Merbot Karya Kupret el Kazhiem

Merbot

Oleh: Kupret el Kazhiem

“Ma, yang itu belum bersih.Tolong disapu lagi.”
“Baik, Pak.”

Itulah kerjaku setiap hari sebagai merbot yang bertugas membersihkan areal masjid dan merawatnya. Harus patuh pada apa yang diperintahkan dewan pengurus rumah Tuhan ini. Tiada pilihan lain walau gajinya tak seberapa. Aku bekerja, bukan menyumbang tenaga.Aku butuh makan maka harus dibayar.Sering terselip keinginan membobol kotak amal supaya menambah penghasilan. Tapi jika berhasil kucuri isinya, mereka akan mengejarku sampai ke ujung dunia. Seumur hidup menjadi buronan.Padahal, saat ini pun statusku seorang pelarian.

Ya, aku kabur dari rumahku gara-gara pertentangan yang sudah berlangsung lama dengan ayahku.Penyebabnya karena agama.Jika agama bisa mendamaikan dunia, bagiku justru sebaliknya.Selama ini orang-orang selalu alergi bicara agama.Takut dibilang menyenggol SARA, menistai, menodai sesuatu yang disakralkan sejarah. Aku kerap bersinggungan ketika ayah menggunakan ayat-ayat Tuhannya untuk menghakimi orang lain sebagai penyimpang dan tersesat dari jalan kebenaran. Karena prestasinya itu, dia mendapat jabatan mentereng di masjid dekat rumah.

Adik lelakiku sempat mengungsi ke rumah temannya gara-gara dilarang bermain musik.Ayahku memarahinya habis-habisan karena musik merupakan sesuatu yang diharamkan agama. Jika ayah memberinya uang dan uang itu digunakan untuk bermain musik atau membeli hal-hal yang berkaitan dengan musik maka sama saja ayahku menyuruhnya berbuat dosa. Alasan dosa kolektif itu sering digunakan ayah untuk menerapkan aturan dalam keluarga.Sedangkan adikku yang perempuan selalu menjadi penipu setiap keluar rumah karena ayahku melarang anggota perempuan dalam keluarga untuk memakai celana panjang.Adikku selalu menggunakan rok panjang atau baju kurung saat berangkat kerja, lalu berganti celana jeans begitu di luar.Kadang di toilet umum, pombensin, atau tempat perbelanjaan.

Bertahun-tahun aku menutupi praktik kamuflasenya dengan menjadi munafik, asalkan tak muncul murka ayah. Lama kelamaan aku tak tahan lagi dengan kepura-puraanku sendiri. Umurku mulai beranjak kepala tiga.Aku tak ingin menghabiskan usiaku dengan tekanan demi tekanan batin.Suatu malam aku memutuskan segalanya; keputusan yang membuat masa depanku mengabur.
Dengan tekad bulat aku melewati pagar depan tanpa ijasah sarjana. Bahkan pendidikanku yang saat itu sedang melanjutkan studi pascasarjana terpaksa aku campakkan.Kukubur cita-citaku menjadi seorang intelektual muda, akademisi, peneliti, dan sebagainya.Demi melanjutkan hidup, membayar kos-kosan dan makan sehari-hari, aku bekerja serabutan.Kebanyakan adalah mencari para mahasiswa muda yang kesulitan menyelesaikan tugas akhir mereka.Bukan cuma sarjana muda, tapi aku juga menawarkan kepada teman-temanku semasa kuliah di pascasarjana untuk aku kerjakan tesis mereka.Tentu dengan jaminan kualitas bagus.Yang penting sesuai bayarannya.Persetan apakah pekerjaan itu hina dan terlarang.Toh mereka yang kuliah itu juga pengin cepat lulus denga nilai tinggi agar bisa mendapatkan ijasah. Bagi yang sudah bekerja, ijasah juga amat diperlukan untuk menaikkan prestise, pangkat dan jabatan.

Namun menjalani profesi begitu semakin membuatku jenuh.Aku ingin menjauh dari buku, jurnal, hasil penelitian dan sebagainya.Ternyata semua itu justru mengukung kebebasanku.Lantas kujual berkardus-kardus koleksi bukuku semasa kuliah.Semua itu sebagai bekal perjalananku selanjutnya.Pelarianku pun semakin jauh.Luntang lantung tak keruan sampai akhirnya terdampar di serambi masjid ini.Bagaimana aku bisa bekerja di sini berawal ketika kondisi keuanganku terus menipis.Waktu itu bertepatan dengan masuknya bulan puasa.Aku tak sanggup melanjutkan pelarianku lagi.Lapar dan haus menyita langkahku.Kutunggu waktu berbuka sembari tiduran.Aku akui bahwa keuntungan adanya agama adalah memiliki rumah ibadah. Dengan adanya masjid maka pengangguran sepertiku bisa menikmati makanan saat berbuka dan tidur tanpa harus bayar uang bulanan. Tetapi hal itu cuma berlaku di bulan puasa.

