Perempuan, Antara Instrumen dan Peran

Judul: Her Story: Sejarah Perjalanan Payudara
Penulis: Naning Pranoto
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 259 halaman

Sejarah mencatat bahwa perempuan dan tubuhnya memiliki pesona dan kemampuan luar biasa yang mewarnai peradaban. Jika tidak ada perempuan bernama Mumtaz ul Zamani, mungkin tak tercipta Taj Mahal yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Namun dengan anugerah yang melekat pada diri perempuan, berapa banyak dari mereka yang memaknai dan telah memperlakukan tubuhnya secara bijaksana?

Peran tubuh perempuan semakin tereduksi seiring perkembangan zaman. Mereka dibuat terasing dengan berbagai tuntutan terhadap tubuhnya. Di mana hari ini banyak perempuan berjuang untuk memiliki tubuh ramping, kulit mulus, dengan dada padat berisi. Bahkan tidak jarang upaya yang dilakukan tersebut mengancam kesehatan mereka. Mereka berkonsentrasi pada keindahan tubuhnya, seolah itu merupakan alat utama menaklukan dunia dan/atau lelaki.

Dalam buku berjudul Her Story: Sejarah Perjalanan Payudara, Naning Pranoto, sang penulis mengajak perempuan untuk mengenal dirinya dan kembali pada perannya. Bahwa Tuhan menganugerahkan tubuh yang indah pada perempuan bukan hanya sebagai provider sex.

Salah satu yang dibahas dan menjadi subjudul buku ini adalah soal payudara. Ironis melihat kenyataan banyak perempuan menyuntikan silicon untuk memperbesar ukurannya dengan harapan dapat memuaskan lawan jenisnya. Padahal, kemontokan payudara dimaknakan sebagai simbol kesuburan, kasih sayang dan sumber kehidupan. Maka, para ibu yang tidak mau menyusui bayinya berarti payudaranya tidak mempunyai makna luhur, karena fungsinya hanya sebagai pelengkap libido dan pemuas nafsu birahi belaka (hal.16).

Buku yang terdiri dari 26 Bab ini juga membahas berbagai persoalan yang dihadapi perempuan. Mulai dari fungsi rahim, mitos keperawanan, isu kekerasan terhadap perempuan, illegal wedding atau nikah sirri, hingga aborsi. Pembaca juga dikenalkan dengan beberapa aliran feminisme serta pemikirannya, meski tidak terlalu detil.

Berbagai pesoalan tersebut disajikan dengan gaya bertutur yang ringan, namun dilengkapi fakta yang berasal dari literature maupun penelitian penulisnya. Misal, saat menjelaskan mengenai vagina serta mitos yang membebaninya. Karena ternyata, hymen atau selaput dara yang secara medis hampir tidak mempunyai fungsi berarti dalam tubuh perempuan, memiliki beban sosial yang cukup tinggi.

Penulis melengkapi bahasan ini dengan data medis dan historis mengenai beberapa tipe selaput dara. Di mana terdapat jenis selaput dara yang mudah robek, yang tidak mengeluarkan darah saat ditembus karena elastisitasnya yang tinggi, hingga jenis yang sulit ditembus karena ketebalannya. Sehingga sangat konyol jika masyarakat khususnya laki-laki meletakan harga diri perempuan, hanya berdasarkan ada tidaknya bercak darah saat malam pertama.

Meski isu-isu yang diangkat terkesan serius dan dewasa, namun menurut saya, buku ini penting untuk dibaca oleh kaum perempuan, terutama remaja. “Herstory” mungkin bisa direkomendasikan sebagai buku pegangan wajib mata pelajaran “pendidikan seks” di sekolah (jika ada). Harapannya agar perempuan lebih menghargai tubuh dan peran luhurnya. Menjaga instrument sucinya tetap utuh, tidak disaalah gunakan, hingga saat yang tepat dengan partner yang tepat pula.

Pernyataan Gemain Greer seorang feminis liberal Australia ini mungkin bisa menjadi renungan. Bahwa “Tubuh yang indah dan seksi, wajah jelita, kulit cemerlang, payudara montok adalah paket yang dikejar hampir setiap kaum perempuan agar kecantikannya menyamai para dewi yang hidup dalam dongeng. Mengapa harus menjadi seorang dewi, jika tubuhnya hanya menjadi objek permainan kaum lelaki? Sementara itu, ada peran lain yang lebih penting menanti.”

Oleh Risma

Sumber:http://rismorfosis.blogspot.com/2010/06/perempuan-antara-instrumen-dan-peran.html

Comments

comments