NANING PRANOTO bersama FIRA BASUKI: Antara Pesona dan Kreativitas Novelis

Fira Basuki: cerdas, kreatif, ramah dan mempesona! Daya pesonanya terpancar dari inner-beauty yang membalut jiwanya. Kecerdasannya terasah dari studinya di bidang antropologi di Universitas Indonesia dan studi ilmu komunikasi serta kehumasan di Wichita State University dan Pittsburg State University AS plus pergaulannya yang luas. Maka tak heranlah, apabila ia begitu kreatif dan mampu mencipta novel-novel yang jadi best-seller di Indonesia. Perempuan kelahiran Surabaya, yang bernama lengkap Dwifira Maharani Basuki ini, mengaku mulai menulis fiksi sejak masih duduk di bangku SD, gara-gara tidak bisa tidur siang. Tetapi salah satu novelnya, justru diperolehnya dari mimpi. Berikut ini, penuturan Fira Basuki kepada Naning Pranoto yang cukup detail mengenai proses kreatifnya dalam melahirkan karya-karyanya. Jangan dilewatkan, karena bisa dijadikan referensi dan inspirasi bagi siapa pun yang ingin menjadi pengarang produktif.

Sejak kapan Anda tertarik menulis fiksi?
Sejak kelas 2 SD. Saya sudah menulis puisi dan mulai corat-coret di buku pelajaran merangkai kata-kata.

Apa yang mendorong atau yang memberi inspirasi Ana untuk menulis fiksi?
Waktu masih kecil karena tidak punya teman main sewaktu tidur siang. Teman-teman dan saudara-saudara semua tidur siang. Saya tidak pernah bisa tidur siang, jadi saya isi dengan menulis. Ternyata saya menemukan kesenangan dan ketentraman diri saat menulis. Saya pikir, saya memang hidup dan bernafas dengan menulis hingga detik ini.

Bagaimana proses kreatif Anda untuk menemukan ide suatu cerita?
Saya menemukan ide dari sekeliling saya. Apa saja, termasuk hal yang remeh-temeh, bisa jadi ide cerita. Ide bisa datang dari diri sendiri, orang lain, sekeliling, pengamatan, observasi, penelitian, imajinasi, hingga mimpi. Dalam proses kreatif semua bersatu. Saya pernah mendapat ide judul dan jalan cerita dari mimpi untuk menulis novel Atap. Lalu, dalam kenyataannya ide dari mimpi itu saya gabung dengan cerita-cerita yang pernah saya dengar, juga imajinasi.

Apakah Anda menerapkan sistem ‘pengendapan’ untuk menulis suatu cerita?
Tidak. Tapi untuk novel saya berjudul Hitam Putih, saya lebih banyak ‘menunggu’, masalahnya temanya mengenai kematian. Saya jadi cukup hati-hati setelah banyak mendengar cerita, membaca buku dan berimajinasi mengenai hal itu.

Lebih lanjut, Fira menjelaskan bahwa untuk membuahkan karya yang baik ia memadukan data yang ia peroleh dari fakta digabung dengan imajinasi. Ini telah ia lakukan dalam menulis novel trilogi: Jendela-Jendela, Pintu dan Atap, yang jadi best-seller.

Apa pendapat Anda mengenai peranan bahasa dalam menulis?
Setiap pengarang memiliki kemampuan berbahasa dan pemilihan bahasa yang berbeda-beda. Saya sendiri memadukan berbagai bahasa: bahasa baku, sehari-hari, bahasa Indonesia, bahasa Jawa, Inggris dan lain-lain. Cara penulisan saya banyak orang bilang seperti cara berbicara saya yang gado-gado.

Apa Anda ketika menulis suatu cerita dengan membuat draft lebih dahulu atau langsung ditulis?
Langsung saya ketik, dari dulu begitu. Tapi untuk novel panjang, paling-paling saya menuliskannya setiap tokoh, ciri khasnya dan ‘nasibnya’ di sebuah notes. Bukan apa-apa, saya pelupa, nanti kalau salah sudah berhalaman-halaman, apalagi ratusan, kalau tokohnya berubah kepribadian mendadak kan jadi membingungkan.

Apa Anda perlu membuat plot lebih dahulu sebelum menulis?
Tidak. Semua mengalir. Paling-paling yaitu tadi buat draft karakter seperti yang telah saya jelaskan.

Bagaimana proses Anda menciptakan karakter-kararter dalam karya yang Anda tulis? Perlu model? Bagaimana prosesnya?
Saya paling menikmati saat ‘penciptaan karakter-karakter. Saya bayangkan fisik luar sampai detail dan juga sifat-sifat serta kesukaan setiap tokoh. Saya anggap tokoh rekaan saya semua hidup. Tidak perlu model, tapi bisa pula menggabungkan fisik dan sifat beberapa orang yang sata tahu plus imajinasi.

