Pemenang Utama Lomba Resensi Novel KETIKA BULAN TERSENYUM DI ATAS LANGIT TUBAN

Menggali Spiritualitas di Era Teknologi Informasi:Bulan Tersenyum Di langit Tuban
Resensi Novel Ketika Bulan Tersenyum di Atas Langit Tuban

Judul Buku : Ketika Bulan Tersenyum di Atas Langit Tuban
Penulis : A. Yurisaldi
Penerbit : Myria Publisher
Cetakan : Pertama, Februari 2018
Jumlah Halaman : 161 Halaman

Dari tahun ke tahun, agama tidak kunjung berhenti menimbulkan kontroversi. Menganut agama tidak menjamin manusia modern untuk jauh dari spektrum moral dan humanitas. Aksi bom bunuh diri dan terorisme yang menyandang label Islam di Indonesia semakin mengukuhkan peran penyimpangan agama dalam proses dehumanisasi. Tidak mengherankan, agama mulai ditinggalkan. Atheis pun menjamur di mana-mana bagai cendawan di musim penghujan. Tidak hanya di negara-negara Barat dan sekuler, atheis pun muncul di Indonesia. Perlu adanya upaya untuk menggali kembali spriritualitas di era teknologi informasi. Agar kita bisa beriman dengan tepat dan tidak terjebak dalam iman yang jauh dari spektrum kemanusiaan. Membaca karya sastra yang mengangkat spiritualitas merupakan salah satu solusi untuk menggali spiritualitas.

Novel Ketika Bulan Tersenyum di Langit Tuban (KBTDALT) merupakan salah satu literatur penting yang akan menuntun kita untuk menyelami spiritualitas di era teknologi informasi. Kisah yang dibentangkan A. Yurisaldi dalam novel KBTDALT sangat luas dan kaya. Tidak jarang sulit untuk ditebak arah muaranya. Sebagian pembaca berpotensi besar untuk tersesat dalam kelindan konflik dan hujan deras informasi spiritualitas. Tetapi, inilah menjadi keunikan dan keunggulannya: pembaca memiliki kebebasan untuk menentukan muaranya. Visi penulis untuk mengangkat spiritualitas tidak mengebiri imajinasi pembaca untuk memiliki tafsir personal. Latar belakang penulis sebagai dokter ahli saraf dan akademisi, semakin mempertebal daya tarik novel KBTDALT.

Kisah KBTDALT merupakan petualangan spiritualitas empat sahabat: Jack, Burhan, Udin, dan tokoh aku. Di antara jejeran tokoh pembangun alur KBTDAL, tokoh aku menjadi titik episentrum kisah. Mereka mempelajari berbagai sumber informasi spiritualitas dari literatur ataupun transfer informasi melalui berbagai media virtual (internet) seperti youtube, google, dan Whatsapp (WA). Selain terlibat dalam perdebatan teologis, petualangan tersebut mengantarkan mereka untuk menemui tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kemampuan supranatural.

Empat sahabat tersebut mengalami bersentuhan langsung dengan dunia supranatural atau hal-hal yang tidak terklarifikasikan (unclassified phenomenon). Mulai dari paranormal yang dinilai memiliki kemampuan dalam menggunakan kekuatan magis, pemuka agama yang bisa menggunakan ayat-ayat dalam kitab suci dalam pengobatan, dan para wali yang dianugerahi karomah. Meskipun terdapat beberapa daerah yang menjadi setting cerita, Tuban dijadikan sebagai bagian dari judul. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, di Kota Wali inilah ‘tokoh aku’ mengalami pencerahan dan kebangkitan spiritual.

KBTDALT mencapai titik kulminasi suspense pada bab ‘Di Tuban, Emas dan Berlian adalah Harta Dunia’. Saat berziarah di makam Sunan Andong Wilis (Andalusy), tokoh aku mengalami pengalaman unclassified phenomenon. Ketika tokoh Habib menarik tangan tokoh aku dan mendekatkannya ke batu nisan, tiba-tiba tanah di dekat batu nisan bergerak. Sesuatu yang berbentuk sepotong tangan keluar dari tanah dan menjabat tangan ‘tokoh aku’ erat-erat. Kemudian, terdapat momen ketika tokoh Habib meminta tokoh aku untuk membawa pulang emas dan berlian yang muncul secara gaib.

KBTDALT dipenuhi kekayaan informasi spiritualitas berbagai zaman. Mulai dari tasawuf, kejawen, sufisme, hingga mistisme. Label based on true story yang disandang novel ini memberi indikasi kuat bahwa penulis memiliki wawasan yang mumpuni mengenai tema yang diangkat dalam KBTDALT. Tidak menutup kemungkinan, unclassified phenomenon dalam novel ini merupakan pengalaman empiris penulis.

