Monolog Tandem DUA PEREMPUAN DI BIBIR VAS BUNGA::Naning Pranoto dan Dhenok Kristianti.

Monolog Tandem dua perempuan

Dhenok Kristianti tengah bertengkar Naning Pranoto ( foto: Ons Untoro)

Naning Pranoto dan Dhenok Kristianti, dua perempuan penyair yang tinggal di Jakarta, bermain drama dengan lakon ‘Dua Perempuan di Bibir Vas Bunga’ mengisi Sastra Bulan Purnama edisi ke-43, Jumat malam 3 April 2015 di pendapa Tembi Rumah Budaya.

Naskah karya Dhenok tersebut turut meramaikan launching antologi puisi ‘Mozaik’ karya Lies Wijayanati. Pertunjukan durasi sekitar 20 menit tersebut dimainkan Naning dan Dhenok dengan sungguh-sungguh. Keduanya, ‘menghidupkan’ teks di atas panggung. Naskah dengan problem sederhana itu menjadi terasa hidup dimainkan oleh keduanya.

“Padahal kita melakukan latihan hanya melalui telepon, Kita belum pernah bertemu untuk latihan bersama,” ujar Naning Pranoto menjelaskan prosesnya.

Di panggung hanya ada properti berupa meja kursi ruang tamu. Ruang itu dikonstruksikan sebagai ruang tamu rumah dimana dua kakak beradik tinggal setelah orangtuanya meninggal. Keduanya belum berkeluuarga, dan problem dimulai menyangkut warisan yang ditinggalkan.

Sebagai kakak beradik, keduanya sebenarnya saling mencintai dan masing-masing menjaga agar apa yang ditinggalkan ibunya bisa dirawat bersama. Tetapi karena masing-masing memiliki karakter yang berbeda, membuat konflik keduanya tak bisa dihindari.

Drama ini mengisahkan tentang konflik antara dua perempuan kakak beradik sepeninggal ayah-ibu mereka. Persoalan utamanya tentang sikap mereka terhadap warisan yang ditinggalkan orangtua, berupa lukisan foto wajah ayah-ibu yang merupakan goresan tangan seorang pelukis tersohor, stick golf dengan gagang berlapis emas, dan vas bunga peninggalan Dinasti Ming yang terbuat dari batu mulia.

Carut-marut konflik atas benda-benda warisan itu, menjadi lebih berbelit karena sifat materialistis dan kemunafikan salah satu perempuan paruh baya tersebut. Dengan bumbu kisah cinta segitiga diantara dua perempuan kakak beradik dan satu lelaki, alur drama ini dibuat memiliki sisi-sisi misteri yang mengejutkan di akhir cerita.

Keduanya bermain dengan cukup bagus. Masing-masing tidak ingin saling menonjol, bahkan malah saling mengisi, sehingga pementasan sederhana ini menjadi terasa menarik, dan naskah yang tidak berbelit-belit terasa enak untuk dinikmati.

Kostum yang mereka gunakan juga kostum keseharian laiknya sedang tinggal di rumah, atau malah sedang berpergian. Keduanya memang perempuan paruh baya dalam arti sebenarnya. Dan peran yang dimainkan adalah peran paruh baya, sehingga sepertinya mereka sedang memerankan dirinya sendiri. Hanya saja, konflik-konflik yang dibangun dalam cerita, mengacu pada konflik dalam keluarga.

Kisah dalam “Dua Perempuan di Bibir Vas Bunga’ merupakan kisah perempuan kota, atau lebih tepat disebut sebagai perempuan urban, sehingga kisah cerita yang dibangun berikut variasinya memberikan imjanasi perempuan urban, yang tak terpisahkan dengan kisah cinta segi tiga.

Dalam kisah cerita, bumbu cinta memang selalu menarik, dan membuat cerita tidak kering. Namun cinta bukan menjadi sentral konflik, melainkan hanya kisah tambahan agar persoalan menjadi semakin kompleks.

Kisah diakhiri dengan pecahnya vas bunga yang dibawa Dhenok karena direbutkan oleh Naning. Karena keduanya saling berebut, sehingga vas bunga jatuh dan pecah berkeping-keping. Kedua kakak beradik, yang berebut harta warisan orangtuanya mengalami keretakan persaudaraan.

Vas bunga yang pecah, agaknya merupakan tanda, bahwa saudara kandung bisa pecah dalam hubungan saudara hanya karena rebutan harta warisan, Masing-masing pihak saling berkukuh untuk menjaga warisan, tetapi yang terjadi malah saling rebutan.

Kisah sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dipentaskan oleh Naning Pranoto dan Dhenok Kristianti dengan menarik.

Ons Untoro

Sumber: Tembi.net

Comments

comments