Rambu Solo

Oleh Sulfiza Ariska – Pemenang 2 LMCP Obor Award 2Pemenang-2-OborAward

“Orang yang pintar adalah orang yang memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan suatu negeri; Orang yang kaya adalah orang yang memiliki harta benda dan mendermakan kekayaannya untuk membangun negerinya; Orang pemberani adalah orang yang dapat melindungi rakyatnya; Wali adalah orang yang dimuliakan Allah; dan Fakir adalah orang yang diterima doanya oleh Alloh.”

—Pau-Pauna Sehek Maradang

MATAHARI yang karam di mata ibu, subuh itu, memijar lembut di rimbun hijau hutan ingatan. Kuas bambu di jemarinya, meliuk-liuk setangkas penari ma’randing[1]. Ia seolah-olah memainkan belati di bawah kuasa magi. Perlahan-lahan, pa’barre allo[2] menetes di kain tenun Toraja sepucat salju. Menjelang pangrarang[3] matang di tungku, sehelai kain sarita[4] tercipta di pangkuan ibu.

Bagaikan hantu, ayah tiba-tiba bertengger bibir pintu. Ia langsung menyemai benih pohon-pohon ketidakberdayaan. Dalam sekejap, benih itu berkecambah dan menggurita di seluruh penjuru tongkonan[5]. Sulur-sulurnya yang beracun, mematahkan kuas bambu di tangan ibu. Tarian jemari ibu terhenti untuk selamanya.

Kakak perempuanku, Landorundun berusaha menghalau pohon-pohon ketidakberdayaan tersebut. Ia menghujamkan sebilah pisau tepat di leher ayah. Aneh! Mata pisau itu tidak mampu mengukir jejak—satu gores pun. Dalam tiga tarikan nafas, pohon-pohon ketidakberdayaan bertumbangan dan menindih Landorundun. Ia menjerit pilu. Lengking suaranya mendaki bukit, menerobos langit, dan menerjang-nerjang gumpalan awan. Lalu, ia tersungkur di lantai tongkonan dengan tinju ayah membakar wajahnya.

Sebelum aku menghalau pohon-pohon ketidakberdayaan, kaki ayah telah menyambar dadaku. Aku tersungkur tanpa daya. Diriku tak ubahnya serpih-serpih arang dari selembar daun yang terbakar. Sebelum kunang-kunang menyelimuti sepasang bola mataku, kulihat ayah merenggut kalung manik-manik—berbandul kunci peti kayu berukir pa’ tanduk ra’pe[6]—dari leher ibu. Alih-alih mempertahankan kunci itu, menerkam dan membunuh ayah, ibu terkulai bisu bagai tau-tau[7] di keheningan kubur batu.

Ketika aku dan Landorundun siuman, ayah kami telah terbang bersama uang dan perhiasan yang tersimpan di peti kayu berukir pa’ tanduk ra’pe. Dan sejak pagi naas itu, ibu jatuh sakit. Tepatnya, sakit yang tidak tersembuhkan.
“Ambe[8]-mu jauh lebih sakti sekarang,” jelas To Minaa pada kami seusai mengurapi tubuh ibu dengan formalin, rempah-rempah, dan mantra-mantra. “Ilmunya semakin tinggi. Ia bersekutu dengan para bombo[9].”
Selanjutnya, dengan bantuan To Minaa[10] dan tetangga, kami membaringkan to makula[11] ibu di kesunyian sumbung[12]. Sambil menggigil dilibat kepedihan, aku menyelimuti ibu dengan kain sarita terakhir yang dibatiknya. Di luar, kaki-kaki hujan menendang-nendang dinding tongkonan dan angin berteriak-teriak gelisah. Mereka seolah-olah menghalau roh ibu yang telah menjelma bombo.
***
Dua purnama sejak ibu sakit, aku masih ditindih pohon ketidakberdayaan. Sulur-sulurnya yang beracun, menghisap cahaya harapan di hatiku. Hingga tidak tersisa seberkas pun. Berbeda dengan diriku, Landorundun segera menumbangkan pohon iblis itu dan meraih kendali waktu. Bagaikan kupu-kupu yang terbebas dari jaring laba-laba hitam, ia mengepak sayap patahnya dan terbang menuju pelangi impian. Meski duka bertamu di seluruh celah waktu, Landorunun setia memelihara cahaya harapan. Alih-alih kembali ke Yogyakarta, menyelesaikan studinya dan merintis karir cemerlang di gemerlap Jakarta—Landorundun memulas kain sarita dengan warna-warna ceria.
“Kudengar, Landorundun tidak menyelesaikan kuliahnya,” tutur cucu To Minaa, Eppi. Kala itu, kami tengah melangkah di jalan setapak menuju tondok—seusai mandi di sungai, seminggu sebelum ia terbang ke Arab Saudi.
“Benar,” sahutku dengan nada suara yang masih berduka. “Landorundun bertekad meneruskan usaha Indo[13] membatik kain sarita.”

