Peranan Bahasa Ibu Sebagai Pilar Sastra Hijau

• Menggali Filosofi Kearifan Lokal Pelindung Bumi Kalimantan Selatan

Oleh Dra. Naning Pranoto, MA

Makalah dipresentasikan pada
Seminar Nasional
Ekologi Bahasa
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Kamis, 12 Maret 2015

Abstrak

Bahasa Ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seorang anak. Bahasa ibu membentuk identitas pribadi, kemampuan kognitif, sosial dan budaya. Bahasa ibu sangat beragam, mengacu pada suatu etnis tertentu. Berdasarkan catatan SIL (the Summer Institute of Linguistics, Inc) International AS, ada sekitar 6.000 bahasa ibu di seluruh dunia. Yang terbanyak di Papua Nugini 800 bahasa ibu. Indonesia berada pada urutan kedua. Diperkirakan mempunyai 746 bahasa ibu. Jumlah yang terbanyak terdapat di Papua (Barat), hampir 200 jumlah bahasa ibu yang ada di sana. Tapi, yang baru terteliti belum ada 100 ragam bahasa ibu.

Di Pulau Kalimantan terdapat sekitar 140 bahasa ibu berdasarkan rumpun terdiri dari: Malayic Dayak (10); Bahasa Barito (20); Bahasa Borneo Kayan Murik/Bahasa Borneo Utara (17); Bahasa Borneo Dayak Darat (16); Bahasa Borneo Timur Laut (84); Bahasa Borneo Punan Nibong (2) dan Bahasa Malayic (Bahasa Banjar termasuk di dalamnya).

Makalah ini membahas tentang peranan bahasa ibu sebagai pilar sastra hijau, untuk melindungi Bumi Kalimantan dari tindakan green anarchism (eko-anarkisme) – perusakan lingkungan khususnya hutan melalui deforestasi. Sangat mungkin akan ada pihak yang beranggapan visi dan misi makalah ini hanya suatu utopia belaka, mengingat deforestasi di Pulau Kalimantan sangat marah. Tapi sebaiknya mari kita berpikir positif, melalui sastra hijau (baca: kekuatan kata-kata) paling tidak akan mereduksi eko-anarkisme seperti yang telah terbukti di Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Rusia dan Brazil. Perlawanan terhadap eko-anarkisme yang mereka lakukan bukan dengan kekerasan, senjata api atau benda-benda tajam, melainkan dengan kekuatan dan keindahan kata-kata.

Paparan Sastra Hijau

Sastra Hijau – Green Literature, istilah ini masih jarang digunakan. Di kalangan akademisi menggunakan istilah ecocriticismn yang dicetuskan oleh William Rueckert tahun 1978 dalam tulisannya berjudul Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism, dimuat di Iowa Review Volume 9 Tahun I di halaman 71-86. Tulisannya ini menarik perhatian dan engundang diskusi bersifat pro dan kontra. Yang jelas, seiring bergulirnya waktu ecocriticism diakui dan memberi inspirasi banyak orang, khususnya di AS dan Inggris menulis bertopik dan bertema penyelamatan bumi. Bahkan Dr. Dana Phillips dari Towson University AS menerbitkan artikel tentang sastra dan lingkungan dengan melakukan penelitian atas karya Walt Whitman, Cormac McCarthy, Don DeLillo, Henry David Thoreau, dan Ralph Waldo Emerson. Kemudian artikel-artikel tersebut dibukukan berjudul The Truth of Ecology: Nature, Budaya, dan Sastra di Amerika diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2003 dan mendapat penghargaan dari Modern Language Association’s Prize . Buku ini kemudian dijadikan acuan karya-karya Sastra Hijau.

Dari hasil penelitian Dana Phillips antara lain dapat ditemukan ‘kriteria’ apa saja yang layak disebut sebagai Sastra Hijau pada sebuah karya tulis baik prosa maupun puisi. Pertama-tama, bahasa yang digunakan banyak menggunakan diksi ekologi, isi karya dilandasi ‘rasa cinta pada bumi’, ‘rasa kepedihan bumi yang hancur’, ungkapan kegelisahan dalam menyikapi penghancuran bumi, melawan ketidakadilan atas perlakuan sewenang-wenang terhadap bumi dan isinya (pohon, tambang, air dan udara serta penghuninya – manusia), ide pembebasan bumi dari kehancuran dan implementasinya. Jadi, tidak hanya sekadar satire. Melainkan harus ada actionnya melalui ide-ide yang dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat terhadap penghancuran bumi. Sastra Hijau memiliki visi dan misi penyadaran dan pencerahan yang diharapkan dapat mengubah gaya hidup perusak menjadi pemelihara merawat bumi (go green).

