MINORITAS PANGKAT TIGA

Oleh Erin Cipta

Ni te yi kong se ce me le ? Aku sedang bercerita tentang selamatnya nyawaku dari maut, mengapa ia malah mengucapkan doa untuk membunuh? Jahat sekali.”
Lelaki itu tampak gusar bertanya pada Tuanku.
Tuanku tampak agak terkejut. Aku terperangah, tak menyangka pekikanku menimbulkan reaksi demikian. Kami berdua – aku dan tuanku, was-was menatapnya.
*
Seumur hidupku tinggal di Jawa Tengah, aku selalu menjadi kaum kebanyakan. Aku suku Jawa, muslim, dan miskin. Orang macam aku ini menyesaki kampung yang kutinggali, memenuhi deret daftar warga dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Aku adalah bagian dari kaum mayoritas yang dominan.
Karena mayoritas, aku sering merasa superior. Pada banyak perkara, urusanku sangat tertolong dari statusku yang demikian. Jika kemudian aku sering kesulitan dalam beberapa hal, kebanyakan itu karena status terakhirku: miskin!
Maka sungguh tak terbayangkan ketika akhirnya aku terlempar ke sebuah negara, ribuan kilometer jauhnya dari Tanah Jawa dan seketika statusku menjadi sangat berbeda. Aku adalah satu-satunya muslim di keluarga majikanku yang kristen. Keluarga majikanku ini adalah satu-satunya keluarga kristen di lingkungan budha.
Aku menjadi minoritas pangkat tiga. Sebelum ke sini, aku sudah mendengar cerita tentang betapa sulitnya menjadi seorang muslim di Taiwan. Kawan-kawanku sesama calon pekerja rumah tangga di penampungan biasa saling berbagi cerita. Biasanya, kami yang baru, belum pernah bekerja di Taiwan, akan duduk meriung mendengarkan cerita para mantan pekerja yang akan kembali bekerja di negara Pulau Daun itu.
“Dulu, jangankan untuk salat, aku bahkan kesulitan makan makanan yang terbebas dari babi. Majikanku sangat ketat mengawasiku bekerja, badanku hampir selalu terkena najis karena anjing mereka berkeliaran di dalam rumah, kakek yang kurawat ngompol melulu. Aku hanya bisa mandi jika malam datang. Aku makan apa yang mereka sediakan saja. Mereka selalu makan daging babi. Meskipun aku tak makan dagingnya, tapi minyaknya mengandung babi, alat masaknya bercampur dengan yang digunakan untuk memasak babi, dan aku tak bisa apa-apa menghadapinya,” cerita seorang kawan.
Kami bergidik ngeri. Dadaku berdesir-desir mengingat amanat almarhum bapak untuk menjaga perutku dari masuknya makanan-makanan haram. Jangankan yang sudah jelas-jelas haram macam daging babi itu, makanan halal yang cara mendapatkannya tidak halal saja bapak dengan keras melarangku untuk menelannya.
“Kasihan sekali kamu, ya … Aku dulu bisa memilih makananku sendiri karena bisa membeli makanan dari luar. Aku bisa beli ayam atau ikan goreng sendiri. Tapi itu pun tak menjamin bisa membebaskanku dari babi. Aku tak yakin dengan bahan yang digunaan para pedagang itu. Agak lama aku baru bisa berpikir tentang ayam yang sudah bertahun-tahun kutelan. Ayam itu tak pernah disembelih dengan bismillah … Lha, bagaimana mau bismillah, tukang jagalnyna saja bukan muslim,” timpal seorang kawan yang lain.
Cerita yang kedua kami sambut dengan tawa cekikikan. Cerita ini sama mirisnya, tapi tidak semuram cerita pertama.
Masih banyak lagi cerita tentang kesulitan menjalankan ibadah di Taiwan. Cerita terlazim adalah sulitnya kami memakai pakaian yang menutup aurat dan mencari tempat untuk mendirikan salat. Kebanyakan majikan menginginkan pekerjanya bekerja cekatan dan bersih. Untuk itu biasanya mereka lebih menyukai kami bekerja dengan pakaian yang ringkas dan praktis. Menurut mereka, pakaian panjang dan penutup rambut hanya akan menggangu pekerjaan saja. Terutama pada musim panas.