Eppi mengehembuskan nafas yang beraroma cengkeh. “Pilihan Landorundun memang mulia. Kain sarita berasal dari surga. Anugerah Puang Matua[14]. Ambe-ku pernah mengatakan, bagi orang Tana Toraja, membatik kain sarita jauh lebih mulia daripada menyerahkan sesaji di ulu banua[15]. Semua orang bisa melakukannya, tapi tidak ada yang bisa membatik kain sarita.”
“Terimakasih, Eppi,” ujarku sambil memetik setangkai mawar liar yang tumbuh di pematang sawah. “Sebelum kamu jelaskan, aku tidak bisa memahami pilihan kakak perempuanku itu. Ia cerdas dan cantik. Tapi, ia memilih pekerjaan yang tidak banyak menghasilkan uang. Padahal, kami harus menabung untuk menyelenggarakan Rambu solo’ bagi Indo dan membayar hutang-hutang Ambe yang menjamur di mana-mana.”
“Apa kamu tidak tertarik menjadi te-ka-we?” tanya Eppi sambil terus melangkah dan menatap tebing-tebing bukit cadas yang menjadi kubur batu. Ibu pasti merindukan negeri di ceruk-ceruk tebing itu. Bersatu dengan para leluhur. Agar ia bebas dari siksa alam bombo dan bisa mencapai puyo[16].

“Landorundun memintaku untuk menyelesaikan sekolah lebih dulu,” jawabku berat. Sebongkah batu terasa terperosok di tenggorokanku. Tidak kusebutkan, Landorundun bertekad menyekolahkan diriku sampai lulus sarjana. Bila Landorundun mengatakan, ia pasti menepati. Janjinya sepasti matahari. Ini membuatku cemas. Sebagaimana Eppi dan burung-burung di dalam sangkar, aku merindu bebas.

“Baguslah. Memang seperti itu seharusnya,” sahut Eppi. “Aku juga ingin menyelesaikan sekolah, setidaknya sampai lulus SMA. Tapi, melihat Indo dan Ambe yang sakit-sakitan, aku tidak berdaya ketika ayah Randan menyerahkan formulir pendaftaran untuk bekerja di Arab Saudi. Pekerjaannya mudah dengan gaji yang melimpah.”
Lima menit kemudian, percakapan kami terhenti. Wajah Kete’ Kesu di ambang sore, membius kami. Sekeranjang cucian yang kami jinjing seolah kehilangan berat. Di mataku, Kete’ Kesu menjelma lukisan alam yang paling purna. Cahaya mentari menyepuh sawah-sawah dan ladang-ladang. Membuat kemuning biji-biji padi berkilauan dibungkus cahaya sewarna emas. Batang-batang mengkudu, kulit kayu damar, cendawan, dedaunan kunyit, dan pucuk-pucuk jahe yang tumbuh bebas—menyebarkan rupa-rupa aroma. Seorang pemuda putus sekolah tampak menggiring lima ekor tedong bonga[17] ke padang rumput.