Menurut Dr. Laurence Coupe dari Manchester Metropolitan University Inggris bahwa genre Sastra Hijau adalah sastra tematik yang mengacu pada lingkungan secara fisik akan membosankan pembacanya jika tidak dibumbui daya tarik. Maka tahun 2000 ia menerbitkan buku berjudul The Green Studies Reader: From Romanticism to Ecocriticism dan tahun 2013 terbit buku terbarunya berjudul Kenneth Burke From Myth to Ecology. Dari preview kedua bukunya ini dapat dibaca bahwa Coupe menyajikan ide-ide untuk penyempurnaan proses kreatif karya Sastra Hijau dengan memasukkan berbagai unsur menarik. Antara lain kisah-kisah (legenda) cinta yang ada kaitannya dengan lingkungan yang diceritakan, asal-usual suatu tempat yang jadi obyek cerita, mitos-mitos yang dipercayai masyarakat setempat, kepercayaan pada ruh-ruh halus hingga Tuhan Yang Maha Sejati, pergulatan bisnis dan sebagainya. Dengan demikian karya-karya yang dilahirkan akan menjadi cerita yang menarik. Ia terinspirasi oleh (antara lain) sejumlah epik klasik berbumbu mitos seperti Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien dan karya Shakespeare.

‘Rumah’ Hutan Hujan di Bumi Kalimantan

Bumi Kalimantan merupakan bagian dari Pulau Kalimantan yang secara administrasi politik ‘dihuni’ oleh tiga negara yaitu: bagian yang terluas adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), wilayah Negara Malaysia dan bagian yang terkecil wilayah Negara Brunei Darussalam. Pulau Kalimantan yang dikenal pula dengan nama Borneo terkenal di seluruh dunia bukan karena berada di urutan ketiga – seluas 743.330 Km2, sebagai pulau terbesar di dunia. Melainkan, luas hutannya sekitar 40,8 juta hektar tersohor manfaatnya sebagai salah satu paru-paru dunia. Selain itu juga sebagai ‘rumah’ hutan hujan (rainforest) terluas di Asia. Sayangnya, rumah hutan hujan ini menurut Greenpeace tinggal tersisa 25,5 juta hektar pada tahun 2010.

Berikut ini kondisi peta hutan di Kalimantan dari masa ke masa. Warna hijau merupakan hutan yang tersisa:

Kondisi Hutan Kalimantan

Kita ketahui bersama deforestasi berdampak: (1) Hilangnya ekosistem di dalam hutan korban eko-anarkisme tersebut; (2) Musnahnya keanekaragaman hayati antara lain species tumbuhan dan hewan langka dan (3) Berkurangnya persediaan cadangan makanan bagi manusia dan makhluk lainnya. Efek samping dari deforestasi adalah bencana besar bagi umat manusia yaitu banjir bandang, tanah longsor dan ancaman pemanasan global karena hutan tak mampu lagi menyerap emisi karbon. Semua orang telah merasakan akibat dari eko-narkisme, apalagi bagi orang-orang yang bermukim di Bumi Kalimantan.

Dalam kesempatan, mari kita cari solusinya untuk mereduksi deforestasi di Bumi Kalimantan yang tidak hanya ‘kehilangan’ hutan, tapi juga lahan-lahan pertambangan, keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi (di dalam termasuk DAS – Daerah Aliran Sungai), pariwisata dan lainnya. Bumi Kalimantan kondisinya benar-benar mengkhawatirkan dan harus diselamatkan. Kekuatan bahasa ibu sebagai mediumnya yang akan kita gunakan. Singkirkan dulu perasaan utopia, untuk diganti dengan semangat yang penuh energi optimitis. Hal ini memang tak mudah untuk meyakinkan akan terwujud , tapi perjuangan demi perjuangan tentu akan membuahkan hasil.

