Menyusuri Lorong Kenangan dan Kematian, Menemukan Kesadaran

Cinta lebih kuat dari kematian

(Sides Sudyarto DS)

Cinta di Lorong Waktu -Bundo-FreeMakna kehadiran seseorang yang dirasakan setelah seseorang itu tak lagi di sisi kita, kerap dialami banyak orang. Namun, jika penghayatan akan persoalan itu diselami lebih mendalam, diurai dan ditelusuri helai demi helai, ternyata hal itu dapat meluahkan bermacam makna akan berbagai hal yang di luar dugaan. Itulah yang dapat kita rasakan setelah membaca novel Cinta di Lorong Waktu karya Dr. Free Hearty.

Novel ini berkisah tentang sepasang manusia yang mematri kisah cinta di usia tua. Kisah semacam ini tentu menarik karena jarang diangkat sebagai cerita. Kebanyakan novel lebih senang mengangkat kisah dan romantika cinta anak muda. Tentu menjadi kepenasaran tersendiri bagi pembaca bagaimana perjalanan dan tingkah laku mereka yang sudah di usia yang tidak remaja lagi dalam memadu cinta. Apalagi novel ini mendeskripsikannya mulai dari pertemuan pertama, menikah, hingga maut memisahkan. Akan tetapi, bukan di situ titik tekan novel ini, bukan pada peristiwanya itu sendiri, tetapi pada esensi dan simpul dari setiap peristiwa dalam cerita tersebut. Esensi dan simpul-simpul itu diperlihatkan dan dibuka perlahan-lahan, satu demi satu, melalui sorot balik peristiwa-peristiwa yang dialami  sang tokoh novel (aku) berupa kenangan-kenangan yeng terus berloncatan, memukul-mukul dan mengisi hati dan pikiran tokoh aku karena kematian suaminya. Penghayatannya akan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya yang mengalami duka mendalam selepas kematian suaminya, ternyata membawa tokoh aku menemukan banyak makna dari berbagai persoalan kehidupan, yang sebelumnya terabaikan. Apa yang ditemukan tokoh aku melalui monolog batinnya itu, tentunya mengalir juga pada benak dan hati pembaca, terutama bagi pembaca yang memahami karakteristik novel ini.

Secara bentuk, novel ini bukan novel aluran. Bagi pembaca yang berharap menemukan rangkaian peristiwa yang menggunakan berbagai teknik pemplotan yang menarik, novel ini akan membosankan, karena justru hampr tidak ada alur di situ. Yang ada hanyalah lintasan-lintasan kenangan secara kilas balik yang kemudian dibawa atau membawa penulis pada perenungan-perenungan akan kehidupan yang membuatnya menjadi lebih bijak dan lebih bersungguh-sungguh dalam mencari dan melaksanakan nilai-nilai hakiki, baik dalam hubungan horisontal pada sesama, maupun vertikal terhadap Tuhan.

Dengan demikian, novel ini lebih berisi refleksi. Untuk menemukan refleksi-refleksi tersebut, novel ini lebih enak dan tepat jika dibaca secara tenang dan perlahan, sehingga hal-hal berharga tentang renungan kemanusiaan itu dapat terserap.

Dari refleksi-refleksi yang didedahkannya, jika pembaca bersedia untuk membacanya secara sabar dan kontemplatif, pembaca dapat menemukan berbagai gambaran bahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang mewakili pengalaman, perasaan, atau dialog batinnya, baik yang menyangkut persoalan politik, sosial, filosofi, religi, maupun yang lainnya. Sebagai contoh, bagi orang-orang yang pernah mengalami pengalaman yang sama (kehilangan pasangan hidupnya karena kematian), deskripsi berbagai perasaan tokoh yang digambarkan novel ini, terasa tepat persis seperti yang pernah dirasakannya.

 

Aku memercayai saja cerita bahwa kekasihku itu tetap ada, tetap bisa menatap dan menjagaku.  Seperti cerita-cerita yang dikisahkan oleh mereka yang percaya. Aku ingin mendengar cerita bahwa kekasihku di sana tidak ingin aku bersedih, bahkan dia ingin aku bahagia. Aku ingin pula, agar aku bisa mengetahui segala keinginannya tentangku. Sehingga langkahku seperti tertata dan terjaga. Sebuah kenaifan yang kupupuk sebenarnya.

….

 

Hari ini pertama aku mengajar lagi. Begitu berat kurasakan. Aku menelpon ke kampus karena tidak tahu jam mengajar dan bahan mengajar. Aku sungguh bingung dan limbung. Beruntung bahwa mbak Denok dan mbak Dhani membantu. Mereka telah menyiapkan bahan yang akan kuajarkan. Bahkan mereka memahami ketika aku seperti masih bingung dan linglung. Dengan sabar mereka menghadapiku. Terimakasih Tuhan, aku temukan orang yang memiliki rasa simpati tulus.

