PEREMPUAN DI BAWAH POHON EK

Cerpen Naning Pranoto

Harapan adalah mimpi yang berjalan, kata Aristoteles. Perempuan bertopi anyaman pandan itu berjalan bersamanya. Ia  menyusuri jalan setapak  berkelok yang menggurat hamparan   kebun sebuah penjara di Creek  – bertengger di bagian  Bumi Paman Sam. Harapan itu:  ia ingin segera sampai di  titik kebebasan, walau kedua kaki dan  tangannya masih  dalam ikatan borgol waktu yang  relatif  panjang.

“Masih enam tahun lagi aku di sini,” tuturnya  setengah berbisik.  Suaranya parau,  kebanyakan merokok. Bibir  mungilnya  pun menghitam.  “Oiya, kenalkan namaku Melati – dari Indonesia!”  telapak tangannya yang halus menjabat  tanganku.

“Juga mantan ratu ayu !” tegasku riang, menyambung kalimatnya.

“Kata Anda  – Aku mantan ratu ayu?”  ia membelalak,  “Haaahhh..!”

Whatever, garis-garis kecantikanmu dan keanggunanmu mengatakan itu! Aku paham benar pancaran kecantikan perempuan Jawa.”

“Perempuan Jawa ?” ia membelalak lagi, “Maaf!  Kok tahu Perempuan Jawa? Uuummm….dan mengapa Anda boleh masuk ke lingkungan napi perempuan?”

“Aku Yo…Yohannes Koh. Asli Singapura. Pernah juga lived di KL- Kuala Lumpur, Jakarta  dan Batam. Lalu, aku keluar masuk krangkeng negeri makmur ini…!  Dan, next month – minggu  pertama, aku   akan menjalani hukuman mati.”

“Haaaaahhh?” kini ia tidak  hanya membelalak, tapi mulutnya menganga lebar.

Moment ini merupakan pertemuanku yang pertama dengannya, enam bulan silam, ketika suhu winter di bawah sepuluh derajat Celcius. Angin  dari Samudra Atlantik bertiup kencang, menaburkan salju  lebat. Tubuhku nyaris beku, padahal sudah kubalut dengan tiga lapis baju dan mantel kulit. Sedangkan Melati?  Perempuan  mantan ratu kecantikan yang di depanku,  hanya mengenakan blus dan celana katun  abu-abu, seragam penjara. Ia duduk di atas bangku – di bawah pohon ek, begitu  tenang, tidak kedinginan. Sesekali  ia membelalai rambutnya yang hitam-tebal, dibiarkan bergerai. Bola matanya yang hitam, bundar, menatap jauh ke arah  jalan  menuju ke bandara.

“Tubuhmu luar biasa kuat, tahan serangan angin kencang dan salju!” decakku, “ “Aku mengagumimu sejak awal winter. Kau selalu di bawah pohon ek. Mengapa?”

“Agar aku sekuat pohon ek – selain perkasa, ia  tahan menghadapi berbagai hama, cuaca. Bahkan, kayu ek dijadikan kapal  yang mengarungi samudera tiada batas, ia tidak  lapuk. Aku ingin jadi pohon ek, walau ..diriku ini  hanya  kecambah.”

“Kau sudah jadi pohon ek. Makanya, aku menemuimu,” kupenggal kalimatnya, sambil kutatap wajahnya yang menyerupai daun semanggi.  “Tapi, kau pohon ek yang seanggun cemara-cemara di Eden.”

“Haaaahhh?” lagi-lagi ia membelalak, “Jangan menabur rayuan gombal…! Maaf,  aku harus pergi.” Ujarnya tegas, sambil berdiri. Wajahnya mengeras.

“Aku tidak seburuk yang kau pikirkan. Please keep stay with me.”  Ibaku.

“Apa maksud Anda melarangku pergi?” ia bertolak pinggang, matanya menyala. “Jangan iseng! Jangan nambah penderitaanku. Jangan nambah ruwet hidupku.”

Aku langsung berlutut, minta ampun.  Api di matanya meredup. Tanpa kusadari, air mataku menetes. “Izinkan aku berbicara penting denganmu.” Pintaku.

“Bicara penting denganku?” lagi-lagi ia membelalak. Tanpa kusangka-sangka, tawanya meledak, “Aku bukan orang penting, maka  tidak layak diajak omong penting. Aku  ini perempuan sial, dijebloskan ke penjara delapan tahun oleh suamiku karena dituduh menculik anak – anak kandungku…”

“Iya, iya, aku tahu. itu..” selaku, sejujurnya, “Jangan katakan itu, hatiku pilu…!”

