wangi, ruang-ruang di SMPN 115 Jakarta juga terasa semarak karena siswa-siswinya kala berpapasan saling tersenyum disertai anggukan santun. Demikian pula kala papasan dengan kami, sebagai tamu. Terlebih sikap para peserta CWW selama program berlangsung, tak satu pun anak-didik yang bersikap ‘baragajul’. Semua tertib walau mereka tetap santai, akrab dan kadang diselingi canda-tawa toh suasana tidak kaku dan tetap terkendali.

Saya sebagai pengajar anak didik dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi dan menjadi pembicara di berbagai seminar selama puluhan tahun, telah banyak asam-garam menghadapi berbagai tingkah-polah anak didik maupun audiens. Kala berada dalam sessi CWW di SMPN 115 sungguh merasa nyaman, menyatu dan homy sebagai tutor dan mentor. Saya sungguh bersyukur. Kondisi tersebut selain merupakan buah parenting para orangtua, peran sekolah sangat penting dalam pembentukan jatidiri ABG memasuki ambang gerbang dewasa. Untuk itu, sekolah ini memberikannya dengan landasan motto bagi anak didik, demikian: Cerdas, Santun dan Luar Biasa. Motto untuk guru: Cerdas, Ikhlas dan Profesional. Kedua motto itu begitu klop dan working well. Sehingga menjadikan proses pembentukan karakter ke arah positif-produktif-berprestasi dengan moral berkilau. Saya salut! Semoga budaya ini tetap hidup di SMPN 115 walau kepala sekolah dan gurunya silih berganti karena mutasi tugas atau purnatugas.

Pentas Seni pada 10 November 2022 di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2022 di JCC Jakarta.
Pentas Seni pada 10 November 2022 di Panggung Utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2022 di JCC Jakarta.

Sebagai pemantapan CWW, kala workshop berlangsung Ibu Sri Masrifah bersama Ibu Shinta membuka sessi tanya-jawab dan praktik menulis. Bagi pertanyaannya yang berbobot dan tulisannya berkualitas, disediakan hadiah buku dari Yayasan Rayakultura yang saya pimpin. Dalam sessi ini sangat meriah, karena semua peserta aktif untuk berperan serta. Sehingga untuk menentukan pemenangnya tidak mudah, karena hampir semua bernas. Meskipun demikian, secara bijak para pemenangnya bisa ditentukan secara adil dan semua happy.

Pada dasarnya, anak didik SMPN 115 memang periang, selain santun. Sangat mungkin, ini berkat ’sentuhan’ gerakan literasi secara lengkap yang memadukan kerja otak kanan dan otak kiri secara seimbang. Sehingga pendidikan yang dilandasi Creative Thingking dan Critical Thingking membuat anak-anak didik yang mampu melakukan Thinking Out of The Box. *

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close