Eppi menyimpan pemandangan dan aroma bumi Kete’ Kesu ke dalam kapsul ingatannya. Tidak lama lagi, ia akan terbang jauh, bebas, serupa layang-layang yang lepas dari benangnya, meninggalkan diriku dan padang ilalang kenangan. Diam-diam, aku iri padanya. Seumur hidup, aku akan terkurung di Indonesia, tak pernah bertualang ke negeri-negeri lain. Dari tahun ke tahun, aku hanya mengamati langit dan menghirup aroma bumi yang sama. Pesona Kete’ Kesu tak mampu menghalau mimpiku untuk menginjakkan kaki di negeri-negeri yang hanya bisa kubaca dari buku. Bila bukan merawat to makula ibu, aku tentu akan memilih menjadi TKW seperti Eppi.
***
Hari-hari melangkah tergesa bagaikan iring-iringan pengantar jenazah menuju kubur batu. Di luar dugaanku, usaha kain sarita yang dirintis Landorundun menemukan jejak cahaya. Berkat bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia; Landorundun dapat memasarkan kain sarita ke Makale, Rantepao, Makassar, Palu, Jakarta, Yogyakarta, Singapura, Tokyo, hingga Paris, Beijing, dan negara-negara di Eropa. Ia pun menjalin relasi bisnis dengan wirausaha muda Indonesia.

Di tahun kedua, Landorundun memelopori pendirian pusat pelestarian kain sarita se-Toraja Utara. Dengan dukungan To Minaa, Landorundun mengajak pemuda pengangguran dan putus sekolah—untuk kembali melestarikan kain surga ini. Pemuda yang memiliki bakat mengukir atau memintal—diajaknya untuk turut berkarya. Maka, selain membatik kain sarita, sepanjang hari tongkonan kami ramai dengan gesekan balida[18] dan dentuman pahat.

Bila pagi tiba, barisan tongkonan dan atap-atap alang[19] dibelai semburat cahaya fajar. Semilir angin merangkak di halaman tondok dan menuntun tangkai-tangkai bunga untuk berdansa. Perlahan-lahan, pohon-pohon mengkudu terbangun dari tidurnya. Burung-burung gereja meniti kesunyian kubur batu. Semesta alam bernyanyi untuk mengantar anak muda-anak muda melangkah ke tongkonan kami. Sepanjang hari, kami mengukir, memintal, dan membatik. Meski ukiran dan kain tenun Toraja banyak lahir dari jemari-jemari kami, kain sarita tetap menjadi primadona. Bahkan, para wisatawan mulai menggelari tondok kami dengan nama Tondok Sarita.

Usaha Landorundun tak hanya terhenti dalam berniaga kerajinan etnik Toraja. Tongkonan kami yang sangat luas dan lengang, kini dijadikan bagunan serba guna. Selain menjadi tempat kami berkreasi; tongkonan kami digunakan sebagai kantor koperasi dan perpustakaan. Meskipun pemuda tondok banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan menengah atau perguruan tinggi, buku-buku dapat menjadi jembatan untuk menguasai dunia. Bahkan, beberapa penduduk tondok yang berusia senja, belajar membaca di tongkonan ini.

Bila wartawan menanyakan resep keberhasilannya memajukan tondok, dengan rendah hati Landorundun menjawab, “Saya hanya mengamalkan Pau-Pauna Sehek Maradang dan ingin mewujudkan impian Siti Aisyah We Tenriolle[20].” Tidak mengherankan, lukisan Datu[21] dari Tanette Sulawesi Selatan itu terpajang di meja kerjanya. Setiap terbentur masalah, Landorundun selalu berdoa di hadapan lukisan sang Maharani.
Landorundun seolah mengembalakan harapan bagi tondok kami. Bola cahaya kehidupan yang dulu diselimuti kabut kemalasan, kini pijarnya melumpuhkan matahari. Kami dapat melunasi hutang ayah dan bisa menabung untuk biaya Rambu solo’ bagi ibu.