Akhirnya aku menemui pengurus masjidnya dan menawarkan diri sebagai merbot.Ada dua orang merbot di masjid ini, yang satu bernama Muklis dan sering dipanggil Klis. Sedangkan namaku Rama. Sering dipanggil Ma, yang bunyinya kedengaran mirip dengan Ma’ pada “emak”. Sebenarnya usia Muklis lebih muda dariku, tapi duluan dirinya yang jadi merbot di sini sehingga kadang sikapnya berlagak paling senior. Apabila Pak Tanu menyuruhnya mengerjakan sesuatu, dia akan melimpahkannya padaku. Menggulung karpet masjid, mengepel lantai, mencuci persediaan perangkat shalat, dan pekerjaan sejenisnya. Namun setiap kali jelang waktu shalat, dia selalu siap di dekat mic. Sigap tak pernah ketinggalan untuk azan. Agak aneh juga bagiku, sepertinya ada kedekatan antara dirinya dengan pentol korek elektronik tersebut. Tak masalah buatku selama gajiku tak diembatnya.

Tak terasa sudah hampir setahun tinggal di masjid ini. Sebentar lagi bulan puasa. Terkenang bagaimana keadaanku dahulu pertama kali ke sini. Meski sekarang sudah berbeda, tapi aku menghadapi situasi yang nyaris mirip seperti yang pernah aku alami saat masih di rumah ayah. Kepengurusan Masjid Darussalihin segera berganti maka yang tampak adalah persaingan antara jamaah untuk mendapatkan tampuk kepemimpinannya. Aroma gontok-gontokan tercium lekat. Isu yang kurang sedap berseliweran menghinggapi semua orang, termasuk pertentang antaraliran. Ada yang kuat memegang tradisi menginginkan Pak Bondan tetap menjadi ketua, di lain pihak kalangan muda yang ingin menghapus tradisi-tradisi yang dikatakan bukan berasal dari ajaran agama, menghendaki pemimpin baru yang mereka katakan lebih melek ilmu.

Pak Bondan sebagai warga yang sudah sepuh dan lama tinggal di perumahan ini, merasa bahwa di belakang orang-orang muda para pendatang baru itu pasti ada aktor intelektual yang mau menggulingkannya. Dalam pengamatan kasarku, tuduhannya mengarah ke Pak Faruq yang selama ini aktif berjuang melawan ketidakmurnian tradisi. Kalau dipikir-pikir mirip ayahku ketika menyebarkan paham barunya di masjid dekat rumah dahulu, dari cuma sendirian sampai berhasil menguasai masjid dan mengganti anggota-anggota pengurusnya dengan yang sejalan dengannya.
Apa yang dilakukan Pak Faruq tak jauh berbeda, dia mengundang pendakwah-pendakwah dari luar untuk mengadakan pengajian yang umumnya diikuti kaum muda. Rutin dua kali dalam seminggu. Akibatnya Pak Bondan dan beberapa orang tua merasa dilangkahi, dia mewanti-wanti pada Muklis agar jangan menyediakan air bagi penceramahnya. Dalam arti lain, biar Pak Faruq yang membiayai sendiri kegiatan itu. Tetapi Pak Faruq kukuh dengan program-programnya, pengajian yang dirintisnya makin besar. Orang-orang yang sepaham dengan alirannya berdatangan dari luar perumahan. Mereka menambah pemasukan masjid. Kotak amal itu semakin berat dan seolah tak pernah habis isinya setiap kali dikeluarkan untuk dihitung.

Tiba-tiba suatu hari Pak Faruq mendatangi ruangan merbot. Aku dan Muklis dibuatnya gugup. Biasanya yang sering mendatangi kami dan menginstruksikan segala tugas hanyalah Pak Bondan.
“Iya, Pak. Ada apa ya?” tanya Muklis.
“Saya mau lihat apakah masih ada ruangan di dalam sini.”
“Silakan, Pak.” beliau masuk dan melihat kamar kami.
“Lumayan besar juga.”
“Iya, Pak.” dari tadi cuma Muklis yang meladeninya.
“Kalian kerja kepayahan nggak?” dalam pikiranku sih mengiyakannya. Dua orang merawat masjid sebesar ini pasti melelahkan, tapi Muklis menjawab lain, “Tidak kok, Pak. Sudah biasa.” Dasar penjilat! Maki batinku. Terang saja dia berkata begitu karena aku yang menyelesaikan semua pekerjaannya.
“Bagaimana kalau ada satu orang lagi yang membantu kalian?” katanya. Sebagai pendengar yang baik, kontan aku terperangah.
“Maksud Bapak?”
“Untuk membantu pekerjaan kalian biar tidak terlalu berat, saya berencana memasukkan seorang lagi. Urusan gaji tenang saja, biar saya yang mengurus. Yang penting dia bisa bantu kalian.”