“Haaa…hati Anda pilu?  Anda tahu apa tentang diriku?” tantangnya, lepas kontrol. “Aku ini hanya perempuan tolol. Betapa tidak? Aku mahasiswi fak. fisika, pemenang kontes ratu kecantikan,  lahir dari keluarga terpandang tapi terhanyut  rayuan gombal…pasrah di ranjang, hamil di luar nikah, lalu manut dibawa si Lelaki Perayu ke Amerika. Katanya,  untuk membangun rumah-tangga bahagia.  Si Lelaki Perayu yang mengaku pengusaha itu ternyata hanya  gigolo, bisex  pemabok –  gambler dan aku dijadikan bamper. Mana aku kuat selalu disiksanya – lahir batin? Aku tertipuuuu..ter-ti-pu!”

“Stttt…tenang…! Malu dilihat orang.” bisikku lembut, ketika ia mulai meraung.. Kupegangi kedua tangannya,  “Pohon ek…tidak pernah meraung-raung! Ia tegak dan tegar walau diamuk badai dan disambar halilintar sekalipun.”

Puji Tuhan! Kalimat-kalimatku mampu menenangkannya. Ia menarik nafas berkali-kali, lalu menatapku sambil berkata, “Anda benar. Maafkan aku yang…!”

“Iya, iya, iya…lupakan  semua yang terjadi baru saja. Mari, kita  buka lembaran baru…yang akan kuisi dengan pembicaraan penting antara aku dan kau,  lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Aku ingin melamarmu…”

“Haaaa…melamarku?” ia membelalak lagi, “Aneh! Ngacau…!”

“Aku serius. Aku  telah minta izin kepala penjara untuk menemuimu, mengatakan ini, sebelum aku menjalani hukuman mati.”

“Anda tidak mengenalku..,”  ia mendesah, matanya berkaca-kaca. “Jangan mempermainkanku…!”

Aku meyakinkan dengan tegas, “Aku berani melamarmu karena aku mengenalmu…”

“Dari…?” selanya.

“Dari koran-koran yang memberitakanmu. Juga dari cerita-cerita yang kudengar, ketika kau menjalani sidang kasus penculikan anakmu,  hingga kau berada di sini. Dan, satu hal. Ketika kau terpilih jadi ratu kecantikan  beberapa tahun yang silam, …waktu itu aku  di Jakarta. Aku juga tahu keberangkatanmu ke Amerika bersama suamimu.”

Mulutnya menganga sejenak, lalu menggeleng-geleng. “Mengapa bisa begitu?”

“Kakakku, Yung —  nge-fans dan  cinta platonik padamu. Foto-fotomu pernah menghiasi kamar tidurnya bertahun-tahun dan ia tanggalkan ketika ia menikah.”

“Begitukah?” tiba-tiba Melati tertawa, pipinya semburat merah, “Kakakmu sekarang di mana?” tanyanya kemudian.

Mulutku tiba-tiba terasa pahit. “Dia sudah meninggal. Ditembak polisi, setahun yang lalu. Aku selamat, tapi tertangkap seminggu kemudian…”

“Tindak kejahatan apa yang kalian lakukan?” tanyanya, dengan sorot mata tajam.

“Banyak. Penyelunpan senjata, pengedar narkoba, cuci uang, mbobol bank…”

“Sibuk sekali..banyak job...,” sela Melati  linglung, wajahnya memucat.

“Maka layak, jika Yung ditembak dan aku dihukum mati..!” ungkapku, sesuai dengan kata hati. “Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kami. Dan, yang penting hari ini –  kau mau menerima lamaranku…!”

“Tidak.” Responnya lirih, “Maaf, aku menolak Anda bukan karena pekerjaaan Anda tapi karena situasi.”

“Maksudmu?” desakku.

“Bulan depan, minggu pertama Anda  menjalani hukuman mati itu. Untuk apa Anda hadir dalam hidupku hanya dalam waktu yang singkat? Bagiku, ini hanya menggoreskan luka, menambah lubang-lubang luka yang sudah ada.”

“Aku melamarmu bukan untuk hadir dalam hidupku, tapi untuk hadir dalam kehidupan Li-Yung yang masih sangat panjang…”

“Siapa Li-Yung?” timpal   Melati.

“Little-Yung, anak semata wayang  Yung.”

“Ke mana ibunya – istri Yung?” selidik Melati.