Manapak Banyu di Apar

Manusia adalah pendominasi penghuni bumi. Tapi, manusia pula yang merusak lingkungan. Ironisnya, manusia yang tak melakukan eko-anarkisme harus ikut menanggung akibatnya. Dalam bahasa Banjar Kuala mempunyai pepatah: Manapak banyu di apar, yang artinya bumerang, terkena diri sendiri. Pepatah ini sangat tepat untuk melukiskan kondisi perusakan lingkungan atau eko-anarkisme pada umumnya, di Bumi Kalimantan khususnya. ‘Lahirnya’ Revolusi Industri dianggap sebagai biang keladi eko-anarkisme karena melahirkan kapitalis – yang dijuluki pula sebagai ‘binatang ekonomi’. Yaitu kelompok yang hanya berpikir tentang keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara ‘memperkosa bumi’ dan memeras keringat manusia tanpa memikirkan dampak negatifnya dan nasib para korbannya. Maka, gerakan sastra hijau pun timbul di Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Inggris, Spanyol – pada awal Abad 19 untuk melawannya melalui ‘pena hijau’. Tokoh-tokoh pena hijau diberi gelar sebagai pelopor naturis antara lain: Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson (Amerika Serikat), Elisee Reclus, Henri Zisly dan Emile Gravelle (Perancis), Kirwin R. Schaffer (Kuba), Isaac Puente (Spanyol) dan Leo Tolstoy (Rusia). Bila disimpulkan mereka ini punya prinsip yang sama, yaitu mempertahankan kondisi bumi sebagai ‘desa besar yang ramah’ – menciptakan kehidupan harmonis antara manusia dan alam.

Menciptakan keharmonisan hidup antara manusia dan alam merupakan pilar filosofi kearifan nenek-moyang semua suku bangsa di dunia, termasuk Indonesia tentunya. Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, tahun 2010 mencatat bahwa Indonesia dihuni 1.340 suku bangsa. Masing-masing suku bangsa memiliki kearifan lokal untuk menjaga lingkungannya. Dalam makalah ini penulis memfokuskan materi tentang kearifan lokal dalam menjaga lingkungan yang dilakukan oleh Suku Banjar di Kalimantan Selatan, yang menggunakan bahasa ibu Bahasa Banjar.

Bicara tentang Suku Banjar pada mulanya mendiami hampir seluruh wilayah Propinsi Kalimantan Selatan. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, Suku Banjar pun memencar ke berbagai wilayah Kalimantan hingga ke Negeri Jiran. Secara ekologi bahasa, pemencaran tersebut menjadikan kedudukan Bahasa Banjar sebagai lingua franca. Di samping itu mengangkat Bahasa Banjar sebagai 10 besar bahasa daerah yang banyak penuturnya dengan posisi sebagai berikut: (1) Bahasa Jawa; (2) Bahasa Melayu Indonesia; (3) Bahasa Sunda; (4) Bahasa Madura; (5) Bahasa Batak; (6) Bahasa Minangkabau; (7) Bahasa Bugis; (8) Bahasa Aceh; (9) Bahasa Bali dan (10) Bahasa Banjar.

Peta Penutur Bahasa Banjar Kuala (yang bertanda hijau)

Secara dialek, Bahasa Banjar terdiri dari Bahasa Kuala dan Bahasa Banjar Hulu Sungai yang disebut pula dengan nama Bahasa Banjar Hulu. Bahasa Banjar Kuala penuturnya penduduk asli sekitar Banjarmasin Kota, Martapura dan Pelaihari. Sesuai dengan sebutannya Bahasa Banjar Hulu digunakan di luar ketiga wilyah peta penutur Bahasa Banjar Kuala, antara dituturkan di wilayah Hulu Sungai misalnya di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara serta Tabalong.

Bicara soal sungai, Bumi Kalimantan merupakan ‘rumah’ sungai dan ada tiga sungai yang termasuk 10 terpanjang di Indonesaia. Yaitu Sungai Kapuas (panjang 1.143 Km) di Propinsi Kalimantan Barat, Sungai Mahakam (panjang 920 Km) di Propinsi Kalimantan Timur dan Sungai Barito (panjang 909 Km) di Propinsi Kalimantan Tengah dan Propinsi Kalimantan Selatan. Dari paparan tersebut Studi Sosiolinguistik membuktikan bahwa kondisi ekologi berpengaruh terhadap bahasa yang digunakan oleh penduduk setempat dan juga sumber matapencahariannya. Kalimantan Selatan salah satu buktinya di mana Bahasa Banjar memiliki kosa kata banyu – serapan dari kata bahasa Jawa banyu yang artinya air – air sungai. Maka tak heranlah apabila ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin disebut sebagai Kota Seribu Sungai – kota yang berlimpahan dengan air dan ditandai adanya Pasar Terapung yang ada sejak tahun 1526.

