PERTANGGUNGJAWABAN DEWAN JURI LOMBA CIPTA PUISI GENRE SASTRA HIJAU (LCPGSH 2015) SURATTO GREEN LITERARY AWARD

Latar Belakang
Lazimnya dalam setiap sayembara atau lomba apa pun, selalu ada sesuatu yang melatarbelakangi dan ada harapan yang melatardepaninya. Perkembangan sastra Indonesia kini tidak dapat dilihat semata-mata berdasarkan dunia sastra itu sendiri. Banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Kemajuan teknologi informasi yang leluasa menerabas ruang dan waktu, kehidupan dunia maya yang membuka kebebasan berekspresi, problem sosial politik yang kerap mempertontonkan potret paradoksal dengan fakta kehidupan masyarakat kita, dan keserakahan segelintir orang yang mengeksploitasi alam dengan semena-mena, dan entah apa lagi, secara langsung ikut mendorong banyak pihak melakukan sesuatu sebagai reaksi atas segala fenomena itu. Sastra lalu menjadi ruang ekspresi, dan puisi cenderung sebagai pilihan.

Sastra Indonesia sudah sejak lama memainkan peranan dalam wilayah kultural. Tetapi belum ada yang secara spesifik dan konsisten mengangkat problem yang dihadapi lingkungan beserta ekosistemnya. Pembabatan hutan, pencemaran sungai, dan penggalian pasir adalah beberapa persoalan yang makin serius dihadapi bumi Indonesia. Maka diperlukan gerakan bersama untuk menumbuhkan kepedulian dalam menghadapi problem yang kian mencemaskan itu

Lomba Cipta Puisi Genre Sastra Hijau (LCPGSH) – Suratto Green Literary Award 2015, coba melakukan sesuatu sebagai langkah yang diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya persaudaraan manusia dengan alam. Melalui LCPGSH sebagai ajang kompetisi yang sehat dan konstruktif, tersimpan sejumlah harapan ideal, bahwa kesadaran bersama tentang pentingnya persaudaraan manusia dengan alam, perlu menjadi sebuah gerakan. Label “Sastra Hijau” jelas mengisyaratkan semangat dan sekaligus filosofi gerakan membangun kesadaran bersama itu.

Adapun pilihan pada ragam puisi didasarkan pada pertimbangan: bahwa puisi diyakini sebagai suara hati. Di sana, lahir kreativitas yang kerap berhubungan dengan pancaran Ilahi. Maka, pelibatan berbagai kalangan, sebagaimana yang melekat pada sasaran lomba dalam empat kategori, dimaksudkan untuk mengajak berbagai kalangan mengekspresikan suara hati mereka tentang alam dalam bentuk puisi. Diharapkan, kesadaran itu melekat dan menjadi perilaku para penyairnya atau si penulis puisi yang bersangkutan yang lalu memancar dalam diri para pembacanya.

Bersamaan dengan itu, melalui LCPGSH, penyelenggara punya visi lain berkaitan dengan latar depan yang ingin dicapai. Pilihan tema “Sastra Hijau” sejalan dengan semangat dan filosofi penyelenggara tentang pelestarian alam dan usaha membangun kesadaran bersama tentang persaudaraan manusia dengan alam. Pilihan pada puisi berkaitan dengan usaha melahirkan penyair atau sastrawan yang secara sadar memilih “Sastra Hijau” sebagai salah satu lapangan perjuangan dalam kehidupannya berkebudayaan. Maka, bagi penyelenggara, sedikitnya ada tiga hal yang ingin dicapai, yaitu pencarian, pembinaan, dan pencapaian yang dilakukan para peserta lomba. Melalui lomba, diharapkan lahir nama-nama baru yang potensial dan prospektif. Dengan demikian, pencarian atas bibit-bibit baru yang mungkin belum terpantau, dapat dilakukan melalui lomba ini dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.