*
Langkah pertamaku di Taiwan menapak dengan kaki gemetar. Demi lancarnya semua urusan, kutanggalkan penutup rambut. Kikuk rasanya, tapi apa boleh buat. Masih beruntung, agen mengijinkan aku mengenakan baju lengan panjang dan celana panjang.
Hatiku mengembang ketika di tempat cek medikal, aku melihat ada pekerja Indonesia yang berkerudung. Ia bukan pekerja baru, melainkan sudah dua setengah tahun bekerja. Diam-diam aku mendekatinya dan bertanya;
“Mbak, boleh pakai kerudung, ta?”
“Asal tak menggangu gerak saat bekerja, majikanku membolehkannya,” jawabnya dengan senyum yang menenangkan.
“Tapi tak semua majikan mengizinkan,” lanjutnya.
Senyumnya masih ada, tapi ketenangan yang tadi sempat ada, hilang.
Soal penutup aurat, aku pasrah. Aku sudah sampai di tanah orang, mundur pun bukan hal yang mudah dilakukan. Sungguh aku bukan hendak membenarkan seorang pekerja perempuan membuka aurat di Taiwan hanya karena hampir semua melakukannya. Bukan. Aku hanya tak tahu harus bagaimana lagi.
Di rumah tempatku bekerja, aku disambut ramah oleh seorang nyonya yang terlihat lebih muda dari usianya—70 tahun. Tugasku adalah merawat seorang tuan, yang terlihat setua usia sebenarnya—82 tahun, menderita sakit jantung. Pasienku masih bisa melakukan banyak hal sendiri, termasuk mandi, namun perlu selalu diawasi dan ditemani karena gerakannya lamban dan nyaris selalu butuh bantuan. Tentu saja, segala pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabku juga.
Kami hanya tinggal bertiga di hari-hari biasa. Rumah besar tempatku bekerja hanya akan ramai pada akhir pekan oleh kedatangan anak dan cucu majikanku. Ini adalah keluarga yang hangat dan ramah. Aku merasa beruntung bekerja di sini karena mereka memperlakukanku dengan baik sekali.
Kecemasanku soal ibadah sudah hilang sejak hari pertama. Nyonya tak melarangku salat. Bahkan ia menyediakan tempat di dekat ruang laundry yang harus kubersihkan dan kujaga sendiri dari masuknya anjing piaraan mereka.
“Kamu muslim, kan? Itu tempatmu ibadah. Jika kamu tak makan babi, kamu boleh makan dengan bahan vegetarian yang sama seperti Tuan. Bekerjalah dengan baik. Rawat Tuan seperti ayahmu sendiri,” ucap Nyonya.
Hamdalah terucap ribuan kali dalam gumam dan dalam hati. Aku merasa sangat lega. Aku tahu pekerjaanku kelak akan sangat berat, namun kebebasan beribadah yang diberikan majikanku memudahkan semuanya.
Meski pada prakteknya aku sering tak bisa salat tepat waktu karena hampir setiap waktu magrib datang bersama dengan segala kesibukan yang menerjang, namun aku masih bisa menegakkannya lima waktu sehari semalam. Sering kali pula salatku hanya sekadar menggugurkan kewajiban karena Tuan tak bisa lama-lama ditinggal sendirian. Aku merasa harus bersyukur. Kawan-kawanku banyak, bahkan tak bisa sekali pun mendirikan salat.
Tak perlu terlalu lama ketika akhirnya aku bisa kembali menutup rambutku. Menutup auratku. Memang tak sempurna seluruhnya, tapi yang penting aku masih bisa menggenggam identitasku sebagai muslim tanpa membuat keluarga majikanku terganggu.
Begitu juga di lingkunganku. Kerudung di kepalaku memang masih sering membuat para tetangga bertanya apakah aku tidak kepanasan, atau apakah aku bisa bekerja dengan nyaman, namun mereka tak mengubah perlakuan baik mereka padaku karenanya. Mereka tetap menyapa saat berpapasan di taman atau di pasar. Aku juga tetap menyapa anjing kesayangan mereka, meski tak menyentuhnya. Bahkan pada perayaan-perayaan ibadah tertentu ketika mereka mempunyai banyak makanan, aku kerap diberinya pula.