“Kembali ke negaranya,  Hong Kong. Ia mengejar impiannya, jadi bintang  film walau hanya  untuk blue film. Ia terobsesi jadi selibriti, karena merasa  secantik Gong Li. Yung mengusirnya karena  perempuan itu tak mau menyusui si Bayi Li-Yung yang dilahirnya.”

“Wuah, seru juga ya…seperti cerita-cerita dalam telenovela.” Melati  bingung, “Sekarang, Li-Yung tinggal sama siapa?” tanyanya kemudian.

“Diasuh seorang nurse ..Sister Nadia – perempuan Hispanik  yang punya usaha  penitipan anak.  Sister Nadia akan menemuimu, membawa Li-Yung, setelah kita menikah.” Paparku, hati-hati.

“Mengapa jadi begini Yo? Aku tak bisa menerimanya…!” Melati ketakutan. “Aku juga tak bisa melakukan…..maaf, hubungan denganmu, eeeee…hubungan  layaknya suami-istri. Tidaaak…maaf Yo.”  Tubuhnya menggigil. Ia  memeluk pohon ek. “Biarkan aku sendiri di sini. Di bawah  pohon ek. Menanti hari bebasku…!”

“Andaikan kau menerima lamaranku, lalu menikah denganku, aku tidak akan menyentuh tubuhmu dalam arti berhubungan suami-istri. Mengapa begitu? Karena aku tak mampu, sejak aku  tertembak…sepuluh tahun yang lalu. Aku telah kehilangan alat vitalku..”

“Ooh…Yo!”  Melati terkejut, “Maafkan aku Yooo…!” bisiknya penuh empati.

“Kau tak bersalah.” tanggapku dengan mata basah, “Semua itu layak kuterima karena tindak kejahatan yang kulakukan bersama kakakku.” Bibirku gemetar.

“Mengapa kalian bisa berbuat jahat seperti itu?” Melati tampak  prihatin.

“Akibat dendam terhadap  kemiskinan. Ayahku nelayan miskin,  mati ditelan ombak. Ibuku hilang ketika rumah kami yang reyot disapu gelombang besar. Kami berdua jadi yatim piatu, homeless, mengemis dan mengais sisa-sisa makanan dari tong sampah. Pedih dan pilu, hidup demikian. Kami pun bangkit. Mula-mula jadi  pengutil, meningkat jadi pencopet, akhirnya jadi bandit kelas hiu….dan tamat di berondong peluru.”

“Tuhan akan  mengampuni, jika Anda mau bertobat.” Kalimat Melati menopang keyakinanku, bahwa kelak aku tidak akan berada di neraka selamanya.

“Amien, amien…!”  pujiku terharu, “Tapi…arwah kakakku dan arwahku tidak akan tenang di atas sana jika Li-Yung tidak mendapatkan seorang ibu yang akan menemani dan mengantarnya ke gerbang kedewasaan…” ungkapku jujur,  agar Melati membuka hati mau menerima lamaranku dan mau kunikahi demi masa depan Li-Yung.

“Yah, aku paham. Tapi, tentunya bukan aku yang layak jadi ibunya. Karena, aku berada di sini masih lama. Enam tahun. Jadi, percuma juga jika aku  menikah dengan Anda, demi Li-Yung.” Suara Melati hambar, matanya menerawang. Tak lama kemudian ia tergagap,  “Oiya, berapa usia Li-Yung sekarang?”

“Tiga tahun, dua bulan.”  Sahutku, menyebut usia Li-Yung dengan tepat.

“ Wuah, akurat hitungannya.” Melati  tersenyum pahit, “Aku juga bisa menyebut usia anakku dengan  akurat: empat tahun, enam puluh lima hari dan kira-kira lebih enam belas jam…! Anak itu waktu kubawa lari  usianya dua tahun tiga bulan…”

“Kau tidak pernah melihatnya lagi?” tanyaku hati-hati.

Melati menggeleng, matanya membasah. “Tapi, jika aku keluar dari sini,  tentu aku bisa bertemu dengannya. Saya dengar, sekarang ia diasuh  oleh tante suamiku di Malang. Semoga, anakku kelak jadi lelaki sejati – tidak seperti ayahnya.”

“Aku dan kakakku juga berharap demikian. Semoga kelak,  Li-Yung tidak seperti ayahnya dan aku, pamannya, para bandit. Aku yakin, ia bisa – jika Li-Yung dapat ibu setegak, setegar dan sekokoh pohon ek dan berhati mulia. Itu, dirimu. Tolonglah…” aku mengiba.

