PENDIDIKAN DALAM STRATEGI KEBUDAYAAN

(Tanggapan untuk Rembuk Nasional Pendidikan 2011)

Oleh Sides Sudyarto DS

Sides Sudyarto DS

Sides Sudyarto DS

Ketika Ki Hajar Dewantara alias R.M. Soewardi Soerjaningrat (1889-1959) dan kawan-kawan mendirikan Taman Siswa, tahun 1922, tujuannya adalah untuk menanamkan jiwa kemerdekaan. Taman Siswa menghendaki bangsa Indonesia tidak hidup untuk mengabdi penjajah, tetapi untuk kemandirian dan kesejahteraan bangsa sendiri.

Taman Siswa memilih pendidikan sebagai jalan perjuangan beralasan kuat. “bahwa masalah pendidikan rakyat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa adalah factor yang penting yang harus diusahakan, sejalan dengan usaha perjuangan politik,” tulis Ki Mochamad Tauchid, seorang tokoh Taman Siswa.

Secara singkat bisa dikatakan, tujuan pendidikan adalah memanusiakan calon manusia. Manusia seperti apa yang kita harapkan? Manusia yang berbudaya. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang ‘beradab’ dan berkeadaban. Ia makhluk kultural sekaligus bermoral. Maka tidak aneh bahwa Taman Siswa, selain mengajarkan ilmu pengetahuan, juga mendidik anak-anak berkesenian, semisal seni tari, musik, sastra dan sebagainya. Demikianlah, pelajar dan mahasiswa di lingkungan Taman Siswa mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Humaniora. Mereka rata-rata bisa ambeksa (menari), ura-ura (menyanyi), olah karawitan (belajar gending), sastra, dsb.

Untuk mendidik manusia agar jadi insan budaya tentu yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan yang ideal, yakni pendidikan kultural. D. Paul Schafer, dalam bukunya Revolution or Renaissance, memaparkan bahwa pendidikan kultural itu memiliki empat resep utama: “Learning about culture in general; learning about one’s own culture in particular; learning about culture of others; and learning to live a creative, constructive, and fulfilling cultural life.” (mempelajari kebudayaan umum, mempelajari kebudayaan nasonal sendiri, mempelajari kebudayaan bangsa lain, belajar hidup dengan kreatif, konstruktif dan memenuhi tuntutan kehidupan berbudaya).

Bangsa-bangsa maju, juga yang ingin maju, memerlukan Strategi Kebudayaan. Atau Politik Kebudayaan. Selama ini banyak asumsi bahwa kebudayaan itu boleh meluncur sendiri, tidak terencana seperti bola salju yang menggelinding begitu saja. Strategi kebudayaan adalah rencana besar karena menyangkut kehidupan bangsa dan masa depannya. Rencana Besar atau Grand Design itu harus disiapkan sebagai cetak biru, yang sudah melampaui berbagai tahap pemikiran dan pengujian yang serius dan rinci. Untuk menciptakan satu Strategi Kebudayaan diperlukan partisipasi kaum intelektual, ahli filsafat, pemikir, pakar budaya, seniman, sosiolog, psikolog, antropolog, agamawan, dan terpenting adalah kaum pedagog (pendidik).

Mengapa dalam Strategi Kebudayaan masalah budaya dikaitkan dengan pendidikan? Sebab kebudayaan dan pendidikan memang tidak terpisahkan. Kita mewarisi nilai-nilai peninggalan nenek moyang kita lewat pendidikan. Kualitas budaya kita sekarang ini adalah hasil pendidikan masa lalu. Mutu manusia ditentukan oleh mutu pendidikannya. Seandainya kebudayaan itu air, pendidikan adalah salurannya. Pendidikan memungkinkan manusia, meminjam istilah Noam Chomsky, Interpreting the World and Changing the World (menafsir dunia dan mengubah dunia.)