Kami hidup saling menghormati di sini. Selama kami saling bersikap baik satu sama lain, kami tak perlu bertanya agama kami apa.
*

Hingga pada suatu hari di musim dingin, Tuan kedatangan seorang kawan lama. Ia bukan orang Taiwan, melainkan warga Cina Daratan. Usianya sedikit lebih muda dari Tuan, namun kesehatannya jauh lebih baik dibanding Tuan. Ia masih bisa bepergian sendirian.
Layaknya dua kawan lama, pertemuan mereka tak cukup sebentar. Tamu Tuan hampir seharian berada di rumah ini. Segala hal mereka ceritakan bergantian tak bosan-bosan. Keadaan seperti ini tentu saja membuatku sering terlibat di antara mereka, karena Tuan harus minum obat, dipijat, bahkan kubersihkan kukunya sesuai jadwalnya. Maka aku ikut pula mendengar banyak cerita hari itu.
Satu cerita yang paling menarik perhatianku adalah pengalaman kawan Tuan sekitar sebulan yang lalu.
“Sebenarnya aku sudah hampir mati sebulan yang lalu,” kisahnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Tuan antusias.
Aku yang sedang membersihkan kuku Tuan turut memperhatikan.
“Engkau tahu bulan lalu ada pesawat yang kecelakaan di sungai Keelung?” lanjut lelaki itu.
Tuan mengangguk-angguk. Ingatanku pun terlempar pada peristiwa kecelakaan pesawat di sungai Keelung Taipei, yang bulan lalu kulihat beritanya berulang-ulang di televisi.
“Aku ada di pesawat itu, duduk di kursi bagian depan. Pesawat itu take off dengan lancar tanpa gangguan, tapi hanya sebentar saja terbang, ada bunyi aneh dari mesinnya,”
Lelaki itu menegakkan badan dan sangat serius bercerita. Tuan pun ikut menegakkan badan, serius sekali mendengarkan. Aku menghentikan gerakan tanganku. Gunting kuku kugenggam erat, dan badanku mematung.
“Pesawat oleng ketika belum sempurna naik. Kami semua menjerit, menundukkan kepala dan mengencangkan sabuk pengaman. Aku bisa merasakan betul pesawat menukik kembali ke bumi, membentur entah apa, dan akhirya menghantam air. Kejadiannya cepat sekali. Aku tak sempat berbuat apa-apa ketika air masuk ke dalam dan mulai menenggelamkan badanku yang terikat sabuk pengaman di kursi. Aku panik sehingga tak tahu bagaimana melepaskan sabuk itu. Entah berapa banyak air sungai yang dingin sudah kuminum dan masuk paru-paruku. Rasanya aku mau mati saat itu.”
“Tapi tiba-tiba badanku terangkat dari air, tak lagi tenggelam. Aku tak bisa melihat apa-apa, bisa bernapas kembali meski sambil terbatuk-batuk. Rupanya pesawat yang tadi menukik ke sungai dan tenggelam bagian depanya, pelan-pelan terangkat dan berganti bagian belakang yang tenggelam karena lebih berat. Aku selamat. Aku tak mati!”
Cerita itu sungguh membuat dadaku bergemuruh. Sepanjang ia bercerita, aku tercengang takjub mengetahui betapa dekatnya maut pada orang yang saat ini masih kulihat segar bugar di hadapanku.
“Allahu Akbar!”
Aku spontan memekik. Sungguh ini ucapan reflek karena mulutku memang sangat terbiasa mengucap takbir tanpa berpikir.
Lelaki sipit yang masih serius itu tiba-tiba menoleh padaku dengan pandangan aneh. Ia nampak heran.
“Ni te yi kong se ce me le? Aku sedang bercerita tentang selamatnya nyawaku dari maut, mengapa ia malah mengucapkan doa untuk membunuh? Jahat sekali.”
Lelaki itu tampak gusar bertanya pada Tuan.