Apakah Anda melakukan ‘menulis dalam kepala’ pada saat ingin menulis tetapi dalam kondisi tidak di depan mesin tulis?
Sering, haa…haaa…haaa! Gemes aja, pengen nulis tapi kok waktunya nggak ada. Suka begitu, ngelamunin novel.

Bagaimana cara Anda menggali potensi Anda agar tetap produktif dan kreatif?
Membuka wawasan, banyak baca, traveling dan terus menulis. Tiap hari harus menulis, biar biasa dan lebih mudah diarahkan. Misalnya, pas menulis novel adaptasi Brownies, dalam waktu satu bulan harus selesai dan saya menetapkan diri untuk disiplin menulis.

Menurut Anda, apakah produktif dan kreatif itu sama?
Nggak. Produktif belum tentu kreatif. Kreatif itu jika bisa menemukan hal-hal baru, unik yang bisa menarik perhatian orang lain, dalam hal ini pembaca. Produktif kalau tema dan caranya menulis monoton terus ya nggak kreatif.

Anda melakukan survei untuk menulis novel Anda yang mana?
Saya selalu survei sebelum menulis. Terutama menulis Rojak, karena tokoh utamanya Janice Wong adalah peranakan Singapura. Saya berteman dengan orang-orang asosiasi peranakan Singapura dan bahkan belajar menulis pantun mereka.

Bagi Fira Basuki, berteman atau bersosialisasi adalah untuk menambah wawasan, membuka mata, menghargai orang lain dan saling berbagi pengalaman. Selain itu, ia juga menekankan bahwa membaca itu sangat perlu bagi pengarang. Tegasnya, tanpa membaca seorang pengarang akan hiduo ‘dalam tempurung.

Pengarang siapa saja yang memberi inspirasi Anda dalam berkarya?
Pengarang luar negeri antara lain Maya Angelou dan Ernest Hemingway. Pengarang dalam negeri antara lain: Arswendo Atmowiloto, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Joko Pinurbo dan B. Rahmanto.

Menurut Anda, apakah pada saat pengarang mengalami ‘tekanan jiwa’ membuat karyanya lebih bagus dibandingkan dengan kondisi jiwa yang tenang, biasa-biasa saja atau bagaimana?
Bisa jadi. Karena bukanlah manusia lebih ‘tertarik’ berita sedih dibandingkan bahagia? Bukankah berita kematian seseorang atau bencana di koran lebih menarik perhatian dibandingkan dengan berita gunting pita? Tapi pengarang yang bahagia juga bisa menularkan kebahagiaan itu pada pembacanya. Pengarang yang bahagia bisa membawa aura positif dan kebahagiaan. Tergantung cara penulisannya.

Kapan jam-jam produktif Anda?
Malam. Tengah malam sampai subuh. In the good mood malam-malam hingga pagi hari. Bad Mood? Hm…kalau sedang bad day, misalnya sedang ada masalah di kantor atau pekerjaan, anak sakit de-el-el.

Apa yang Anda lakukan jika Anda mengalami kebuntuan (writer’s block) pada awal menulis, di tengah-tengah proses menulis dan pada akhir menjelang ending?
Ya ditinggal saja. Kalau dipaksa nanti malah bikin kesal. Lagi pula saya bekerja sebagai wartawan yang tidak boleh punya writer’s block. Kalau soal menulis fiksi, saya memilih mengalir sesuai ‘takdir’ setiap karya.

Berapa lama Anda menyelesaikan sebuah cerpen dan berapa lama untuk menyelesaikan sebuah novel?
Tidak tentu. Tebal tipis atau panjang karya tidak menjadi patokan. Novel tipis saya, Jendela-Jendela, selesai delapan bulan. Tapi yang tebal-tebal, novel Atap, Biru atau Brownies kurang dari tiga bulan.

Anda perlu readers untuk menilai karya Anda sebelum karya itu Anda serahkan ke penerbit?
Saya biasanya membiarkan keluarga dan teman-teman dekat membaca karya saya lebih dahulu.

Apa yang paling membahagiakan Anda sebagai pengarang?
Dapat e-mail dari pembaca yang mendapat insiprasi terkesan dengan novel-novel saya. Saya nggak peduli dengan segala penghargaan menulis. Buat saya, karya-karya saya laris dan dibaca banyak orang, itu justru membuat saya senang.

Pengalaman apa yang paling menarik atau mengesankan bagi Anda sebagai pengarang?
Banyak! Ada pembaca saya di Bandung menghadiahi saya clurit, karena pembaca itu terkesan dengan slah satu tokoh saya di novel Pintu yang selalu bawa clurit. Ada pula ibu-ibu yang menyangka tokoh paranormal Bowo di novel Pintu itu nyata, ada orangnya, hingga dia ingin bertemu. Tapi, di antara semua itu yang paling mengesankan saat anak saya bilang, “Mamiku, Fira Basuki, seorang pengarang!”.