Ramuan konsep idealis yang bersumber dari literatur multidisiplin dan pengalaman empiris penulis; semakin mempertebal keunggulan KBTDALT. Setiap gugusan kata seolah memiliki nyawa. Realitas dan imajinasi seolah tidak memiliki jarak. Pembaca tidak hanya memperoleh informasi atau gagasan yang dipaparkan melalui ribuan butiran kata, tetapi juga merasakan berdialog dengan penulisnya. Dengan demikinan, KBTDALT tidak hanya memenuhi konsep show, don’t tell (tunjukkan, jangan ceritakan), tetapi juga merasakan (feel) suasana dunia yang dibangun imajinasi penulis.

Meskipun memiliki kecenderungan melawan arus linear, narasi dan konflik dalam KBTDALT terjalin secara dinamis. Setiap bab memiliki kekayaan dan keunikan masing-masing. Beberapa bab mengalami lompatan alur yang signifikan. Bab tersebut memiliki logika teks yang terpisah dari bab sebelumnya atau bab yang menyusulnya. Namun, petualangan spiritualitas, mampu mengikat secara simbolik bab-bab yang rentan mengalami reduksi ‘jahitan’ logika teks. Konsistensi ‘tokoh aku’ sebagai episentrum konflik berhasil mengikat keunikan alur seluruh bab menjadi sebuah kesatuan yang padu, fokus, menghadirkan kejutan, dan memikat sampai akhir.

Hujan deras informasi spiritualitas dalam KBTDALT rentan membuat jenuh pembaca. Untungnya, teks KBTDAL dibangun dengan bahasa yang lugas, akrab, sederhana, dan tidak rumit. Penulis tampak piawai dalam memintal gagasan yang rumit menjadi sederhana. Tanpa sadar, pembaca sudah melahap ratusan informasi yang bisa menuntun pembaca untuk melangkah menuju wawasan, kesadaran, dan tangga berpikir ke ranah alam spiritualitas.

Sayangnya, gagasan spiritualitas dalam novel KBTDALT belum seimbang dengan kuantitas teks. Implikasinya, alur dan konflik kisah belum tereksplorasi secara maksimal. Latar belakang ekologis setting cerita juga belum digali secara maksimal. Terdapat pula bab yang masih potensial untuk dikembangkan, seperti bab ‘Di Ciapus, Awal Bulan di Awal Tahun’ (101-104) yang hanya terdiri dari dua lembar atau empat halaman.

Agar lebih efektif dan komunikatif; penulisan setting dan titi mangsa yang sering ditulis pada akhir bab KBTDALT; sebaiknya dituliskan sebelum paragraf pertama, sebagaimana novel atau prosa yang dikembangkan dengan teknik epistolari. Seandainya jumlah halaman KBTDALT lebih tebal, petualangan spiritualitas yang menjadikan tokoh aku sebagai titik episentrum, pasti akan lebih menarik. Selain itu, bila penulis memberi sentuhan wacana parapsikologi, upaya untuk mengukuhkan unclassified phenomenon dalam spiritualitas akan semakin utuh, kaya, dan memiliki relevansi dengan dunia ilmiah.

Melalui serial Bilangan Fu karya Ayu Utami, masyarakat literasi Indonesia telah mengenal spiritualitas dalam kerangka politik dengan menggunakan ‘nalar kritis’. Maka, kehadiran KBTDALT karya A. Yurisaldi yang mengangkat spiritualitas dari perspektif sains dan teknologi modern, semakin melengkapi literatur sastra spiritualitas di Tanah Air. Penulis tidak hanya menawarkan KBTDALT sebagai alternatif hiburan, tetapi juga memberikan cara pandang yang lebih jernih dan berani dalam memeluk agama. Bahwa agama yang tepat adalah agama yang memiliki visi rahmat dan dibangun di atas pondasi spiritualitas, bukan ideologi yang dipaksakan untuk diterima tanpa uji empiris. Dengan demikian, kontribusi penulis sangat berharga dan tepat untuk dibaca. Tidak berlebihan rasanya bila kita berharap penulis akan menghasilkan karya-karya berikutnya yang membentangkan spiritualitas.

Melalui karya KBTDALT, A. Yurisaldi sebaga penulis, telah berperan aktif dalam upaya counter-culture bangsa Indonesia dari potensi proses brain wash melalui dogma (doktrin) monolitik yang menghasilkan terorisme.

Sulfiza Ariska

Comments

comments