Perempuan Petang Megang

pemenang-3-OborAward

Oleh Bambang Kariyawan Ys – Pemenang 3 LMCP Obor Award 2

Entah gairah darimana yang selalu tumbuh setiap bulan suci menyambutku. Aku telah terbiasa menikmati riak-riak gelombang sungai Siak dengan liukan-liukan yang gemulai. Gairah itu semakin memuncak saat keramaian menghampiri tarian-tarian riak sungai dengan ritual tahunan petang megang.

Aku nikmati kebiasaan yang telah mendarah daging sebagai penggembira kesulitan hidup orang-orang yang tinggal di tepian sungai yang semakin keruh ini. Sore itu setelah Ashar di Mesjid Senapelan, masyarakat berbondongan menuju tepian sungai Siak untuk menyaksikan ritual petang megang. Saling membersihkan diri dengan ramuan-ramuan yang beraroma khas. Aroma kesucian menyambut bulan suci.

Di petang meganglah aku pernah terkagum-kagum dengan lentik-lentik jemari gemulai. Menarikan tarian persembahannya dengan liukan bak gasing berputar. Hentak kaki dan gemulai tangan menyentuh kelembutan sisi batinku. Perempuan itu telah membuatku gelisah. Ketidakmampuanku meredam gelisah membawa langkah-langkah kakiku mencari tahu siapakah perempuan yang telah merusak urat ketenanganku.

Pencarianku tentang siapa gerangan perempuan itu akhirnya berujung. Setelah kudapat dari orang-orang yang pernah terlibat melaksanakan petang megang. Yang aku tahu, perempuan itu dikenal sebagai perempuan penari Melayu dari sanggar tari yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Sejak itu, beragam cara aku berusaha mencari dan bertanya dimana dan siapa perempuan itu? Namun setelah melihatnya latihan menari di sanggar tarinya, aku tidak memiliki keberanian untuk mengulurkan tangan berkenalan dengan perempuan itu. Aku harus menekan hasrat. Menanti setahun kembali sambil berharap perempuan itu hadir menjentikkan jemarinya kembali dalam acara petang megang.

Dalam penantian menjelang petang megang, aku tuangkan dalam kesenanganku yang sempat terlupakan yaitu melukis. Sebelum mengenal perempuan itu aku telah terbiasa melukis objek dengan segala jenis air. Nelayan menjala ikan di laut, anak-anak berenang di tepi sungai, seorang ibu berpayung di kala hujan bahkan canda tawa ibu-ibu saat mencuci tak luput dari goresan kuasku di atas kanvas.

Namun kini, sejak kehadiran perempuan itu telah memberi inspirasiku dalam melukis. Karya-karyaku akhir-akhir ini hadir dengan beragam gaya perempuan. Perempuan imajinasi, aku menyebutnya seperti itu.
Aku menikmati sekali menggoreskan kuas dan cat minyak di kanvas putih. Setiap wajah yang kulukis membentuk gesture wajah yang sama. Setting yang sama dengan tarian dan sungai.

”Siapa perempuan itu?” Pertanyaan yang selalu diajukan setiap pengunjung menikmati lukisan-lukisanku.
”Perempuan imajinasiku.” Selalu itu jawaban yang kuberikan.

Kesibukanku menarikan jemari di atas kanvas mengantarku ke pintu bulan suci. Berarti petang megang siap kujelang. Siap pula aku memupuk harapan bertemu dengan perempuan imajinasiku. Kusiapkan sebuah lukisan khusus untuk perempuan imajinasiku. Kuhabisi waktu dan emosi terbaikku menyelesaikan lukisanku. Kupilih warna-warna terbaik dengan segenap emosiku untuk kuguratkan di kanvasku. Kupilih waktu-waktu emasku untuk menyelesaikan keutuhan imajinasiku. Kala gemintang malam berkerlip dan gemericik sungai Siak beradu. Saat itulah kutemukan energi terbaik untuk menuntaskan guratan kuasku.