Fira Basuki yang kini sebagai pemimpin redaksi sebuah majalah remaja adalah ibu dari seorang puteri berusia delapan tahun bernama Syaza Calibria Galang. Syaza adalah buah pernikahan Fira dengan Palden Tenzing Galang, seorang produser dari Nanyang Polytechnic Singapore.

Punya pengalaman yang tidak menyenangkan?
Ada. Jika orang menuduh saya yang bukan-bukan. Misalnya, saya menulis hanya untuk cari sensasi atau saya menulis hanya ingin terkenal.

Menurut Anda, apa pengarang sudah dihargai di Indonesia?
Belum! Royalti kecil, buku-buku sering dibajak atau difoto-copy. Selain itu, tidak bisa meluas jaringannya ke luar negeri. Penerbit-penerbit di Indonesia sering banget mengalihbahasakan buku-buku luar negeri, tetapi karya-karya penulis local malah jarang dibantu pengalihbahasanya dan diekspor supaya tersebar ke luar negeri. Namun, perkembangan beberapa waktu ini cukup menggembirakan dengan banyaknya orang mau jadi pengarang, khususnya kaum muda. Mulai tersebar anggapan bahwa jadi pengarang bisa juga ‘keren’ dan asyik di kalangan generasi muda.

Apa harapan Anda sebagai pengarang terhadap penerbit
Royalti ditingkatkan, mengalihbahasakan novel-novel pengarang local, mengajak pengarang ikut pameran buku dalam dan luar negeri, pokoknya sebagai mitra yang sama-sama menguntungkan.

Apakah bank naskah dan agen naskah diperlukan untuk perkembangan dan memajukan penerbitan di Indonesia?
Pasti! Kumpulkan semua orang berbakat, penulis dan pengarang dengan ide-ide beragam dan apa pun masukan yang mungkin berguna, memberi inspirasi atau Cuma menghibur. Apa saja, dengan banyak buku yang diterbitkan, pasti bangsa ini bisa lebih cerdas. Begitu bukan sih?

Karya yang baik menurut Anda seperti apa? Walaupun pengarang terserah mau menulis apa saja, tapi menurut saya alangkah baiknya jika sebuah karya tidak menimbulkan polemik atau perpecahan di masyarakat. Misalnya, tidak memojokkan suatu budaya atau kelompok. Pembaca juga bisa mendapat sesuatu positif dari membaca karya tersebut, entah itu inspirasi, pengetahuan atau sekadar hiburan.

Masih ingat? Bagaimana perasaan Anda pada saat karya Anda pertama kali dimuat di sebuah media?
Teman-teman saya jauh lebih senang daripada saya. Karya pertama saya cerpen berjudul: Andri, Kamu Nyentrik Deh…dimuat di Majalah Hai tahun 1986 ketika saya kelas 2 SMP. Teman-teman saya yang antusias karena mereka juga yang mendorong saya untuk mengirimkan cerpen agar honornya dipakai untuk ntraktir bakso. Cerpen yang dimuat itu sampai sekarang honornya belum diterima karena gara-gara saya lupa mencantumkan nama dan alamat yang jelas (karena buru-buru). Jadi ntraktir mereka pake uang celengan ha..haaa..haaa

Siapa orang yang paling berjasa dalam mengantar Anda sebagai pengarang seperti sekarang ini? Ibu saya. Beliau membiarkan bakat saya berkembang, mendukung dan menyarankan ikut lomba menulis sewaktu sekolah dulu. Bahkan membiayai saya sekolah di Amerika untuk menjadi wartawan. Ya, keluarga saya sejauh ini selalu mendukung saya, jadi saya beruntung. Saya nggak mau komplain ah, saya sudah beruntung!

Apa dan Siapa Fira Basuki
Nama Asli : Dwifira Maharani Basuki
Nama Panggilan : Fira Basuki
Tempat/tanggal lahir : Surabaya, 7 Juni 1972
Karya sampai dengan 2005:
Jendela-jendela (novel, Juni 2001)
Pintu (novel, Februari 2002)
Atap (novel, Juli 2002)
Biru (novel, Juni 2003)
Ms. B Panggil Aku B (serial, Februari 2004)
Rojak (novel, Februari 2004)
Ms. B-Will You Marry Me? (serial, November 2004)
Brownies (novel adaptasi film, November 2004)
Alamak (kumpulan cerpen, Maret 2005)
Ms.B-Jangan Mati B (serial, April 2005)

Comments

comments