Kultura & Sastra

NANING PRANOTO: DENGAN SASTRA HIJAU MENGAJAK MENCINTAI BUMI

“Sastra Hijau adalah panggilan jiwa. Kalau saya tidak peduli dengan lingkungan, tidak peduli dengan kelestarian bumi, juga tidak apa-apa, tidak ada yang marah kan? Tetapi karena ini panggilan jiwa, saya harus berbuat. Memang ada yang mencemooh, ‘Ngapain Ibu menulis sastra hijau?’ Ya biarkan saja. Saya tetap melakukan ini,” katanya.

 

Di Indonesia, nama Dra. Naning Pranoto, M.A. dan Rayakultura-nya, tak bisa dilepaskan dari gerakan literasi di kalangan siswa di Indonesia. Gerakan itu juga tak bisa dilepaskan dari ide pendirinya, sastrawan Sides Sudyarto Ds, almarhum.

Saat itu, di akhir tahun 1990-an, Naning, dan Sides tinggal di Brazil bersama Komunitas Neo-Humanista (Komunitas Manusia Baru), di Tatui Porangaba, 150 KM dari Sao Paulo. Tatui adalah desa kecil di tengah hutan lindung yang dirintis pelestari lingkungan Dr. Susan Andrews, antropolog lulusan Harvard University. Susan dan kawan-kawannya saat itu mendirikan Future Vision Institute Brazil, yang bergerak di bidang baca tulis dan pelestarian lingkungan hidup. Sepulang ke Indonesia, Sides yang terpikat gagasan Susan, dengan beaya swadaya, lalu mengajak Naning menerapkan apa yang dilakukan Susan dkk. Yaitu, mendirikan gerakan baca tulis sastrawi dan pelestarian lingkungan melalui pena yang disebut sebagai Sastra Hijau. Pada tahun 2003, lahirlah Rayakultura yang berarti: Budaya Semesta. Kegiatan utamanya, mengadakan pelatihan menulis di berbagai lembaga pendidikan, dari SD kelas 3 hingga perguruan tinggi, bertajuk Creative Writing Workshop (CWW). “Jadi salah kalau menganggap Rayakultura sebagai gerakan untuk pertanian,” kata lulusan English Language Centre Monash University, Australia (1996) dan International Relations (Chinese Studies) Bond University, Australia (2001) yang sudah menulis duaratusan lebih buku itu sambil tertawa.

BACA :   Sastra Hijau dan Eksistensi Bumi

Kiprah Rayakultura pun tak kepalang tanggung. Pada antara tahun 2004 – 2014, bekerjasama dengan sebuah perusahaan, mereka menyelenggarakan Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) Rohto Mentholatum Golden Award. Lomba ini melahirkan sastrawan muda, dan hingga kini tercatat sebagai lomba menulis sastra di Indonesia berhadiah tertinggi, mencapai ratusan juta.

Kini, setelah Sides meninggal pada tahun 2012, perempuan kelahiran Yogyakarta, 6 Desember 1957 yang juga dikenal sebagai novelis itu mengambil tampuk pimpinan. Bersama Yeni Fatmawati, seorang lawyer pemilik IC Lawfirm, serta Didien Pradoto, aktivis multi-media, Naning yang mantan wartawati itu pun semakin memperluas gerakannya hingga ke ranting-ranting literasi, selaras dengan perkembangan teknologi. Tidak hanya gerakan menulis saja, tapi juga di bidang seni pentas, gerakan sastra hijau, pameran buku dan literasi digital antara lain menyelenggarakan pelatihan produksi film pendek. Pada 21 November 2019 lalu, mereka mementaskan Drama Musikal Multimedia di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia, Wasiat Ratu Ageng Tegalrejo, karya Naning Pranoto. Pada 25 November 2019 meluncurkan buku antologi cerpen genre sastra hijau hasil Lomba Cipta Cerpen Cinta Bumi (LCCCB) 2019 yang didukung Lawfirm ICLaw. “Bumi adalah rumah kita satu-satunya. Jika Bumi rusak, tak ada planet lain yang bisa menggantikannya. Betapa seriusnya,” katanya. (KJ)

Pernah dimuat di MAJAS edisi 5, 2019

Comments

comments

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close