Ranting Bergoyang

Oleh Naning Pranoto

Kita maksudku, aku dan kau, kini berada di dua titik berbeda: jauh dan makin jauh. Kita adalah dua orang asing. Itu menurutku. Sejak? Ya, sejak kau berubah. Mula-mula, kau ubah namamu. Berikutnya, kau ubah tata rambutmu yang semula lurus hitam sepanjang punggungmu, dipangkas jadi sejengkal berwarna merah wortel bergaya paku menantang langit. Hidungmu juga meruncing setelah kau kembali dari Singapura.

Buah dadamu yang dulu berukuran normal, kini bak semangka kembar yang nyaris mecothot, bergantung di atas pinggang lebah. Kudengar, kau melakukan sedot lemak, untuk melangsingkan perut. Wajahmu yang bulat telur lenyap sudah, kau ganti dengan wajah berdagu daun semanggi warnanya seputih topeng penari noh dari Jepang. Begitu juga kulitmu, putih, hingga aku tak mengenalinya. Kukira, engkau mayat yang bangkit dari kubur seperti tokoh hantu perempuan dalam film honor: berbibir merah darah, mata berlingkar hitam dan ujung alisnya mencuat ke atas.

Sungguh, aku hanya berani memandangimu sejenak. Itulah sebabnya, mengapa aku tak mau lagi tidur denganmu. Juga, kedua anak kita menjauhimu. Selain mereka takut melihatmu, mereka berkata padaku, malu punya ibu bersosok seperti dirimu yang sekarang ini. Maka tak heranlah, mereka keluar dari rumah kita dan kini tinggal di asrama sekolah mereka. Kau tak tahu itu, karena kau sibuk, sibuk dan sibuk dengan jadual pentasmu di panggung melantunkan lagu-lagu yang membuatmu dielu-elu: ratu goyang pendendang lagu mendayu-dayu. Tapi, kau bagiku, juga bagi kedua anak kita yang lahir dari rahimmu, tidaklah beranganggapan begitu.

Sejujurnya, aku rindu kau, kau yang dulu. Kau yang kujumpai pertama kali di kebun teh di kaki bukit itu. Rambutmu yang panjang dikepang dua, ujung-ujungnya menjurai lebat di lingkar caping lebar penutup kepalamu. Sepasang bola matamu yang bundar-hitam membelalak ketika lensa kameraku membidikmu.

Saat itu, kau tengah asyik memetik pucuk-pucuk daun teh berwarna hijau lumut. Sedangkan aku, ke kebun teh untuk mencari obyek, kujadikan foto yang akan kulombakan bertema Gadis Desa. Jamilah, putri Pak Lurah, teman kuliahku, mengantarku mencari obyek yang kuinginkan. Dan, aku menemukanmu.

“Mas, jangan potret saya,” tolakmu, bersuara lirih dan tersipu-sipu. Kau menghindar dari bidikan lensaku. Pipimu pun memerah, lalu kau tutupi dengan kedua tanganmu. “Maaf, Rah, permisi mau ya kowe difoto?” respon Jamilah sigap, menghampirimu dan menyelipkan selembar uang. “Buat tambah nebus rapotmu.” Bisiknya kemudian. “Ayo to, cepet berpose!” Jamilah menarik-narik tanganmu dan memalingkan wajahnya ke arah lensa kameraku. “Senyum Rah, senyum!” teriak Jamilah, bergaya sutradara Kau pun tersenyum, walau tipis.

Tak mengapa. Ceckkk…ckkk…ternyata kau tidak hanya tampak ayu di lingkar lensaku, tapi juga artistik. Sungguh, aku tak menyangka, menemukan obyek sangat indah, lebih indah dari apa yang kubayangkan dan apa yang diceritakan Jamilah padaku yang mengatakan, “Gadis-gadis di desaku ayu-ayu. Mereka pemetik teh.”

