Article

Novel Mei Merah Terapi bagi Trauma Korban Perkosaan Kerusuhan Mei 1998

Penulis : Akurat.Co

Novel berjudul “Mei Merah 1998, Kala Arwah Bercerita” terinspirasi dari tragedi kerusuhan Mei 1998 dimaksudkan penulisnya sebagai sebuah terapi untuk mengobati traumatik perempuan korban perkosaan dalam peristiwa kekerasan di hari-hari menjelang Presiden Soeharto mundur pada 22 Mei 1998.

Menurut Naning, lahirnya novel ini dilatarbelakangi oleh ekses kemelut menjelang Era Reformasi Mei 1998 yang memperjuangkan perubahan bidang politik, sosial, ekonomi dan hukum yang terkungkung selama empat windu pemerintahan Orde Baru.

Bagi dia, novel ini juga sebagai penghargaan saya kepada perempuan yang kuat menerima satu peristiwa yang begitu kelam, namun mereka masih ingin melanjutkan hidup,” ungkap penulis Novel Merah kepada Akurat.co.

Menurut novelis dan pegiat literasi yang telah melahirkan sejumlah buku kiat menulis dan karya sastra itu, “Mei Merah” adalah juga sebuah sebuah “novel pencerahan” di mana dampak peristiwa kekerasan terhadap perempuan dapat diobati dengan menulis. Semua tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini fiktif belaka.

“Pengamat sastra Prof Dr Melanie Budianta menyebut novel sebagai upaya menjahit luka yang dalam akibat sebuah peristiwa kelam,” tambah Naning.

 

Perkosaan itu ada

Sudah menjadi pengetahuan umum, pada 21 Mei 1998 Presiden Seoharto mengundurkan diri sebagai presiden yang telah disandangnya selama 30 tahun. Pemicu yang mempercepat kejatuhan Soeharto adalah gelombang demonstrasi mahasiswa di seantero negeri akibat tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei di depan kampusnya.

Hari-hari antara 12-20 Mei penuh dengan demonstrasi. Pusat-pusat bisnis dan perdagangan perumahan, pertokoan, dijarah dan dibakar. Langit Jakarta tertutup asap hitam yang membumbung. Dalam suasana chaos yang seolah tanpa hukum itu, berbagai peristiwa kriminal terjadi. Di antaranya adalah pemerkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghowa.

Di dalam latar suasana chaos di bulan Mei 1998 seperti itulah penulis Naning Pranoto “melahirkan” tokoh rekaan bernama Humaira, seorang perempuan keturunan Tionghowa, yang hamil karena diperkosa sekelompok kriminal penjarah. Tak kuat menahan derita malu, Humairah bunuh diri setelah melahirkan bayinya, dengan meninggalkan wasiat pada secarik kertas dalam genggaman tangannya agar anaknya diberi nama Luk Luk.

Lewat narasi yang mengalir dengan gaya kekinian, Naning meciptakan tokoh Humaira yang sudah berada di alam kubur namun mampu menceritakan siapa dirinya, amarahnya kepada para lelaki terkutuk yang memerkosanya di tengah kerusuhan, serta cinta dan kerinduannya pada Luk Luk. Tempat curhatnya adalah pohon bunga Kamboja yang tumbuh di atas “rumah” mungilnya yang berupa gundukan tanah.

Adapun Luk Luk, tumbuh sebagai remaja yang cantik mirip ibunya dalam perawatan keluarga angkat yang merahasiakan asal muasal keluarganya. Mereka bersepakat menyampaikannya kelak jika Luk Luk sudah dewasa. Namun, Luk Luk kabur untuk mencari tahu di mana ibunya.

Kaburnyna Luk Luk dipicu adalah sebuah foto dan dokumen adopsi dikirimkan Alex, untuk meneror lewat facebook karena cintanya ditolak Luk Luk. Lewat dokumen itu dia tahu pernah terjadi kerusuhan besar. Dalam kerusuhan itu ibunya menjadi korban perkosaan lelaki tak bertanggung jawab sampai mengandung dirinya.

Di situlah ruh cerita ini. Lewat tokoh-tokohnya, terutama Humaira dan Luk Luk, Naning kembali mengingatkan pembacanya pada kerusuhan Mei ‘98 yang diawali dengan krisis ekonomi pada bulan Juli. Naning seperti hendak menegaskan, peristiwa perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghowa itu ada dan terjadi pada peristiwa kerusuhan Mei 1998 itu.

Untuk melahirkan novel ini Naning melakukan riset kepustakaan dan mewawancarai sejumlah korban kekerasan seksual dan aktivis kemanusiaan yang terlibat dalam pendampingan para korban perkosaan.

Novel “Mei Merah 98, Kala Arwah Berkisah” diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia” Desember tahun lalu, terdiri atas 222 halaman dan 12 Bab.

Naning Pranoto telah melahirkan 20 novel, 12 buku anak-anak, 28 buku text book, ratusan cerita pendek, puisi, karya ilmiah yang tersebar di berbagai media massa. Salah satu novelenya, “Wajah Sebuah Pagina” tercatat sebagai best seller pada 2015.

Penulis berlatar jurnalis ini menyelesaikan studinya antara lain di bidang sastra dan bahasa Unas Jakarta pada 1986. Gelar Masternya diraih dari Bond University Australia pada 2001 di bidang Chinese Studies.

Kini dia mengelola komunitas pegiat literasi Rayakultura yang getol menggelar pelatihan menulis kreatif (creative writing,) yang pernah dirintisnya bersama penyair almarhum Sides Sudyarto DS.

Comments

comments

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close