“Aku baru bisa memutuskan segala sesuatu kalau sudah bebas dari penjara ini.”  Melati angkat bicara setelah termenung sejenak. “Itu, enam tahun lagi…!”

“Akan lebih cepat dari itu.” Penggalku.

Melati memandangiku dengan kening berkerut, “Bagaimana mungkin?”

“Sebagian uangku akan membebaskanmu, walau bersyarat.”  Tegasku.

Melati diam, memandangiku.

“Begitu kau menikah denganku,  semua  kekayaanku kuserahkan padamu. Itu lebih dari cukup untuk menjamin kebebasanmu lepas dari borgol penjara ini. Kekayaan kakakku yang diwarisan pada Li-Yung ada di tanganmu sebagai walinya.,  untuk membesarkan Li-Yung dan membiayai hidupmu.” Paparku, terang benderang.

“Terima kasih atas kebaikan Anda  terhadap saya. Tapi, apakah Li-Yung bisa menerima aku sebagai ibunya? Ini yang perlu dipikirkan…!” respon Melati  cerdas dan sekaligus menunjukkan bahwa ia bukan perempuan mata duitan. Ini yang membuatku semakin yakin, aku tidak salah memilihnya  untuk kujadikan ibu Li-Yung. Tentu,   arwah Yung di atas sana merasa lega menyaksikan semuanya ini.

“Melati,” panggilku kemudian, “Begitu kau bebas, kau langsung tinggal bersama Sister Nadia untuk mendekatkan diri dengan Li-Yung. Aku yakin, berkat kemuliaan hatimu, Li-Yung akan cepat menyatu denganmu. Arwahku dari atas sana akan  bahagia menyaksikan  penyatuan itu…Melati…!” kukuras  perasaanku.

*

Pernikahanku dengan Melati berlangsung  singkat diberkati oleh Dad Soft Brown, pastor   yang nantinya akan mendampingiku  saat aku dieksikusi. Ada delapan orang yang menyaksikan hari agungku yang berlangsung di kapel Penjara Creek. Lima orang menjadi saksi, yaitu kepala penjara, dua orang sipir, Sister Nadia     dan Li-Yung. Semua saksi berwajah ceria, termasuk Li-Yung yang banyak senyum.

Tetapi, Melati tampak murung. Kerudung dan gaun pengantinnya yang berwarna putih  dihiasi untaian  mutiara tidak membuatnya  ceria. Bahkan air matanya menetes deras ketika kumasukkan cicin kawin ke jari manisnya. Aku tahu, itu bukan air mata bahagia. Itu air mata luapan derita.

“Melati, apa kau menyesal menikah denganku?” tanyaku dengan hati-hati, seusai ikrar sakramen perkawinan kami.

Melati menggeleng. Kemudian ia menunduk sangat rendah, seperti lehernya patah. Kuangkat pelan-pelan lehernya, hingga dagunya setengah menengadah, “Aku tidak akan menciummu. Jangan takut,” bisikku, “Aku cuma ingin mengatakan, pohon ek tidak pernah patah, baik dahan maupun rantingnya, apalagi batangnya.”

“Aku memang tak layak jadi pohon ek. Aku hanya kecambah..yang memerlukan penopang untuk tumbuh. Kau telah menopangku.” sahut Melati lirih, matanya membasah, “Aku malu..!”

“Untuk apa malu?  Tak ada lagi borgol  hukuman  yang mengikat erat  kaki-kaki dan tangan-tanganmu. Juga jiwamu. Kau memang bukan pohon ek, tapi  kini  kau bersayap –  kau bebas menentukan hidupmu bersama Li-Yung.” Kataku lembut, kuakhiri dengan mencium  ujung jemarinya sebagai tanda perpisahan selamanya.

Dua minggu kemudian,  20   letusan  peluru menembus dadaku, melubangi jantung dan paru-paruku serta 10  peluru lainnya memecahkan batok kepalaku hingga  melumatkan otakku. Arwahku melayang-layang tak menentu. Ketika angin bertiup sangat kencang dari arah timur, arwahku  melayang-layang di atas atap Penjara Creek. Kulihat salju turun begitu deras. Di tengah derasnya salju itu kulihat sosok perempuan bertopi anyaman pandan duduk di atas bangku – di bawah pohon ek. Aku langsung mengenalinya, perempuan itu Melati. Ia duduk begitu tenang,  memangku seorang  anak lelaki bermantel bulu rusa: Li-Yung? *

Comments

comments