Berkat kerja keras Landorundun yang tanpa pamrih, penduduk tondok semakin sejahtera. Dulu, anak muda-anak muda berlomba-lomba menjadi TKI, TKW, atau bekerja di Ibu Kota. Tapi sekarang, mereka melabuhkan impian di halaman tondok saja, tidak jauh dari mata. Bahkan, dalam sepucuk kartu pos dari Arab Saudi, Eppi mengaku menyesal tergesa-gesa membuat pilihan hidup. “Andai Puang Matua bisa memutar waktu, aku ingin tetap berada di tondok kita; mengukir, membatik kain sarita, dan memintal. Aku pun rindu menari dalam Rambu tuka[22] dan Rampanan kappa[23]. Di Arab Saudi, para tenaga kerja dari Indonesia seolah mengundi nasib. Ada yang bernasib baik, memiliki majikan yang menghargai mereka sebagai manusia. Tapi, tak sedikit yang dikhianati nasib—termasuk diriku.”

Hatiku bergetar ketika membaca kalimat terakhir yang tertera pada kartu pos bergambar mengerikan—sebuah peristiwa hukuman pancung. Membuatku khawatir dan langsung membalas suratnya. Sayang, Eppi tidak pernah membalas suratku. Bahkan, kartu pos dan e-mail yang kukirimkan, hanya berbalas hampa. Setiap kutanya, orangtua Eppi atau To Minaa, mereka hanya membisu. Mendung menyelimuti pelupuk mata mereka. Kala bulan purnama menggantung di langit malam, aku selalu membuka jendela tongkonan. Lalu menatap jauh ke angkasa dan meniupkan doa-doa. Agar Puang Matua memberikan perlindungan bagi sahabat setiaku.

Sementara itu, sifat Landorundun telah jauh berubah. Selain serba sibuk, ia makin perhitungan dengan uang. Meski telah mapan dan kaya di usia yang masih sangat muda, Landorundun tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Memang, hidup sederhana merupakan pilihan yang mulia. Tapi, apa gunanya uang milyaran rupiah di rekeningnya bila televisi pun tidak punya? Aku jadi terpaksa menonton di tongkonan milik tetangga. Tidak hanya televisi, Landorundun pun enggan membeli perhiasan emas atau busana mode terkini. Membuatku tampak ketinggalan zaman.
Landorundun memang tidak masalah dengan penampilan apa adanya. Sebab, ia sangat cantik. Tubuh bangsawan yang dimiliki ibu, menitis sempurna ke tubuhnya. Rambut sehitam malam, terurai panjang melampaui pinggangnya, selalu mengombak dipermainkan semilir angin. Semakin lengkap dengan bibir semerah darah dan kulit sepucat bulan. Dirinya-lah bidadari Kete’ Kesu. Mangrara banua[24] tidak akan sempurna tanpa kehadiran Landorundun untuk menarikan tari Pa’gellu.

Alih-alih mewarisi tubuh indah tokapua[25] dari ayah dan ibu, aku malah mendapatkan tubuh dan paras seperti tobuda[26]. Menurut desas-desus yang berhembus, ibu melanggar Pemali mapangngan buni’[27] dengan pria berdarah tobuda. Darah pria tobuda itu mengalir deras dalam tubuhku. Tapi, To Minaa dan para pemangku Aluk[28] di tondok berani bersumpah, ibu adalah istri yang sangat setia. Meski ibu selalu mengatakan bahwa diriku cantik apa adanya, melihat paras Landorundun yang layaknya bidadari, hatiku ditumbuhi gulma kebencian. Sifat Landorundun yang pelit, semakin membuat resah berkecambah dalam otakku.
***
Aku merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. Setiap memikirkan jauhnya perbedaanku dengan Landorundun, betapa cantiknya kakak perempuanku itu, keroak luka di batinku semakin mengganas. Ketika Rambu solo’ bagi Nene’[29] dilangsungkan, nyala kesabaranku perlahan-lahan meredup.