Kata banyu ini relatif banyak digunakan dalam pepatah yang lahir dari kearifan lokal Suku Banjar yang hidup dilingkupi sungai-sungai dan yang terbesar Sungai Barito. Bahkan mereka ini juga secara alamiah menemukan sistem pertanian lahan rawa dan lebak yang dikenal dengan nama Banjarese System (Sistem Orang Banjar) yang kini jadi percontohan. Orang Banjar bertani di lahan-lahan rawa, juga di lahan lebak dan lahan gambut. Mereka melakukan reklamasi, pengelolaan dan pengembangan lahan rawa dan lebak telah berabad-abad tanpa merusak lingkungan. Satu kuncinya ‘menjinakkan’ banyu dengan cara arif juga lingkungan hutan sekitarnya. Mereka mendapat hasil pertanian tanpa harus melakukan eko-anarkis. Bahkan mereka tidak hanya bertani tapi juga vegetasi dan pelestarian hewan. Hasil panenan yang mereka peroleh tidak hanya padi, tapi juga sayuran, buah-buahan dan berbagai jenis ikan – sekaligus melakukan penghijauan. Banjarese System merupakan pemanfaat lahan secara berganda (multiple use) dan ini jelas menguntungkan.

Manangis Kada Babanyu Air Mata

Banjarese System warisan kearifan lokal nenek moyang Suku Banjar tidaklah berlebihan bila disebut sebagai monumen kemegahan pelestarian lingkungan. Generasi muda berkewajiban menjaga kesinambungannya agar lestari mengada. Cara menjaganya melalui sastra hijau dengan memasukkan unsur bahasa ibu sebagai pilarnya. Misalnya, kita mulai dengan mengambil beberapa pepatah yang mengggunakan kosa kata berkaitan dengan lingkungan dan diresapi secara mendalam maknanya:

1. Manangguk di banyu karuh – artinya: Hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri pada waktu orang sedang kesusahan. Pepatah ini bisa digunakan untuk ide menuliskan tentang bencana alam yang menimpa penduduk setempat, kemudian ada oknum yang memanfaatkan untuk keuntungan diri sendiri. Perlu direnungkan peringatan Peter Benchley – Novelis Amerika Serikat, “Jika manusia tidak belajar memperlakukan hutan dan hutan tropis dengan baik, maka manusia akan punah.”

2. Manangis kada babanyu air mata – artinya: Terlalu sedih tidak lagi ada airmata yang keluar. Pepatah ini bisa dijadikan ide menulis puisi atau prosa tentang kepedihan deforestasi, pencemaran DAS dan penghancuran lingkungan lahan penambangan emas maupun batubara. Rene Dubos, Aktivis Lingkungan Perancis berseru,”Ingat, alam tak diam. Ia selalu menyerang kembali. Maka, jangan perlakukan dia dengan tindak kekerasan untuk mendapatkan kemenangan palsu.”

3. Wani manimbai wani manajuni – artinya: Berani berbuat berani tanggung-awab. Pepatah ini bisa diterapkan bagi siapa yang saja yang merambah hutan atau lahan pertambangan, haruslah bertanggung-jawab. Yaitu, tidak hanya mengambil keuntungan saja akan tetapi juga harus ikut memulihkan kondisinya. Seperti yang dilakukan para petani penggarap lahan rawa, lebak, lahan gambut dan hutan sekitarnya. Misalnya, menebang kayu di hutan harus diimbangi dengan reboisasi. Para penambang setelah mengambil hasil tambang wajib memperbaiki lingkungannya (tidak dibiarkan rusak, mengerikan).