Pencarian bibit dan nama baru itu sering dilandasi oleh semangat memberi apresiasi dan sekaligus juga rangsangan. Ada maksud lain yaitu usaha meningkatkan kualitas karya para penyair sesuai dengan tema lomba. Jadi, di dalamnya, ada aspek pembinaan. Melalui lomba, penyelenggara berharap, ada capaian kualitas dan kuantitas. Dari sudut kuantitas, boleh dikatakan, ada hasil yang signifikan. Sebanyak 1.119 judul puisi yang dikirim para peserta dari berbagai kota di Tanah Air, bahkan juga dari luar negeri, menunjukkan bahwa lomba ini mencapai target yang diharapkan, bahkan melebihi ekspektasi penyelenggara. Jadi, dari aspek kuantitas, lomba ini mencapai sukses yang menggembirakan.

Sebagaimana yang menjadi tuntutan lomba apa pun, aspek kualitas juga tidak dapat diabaikan. Terpilihnya 101 judul puisi untuk dibukukan menunjukkan, bahwa kualitas rata-rata puisi peserta lomba ini sungguh tidak perlu diragukan lagi. Di antara nama-nama yang sudah dikenal sebagai penyair, bermunculan pula nama-nama baru dengan karyanya yang juga tidak meninggalkan kualitasnya sebagai puisi yang baik. Adanya kenyataan itu, tidak dapat lain, penyelenggara melakukan penilaian semata-mata pada kualitas karya dan tidak pada aspek lain di luar itu.

Proses Penjurian
Mengingat lomba ini terbuka untuk umum—sesuai dengan kategorinya—maka penyelenggara tidak membuat sekat apa pun—usia, suku, agama, atau ideologi. Proses penilaian dilakukan penyelenggara pertama-tama dengan memilih dan memilah puisi yang memenuhi syarat sebagaimana yang menjadi ketentuan lomba ini. Puisi-puisi yang memenuhi syarat, lalu didistribusikan kepada dewan juri. Untuk menghasilkan penilaian objektif, nama-nama para peserta sengaja ditutup atau dihapus—dan hanya panitia yang tahu—, agar dewan juri dapat melakukan penilaian semata-mata pada karyanya itu sendiri. Dengan demikian, dewan juri sama sekali tidak mengetahui nama-nama penyairnya.

Penilaian yang ketat dilakukan pada Kategori D (Mahasiswa, Dosen, Guru, Penyair, Penulis, dan Umum). Penilaian pertama jatuh pada tema “Sastra Hijau” sesuai dengan semangat dan filosofi penyelenggara lomba ini. Berikutnya pada kualitas puisi yang bersangkutan. Adapun aspek yang dinilai menyangkut: (1) citraan dan permainan metafora, (2) kelugasan—kepadatan bahasa, (3) kedalaman makna, (4) kepaduan rangkaian kata dalam membentuk kalimat dalam larik-larik dan bait puisi, (5) capaian dalam menggali makna kata.
Berdasarkan kriteria penilaian tersebut, setiap juri kemudian memilih 11 puisi yang dianggap terbaik dengan berbagai alasan yang melandasinya. Di sinilah perdebatan tidak dapat dihindarkan. Setiap juri menyampaikan berbagai alasannya menerima atau menolak pilihan juri lain. Meski di sana ada perdebatan, kompromi-kompromi pada akhirnya diperlukan untuk menentukan puisi-puisi yang dinilai layak ditempatkan sebagai pemenang. Adapun 11 puisi yang menjadi nomine lomba ini adalah sebagai berikut (disusun secara alfabetis):
(1) Bergegas menuju Rawa
(2) Dari Bibir Bakau
(3) Hatiku Pohon
(4) Kahayan
(5) Mandar Gendang dan Kisah Pohon
(6) Mata Semesta
(7) Memoar Sungai
(8) Nyanyian Rimba Terakhir
(9) Pinangan Sebiji Trembesi
(10) Pot Seledri
(11) Sebuah Pagi dalam Tarian Kabut

Dari ke-11 puisi itu, Dewan Juri coba memilih tiga puisi yang layak ditempatkan sebagai peraih hadiah LCPGSH. Cukup sulit menentukan tiga puisi dari ke-11 puisi yang pada dasarnya masing-masing punya kelebihan. Meskipun begitu, sesuai ketentuan, Dewan Juri tetap mesti melakukan pilihan, betapapun sulitnya. Maka pembacaan ulang dan analisis perlu dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban Dewan Juri atas pilihannya itu.

