Pena dan Kelamin

Geografis atau tempat dan media melambungkan nama…

Saya dan Sides Sudyarto Ds banyak mengamati karya anak-anak muda dan pemula. Banyak yang bagus tapi mereka ini tak punya akses . Sehingga karya dan namanya sulit melambung karena tak punya ‘tempat’ dan media. Sementara yang karya-karyanya biasa tapi punya tempat pentas dan media juga koneksi yang disebut ‘tokoh’. Maka mereka jadi terkenal dan banyak ‘pengakuan’. Jadilah sosok….jadilah idola…jadi the role. Geografis dan media serta koneksi memang berperan dasyat sebagai roket. Memang ada juga yang melambung melalui media lomba lalu pemenang lomba tersebut punya nyali mengadu karyanya dan jaya. Tapi model ini sangat langka….

Sekitar 9 tahun lalu saya diundang hadiri peluncuran buku ‘si idola’ dan tamunya penuh para idola dan beberapa ‘tokoh’. Aroma bir …asap rokok memenuhi ruangan, ada juga yang nyruput vodka…ada juga yang saling pangku memangku duduknya tentu bukan muhrimnya. Bahasan buku fokus pada kelamin dan Sides TERIAK MENGECAM. Untung tak jadi keributan. Saya pulang melongo….

Sejak itu kami tak pernah hadir lagi di acara para idola. Kami jadi petani di kebun sendiri ….sepi tapi damai karena kami tidak punya cita-cita jadi idola kecuali bersahabat dengan aksara….

Sesekali kami tertawa menyaksikan anak-anak muda yang menggilai idola..juga mendambakan kilaunya piala anu..anu itu ini….saya ingat Sides pernah ditunjuk jadi juri untuk penghargaan anu…anu…haaaaa…haaaa…yang mengajak seorang Ibu Dosen Doktor dari UI menyerahkan setumpuk buku…lalu kami baca dengan tekun. Ujungnya tak dibayar bahkan berterima kasih saja tidak. Kami terbahak-bahak dan penghargaan anu….anu…itu sampai sekarang masih ada.

Lalu, apa artinya si idola?

Saya paham idola dan karyanya tak ada hubungannya seperti yang ditegaskan Barthes….

Tapi sejarah tubuh melekat pada karya

Popularitas menghipnotis

Inilah bagian tubuh, kelamin tak mampu menjamin kemurnian pena….

 

Renungan Siang

Comments

comments