4. Awak randah sangkutan tinggi – artinya: Harus mengukur kemampuan diri sebelum bertindak. Pepatah ini berkaitan dengan Nomor 3, jika kita tidak mampu mempertanggung-jawabkan perbuatan kita dalam ‘mengambil’ hasil bumi, sebaiknya jangan melakukannya. Karena akan berakibat buruk – antara lain mendatangkan bencana alam yang banyak menelan korban.

5. Banyak muntung kena bagawi kada manuntung – artinya: Jangan banyak bicara karena akan banyak pekerjaan yang terbebengkalai. Pepatah ini sungguh tepat diterapkan oleh para aktivis penyelamat lingkungan. Hendaknya jangan terlalu banyak bicara, tapi lebih baik bertindak. Seperti yang dikatakan Ross Perot – Politisi Amerika Serikat, “Aktivis pemnyelamat lingkungan bukanlah orang-orang yang mengatakan sungai itu kotor. Tapi, mereka harus membersihkan sungai itu.”

6. Ditinggal manawak, dibawa malinggang – artinya: Orang yang selalu mengganggu ketentraman orang lain. Pepatah ini dapat diterapkan untuk menyebut para pelaku eko-anarkis yang rakus akan materi. Layaklah apabila William Rickett – Pematung dan Penyair Australia memberi peringatan, “Bumi adalah ibu kita, mengapa kita memperkosanya? Apakah kita benar-benar anak durhaka?”

7. Iya kandang iya babi – artinya: Orang yang diberi kepercayaan tapi berkhianat. Pepatah ini dapat mengacu pada oknum pejabat kehutanan dan yang terkait, yang menyelewengkan wewenangnya memberi izin HPH (Hak Pengusahaan Hutan) secara tidak tepat.

8. Waja sampai kaputing – artinya: Semangat yang besar, pantang menyerah. Pepatah ini sangat elok bila maknanya diresapi oleh para aktivis penyelamat lingkungan. Karena memang tidak mudah berhadapan dengan para pelaku eko-anarkis yang sangat mungkin memiliki ‘senjata’ kuat untuk terus bertahan melakukan aksinya. Tak heran jika datang pula berbagai ancaman yang menteror para aktivis. Tapi, waja sampai kaputing harus tetap dijadikan prinsip untuk menyelamatkan bumi.

9. Satu karya dua gawi – artinya: Dua pekerjaan dapat dikerjakan sekaligus dengan hasil memuaskan. Pepatah ini kiranya bisa dijadikan motivasi bagi aktivis sastra hijau. Di mana mereka berkarya sastra, sekaligus untuk melestarikan eksistensi bumi. Perlu kita renungkan kata-kata Pablo Picasso – Pelukis Agung dari Spanyol: “Seniman adalah ruang bagi emosi yang tiba dari semua tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lembut hingga seliat sarang laba-laba.”

10. Kaya siput dipais – artinya: Pendiam, tidak mau banyak bicara takut salah. Pepatah ini mengandung nilai positif, tapi juga ada sisi negatifnya. Karena bila seseorang terlalu ‘diam’ dan terlalu ‘takut’ akan sia-sia hidupnya. Sebaiknya, isilah hidup dengan bersikap realistis agar bermanfaat, khususnya untuk menyelamatkan bumi. Jangan takut menyuarakan kebenaran asalkan disampaikan dengan bijak. Hindari kekerasan. Mari kita mendalami pendapat yang disampaikan John Luboock, seorang arkeolog, penulis dan juga penyelamat lingkungan, “Bumi, langit, hutan, ladang, danau, sungai dan gunung adalah guru yang mengajarkan pada kata, tentang banyak hal kearifan yang tidak ada di dalam buku.” – mari kita kalimat ini.

Masih banyak lagi pepatah yang lahir dari kearifan tradisi nenek-moyang. Tidak hanya untuk menyelamatkan bumi, tapi juga sebagai bekal hidup.