Argumen Penilaian
Setelah terjadi perdebatan cukup alot dan masing-masing juri menyampaikan argumennya, pilihan Dewan Juri jatuh pada puisi dengan urutan pemenang sebagai berikut:
(1) Kahayan
(2) Dari Bibir Bakau
(3) Mandar Gendang dan Kisah Pohon

Puisi “Kahayan” secara tematik menggambarkan terjadinya perubahan sosio-kultural di sepanjang sungai Kahayan yang membelah kota Palangkaraya. Lewat oposisi biner: ketakberdayaan dan kekuasaan, problemnya dikisahkan lewat sampan kecil yang menyeberangkan keresahan dan kemurungan. Metafora tentang: Kota terbelah bengawan yang resah menunjukkan sungai besar dan agung itu menghadapi masalah. Pilihan kata bengawan dan tidak sungai mengisyaratkan ada kisah besar yang terjadi pada sungai itu. Metafora tentang Mandau sebagai simbol pembelaan dan perjuangan, dan dayak kenyah yang jadi ranting dan daun kering menjadi kisah paradoksal tentang persaudaraan dan pengeksploitasian alam, tentang perlawanan yang sia-sia dan kekuasaan dan keserakahan.
Secara tepat, larik-larik dalam bait kedua dan ketiga, membawa kita pada potret getir suku dayak dan masyarakat sepanjang sungai itu. ”Impian impian urban/Mendangkalkan ceruk kali Kahayan” menegaskan keserakahan para pendatang yang makin menjadikan bengawan itu kini jadi kali, bukan lagi sungai! Sebuah pilihan kata yang meski agak hiperbolis, tepat menegaskan nasib sungai itu. Bait berikutnya mempertegas lagi paradoks kekuasaan dan keserakahan yang mengeksploitasi ketakberdayaan.
Bait terakhir menyampaikan pesan sosial dan spiritualitas aku lirik yang diekspresikan secara metaforis lewat harapannya seperti kilau sisik ikan. Sebuah citraan penglihatan (kilau) untuk menggambarkan sesuatu (harapan) yang tak kelihatan. Sebuah permainan kata yang secara metaforis menggambarkan setitik harapan pada derasnya perubahan atas nama pembangunan.

Puisi “Dari Bibir Bakau” sebenarnya tidak menggambarkan kecemasan tentang kerusakan alam. Meski demikian, lewat penggunaan semacam dialog: aku dan engkau lirik, ada pesan agar keindahan alam: hutan bakau, bangau-bangau, ikan-ikan (udang) yang berbiak, segara anakan dan segala seisinya, tetap dipelihara sebagaimana adanya. Ia tak cuma sekadar jadi gambar beku hiasan dinding, atau kepentingan wisata tanpa usaha menjaganya. Maka, hindari pembabatan, jaga dan hormati sebagaimana kita mencintai sosok ibu.
Gambaran tersebut disusun dalam larik-larik puisi yang sarat memanfaatkan citraan alam. Dan memang, puisi ini coba mengeksploitasi citraan alam yang kemudian pada bait terakhir, dibenturkan dengan engkau lirik; makhluk manusia yang mestinya punya kesadaran untuk menjaga keindahan alam itu. Ada ikon tempat: segara anakan! Sebuah danau di puncak Gunung Rinjani yang indah dan penuh mitos. Mitos itulah yang secara metaforis diisyaratkan pada larik-larik: … daratan lengang tanpa hempasan/ … belukar tak jadi menangisi karang//.

Aku lirik yang menyimbolkan alam dan engkau lirik yang menyimbolkan manusia, coba dipersatukan sebagai hubungan persaudaraan alam dengan manusia. Tetapi, kadang-kadang, atau sering terjadi, manusia mengabaikan alam. Akibatnya, keindahan alam itu, sekadar gambar-gambar pemandangan yang tak menyentuh kesadaran. Maka, bait terakhir: Aku tidak menyukai pameran. Dikunjungi dan dilupakan. Direnungkan dan dikenang. Dipotret dan hanya dipajang di kamar. Aku ingin kaujauhkan aku dari lara pembabatan. Aku ingin kau menjaga aku seperti kau menjaga hati ibumu// adalah usaha mengembalikan kesadaran manusia tentang hakikat persaudaraan dengan alam.