 

            Contoh lainnya adalah berupa penyadaran akan hubungan kemanusiaan yang seringkali ternodai oleh kecintaan pada hal-hal kebendaan seperti terlihat pada kutipan berikut.

Aku tercenung di ruang tengah di mana kami sering bercengkrama. Ajari aku agar tidak menangis. Waktu kurasa merambat kian lambat. Bumi makin sempit. Udara terasa berat. Aku seperti terhanyut dalam pusaran ini. Aku merasa perih menatap semua furnitur mahal yang ada di ruang ini. Aku menghela nafas sedih mengingat semua ini. Mataku menatap lemari kaca yang dibeli di jalan Surabaya. Lemari antik yang sangat menarik. Aku sering tertarik dengan barang antik. Lalu mataku mengitari semua pecah belah yang ada di dalamnya. Nafasku tertahan berat sekali. Penghargaan terhadap pecah belah membuat penghargaan terhadap manusia berkurang banyak. Aku luruh lagi. Bagaimanakah manusia memaknai hubungan persaudaraan, hubungan kekeluargaan, hubungan darah? Alangkah rumitnya perilaku manusia yang bahkan saling melukai demi sesuatu yang sangat tidak berharga. Atau apakah aku yang demikian naif, sehingga bagiku benda tidak mampu membuat diriku berpaling dari manusia lainnya.

 

Bahkan, kritik akan persoalan politik negeri kita saat ini terefleksikan pula dalam novel ini, seperti terlihat pada kalimat-kalimat berikut.

Bagiku menjadi wakil rakyat bukan pekerjaan mudah. Wakil rakyat bukan pekerjaan yang bisa diemban oleh hanya kepopuleran semata ataupun hanya kecerdasan saja. Ada banyak nilai dan norma yang tidak boleh dilepaskan dari genggaman. Itu adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, katanya mengingatkanku dulu. Aku belum banyak berbuat bagi masyarakat, aku juga belum dikenal oleh mereka. Lalu bagaimana mungkin aku bisa melaksanakan tugas-tugas atas nama mereka? Bagimana bisa aku begitu yakin menjadi wakil mereka sementara mereka tidak mengenalku dan aku tidak memahami pula permasalahan mereka dengan benar dan dekat. Mengenal dalam arti mengetahui bagaimana aku. Maka berbuat sebanyaknya buat masyarakat lebih aku pilih dalam berkegiatan selanjutnya. Bila mereka menghendaki mereka akan memilihku. Bila tidak, artinya aku belum cukup dipercaya rakyat untuk menjadi wakil mereka. Haruskah kita kehilangan akal sehat karena tidak dipilih rakyat?

Kondisi perpolitikan di negara kita belum begitu sehat. Kalau aku menikmati pencalonan  ini dan mau turun ke masyarakat  yang paling bawah, karena jiwa kepenulisanku menemukan kepuasan mendengarkan langsung berbagai permasalahan masyarakat. Aku lebih banyak mengedukasi masyarakat daripada mengajak mereka memilihku. Aku masih bisa mengingat dan melihat rona muka kekasihku yang demikian bangga ketika sekali waktu ikut denganku, dan mendengarkan aku menyampaikan program-program partai kami ke masyarakat. Dia dengan serius mendengarkan dialogku dengan masyarakat di beberapa tempat.

 

            Contoh lainnya yang digambarkan novel ini yang dapat menjadi masukan bagi pemahaman dan persepsi pembaca adalah mengenai feminisme. Tanpa harus membaca risalah atau teori feminisme, pembaca disuguhi pandangan-pandangan mengenai bagaimana semestinya hubungan antara perempuan dan laki-laki. Pandangan itu menjadi terasa lebih bermakna karena dijalin dalam konteks cerita (pengalaman). Mari kita lihat kutipan berikut.

 

Cinta yang berkembang kepadanya diawali oleh penolakan yang didasari oleh perbedaan latar yang tidak kusukai. Ada keraguan akan kehadiran lelaki kembali dalam hidupku. Pemikiranku tentang peran dan posisi lelaki dan perempuan  dalam budaya berkembang pesat. Ini membuat aku sangat hati-hati melangkah. Lelaki sering beranggapan bahwa perempuan harus menjadi orang rumahan. Usia yang sangat berjarak membangun rasa khawatir yang kuat dalam diriku bahwa dia adalah lelaki tradisional yang menganggap perempuan hanyalah hiasan rumah seperti ”Limpapeh Rumah Gadang”[i].

Aku berpikir dua kali untuk membangun rumah tangga dengan lelaki, yang menganggap bahwa sebagai kepala rumah tangga dia mempunyai hak untuk memberangus kehadiran perempuan di sampingnya. Maka membangun rumah tangga kembali saat itu bagiku hanyalah angan-angan kosong. Amat langka menemukan lelaki yang mengakui kesetaraannya dengan perempuan. Tetapi pengertian dan pemahaman yang begitu penuh aku dapatkan itu dari dia, kekasihku.