Hindari ‘membunuh’ Bahasa Ibu

Bahasa ibu di Indonesia yang telah berhasil diteliti ada 546, demikian data yang ada di Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Diharapkan, angka tersebut akan menjadi 600 bahasa ibu di tahun 2014. Penelitian terus berlangsung. Diperkirakan ada puluhan bahasa ibu yang telah mati. Penyebab kematiannya, karena bahasa itu tidak dipergunakan lagi. Baik sebagai bahasa lisan (tutur) maupun bahasa tulis. Ironisnya, ‘pembunuh’ bahasa ibu adalah para ibu – yang empunya bahasa ibu. Alat pembunuhnya bukan senapan atau belati, tapi gaya hidup dan pola pikir. Dampaknya secara sosiologis dan psikologis, mengikis – bahkan melumpuhkan daya kemampuan kognitif anak. Dampaknya si anak akan kehilangan jatidiri atau kehilangan ‘akar’ dari leluhurnya. Anak menjadi ‘manusia baru’ semacam hibrida di lingkungannya. Kasus memprihatinkan ini tidak hanya melanda anak-anak yang diajak berubanisasi atau bermigrasi oleh orangtua mereka. Tapi juga melanda anak-anak ‘desa baru’ (orang desa yang bergaya hidup metropolitan karena pengaruh televisi atau tertular sanak saudaranya yang merantau ke kota). Tragedi ini tidak hanya melanda Indonesia, tapi juga menjadi epidemi global.

Bicara tentang bahasa ibu di Kalimantan Selatan, baik itu Bahasa Banjar Kuala maupun Bahasa Banjar Hulu hendaknya dijaga agar tidak punah. Maka sudah saatnya Bahasa Banjar dimunculkan untuk menulis Sastra Hijau sebagai ‘medium indah dan bermakna’ diperkokoh dengan Bahasa Indonesia. Sebagai lingua franca – bahasa ‘pengantar’ atau bahasa untuk menjembatani ‘pergaulan’, sangat mungkin Bahasa Banjar lebih banyak dilisankan dari pada ditulis. Kasus ini dialami oleh hampir semua bahasa ibu di Indonesia, mengingat budaya nenek moyang kita adalah budaya lisan bukan budaya menulis. Kondisi ini menjadi penghambat perkembangan budaya menulis sastra maupun akademis. Di samping itu, eksistensi pengarang maupun penulis masih kurang dihargai. Baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Stigma menjadi penulis dan pengarang itu tidak bisa sukses dalam materi, membuat orangtua apriaori jika anak-anaknya memilih profesi tersebut. Faktor-faktor ini yang membuat Indonesia menjadi ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain yaitu ‘miskin’ penulis maupun ‘miskin’ pengarang.

Sastra Hijau pada dasarnya memang ‘pena perjuangan’ bukan untuk mencetak uang. Bahkan sangat mungkin akan ‘dimusuhi’ oleh para pelaku eko-anarkis yang mengeksploitasi hutan demi keuntungan pribadi. Maka tak heran apabila sastrawan agung Amerika Serikat yang juga naturis, Henry David Thoreau pernah mengatakan, “Jika aku disuruh memilih uang, pangkat atau kebenaran untuk menyelamatkan bumi, aku pilih yang ketiga. Uang dan pangkat aku tak perlu, yang kuperlukan menyelamatkan manusia dari kehancuran bumi. Bagiku itu kepuasan yang juga prestasi hidup.”

HenryDavidThoreau-Chief

Sungguh mulia pernyataan Thoreau dan ini dijadikan pegangan komitmen bagi para aktivis lingkungan. Masing-masing aktivis punya latar belakang budaya (etnis) yang berbeda dan mereka ini banyak yang menggunakan bahasa ibu untuk menyelamatkan lingkungannya. Sebagai contoh, Chief Joseph – aktivis lingkungan Amerika Serikat berdarah tulen Indian memperkenalkan kiat menyelamatkan bumi dengan bahasa ibunya dan mendunia setelah diterjemahkan ke berbagai bahasa (termasuk Indonesia) menjadi “Bumi adalah Ibu semua manusia”

Kalimantan Selatan mempunyai tiga orang pejuang lingkungan dan memperoleh penghargaan Kalpataru pada Hari Lingkungan Hidup 2012. Mereka adalah adalah Galuh Sally dari Kabupaten Balangan. Ia penangkar jenis pohon langka – pohon gaharu sejak tahun 2007, jumlahnya lebih dari dua juta pohon yang bisa dipanen sekitar 30 tahun mendatang. Sedangkan Madroji dari Kabupaten Banjar melakukan rehabilitasi dan penghijauan pada lahan kritis seluas delapan hektar dengan cara pelestarian sumber daya air dan keanekaragaman hayati. Ia bertani dengan mengadopsi kearifan lokal yaitu menggunakan pupuk organik yang diolah dari sampah. Muhammad Syamsudin dari Kota Banjarmasin membibit puluhan ribu pohon. Ketiganya melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan penghargaan. Bagi mereka merupakan panggilan hidup: menyelamatkan lingkungan dan keanekaragaman hayati. Ketiga tokoh pejuang lingkungan ini merupakan sumber tulisan yang menarik untuk dijadikan tulisan genre sastra hijau. Apalagi dengan menggunakan bahasa ibu sebagai sebagai ungkapan metaforisnya dan kearifan lokal sebagai ruhnya.Dengan demikian, karya sastra bisa diwujudkan sekaligus menghidupkan bahasa ibu.