Pilihan tipografi terkesan sebagai usaha untuk menghindari bait-bait yang terlalu panjang. Tetapi tokh tetap saja tipografi itu tidak mengganggu pesan yang hendak disampaikan. Jadi, tipografi itu sekadar siasat dalam membentuk bait-bait puisi.

Puisi “Mandar Gendang dan Kisah Pohon” secara tematik menggambarkan kegelisahan burung Mandar Gendang (Latin: Habroptila Wallacii) yang dihantui kepunahan. Spesies burung yang tidak bisa terbang yang hidup di rawa-rawa ini, dikisahkan, makin kesulitan mencari makanan, sebab tunas sagu dan serangga, makin tergerus oleh alih fungsi rawa-rawa. Penyair dengan cermat memulai puisinya dengan gambaran perilaku burung itu.
biar kusibak rimba rawa-rawa
di antara tunas sagu dan serangga
di atas tunggul pohon lapuk ia menari tabuhan gendang
mendiami mangkuk dangkal, tempat mimpinya berenang dan
paruhnya mendongkel batu basah

Sebuah potret sang burung yang hidup bahagia: tak kesulitan makanan, berkeciap melantunkan suara sambil menjaga sarangnya, dan sekali-kali berenang mematuki kerikil untuk melancarkan pencernaannya. Penyair mengawalinya lewat persajakan dalam larik: … rimba rawa-rawa/ … tunas sagu dan serangga/ dan seterusnya. Bait puisi itu membawa asosiasi kita melayang pada kehidupan burung Mandar Gendang di tengah rimbun rawa dan pepohonan sagu.
sayapnya mengamuk ketika daun-daun dirajah
jadi sketsa tumpukan bangunan segi empat
tempat anakku kehilangan rumah
tempat mereka tak bisa bersitegang dan bersitatap
hanya ingatan yang berlari
menarikan Mandar Gendang, burung rawa berbulu abu

Bait ini menggambarkan problem besar mulai dihadapi burung itu. Larik: sayapnya mengamuk ketika daun-daun dirajah/ sebenarnya paradoks. Sebuah perlawanan yang sia-sia. Ketidakberdayaan atas perilaku manusia yang mengubah rawa jadi bangunan. Bait-bait menggambarkan, bagaimana burung yang elok itu jadi gambar-gambar indah hiasan dinding atau lembar majalah. Tetapi, ia hilang dari kehidupan karena rawa-rawa dan pohon sagu telah disulap jadi bangunan.

Secara keseluruhan puisi ini bermain citraan penglihatan yang mengajak pembaca membayangkan nasib kehidupan burung itu. Pilihan kata yang sederhana berhasil membuka medan tafsir yang berbagai ketika teks puisi itu dikaitkan dengan konteks yang lebih luas. Pembangunan hotel-hotel di sepanjang pantai. Di sana, dalam puisi itu, ada kedalaman tentang keprihatinan penyair ketika rawa-rawa berubah jadi pemukiman mewah dan hotel-hotel.

Pembicaraan ringkas atas tiga puisi yang menjadi pemenang lomba ini, tentu saja tak cukup mewakili argumen dan perdebatan Dewan Juri yang sesungguhnya. Meskipun demikian, sejumlah kelebihan dan kekuatan yang terdapat pada ketiga puisi tersebut, menjadi alasan pilihan Dewan Juri untuk memenangkan ketiga puisi itu dalam lomba ini.

Demikian pertanggungjawaban Dewan Juri LCPGSH. Tanpa bermaksud berlindung di balik kalimat: “Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggung gugat” pilihan atas ketiga puisi yang berhak menjadi pemenang LCPGSH, menurut Dewan Juri merupakan pilihan terbaik.

Demikian keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Cikeas, 17 November 2015

Dewan Juri
Maman S Mahayana (Ketua)
Naning Pranoto
Adri Darmadji Woko
Kurniawan Junaedhie
Shinta Miranda
Ewith Bahar
Dodi Mawardi

KetuaDewanJuriAnggotaDewanJuri

Comments

comments