“Landorundun adalah perempuan yang paling kikir sedunia, Rante!” teriak Randan di tengah riuh Mappasilaga tedong[30]. “Sudah menjadi milyuner, tapi tidak sudi menyumbangkan tedong untuk Rambu solo bagi Nene’ seekor pun.”
“Kami harus berhemat, Randan,” sahutku sambil berusaha memeram bara amarah. “Ambe tidak pernah kembali. Sedangkan Indo masih berbaring ‘sakit’. Kami harus mengumpulkan uang untuk menyelenggarakan Rambu solo’ untuk Indo.”
“Dalam Rambu solo’, harta kalian tidak akan menjadi abu. Semakin banyak sumbangan, maka akan semakin berlimpah pula warisan Nene’ yang akan luruh ke pangkuan kalian. Itulah sebabnya Ambe-ku tidak segan-segan mencurahkan sumbangan milyaran untuk Rambu solo’ bagi Nene’ ini,” jelas Randan angkuh. Membuatku merasa disengat jutaan kalajengking.
Aku tidak heran Randan mengatakan demikian. Sejak jantung Indo masih berdetak, keluarga Randan tengah mengincar ribuan hektar perkebunan kopi Toraja milik Nene’ di Ranteboa. Sebagai pengusaha agen pengiriman tenaga kerja Indonesia dengan jaringan yang tersebar di seratus titik di Indonesia, uang bagi keluarga Randan memang tidak berharga. Berbekal beberapa lembar formulir, ayah Randan bisa menarik puluhan juta dari calon TKI atau TKW dalam sehari. Jauh berbeda dengan kerja keras yang dilakoni Landorundun.

Gagal memantik kemarahanku dengan fitnah pada Landorundun, Randan mulai mengungkit kecantikan ibu. “Kamu tahu mengapa Ambe-mu kabur?” tanya Randan. Beberapa penonton Mappasilaga tedong mulai tertarik pada kami. Membuatku ragu menjawabnya. Tanpa menunggu aku membuka mulut, Randan kembali menikamku dengan lidahnya yang tak bertulang, “Itu karena indo-mu melanggar Pemali mapangngan buni’. Engkaulah hasil hubungan hina itu. Makanya, Landorundun lebih cantik daripada dirimu. Dalam tubuh Landorundun mengalir darah tokapua, sedangkan dirimu tobuda,” maki Randan. Lalu, ia meludahi diriku dengan liur seamis darah babi. Bara amarah yang kuperam, tumpah sudah. Membanjiri lapangan tempat tedong-tedong berlaga.

Siang itu, aku menjelma seekor tedong yang terluka. Aku menyerbu, menanduk, dan menerjang Randan. Dengan sekali banting, Randan tesungkur di tanah. Tapi, aku tidak memberi kesempatan baginya untuk lari atau mencari perlindungan.
Sorak-sorai Mappasilaga tedong terhenti. Kini, semua mata tertuju pada kami. Tidak seorang pun yang melerai. Hingga, sebuah siulan berkekuatan sihir menyelusup ke dalam relung telingaku. Lalu menerobos otak dan memadamkan bara amarah dalam kepalaku. Sebelum aku tersungkur, sepotong tangan meraih jemariku. Tangan Landorundun. Di sisi Landorundun, To Minaa masih bersiul. Beberapa orang menggotong Randan. Meski babak belur, ketajaman lidah Randan belum juga patah. “Anak haram! Anak haram!” teriaknya lemah.

