NEGERI MALAM

Naning Pranoto & LMCR

Aneh. Ini sungguh-sungguh keanehan yang terjadi. Dalam waktu kurang dari 10 menit aku telah lima kali mondar-mandir di Loket 6 untuk menukarkan tiket yang kubeli seharga dua dolar lima puluh sen. Hari masih pagi sekali, loket masih sepi. Sehingga aku tidak menganggu pembeli karcis lainnya. “What’s wrong? Apa lagi?” tanya si Penjaga Loket, lelaki India berusia 40-an, memandangiku dengan sengit.

“Ini, mengapa tiket saya jadi begini?” sahutku kesal. “Bukankah Anda mengenal saya hampir sembilan bulan? Saya selalu ke Moonlight Station.” Tegasku, menyebut sebuah stasiun di pinggiran Sydney, Australia. “Yeah…I know you – student studi di universitas tua samping Moonlight Station itu kan?” ia menyebut tempatku studi Kebudayaan Australia. “Iya,” aku sewot.”Tapi mengapa Anda memberi saya lagi tiket begini? Sudah 5 kali Anda lakukan.” Rasa kesalku berujung protes. Kutahan ledakan marahku. “No…no…!” si Hitam menggeleng keras. “Jangan bercanda — main sulap. Menukar tiket dariku dengan tiket mainan itu..!” ia justru menyerangku.

“Sorry..saya tidak main sulap. Saya sedang buru-buru. Pagi ini saya ujian. Gara-gara tiket bermasalah ini, saya terlambat, tak bisa ikut ujian.” Gerutuku. “Huhhhhh!” si Hitam melengos, membanting tumpukan tiket yang dipegangnya. Kemudian ia merebut tiket yang ada di tanganku. Kuserahkan tiket kereta api berwarna hitam bertuliskan Destination: Negeri Malam. Peron 13. “Oh…God. Mengapa bisa begini?” tiba-tiba si Hitam memukul keningnya, mengamati tiket hitam dariku.

Kemudian ia memandangiku dengan wajah jutek. “Padahal tiket yang kuberikan padamu berkali-kali ini kan?” ia menunjuk tumpukan tiket biru bertuliskan Destination: Moonlight Station. Platform 12. Ini peron lajur terakhir yang ada di stasiun tempatku beli karcis. “You see..stasiun ini tidak punya Peron 13!” tegas si Hitam, seperti yang sedang kupikirkan. “Juga, stasiun ini tidak punya rute ke Negeri Malam? Oooo..nama sebuah negeri yang belum pernah kudengar. Sangat asing! Tak ada di peta. Bahasanya aneh lagi: Ne-ge-ri Ma-lam. Kau tahu itu bahasa apa?” tanyanya mengagetkanku yang sedang bingung.

“Bahasa Zamrud Negeri Malam!” jawabku spontan. “See… itu berarti bahasa negerimu. Negeri Zamrud,” mata cekung si Hitam membelalak. “Jadi, tiket itu dari Negeri Zamrud, negerimu, kau bawa kemari, untuk mempermainkanku. Jangan begitulah…aku bisa kena pecat gara-gara ulahmu. Anakku banyak, perlu biaya hidup dan sekolah. I must have a job..” “Nope! Saya tidak mempermainkanmu!” bantahku. “Sure you do it to me!” tuduh si Hitam berang.

Lalu, ia mengusir dan mengancamku melaporkanku ke polisi jika aku tetap berada di depan loket. Tentu saja aku menolak keras perlakuan itu. Adu mulut pun terjadi. Puluhan calon penumpang kereta api tujuan Moonlight Station yang akan membeli karcis jadi terganggu. Di antara mereka tiba-tiba ada yang berseru, “Kemarin, waktu saya di Flinders Station Melbourne juga ada kejadian begini.Ada karcis ke Negeri Malam. Pembelinya student dari Negeri Zamrud.” Kata seorang pemuda kulit putih, wajahnya kemerah-merahan. “Di Gold Coast juga begitu, kemarin!” teriak seorang gadis hitam, rambut kribo. “Bibiku yang tinggal di Perth semalam menelponku dan cerita kejadian aneh seperti ini.”
Gadis berkulit kuning, bermata sipit, menambahi. Masih banyak lagi informasi serupa kudengar dari puluhan mulut di sekitarku. Aku jadi panik, mataku berkunang-kunang, perut mual. Aku pun ambruk! Entah, siapa yang menggotongku.
Tahu-tahu aku sudah berada di gerbong kereta api yang semua jendelanya tertutup. Aku bersandar di kursi kayu. Kuperhatikan dalam keremangan, minyak lampu itu telah habis dan tiba-tiba mati lampu: Pet! Gelap gulita! Nafasku menyesak. Dadaku nyeri. Kereta api berlari kencang, hingga semua penumpang terpental-pental.