”Tak bosan-bosankah kau melukis perempuan yang itu-itu saja?”
Aku tak peduli yang terpenting aku bisa menarikan jemariku dengan bebas sambil berimajinasi menggambar perempuan imajinasiku. Aku yakin perempuanku akan hadir di petang megang esok. Aku akan gunakan kesempatan langkah ini untuk memamerkan seluruh karyaku untuknya.

Tabir kesucian bulan Ramadhan kembali menjelang. Penantian setahun dengan memupuk skenario keberanian untuk menyapa perempuan yang lentik jemarinya. Petang megang kali ini meninggalkan kesan teramat dalam. Sedalam khusuknya emak menyiapkan bahan-bahan siraman untuk mandi belimau dalam petang megang. Kuperhatikan di atas tampah terdapat daun limau purut, daun soman, daun mentimun, daun pandan wangi, serai wangi, akar siak-siak, daun nilam, dan mayang pinang.

“Untuk apa daun-daun nih mak? Jarang aku melihatnya,” heranku sambil membolak-balik daun-daunan yang ada di tampah yang terbuat dari bambu. Hampir semua dedaunan yang kulihat sepertinya tidak pernah kutemukan sehari-hari.
“Banyak daun-daun nih yang sudah makin langka. Apalagi akar siak-siak, emak cari dimana-mana, dapatnya di ujung muara tuh.”

“Emak mau buat air rebusan untuk siraman petang megang. Banyak yang pesan sama emak. Kata mereka air siraman emak masih asli,” jelas emak sambil menyiapkan bedak sejuk, air wangi, dan air mata duyung.

Di tepian sungai Siak telah bertumpah ruah orang ingin melaksanakan mandi belimau. Berbagai makanan khas Melayu hadir di sana. Roti jala, roti canai, bolu kemojo, asidah, kue bangkit, cencalok, lempuk durian, es laksamana mengamuk, dan es air mata pengantin. Hidangan mengundang selera berupa asam pedas baung, asam pedas patin, gulai patin kuning, dan mie keling telah disusun di panggung besar untuk masyarakat melaksanakan makan bersama. Ada kemeriahan tersendiri saat tabak akan dibawa, makanan yang dikemas dalam wadah yang diisi dengan telor dan diarak keliling hingga ke sungai Siak. Setelah pejabat-pejabat secara bergantian disirami dengan air siraman belimau, seluruh masyarakat beramai-ramai menyiramkan diri dengan air siraman. Bahkan anak-anak setelah itu terjun bebas berenang di tepian Sungai Siak. Musik gazal dengan penyanyinya bersenandung lagu-lagu Melayu.

Kembali kutemui perempuan imajinasiku menari persembahan seperti tahun yang lalu. Aku gunakan kesempatan untuk mengajak ke galeriku sebagai perkenalan yang kuharap mengesankan. Waktu nampaknya berpihak denganku. Dengan sedikit basa basi perempuan imajinasiku mau kuajak berkenalan dan datang ke galeriku.
“Begitu besarnya perhatian abang sama saya.” Perempuan itu nampaknya terkagum-kagum dengan lukisan-lukisan yang kubuat.
“Mengapa lukisannya tentang saya Bang?”
Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Kekaguman tak tertahankan sebenarnya yang ingin kuungkapkan, tapi aku hanya memberikan jawaban dengan sebuah senyuman terbaik untuknya.
“Apakah adik mau abang lukis? Sebentar saja, tidak pakai lama.”

Sebuah anggukan yang diberikan tidak aku sia-siakan. Aku persiapkan kelengkapan melukis wajah dengan pensil. Jemariku menari lebih cepat karena kali ini aku tidak perlu berimajinasi terhadap objek lukisanku. Kali ini nyata. Pancaran aura tubuhnya segera kutangkap. Perempuan yang ada dihadapanku memancarkan sejuta kharisma. Segenap permintaannya coba kupenuhi.
“Ganti baju yang dilukisan ini dengan baju penari Melayu dengan latar belakang petang megang ya, Bang. Mengingatkan pertemuan kita,” pintanya.