Tuanku tampak agak terkejut. Aku terperangah, tak menyangka pekikanku menimbulkan reaksi demikian. Kami berdua – aku dan tuanku, was-was menatapnya.
Kami sadar ada kesalahpahaman. Tapi aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Untung Tuan lekas tanggap, segera berusaha memperbaiki keadaan.
“A Ling, kamu itu barusan mengucapkan apa?” tanya Tuan pelan.
“Oh, maaf, itu takbir – kalimat agung dalam agamaku,” jawabku terbata-bata.
“Bukannya itu doa untuk membunuh? Aku sering mendengarnya di televisi orang-orang islam mengucap kalimat itu sebelum menyembelih musuhnya?!” Agak sengit lelaki itu menyergah.
“Oh, tidak. Tidak begitu, Tuan. Itu kalimat yang kami gunakan untuk mengagungkan Tuhan kami,” jawabku panik.
Seumur hidupku, baru kali ini aku begitu panik dan malu ketika seseorang beranggapan salah tentang keyakinanku. Aku merasa tak bisa membela diri lebih jauh karena tak ada yang bisa kujelaskan pada orang asing itu tentang kalimat takbir selain makna harfiahnya. Aku tak bisa menyangkal bahwa pada faktanya memang ada orang-orang yang mengaku islam, membunuh sembarang orang yang tak sesuai dengan mereka, sambil takbir berulang-ulang. Aku tahu mereka ada. Seluruh dunia juga tahu, karena mereka gemar sekali mempertontonkan kekejian mereka.
“A Ling, apakah ada kalimat lain yang bisa kamu gunakan untuk mengagungkan Tuhanmu selain kalimat itu?” Tuan memecah kepanikanku.
“Ya, Tuan. Ada. Aku bisa mengucap – Subhanallah.” kujawab lirih dengan sisa-sisa keberanianku.
“Ya, lain kali, kamu pakai itu saja supaya kawanku ini tidak ketakutan. Ha ha …” Tuan mencoba mengembalikan suasana yang sempat canggung akibat salah paham kami.
Dua lelaki tua di hadapanku kembali tenggelam dalam cerita seru dan menyenangkan. Sedangkan aku berusaha cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku memotong kuku Tuan supaya lebih cepat menyingkir dari hadapan mereka.
Sungguh perasaanku campur aduk tak keruan. Selama ini aku telah berhasil bekerja di keluarga dan lingkungan ini dengan baik tanpa melepaskan identitasku sebagai Muslim. Keluarga kristen ini tak pernah mempermasalahkan apa yang aku yakini dan sembah meski aku beribadah di rumah mereka. Lingkunganku juga tak pernah mengucilkan meski aku dan keluarga majikanku tak pernah ikut mereka berbondong-bondong ke kuil ketika ada acara peribadatan bersama. Kami berdiri di atas keyakinan kami masing-masing dengan damai, tanpa saling menyesatkan.
Hari ini seseorang menganggapku jahat hanya karena aku mengucap takbir. Anggapan itu muncul bukan karena kesalahanku, melainkan karena tindakan keji orang-orang yang tak aku kenal di belahan bumi lain, yang semena-mena memekik takbir sambil membunuh sesamanya.
Sungguh aku sedih dan malu.
Tapi peristiwa ini juga membuatku makin yakin untuk terus bersikap baik pada orang lain, tanpa peduli apa keyakinannya. Aku merasa tak bisa membelai islam lebih baik selain dengan membuat orang merasa nyaman berada di dekatku yang seorang muslim.
*
Erin Cipta, nama aslinya Erin Sumarsini. Perempuan kelahiran 16 April 1979, saat ini tinggal di Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Menjadi ibu dari dua anak gadis, bertani, dan mengelola perpustakaan untuk umum di rumah, serta menjalankan sebuah perpustakaan bergerak menggunakan motor. Pernah bekerja menjadi perawat lansia di Taiwan tahun 2012 – 2015. Sesekali menulis untuk media massa dan mengikuti lomba, beberapa di antaranya berhasil dimenanginya. Pernah menulis sebuah novel yang diterbitkan oleh Diva Press Yogjakarta berjudul Carlos, Seekor Anjing Sebuah Kehidupan.

Comments

comments