Perutku mual. “No worries…aku mengawalmu!” tiba-tiba kudengar suara yang kukenal, si Hitam Penjaga Loket 6. “O, Anda.” Responku cepat. “Mengapa kita di sini? Mengapa naik kereta api gelap dan berlari kencang?” tanyaku, sambil berusaha mengenali wajahnya. “Yeah…aku ditugaskan boss-ku mengawalmu bersama puluhan student Negeri Zamrud yang studi di Sydney. Semua akan ke Negeri Malam.” “Negeri Malam?” mulutku ternganga.

“Yeah. Kita hampir sampai. Kereta ini diberangkatkan dari peron misterius Peron 13. Keretanya dipasangi sayap roket, agar on time di tempat. Sebab, kata boss-ku, kalau tidak on time dunia ini akan kehilangan satu negeri yang dihuni sekitar 250 juta jiwa.” “Itu negeriku, tanah air kami!” teriakku, spontan. “Exactly your Mother Land!” seru si India, lalu disambung dengan kalimatnya yang tidak bisa kusela, “Kata boss-ku, negerimu indah. Hangat, bermakota hutan tropis, makanya dinamai Negeri Zamrud.

Perut bumi negerimu mengandung kekayaan alam melimpah ruah. Tapi, julukan itu kata boss-ku, kini tinggal kenangan. Karena, hampir separuh hutan tropis negerimu digunduli para pebinis yang berkoneksi dengan petinggi negeri. Banyak pula pembalak hutan. Kayunya dijual ke luar negeri.” si India suaranya terkekik. Aku diam. Kubiarkan ia melanjutkan rentetan kalimatnya, “Kekayaan alamnya dikeruk berbagai Negeri Asing yang bersekongkol dengan petinggi negeri, para penadah suap tapi mengaku pejuang dan mengabdi rakyat…” “Huss.. jangan berkata begitu. Anda orang asing, tidak tahu keadaan negeri kami yang sesungguhnya.” Tukasku tegas.

Rasa kebangsaanku terusik. Si Hitam tiba-tiba tertawa sambil berkata, “Sorry, bukankah nuranimu tidak berkata begitu? Kata boss-ku, dunia mencatat, angka korupsi di negerimu, sangat subur. Juga, dalam kasus pelanggaran HAM, breaking the law…yang melahirkan banyak Markus…!” “Markus? Apa itu?” tanyaku tak sabar. “Makelar-Kasus. Itu mafia pengadilan. Akibatnya, korupsi di negerimu sulit diberantas. Malah merajalela, penyebab Negeri Zamrud berubah menjadi Negeri Malam. Gelap, negeri yang selalu gelap.”

“Wuihh. Sok tahu.” Ujarku marah. Padahal aslinya perasaanku malu, mendengar kalimat si India. “Sebentar lagi kita sampai.” Si Hitam memberitahu aku, tak mengindahkan sikapku. “Silakan siap-siap.” Tiba-tiba kudengar lengkingan peluit dan terompet bersahut-sahutan keras, memekakkan telingaku. Dalam hitungan detik, kereta api berhenti, ditandai hentakan dahsyat.

Lengkingan peluit dan terompet tak terdengar lagi. Kepalaku terbentur-bentur dinding gerbong. Ketika aku mengaduh, suaraku ditelan gemuruh aduhan penumpang yang terjatuh, terbentur, terinjak dan menjerit. Aku mengenali beberapa suara yang terdengar itu. Lalu, kupanggil nama-nama yang kukenali. Mereka membalas memanggilku. Aku senang. Mereka juga senang. Kesenangan kami seolah jadi penerang gerbong yang gulita. “Anda semua sudah sampai di Rajajati ibukota Negeri Zamrud. Silakan turun.” si India memberitahu dengan menggunakan Bahasa Zamrud. Sementara kami gaduh dalam kegelapan, membahas apa yang dikatakan si Hitam.