Implentasi Bahasa Ibu sebagai Pilar Sastra Hijau

Sastra hijau adalah bagian dari sastra Indonesia yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bagaimana jika bahasa ibu diimplentasikan ke dalamnya. Jawabannya adalah, tidak masalah. Dengan adanya bahasa ibu dalam suatu karya yang disajikan dalam bahasa Indonesia menurut penulis merupakan nilai plus. Karena, berarti pengarangnya kembali ke akar untuk memekarkan karyanya (dari lokal ke nasional). Selain itu, Indonesia memang multikultural – dihuni 1.340 suku demikian hasil penelitian BPS. Jadi, justru elok karena sastra Indonesia memberi ruang berkembangnya sastra lokal yang justru ‘murni’ memiliki jati diri (kearifan lokal). Elemen tersebut memberikan bobot pada sajian karya sastra Indonesia

Tapi implementasi yang dimaksud harus berdasarkan kaidah penulisan karya sastra baik yang berupa puisi maupun fiksi (cerita mini, cerita pendek, cerita panjang, novel pendek dan novel panjang). Dalam karya fiksi, bahasa ibu dapat dijadikan: (1) Judul yang bersifat simbolik atau metaforis; (2) Bagian dalam dialog antar tokoh yang memberi penegasan identitas masing-masing tokoh; (3) Frasa untuk mengekspresikan ‘greget’ perasaan, emosi dan kecerdasan yang tidak bisa digantikan dengan bahasa lain seperti bahasa ibu; (4) Memasukkan unsur-unsur salah satu di antaranya: filosofis, melankolis, patriotis, magis yang menjadi ‘ruh’ sebuah karya dan (5) Pengejawantahan budaya dengan berbagai pesannya secara implisit kepada pembaca.

Implentasi bahasa ibu untuk menulis puisi sebetulnya lebih rumit dibandingkan dengan menulis fiksi. Tapi jika penyairnya memahami makna, tanda dan pesan yang tersirat maupun tersurat pada suatu frasa yang digunakan maka akan dengan mudah mampu mencipta puisi. Menurut penyair Sides Sudyarto DS, seorang penyair perlu modal yaitu 7 (tujuh) cinta:

Pertama, Cinta manusia (Humanity).
Penyair adalah manusia yang mencintai manusia, menghargai setinggi-tingginya hak asasi manusia

Kedua, Cinta ilmu pengetahuan (Knowledge)
Penyair adalah sosok manusia yang cinta ilmu. Sebab dengan ilmu ia bisa meringankan beban hidup sesama manusia.

Ketiga, Cinta kebijaksanaan (Wisdom)
Penyair adalah manusia yang mencintai kebijaksanaan. Bijaksana berarti menghormati kenyataan, keadialan dan kebenaran. Kebijaksanaan tertinggi adalah kebajikan, yakni mengabdikan diri untuk kehidupan masyarakat luas.

Keempat, Cinta kesenian (Arts)
Seorang penyair adalah seorang sastrawan, memilih seni astra sebagai panggilan hidupnya. Namun seorang penyair juga tidak mungkin jauh dengan berbagai cabang kesenian: seni drama,seni tari, seni lukis, seni musik, dan sebagainya. Sebab setiap cabang seni mempunyai kaitan nilai dengan seni lainnya.

Kelima, Cinta kebudayaan (Culture)
Penyair dengan sedirinya seorang budayawan. Ia memahami kebudayaan, mencintai kebudayaan dan ikut merawat kesuburan hidup kebudayaan. Perlu diingat bahwa sastra adalah juga bagian dari kebudayaan.