Ayu? Cantik? Sulit bagiku mendifisikannya. Teman-teman di kampusku banyak yang mengatakan, Jamilah itu cantik dan banyak yang naksir. Kuamati, kulit Jamilah kuning langsat dan bertubuh langsing. Mungkin ini yang membuatnya layak disebut cantik. Tapi, bagiku kedua faktor itu hal biasa. Karena, ibuku bersosok lebih dari itu. Selain berkulit kuning langsat, langsing, rambut ibuku panjang ikal, berhidung mancung dan bibirnya bak kelopak mawar. Kakak perempuanku tak jauh berbeda dengan sosok ibuku. Bahkan ia bertubuh sintal karena rajin senam dan berenang. Kau, kau waktu itu bagiku lebih ayu dari Jamilah, ibuku dan kakak perempuanku. Tapi, yang membuatku jatuh cinta padamu bukan fisikmu, melainkan spiritmu. “Rah itu bocah pinter!” komentar Jamilah, sehabis aku memotretmu. Waktu kami menuju ke rumah Jamilah dan kau melanjutkan pekerjaanmu, memetik pucuk-pucuk daun teh. “Pinter apa makudmu?” tanyaku pada Jamilah. “Anak pandai…nilainya selalu bagus, jadi juara di sekolahnya. Sayangnya, orangtuanya tidak mampu membiayainya. Adiknya sembilan.” Tegas Jamilah. “Adiknya sembilan?” aku melongo, “Dia anak ke berapa?” sambungku. “Anak sulung,” bibir Jamilah berkerut, “Kasihan dia. Makanya tadi saya kasih uang, biar bisa nebus rapotnya.” “Dia kelas berapa di SMP atau SMA?” aku sangat ingin tahu tentangmu.

“SMP? SMA? Ahaaaa…masih SD. Baru kelas enam, mau ujian…. Dia sekolah karena keinginannya yang kuat untuk jadi gadis pandai. Ya, seharusnya dia sudah SMA.” “Ohhh..,” tiba-tiba mulutku terasa pahit mendengar penjelasan Jamilah tentang kondisi hidupmu, “Siapa nama lengkap gadis itu?” perasaan tergetar, merasa iba dan sekaligus mengagumi. Dan, aku ingin bisa berbuat sesuatu untukmu.

“Rah? Ponirah. Ponirah!” Jamilah mengeja namamu dan langsung terpatri dalam kalbuku. Sejak itu sosok dan spiritmu memukim jiwaku, yang membuatku ingin senantiasa dekat denganmu. Maka, ketika aku memenangkan lomba foto yang menjadikan sosokmu sebagai obyek, seluruh hadiahnya keberikan padamu, untuk membiayai ujianmu tingkat SD. Kau tahu, Jamilah cemburu. Sejak itu ia membenciku. Kebenciannya semakin menjadi-jadi ketika aku membantumu melanjutkan studimu di kotaku. Ia pun lalu memutuskan hubungan denganku, ketika ia tahu kau bekerja part time di toko elektronik kakakku. Selain rajin membersihkan toko, kau bisa jadi pramuniaga yang ramah dan luwes dalam melayani pembeli, kakak perempuanku pun jadi jatuh sayang padamu. Juga ibuku. Maka mereka tidak keberatan ketika aku menyatakan ingin mempersuntingmu, setelah kau lulus SMP.