Si India kembali memandangi kami yang ada dalam kegelapan, “Please, dengar apa yang kubaca!” serunya. “Matahari telah lama dibungkus agar negeri ini terus menerus dalam kegelapan alias dalam balutan malam yang panjang sekali! Malam yang gelap dapat menyembunyikan apa saja. Terutama menutupi hal-hal buruk yang dilakukan oleh mereka yang bermental korup. Mereka itulah yang membungkus matahari dengan terpal dusta dan puluhan juta kebohongan – unlimited, lapis berlapis.” Si India membaca dengan ritme aktor monolog. “Lalu – bagaimana?” desak semua orang.
“Karena matahari dibungkus dengan terpal dusta dan kebohongan berlapis unlimited, maka Negeri Zamrud berubah menjadi Negeri Malam. Kini, lapisan terpal itu disingkap oleh anak-anak bangsa negeri ini dengan cercah-cercah sinar nuraninya. Anda semua yang di sini, ditunggu perannya, membantu mereka itu!” “Kami siap!” terde ngar gema respon spontan.

“Okey. Bawalah senter ini untuk penerangan kalian bergabung dengan mereka. Aku harus kembali ke kotaku. Good bye!” si India melambaikan tangannya, setelah menyerahkan lampu senter kepadaku. “Take care!Good bye, mate” seruku. “Good bye, mate!” orang-orang sekitarku ikut memberi salam perpisahan pada si India. Kami tak sabar lagi ingin segera bergabung dengan mereka yang sedang menyingkap terpal laknat itu. Tapi, ketika kami baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba semua jatuh terjerambab. Kami tersandung benda-benda keras. Di sana-sini terdengar suara mengaduh kesakitan. Lampu senter pemberian si India kunyalakan. Flash! Kami semua kaget. Ternyata, benda-benda keras itu bongkahan-bongkahan batu yang memenuhi jalan. “Sialan! Ternyata mereka tidak hanya membungkus matahari, tapi juga menutup jalan dengan bongkahan batu keras,” teriak seorang tertubuh jangkung. Lampu senter kunyalakan lagi. Cahaya lampu senter kuarahkan ke samping kiri jalan. “Lihat jembatan itu juga diputus!” orang di sampingku menunjuk jembatan yang menghubungkan rumah penduduk dengan jalan raya.

“Wah, berarti memutus perekonomian rakyat kecil!” komentar seseorang lainnya di belakangku. “Rakyat mati, penguasa makan roti!” sambungnya geram. “Benar kata Anda. Rakyat mati, penguasa makan roti!” terdengar respon serempak, termasuk responku. Kemudian, kalimat itu menjadi mars, penyemangat kami menyingkirkan bongkahan-bongkahan batu yang menutup jalan. Kami bekerja keras dalam kegelapan sambil melagukan mars: Rakyat mati, penguasa makan roti!
Bersamaan dengan itu terdengar sorak-sorai, menyambut bias matahari yang menyingkap kegelapan. Hanya dalam hitungan detik, ratusan juta mata putra-putri negeri membelalak. Semua menyaksikan sosok-sosok manusia berkepala kosong tanpa otak, tanpa mata dan telinga. Tidak ada hati, tidak ada jantung dalam rongga tubuh mereka. Tangan dan kaki mereka penuh borok, menyangga jiwa penuh bisul bernanah. Mulut mereka menganga singa. Tapi yang paling mencengangkan, mereka punya usus sangat istimewa. “Tutup mulutmu pembohong!”

“Hai, berisik. Mulut kalian bau bangkai, setelah mengganyang uang rakyat.” “Tutup mulutmu penipu! Jangan kobarkan lagi api kebencian. Kami murka.” Kami berteriak. Suara dari utara, dari selatan, dari timur dan dari barat, semua mengumpat. Massa berkumpul, darah mendidih. Teriakan massa makin keras, sahut menyahut dalam kegaduhan histeris. Massa menuntut. Para pembungkus matahari kini berdiri berderet dikumpulkan di lapangan luas. Beberapa jam yang lalu mereka dengan mobil mewah masing-masing meluncur menuju Bandara Internasional. Tetapi semua jalan yang menuju ke Bandara Internasional diblokir massa. Kemarin bahkan pendusta tertinggi di Negeri Malam, negeriku, memberi aba-aba kepada para serdadunya: Tembak semua yang makar! Aneh, tidak satu pun peluru meletus meski ratusan ribu moncong senapan ditembakkan. Senjata-senjata yang dibeli dengan darah dan keringat rakyat itu jinak, kembali serta memihak rakyat. Sementara itu, Pendusta tertinggi di negeri ini, tanpa ada yang menyuruh, tampak menelanjangi diri diikuti oleh pendukungnya, para pembungkus matahari. Langkah itu diikuti pula oleh anak-istri mereka yang rata-rata bertubuh gemuk, bermulut Anaconda dan perut mereka super buncit nyaris meledak. Massa menggiring mereka dengan damai menuju ke LAPAS.***

Oleh Naning Pranoto

Sabtu, 25 Januari 2014
(Di Muat di Suara Karya Online)

Comments

comments