Kalimat itu kutangkap sebagai tanda persetujuan diterimanya aku sebagai sahabat dekatnya. Sketsa yang kubuat akan kulanjutkan nanti malam kataku. Kuajak dirinya menikmati jagung bakar di tepian sungai Siak. Berteman senja dan sambil menikmati jembatan Leighton yang melengkung hingga matahari mulai malu menuju peraduan.
“Sudah hampir malam Bang.”

Waktu seperti kibasan angin. Aku lepas dirinya dijemput senja.

***

Sambil menikmati gemintang malam dan deruan kendaraan yang lalu lalang melewati jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, aku gores kuas menyelesaikan perempuanku dalam lukisan. Kupadukan warna-warni baju yang biasa dipakai penari Melayu. Kupadukan berbagai warna untuk memperindah pernak-pernik keramaian saat petang megang.
Selesai sudah lukisanku. Aku sempat tidak percaya kalau lukisan itu karya diriku. Energi ini seperti tersedot ke dalamnya. Terlelap dalam lorong khayalan yang membawaku ke negeri yang pernah kukenal.

“Dimana kita sekarang Bang?”

“Inilah tempat kebanggaan masyarakat Melayu Riau, Istana Siak Sri Indrapura, dik. Inilah “the truly malay, sebenarnya negeri Melayu,” jelasku pada perempuan itu. Memang Siak, negeri gemilang yang saat ini meninggalkan jejak-jejak kemegahan masa lalu melalui sakti bisu peninggalannya di Istana Siak Sri Indrapura.

Aku dan perempuan itu berkeliling menikmati koleksi-koleksi museum istana. Kulihat tersedia kursi singgasana yang bersepuh emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan. Selain itu juga ada tombak, payung kerajaan, patung perunggu Ratu Wihemina, serta alat musik komet yang hanya ada dua di dunia.

“Di sini nampaknya tepat untuk melukis adik.” Latar belakang jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah menimbulkan panorama keindahan tersendiri. Jembatan megah yang mengangkangi aliran Sungai Siak. Warna kuning dan hijau menambah identitas kemelayuan.
“Apa bang, melukis?!”

***

”Sudah malam, nak.” Rutinitas emak muncul dengan segelas teh hangatnya mengagetkan khayalan mimpiku dan aku tergagap.
”Emak, tolong lihat lukisan ini. Apa baju kurung Melayu yang dikenakan perempuan dalam lukisan ini sudah sesuai dengan motif yang biasa emak jahit?” Emak yang terbiasa mendapat orderan jahitan khusus baju-baju Melayu mengamati lukisan yang kubuat.

”Hem … batik tabir melayu itu ada bungo kesumbo, bunga tanjung, bunga cempaka, dan bunga matahari kaluk berlapis. Coba pilih salah satu motif bunga itu. Contoh bahannya lihat saja dekat jahitan emak tuh.” Penjelasan emak menambah semangatku mendetilkan lukisan perempuan itu.

Rembulan bunting menerangi hatiku untuk mengantarkan lukisan ke rumahnya. Jalanan terasa benderang menyusuri rimbunan pepohonan trembesi. Kutelusuri alamat yang dituju. Degup jantung terasa tak kenal nada. Sebuah rumah bermotif Melayu klasik, dengan ukiran pucuk rebung dan selembayung hadir di hadapanku. Kuberanikan diri memasuki halaman rumah itu. Kulihat di teras seorang pemuda dan gadis itu.
”Ini lukisan untuk adik.” Aku menyerahkan dengan ragu karena lelaki di sebelahnya memandang tajam dengan mata elangnya.

”Wah … indah sekali ya. Persis harapanku. Motif batik tabir Melayu bunga cempakanya sangat indah. Kenalkan Bang, ini Bang Johan, insya Allah bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan. Hadir ya. Kami ingin abang melukis kami.”
Aku terperangah, kakiku hampir tak mampu menahan gigil.

Comments

comments