News

Menulis Cerpen Butuh Wawasan Pengetahuan dan Pengalaman Otentik

Foto : Akurat.co

Cerpen bukanlah sekadar sebuah cerita yang menyampaikan pesan tertentu. Diperlukan nilai-nilai keindahan, estetika, dan ekspresi bahasa yang lincah, mengalir dengan segala metafora, simbolisme atau analogi yang segar.

Hal itu diutarakan Ketua Dewan Juri Lomba Cipta Cerita Pendek Genre Sastra Hijau 2019 (LCCP-GSH), Nanung Pranoto, saat membacakan pengumuman dan pertanggungjawaban Dewan Juri lomba yang memperebutkan ICLaw Green Pen Award 2019, di Cibodas, Cianjur, Senin (22/4).

“Cerpen juga bukanlah sekadar cerita yang dibayangkan. Ia memerlukan wawasan pengetahuan dan pengalaman otentik yang menjadi kekayaan batin,” ujar Nanung Pranoto.

Oleh karena itu, menurut penulis novel semi politik “Mei Merah 1998, Kala Arwah Berkisah” itu, untuk memilah dan memilih cerpen-cerpen terbaik dan layak menjadi pemenang lomba ini, Dewan Juri membuat kriteria penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral, sosial, dan spiritual.

Dewan Juri memuji, secara keseluruhan cerpen yang dikirim para peserta lomba ini sesuai dengan tema yang ditawarkan panitia.

Bahkan, tidak sedikit yang mengaitkannya dengan tradisi leluhur, mewarnainya dengan kisah mitos, legenda, dan cerita rakyat, serta coba pula memasukkan nilai-nilai kearifan lokal berikut makna di balik petatah-petitih, peribahasa, dan tabu atau larangan yang masih tetap hidup di tengah masyarakat Nusantara.

“Para peserta sangat memahami bahwa cerpen bukanlah artikel wisata, bukan khotbah atau propaganda tentang lingkungan hidup, bukan pula petunjuk tentang cara membuang dan memperlakukan sampah sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Menurut pengelola lembaga pegiat literasi Rayyakltura itu, keseluruhan cerpen yang mengikuti lomba ini sejalan dengan semangat yang mendasari filosofi sastra hijau, yaitu pesan tentang perawatan dan pelestarian bumi dan seisinya yang disampaikan dengan tetap mempertahankan estetika cerpen.

“Bagaimanapun juga, cerpen bukanlah sekadar sebuah cerita yang menyampaikan pesan tertentu. Di sana, diperlukan nilai-nilai keindahan, estetika, dan ekspresi bahasa yang lincah, mengalir dengan segala metafora, simbolisme atau analogi yang segar,” paparnya.

Acara berlangsung hangat di tengah asri dan hijaunya vila milik penyair Yeni Fatmawati Fahmi, istri politisi Fahmi Idris, di Desa Rarahan, Cibodas, Cianjur.

Acara diawali dengan pembacaan puisi oleh tuan rumah Yeni Fatmawati yang bertema lingkungan hidup, pengumuman pemenang, makan siang, dan ramah tamah antara awak media Dewan Juri, dan para tamu undangan di bawah iringan live musik di panggung terbuka

Sumber : Akurat

Comments

comments

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Check Also

Close
Back to top button
Close