Keberadaan suatu bangsa selalu di antara bangsa-bangsa lainnya. Kebudayaan kita sebagai bangsa juga berada di antara kebudayaan-kebudayaan lain yang mengitarinya. Di tengah kebudayaan yang terserak di seluruh dunia itulah, terdapat budaya kita sendiri: Kebudayaan Nasional. Dengan memahami kebudayaan pada umumnya, kebudayaan bangsa-bangsa sekitar kita dan kebudayaan kita sendiri, lengkaplah wawasan kultural kita.

Hasilnya, minimal, kita menjadi manusia yang paham, bahwa di dunia ini terdapat multibangsa dan karenanya juga multikultur. Setap bangsa berada bersama bangsa-bangsa lain. Suatu negara berada bersama-sama negara lain. Hubungan manusia dengan manusia, juga negara dengan negara lain, harus selalu harmonis, bersahabat dan konstruktif selain produktif. Hubungan Internasional (International Relation) harus didasari sikap bertetangga secara baik dan bekerjasama yang saling menguntungkan.

Pergaulan bangsa selalu mengenal pasang surut, ada kerukunan, ada perselisihan, ada dinamika, juga tidak lepas dari konflik dan kontradiksi. Konflik dan kontradiksi harus diselesaikan baik-baik. Sebab dalam suasana konflik sulit dibangun kerjasama untuk kesejahteraan bersama. Untuk bisa mengatasi setiap persoalan yang muncul diperlukan saling pengertian, yang bisa digali dari saling pemahaman antarbangsa. Aktor-aktor penentu hubungan antarbangsa mestilah orang-orang yang memiliki kecakapan khusus sesuai bidangnya, namun yang berlatar pendidikan kultural.

Lalu bagaimana dengan hidup kreatif? Kreativitas adalah kemampuan manusia untuk menciptakan konsep-konsep baru, gagasan-gagasan baru yang berguna untuk menyelesaikan segala macam problem kehdupan. Kreativitas (creativity) sangat lekat dengan pembaharuan (innovation). Mereka yang kreatif yang mampu melakukan pembaharuan. Kreativitas, inovasi, sangat penting dalam menghadapi ketertinggalan, dan kemiskinan suatu masyarakat.

Para pakar sependapat, bahwa pendidikan khusus yang bertujuan mendidik tenaga spesialis sangat diperlukan pada situasi sosiologis tertentu. Mungkin ada benarnya. Tetapi sebaiknya, pendidikan spesialisasi itu juga tidak lepas dari latar kultural untuk mebekali manusia sebagai sumber daya. Jauh-jauh hari filsuf Spanyol Ortega y Gasset mengingatkan kita dengan semboyan singkat: ‘Spesialisasi adalah Barbarisme.’

Dalam hal ini Ortega bisa dipahami. Orang yang hanya tahu bidangnya sendiri, tanpa tahu bidang lain, akan berpandangan sempit, bisa bertindak tanpa perhitungan dan kehati-hatian. Para pengembang energi nuklir untuk tujuan ekonomis, bisa berdampak fatal, jika diubah menjadi alat pembunuhan massal yang sangat mengerikan.

Lalu bagaimana hidup yang memenuhi kebutuhan budaya itu? Manusia perlu cukup minum kultur. Dia harus hidup sebagai manusia budaya, bukan sebagai manusia ekonomi (Homo Economicus) semata. Manusia budaya (Cultural Human) adalah manusia yang mendasari hidpnya dengan etika, dengan nilai-nilai religius dan memperkaya diri dengan nilai-nilai estetika.

Ada bayak jenis lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan pemerintah, menempuh sistem pendidikan yang digariskan konstitusinya. Lembaga pendidikan komersial, mengejar keuntungan sebanyak mungkin. Lembaga pendidikkan swasta yang dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan bermisi religius. Tetapi apa pun tujuannya, sistem pendidikan, mempunyai tanggung jawab moral untuk membentuk manusia cerdas, kritis, mandiri, serta menghormati hak-hak hidup sesama. ***

Comments

comments