Dia juga telah mengubah semua pikiranku. Dia lelaki yang berbeda, yang membuka pikiranku bahwa lelaki kadang juga menjadi korban budaya patriarki itu sendiri. Dia mengubah pikiranku bahwa ketidakmengertian lelaki -bukan ketidak pedulian-  tidak harus disikapi dengan beringas, apalagi kebencian.  Itu pelajaran amat berharga yang kudapat darinya. Lelaki dan perempuan adalah sama-sama pelaku budaya yang menerapkan tradisi yang telah dikonstruksi secara turun temurun. Kesadaran ini pula yang menghantarku menyelesaikan disertasiku. Kesadaran ini pula membuat aku bersedia melakukan banyak hal untuknya, tanpa memikirkan masalah kesetaraan. Kesadaran yang muncul bahwa lelaki dan perempuan harus sama-sama disadarkan tentang budaya yang diskriminatif, dan telah menciptakan banyak tragedi dalam tradisi ini.

Ketertarikannya terhadap minatku mengenai posisi dan fungsi perempuan dalam budaya, membuat hubungan kami semakin menyatu. Dia yang berusia enam belas tahun di atasku ternyata dengan mudah memahami keinginan perempuan untuk maju. Kenapa begitu sukar buat lelaki lain memahami perjuangan perempuan? Ataukah perempuan harus menukar strategi. Perempuan harus berjuang tanpa perlu meletakkan diri sebagai korban dan menempatkan lelaki sebagai algojo semata. Cara ini tentu akan menimbulkan resistensi dari pihak lelaki yang  merasa lahan kekuasaannya menyempit dan terampas.

….

Hal ini sungguh sangat bermakna bagiku. Pemahamannya tentang apa yang kupahami dan kuperjuangkan tentang posisi dan peran perempuan yang tidak lagi  diskriminatif, sangat membahagiakanku. Pemahaman dan keikhlasan itu yang membuat aku memberikan keikhlasan pula dalam melayani. Bahkan membuka sepatu pun akan aku lakukan, bila dia memahami itu adalah ekspresi perasaan cinta. Bukan bentuk pelayanan terhadap majikan. Saling mengenal dan memahami membuat manusia saling menghargai.  Manusia tidak akan mungkin bisa saling mengenal pasangan seratus persen, tetapi setidaknya bisa saling mengetahui dan memahami bagaimana dan siapa pasangan kita. Aku ingat ucapan seorang teman.

….

Lelaki ini telah menyadarkan aku akan banyak hal. Bahkan ketidaktahuannya akan potensi perempuan menyadarkan aku dan meningkatkan pemahamanku tentang perempuan dan laki-laki. Dialah inspirasiku,  mendorong aku melakukan penelitian kembali tentang posisi serta peran laki-laki dan perempuan dengan perspektif yang berbeda. Kesadaran itu pula yang membuat aku menulis banyak hal, bahwa lelaki pun korban budaya patriarki.

….

 

Kami sangat percaya bahwa manusia di depan Allah itu sama, hanya dibedakan lewat ketaqwaan dan keimanannya. Bukan dari jenis kelaminnya. Hal ini pula yang membuat kekaguman dan cintaku semakin menggunung kepadanya. Kesadaran dan penghargaan lelaki terhadap perempuan, seperti dia lakukan, yakinku akan membuat banyak perempuan  bersedia mengabdi dan takluk kepada suami. Tetapi kebanyakan lelaki selalu membanggakan kelaki-lakiannya saja kepada perempuan. Kebanggaan yang sering mendorong lelaki untuk menindas perempuan. Kami setuju kepada banyak hal yang sama dan menolak banyak hal sama pula. ”Perjodohan Tuhan” yakinnya selalu.

 

            Dari berbagai deskripsi tersebut, kita dapat merasakan hati kita diketuk dengan cara cara tidak langsung dan begitu halus untuk menemukan nilai-nilai itu. Cara pengarang memunculkan nilai-nilai itu lewat ungkapan hati tokoh, menjadikan apa yang disampaikan terasa menyentuh. Sesuatu yang dapat menimbulkan daya sentuh memang tidak harus diteriakkan lewat pengeras suara.

***

            Dengan dominasi isi seperti yang diuraikan di atas, dapatkah teks karya penulis yang akrab dipanggil Bundo Free ini disebut sebagai novel? Mengenal atau tidak mengenal atau mengetahui perjalanan hidup penulis, pembaca dapat merasakan bahwa tulisan itu merupakan memoar (dalam arti riwayat yang ditulis tokohnya sendiri yang merupakan penggalan dari salah satu (sebagian) kisah hidupnya)

Tetapi perlukah kita mempersoalkan hal itu? Lepas dari masalah bentuk apa yang dipilih pengarang, novel ini dapat menjadi terapi jiwa tidak hanya bagi pengarang, tapi juga bagi pembaca.***


 Oleh Nenden Lilis A

Comments

comments