* * *

Usiamu memasuki 21 tahun ketika kunikahi. Aku sudah sarjana dan jadi wartawan foto di sebuah harian Ibukota. Kuboyong kau tinggal di Jakarta, menempati rumah kontrakan rumah petak milik orang Betawi. Kita isi bulan madu dengan paduan kehangatan cinta di atas tikar, berbantal sarungku. Itu, karena aku menolak bantuan uang dari ibuku. Aku ingin seperti almarhum ayahku, memancangkan fondasi rumah-tangganya dengan butir-butir tetesan keringatnya sendiri. Kata ayahku, itu yang membuat tali cintanya dengan ibuku begitu indah dan erat, tiang rumah-tangganya kuat dan melahirkan anak-anak sehat dan hebat. Aku ingin seperti ayah dan bisa! Kutabung sebagian uang gajiku untuk membeli sebidang tanah dan akan kubangun rumah mungil di atasnya, itulah cita-citaku jangka pendek setelah menikahimu. Ibuku wanti-wanti, agar aku punya dua anak saja. Kau setuju, karena merasakan betapa sulitnya hidup dengan banyak anak. Maka, ketika anak pertama kita lahir, aku selalu memenggal alur kenikmatan dalam bercinta denganmu, agar air maniku tak membuahi indung telurmu. Ini cara berKB alami, agar kau tak usah pasang spiral atau menelan pil anti hamil yang kuyakani akan merusak tubuhmu. Selain aku kasihan padamu, aku tak mau kehilangan sulur-sulur kenikmatan sari ragamu peneguh cinta kita. Aku ingin selalu bercinta denganmu dalam gelora, yang menjadi penyemangat hidup. Hidup, hidup dan hidup. Kita terus tumbuh dan hidup.

Karirku menanjak. Memang, aku sering tugas keluar kota. Tapi, aku bisa memenuhi apa yang membuatmu senang sebagai perempuan layak: bergaun modis dilengkapi asesoris, dompet tidak kosong dan tak lagi tinggal di rumah petak kita telah punya rumah dan kau banyak teman. Sehingga kau tak kesepian ketika aku berada di luar kota. Ketika aku pulang, kau sambut dengan pelukan hangat obat mujarab pengusir jenuh dan penat. Celoleh anak kita, membuatku bangga dan merasa jadi lelaki paling perkasa di dunia. Aku selalu mengatakan pada ibuku, bahwa aku bahagia karena punya kau istri yang sangat istimewa. Inilah yang membuat ibuku tersenyum panjang dan ia begitu ringan ketika Gusti Allah memanggilnya. Ayah tiada, ibu tiada, kakak perempuan dan suaminya yang menggantikannya sebagai orangtuaku, juga orangtuamu. Mereka sayang dan selalu membanggakan kita berdua. Kau dan aku sungguh layak jika disebut keluarga bahagia. Di tengah kebahagiaan yang ada, pada suatu malam, kutumpahkan seluruh gelora cintaku padamu, hingga aku dan kau melayang sampai langit ke tujuh menebar benih.

Tiga puluh tujuh minggu kemudian kau hadirkan bayi berparas tampan. Lengkap sudah harapan ibuku, kita punya dua anak. Keduanya laki-laki. Aku bangga, aku bahagia…aku merasa hidupku tak sia-sia. Aku merasa kau dan aku serta kedua anak kita adalah pohon dan ranting. Kau sebut aku pohon, kau dan anak-anak kita rantingnya. Pohon dan ranting tak bisa dipisahkan, katamu. Aku setuju!

* * *

Kini pohon dan ranting terpisah. Kau, ranting yang memisahkan diri dari pohon. Kau bergoyang dan bergoyang, kini nyaris rontok. Atau memang telah rontok?

Yang rontok dariku tidak hanya satu ranting dirimu, tapi juga dua ranting lainnya kedua anak kita. Pada mulanya ranting-ranting itu ditiup angin, kemudian diterpa badai. Angin dan badai adalah suaramu, yang mengobarkan ambisimu menjadi pesohor. Angin dihembuskan oleh seorang sahabatmu yang mengajakmu mengikuti lomba menyanyi dangdut di sebuah stasiun televisi. Kau keluar sebagai pemenang utama. Sejak itu aku tak mengenalimu. Kau telah menjadi sosok asing: Zombie…itu julukan untukmu dari kedua anak yang lahir dari rahimmu. ***

Sumber:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294673

Comments

comments