MENGGEBIRI PENIS PATRIARKI?

naning pranoto-2015Sebuah Monolog Naning Pranoto bagi Ibunda R.A. Kartini.

Putaran poros waktu telah menghenti
Jantungku tak lagi berdetuk-detak kini
Aku dilempar dari ruang benderang ke bilik gulita begini
Di liang kubur: tanah merah, lembab, cacing-cacing menebar sunyi
Tubuhku melahar, , bola mata menyembur darah gumpal amarah Agni
Rambutku mendongak tombak, memberontak jambak jari besi si lelaki
Lingkar leherku menganga ungu-merah jambu, jejak cekik anyaman dadung tali
“Seorang babu seksi gantung diri di kamar mandi setelah membunuh majikan putri.” –
Itulah pewartaan tentangku di berbagai koran dan tayangan di layar televisi berhari-hari
Ruhku meronta-ronta mendengarnya, karena itu – sungguh, sungguh berita yang dimanipulasi
Untunglah, kawanan lalat penyaksi tragedi menjawab kala diwawancarai wartawan-wartawati:
– Siapa sebetulnya yang membunuh majikan putri?
– Lelaki itu – Suami majikan putri
– Mengapa terjadi?
– Karena majikan putri mengajari baca tulis si babu dengan setulus hati
– Apa hubungannya ini?
– Si babu jadi bisa membaca dan suka buku-buku sastrawi, bahkan menulis puisi
– Puisi apa? Puisi cinta picisan atau puisi — ?
– Puisi menolak korupsi, puisi menolak poligami, puisi menolak dominasi patriarki
– O, sungguh cerdas si babu. Tentu ia bukan babu biasa. Patut diapresiasi!
– O, tidak. Si suami murka berat. Lalu, ia tusuk perut strinya dengan belati.
– Mengapa si babu bunuh diri?
– Si suami majikan putri yang gantung si babu di kamar mandi setelah puas ia setubuhi
– ????
– Tolong, sampaikan Ibunda R.A. Kartini – bagaimana caranya menggebiri penis patriarki?
– ????
– Perempuan adalah payudara, menyusui semesta. Tumpas misoginis ruh patriarki!

Bisu. Sunyi. Dari liang kubur kulihat si suami majikan putri mengokang senapan ke arah wartawati:
Warta kebenaran tentang kematianku tak muncul di koran-koran maupun di tayangan layar televisi.

Gubug Hijau, 20 April 2015

Comments

comments