Keenam, cinta agama (Religion)
Dengan ilmu, kehidupan manusia yang berat bisa diperingan. Dengan agama kehidupan manusia bias lebih terang hingga selamat dunia akhirat. Maka penyair pun bisa bersyiar, menaburkan nilai-nilai keagamaan.

Ketujuh, Cinta Tuhan Yang Maha Cinta (Belive in the God)
Cinta kepada Tuhan memungkinkan penyair mencintai segala ciptaan Tuhan, dari alam tumbuhan, alam hewan hingga umat manusia dan jagat raya. Mencintai seni adalah mencintai keindahan. Dan Tuhan adalah sumber dari segala keindahan.

Dalam penulisan karya sastra Indonesia, bahasa ibu tidak bisa dijadikan narasi karena akan sulit dipahami pembacanya di luar penutur bahasa ibu yang terkait. Selain itu karya yang ditulis itu tak layak lagi disebut sastra Indonesia karena tidak ditulis dengan bahasa Indonesia.
Sastra hijau adalah sastra tematik, bertendens – mengandung sebuah pesan (ajakan) untuk merawat bumi. Deforestasi atau segala bentuk eco-anarkis yang terjadi di Bumi Kalimantan bisa di-share melalui sastra hijau. Di lain pihak, hal-hal yang positif tentang pelestarian lingkungan warisan kearifan nenek moyang juga perlu di-share agar bisa diimplementasikan di wilayah luar Bumi Kalimantan – misalnya pertanian Banjarese System maupun keberhasilan Galuh Shally seorang ibu yang dengan tulus melakukan pembibitan pohon langka – pohon gaharu lebih dari dua juta pohon. Ini suatu kisah nyata yang sangat inspiratif, bisa digarap sebagai kisah nyata yang difiksikan. Betapa tidak? Para pelaku eko-anarkis terus merusak hutan dengan ganas, sementara itu tangan-tangan kecil Galuh Shally dengan penuh kasih menghidupkan ‘pohon-pohon yang hampir punah’. Sebagai putri Banjar tentu ia punya berbagai alasan mengapa melakukan tindak mulia itu. Perlu dicermati dan digali, sejauh apa ia belajar atau menjadi ‘role model’ dari kearifan nenek-moyangnya dalam menyelamatkan hutan.
(Dilengkapi dengan pelatihan menulis cerita pendek genre Sastra Hijau)

Terima kasih.

Selamat Hari Hutan Se-Dunia, 21 Maret 2015.

Daftar Pustaka

Buku
Buell, Lawrence. The Environmental Imagination: Thoreau, Nature Writing and the Formation of American Culture. Cambridge, MA and London, England: Harvard University Press, 1995.
Coupe, Laurence, ed. The Green Studies Reader: From Romanticism to Ecocriticism. London: Routledge, 2000.
Grant, Edward. A History of Natural Philosophy (Terjemahan: Filsafat Alam), Yogyakarta: Mitra Sejati, 2011.
Larson, C.R & Rubenstein, R. Worlds of Fiction. New York: Macmilan Publishing Company, 1993.
Panggabean Maruli. Bahasa, Pengaruh dan Peranannya. Jakarta: Pustaka Obor, 1981
Phililips, Dana. The Truth of Ecology: Nature, Culture and Literature in America. Oxford: Oxford University Press, 2003
Pranoto, Naning. Seni Menulis Cerita Pendek. Jakarta: Oppus, 2015
Pranoto, Naning, Sides Sudyarto DS dan Soesi Sastro. Seni Menulis Sastra Hijau. Bogor: Rayakultura Press, 2013
Pranoto, Naning. 33 KISS Metode Menulis Fiksi dan Fiksi. Bogor: Rayakultura, 2014
Rueckert, William. “Literature and Ecologi: An Experiment in Ecocriticism” Iowa Review 9.I (1978): 71 – 86

Internet:
www.fao.org/forestry/international-day-of-forests/en:
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Banjar
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar-bahasa-di-kalimantan
http://en.wikipedia.org/wiki/Green_anarchism
http://en.wikipedia.org/wiki/Kalimantan
http://cpasru,nl/node/9285
http://ulunbanjarese.blogspot.com/2011/11/peribahasa
http://www.menlh.go.id/peringatan-hari-lingkungan

Comments

comments