“Awas, Randan!” seruku dengan sisa-sisa tenaga. “Kau teriakkan diriku anak haram, kubunuh kau!” Peringatanku tak juga mematahkan lidah Randan. Sebelum aku memburunya, Landorundun lebih dulu menyeret lenganku menjauh, menyusuri jalan yang membelah tondok, menuju tongkonan tempat to makula ibu disemayamkan. Landorundun baru membebaskanku di halaman tongkonan.
“Aku benci punya kakak sepertimu! Mau kamu taruh di mana kehormatan keluarga kita? Cantik, tapi kikir. Uang kita milyaran, tapi satu ekor tedong pun tak bisa kita korbankan untuk Nene’,” jeritku menumpahkan sisa-sisa amarah yang bermukim di dada.
“Ada yang lebih penting daripada Rambu solo’ dan segala bentuk kehormatan yang kamu puja!” balas Landorundun sambil meraih sepucuk koran yang menggantung di erran[31]. Lalu menyerahkannya ke tanganku.
Tanganku langsung bergetar menatap halaman pertama koran tersebut. Kulihat foto Eppi yang memakai jilbab hitam. Kedua tangannya yang terbelenggu, mencengkram jeruji penjara. Sepasang bola matanya memancarkan sinar dingin ketakutan.
“Kau ingat Eppi?”
“Tentu,” bisikku samar. Bibirku bergetar.
“Eppi dijebloskan ke penjara di Arab Saudi. Ia terpaksa membunuh putra majikannya yang memperkosa dirinya. Dana kita untuk membeli menyelenggarakan Rambu solo’ bagi Indo dan tedong bonga untuk Nene’, semuanya telah kusumbangkan untuk membebaskan Eppi dari hukuman pancung!”
“Apa?” tanyaku berusaha tak percaya sambil meremas surat kabar di tanganku.
“Eppi akan bebas. Hanya saja, butuh lima tahun lagi untuk mengumpulkan dana Rambu solo’ bagi Indo,” jelas Landorundun dengan nada selembut awan, tapi menjelma petir di daun telingaku. Pandanganku mengabut. Seribu kunang-kunang menyerbu mataku. Amarah sunyi yang berkobar di hatiku, padam dalam sekejap. Aku tersungkur di samudera harapan yang dibentangkan Landorundun—samudera yang paling cinta, di mana keajaiban senantiasa menemukan muara. […]

Catatan:
[1] Tari Perang khas Toraja
[2] Ragam hias (motif) yang berbentuk lingkaran yang menggambarkan matahari dan bulan yang bersinar, simbol persatuan dan kesatuan suku Toraja.
[3] Sate khas Toraja
[4] Kain sarita dikenal sebagai batik Toraja yang dibuat dengan alat utama berupa pena dan kuas dari bambu (bukan canting seperti batik tulis Jawa). Kain ini dipercaya dibawa leluhur Tana Toraja dari surga. Akibat desakan kain Sarita tiruan dari negeri kolonial Belanda, kain Sarita asli punah sekitar seratus tahun yang lalu.
[5] Rumah adat (tradisi) Toraja
[6] Ragam hias (motif) yang berbentuk tanduk kerbau.
[7] Patung dari kayu nangka berwujud orang yang meninggal dunia, sebagai pelengkap peti mati di pemakaman.
[8] Ambe: ayah
[9] Roh yang menunggu upacara dan bergentayangan
[10] Pendeta Aluk
[11] Jenazah yang belum diupacarakan, masih dianggap sebagai orang sakit dan masih dilayani kebutuhan-kebutuhan, seperti makan, minum, dan diajak bercakap-cakap.
[12] Bagian belakang rumah (tongkonan) tempat menyimpan mayat
[13] Ibu
[14] Dewa tertinggi dalam dalam ajaran agama/adat Toraja (Aluk)
[15] Kepala rumah (bagian depan tongkonan)
[16] Alam baka
[17] Kerbau separuh albino (belang putih). Memiliki harga tinggi dalam tradisi dan spiritualitas Toraja. Dihargai sampai lima ratus juta.
[18] Alat pintal khas Toraja
[19] Lumbung padi
[20] Dalam pemerintahannya, Siti Aisyah We Tenriolle memegang teguh tuntunan hidup Pau-Pauna Sehek Maradang. Ratu dari Tanette ini, tidak hanya ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan, terutama peran besarnya dalam menerjemahkan epos I La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Pada 1908, perempuan agung ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak laki-laki maupun untuk perempuan (setara gender), jauh sebelum R.A. Kartini dikenal dengan kumpulan suratnya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
[21] Ratu
[22] Upacara kegembiraan
[23] Pesta pernikahan
[24] Peresmian rumah adat
[25] Golongan kasta tertinggi
[26] Kasta terendah
[27] Larangan berzina
[28] Agama tradisi Toraja
[29] Kakek/Nenek
[30] Adu kerbau, salah satu prosesi dalam Rambu solo’
[31] Tangga

Comments

comments