Kami berdua terdiam saling bertatapan. “Oke yah?” tanya Pak Faruq. Anehnya kami malah mengangguk. “Ya sudah, besok atau lusa orangnya datang.”
Seperti yang dikatakan, si Merbot baru pun datang. Sepertinya lebih muda dari Muklis. Memakai kupluk putih, baju koko dan celana cingkrang di atas mata kaki. “Assalaamu’alaikum akhi.” sapanya sembari menyalami kami.
“Namaku Muklis dipanggil akhi.” dia mendumel ketika kami nongkrong di warung. “Akhi itu bahasa Arab artinya saudara laki-laki.”
“Iya, aku tahu. Panggil saja mas, ngapain akhi, sok Arab.”
Letupan pertama muncul. Mirip ketika aku protes kepada ayahku dahulu sewaktu mengganti panggilan papa-mama dengan abi-ummi biar kedengaran lebih agamis. Reaksiku waktu itu adalah mempertanyakan istilah kearab-araban itu yang dipakai sebagai simbol formalis semata. Padahal bangsa ini juga punya bahasa sendiri, tapi dengan mudahnya tergeser dengan bahasa lain biar dibilang lebih religius.

Aku sudah menduga letupan itu akan diikuti rentetan letupan. Ketika malam hari biasanya Mas Muklis mengunci semua pintu masjid, tapi merbot baru itu justru membukanya dengan alasan memberi ruang bagi orang-orang yang ingin shalat malam. Akhirnya Muklis marah-marah kepadanya. Tetapi Lukman, si Merbot baru, bersikeras dengan kebenarannya. Bahkan dia rela tidur di luar kamar untuk mengawasi masjid daripada menghalangi orang lain untuk beribadah. Muklis jengkel luar biasa, senioritasnya serasa diterabas dan pribadinya serasa tak dihargai. Yang paling membuatnya kesal adalah Lukman berani mengambil uang di kotak amal sekadar untuk membeli sekardus air untuk peserta pengajian yang diadakan Pak Faruq. Akhirnya Muklis melaporkan hal itu ke Pak Bondan.
“Benar apa yang dibilang Muklis, Ma? tanya beliau padaku.
“Benar, Pak.”
“Kurang ajar si Faruq.”
“Sepertinya anak itu sengaja dijadikan merbot untuk bisa melayani kepentingan mereka, Pak.” Wah, bisa juga si Muklis berhipotesa. Tampaknya negara ini tak kekurangan ahli politik. “Kamu nggak bisa menangani anak itu?”
Muklis terdiam, sementara beliau mengalihkan pandangannya padaku. “Kamu bagaimana, Ma?” naluriku menyuruhku menggeleng untuk menjawab todongan Pak Bondan. “Bagaimana sih kalian berdua, apa nggak pernah berpikir soal masa depan masjid ini? Bayangkan kalau sampai diambil alih oleh Faruq, bakal habis semua.”
“Habis, Pak?” tanya Muklis. Pak Bondan tak melanjutkan penjelasannya. “Pokoknya kalian berdua harus menyingkirkan anak itu. Bikin supaya tidak betah dan minggat dari sini.”
“Bagaimana kalau dikeluarkan surat pemecatan dari pengurus masjid. Kan sekarang masih Bapak.”
“Ya, nanti saya buatkan. Kamu paksa anak itu keluar ya.”
“Siap, Pak.”

Surat yang dijanjikan pun datang seminggu kemudian. Muklis segera menjalankan tugasnya. “Man, ini surat dari pengurus. Kamu nggak bisa lagi tinggal dari sini.”
“Maksud akhi apa?”
“Baca sendiri. Pokoknya kamu nggak bisa di sini.” dia membaca sejenak.
“Tapi kata Pak Faruq saya boleh di sini.”
“Pak Faruq bukan ketua pengurus masjid, ini surat dari pengurus masjid.”

Lukman tak bertanya lagi, tapi sore hari batang hidungnya tak kelihatan. Muklis girang bukan main dan di warung kopi dia membanggakan diri. Tapi dugaanku letupan ini belum selesai. Pasti akan ada yang lain. Benar saja, besoknya Lukman tampak di antara rombongan pengajian yang dibina oleh Pak Faruq. Mungkin saja dia tinggal sementara di tempat saingannya Pak Bondan itu.
Waktu pemilihan pengurus baru pun tiba. Hari minggu pagi masjid dipenuhi orang-orang yang mengaku sebagai pengurus, tapi jarang datang beribadah di rumah Tuhan ini. Bahkan saking jarangnya, aku tak bisa mengenali nama mereka. Pak Faruq mengemukakan pandangannya bahwa kepengurusan masjid harus diisi orang-orang yang dinamis dan gesit. Sebaliknya, kalangan sepuh menyangka bahwa Pak Faruq tak menghormati kontribusi mereka. Sebagian orang tua di perumahan ini adalah penyumbang dan di masa lalu mereka bergotong royong mendirikan serta memakmurkan masjid. Muklis pun turut berpihak, jelas sekali dari letak duduknya yang berdekatan dengan kubu Pak Bondan. Sepertinya seniorku yang satu itu ingin sesekali jadi aktivis. Perdebatan alot itu menghabiskan waktu dan tenaga mereka. Hari beranjak zuhur, tapi dewan ketua pengurus masjid belum terpilih. Tak satupun yang memerhatikan keberadaanku dan kotak amal.

28072013

Comments

comments