Perempuan Juga Manusia

Judul: Her Story, Sejarah Perjalanan Payudara
Penulis : Naning Pranoto
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbit : 2010
Tebal : 259 Halaman

Partisipasi sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik merupakan salah satu prinsip mendasar yang diamanatkan di dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women atau CEDAW) yang diadopsi oleh Sidang Umum PBB pada tahun 1979 dan disahkan mulai tahun 1981.

CEDAW telah mengilhami perempuan seluruh dunia untuk bangkit. Mereka mempunyai peluang yang sama dengan lelaki dalam kehidupan publik. Bahkan, dengan semangat ini, kini, di belahan bumi sedang menyongsong kebangkitan perempuan dalam berbagai termasuk di dalamnya bidang politik.

Kebangkitan ini semakin menguatkan posisi tawar perempuan di berbagai bidang. Perempuan bukan lagi the second man. Ia mempunyai posisi yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga manusia. Ia bukan hanya pelengkap di dunia ini. Ia berhak dan berkewajiban sama dan sejajar dengan lelaki. Perbedaan bentuk tubuh atau fisiologis bukanlah penghalan utama untuk perempuan berkarya di berbagai bidang. Hal inilah yang diancang oleh Naning Pranoto dalam buku Her Story.

Namun, mengapa masih banyak perempuan yang belum “berdaya”? Dalam surat R.A. Kartini yang dikirim ke Stella di negeri Belanda yang dikirim 6 November 1899, dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, sebagaimana dikutip mantan wartawati di berbagai media cetak Ibu Kota ini, “Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal…

Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau serupa itu. Bukan, Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luar sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, sesak juga rasanya. Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepala dinding batu bengis itu. Arah ke mana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci” (halaman. 100).

Pengelola Rayakultura—lembaga nonprofit di bidang pendidikan dan kebudayaan—ini menambahkan, para perempuan yang terjerumus ke dalam gelapnya gua-gua masochism bukanlah atas kehendaknya, demikian menurut Betty Freidan, tokoh feminis yang menulis buku The Feminine Mystique, melainkan karena kaum laki-laki hanya menghargai feminitas sebagai objek seksual belaka. Jika kaum lelaki menghargai feminitas secara keseluruhan, yang terjadi tidak akan demikian, sehingga kaum perempuan punya peran lebih luas seperti peran kaum lelaki di masyarakat. Ini yang mendorong kaum feminis liberal berjuang keras untuk punya hak yang sama di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, dan lingkungan hidup seperti halnya kaum lelaki.

Perjuangan itu kini telah berhasil, banyak perempuan yang disebut “mampu mengubah dunia”. Lahirlah politikus perempuan, pebisnis perempuan, tokoh-tokoh kebudayaan yang tangguh. Mereka ini mampu mempertahankan peran domestiknya sebagai sitri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya dan juga melambungkan kariernya untuk dikenal dunia. Misalnya di bidang politik, India punya Indira Gandhi, Inggris punya Margaret Thatcher, Indonesia punya Megawati Soekarnoputri, Bangladesh punya Benazir Bhutto, dan Filipina punya Coory Aquino, dan sebagainya (halaman 114-115).

Sejarah dunia juga mencatat bahwa perempuan tidak hanya sekadar kanca wingking alias pekerja rumah tangga, tetapi juga powerfull, mampu mengendalikan pemerintahan. Dengan demikian, masalah gender bukan halangan bagi kaum perempuan untuk setara dengan kaum lelaki.

Sejarah kuno Mesir mencatat Mesir pernah berada di bawah pemerintahan seorang ratu bertubuh seksi dan berwajah jelita. Cleopatra namanya. Sedangkan Baudicca Victoria berkuasa sebagai ratu di era Inggris kuno. Ia dikenal sebagai perempuan yang gagah berani dalam menghadapi musuh di medan perang. Eleanor d’Aquitaine merupakan perempuan terkaya di Eropa pada zamannya dan sebagai ratu pertama yang memerintah Perancis pada pertengahan abad ke-11.

Ratu Isabella I, selain berkuasa sebagai ratu yang memerintah spanyol dari akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 juga diakui dunia sebagai “pembuka” dunia baru berkat tindakannya yang cemerlang mendanai pelaut-pelaut ulung negerinya yang berkeinginan menjelajah dunia. Christopher Columbus salah seorang pelaut yang didanainya, yang kemudian diakui sebagai penemu Benua Amerika. Untuk menghormati jasa Sang Ratu, tahun 1893 tepat pada peringatan 400 tahun Columbus menemukan Benua Amerika, pemerintah Amerika Serikat menerbitkan coin bergambar Ratu Isabella I. Ia merupakan perempuan pertama yang wajahnya tampil dalam mata uang AS (halaman. 207).

Buku ini menyajikan berbagai persoalan faktual yang kian menyudutkan perempuan dalam ketiadannya sebagai manusia bebas dengan identitasnya sendiri. Peraih gelar master dalam bidang Chinese Studies dari Universitas Bond University Australia (2001) ini, dengan gaya bahasa fiksi, tidak sekadar menuangkan gagasannya sendiri melainkan juga memberikan fakta berdasarkan observasi, wawancara, dan studi literatur.

Buku ini semakin menyadarkan kepada kita betapa perempuan layak dan patut di dorong untuk berkiprah di berbagai sektor kehidupan. Sebagaimana semangat yang diusung CEDAW.

*) Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo.

Sumber: http://bertualangkata.blogspot.com/2011/04/perempuan-juga-manusia.html?spref=fb

Comments

comments